
Sebelumnya, Trah Socha bermukim di Desa Telaga Biru, seluruh keturunan ditempatkan di rumah yang istimewa dari penduduk lainnya. Karena banyak dari Trah Socha yang mengabdi pada Kerajaan Indra Pura.
Namun, karena kedatangan beberapa perguruan aliran hitam, membuat sejarah kelam pada Trah Socha. Dimana seluruh keturunan dibantai olehnya untuk merebut Kitab Bulan yang masih disimpan oleh pemimpin trah.
Pria bermata satu itu menyekap Indurasmi yang masih berusia sepuluh tahun dan dibawanya untuk menjadi pengikutnya. Sambara juga tak luput dari incarannya, tetapi Ki Gendon berhasil menyelamatkan Sambara dan Kitab Bulan itu, lalu menitipkan pada pemimpin terdahulu Perguruan Bulan Sabit, yaitu Ki Ranu.
Flashback selesai...
Rekan dari Indurasmi adalah Kanigara, seorang pendekar pelarian yang berasal dari Desa Banyu Asin, bersebelahan dengan Desa Telaga Biru. Kanigara sengaja meminta ilmu kanuragan pada Ki Badra, agar kekuatannya bertambah untuk memuaskan kesenangannya, yaitu membunuh lawan.
Indurasmi dan Kanigara hendak menuju Perguruan Bulan Sabit, dimana Kitab Bulan itu di simpan.
“Kami mohon diri Ki,” seru Indurasmi meninggalkan markas itu bersama Kanigara.
“Tapi ingat, kau jangan bertindak ceroboh. Jangan terlalu mencolok, lakukan dengan rapi!” perintah pria tua bermata satu itu pada kedua bawahannya. “Jika aku memanggilmu, segera menghadap dengan jurus perpindahan tubuh!”
“Baik Ki, kami mohon pamit!”
Indurasmi dan Kanigara beranjak dari reruntuhan bangunan itu untuk memulai pergerakannya menuju Desa Telaga Biru, tempat dimana Perguruan Bulan Sabit yang menyimpan Kitab Bulan.
Mereka berdua berencana untuk bergerak pelan, sembari mencari informasi terbaru tentang Negeri Yava. Sedangkan pria tua bermata satu masih saja duduk di kursi untuk memberikan perintah pada beberapa bawahan yang lainnya.
“Siligundi! Pergilah merampok bersama anak buahmu di sisi timur pulau ini. Kirimkan hasil rampokanmu secepat mungkin!” perintah pria tua bermata satu pada salah satu bawahannya yang bernama Siligundi.
“Baik Ki, saya mohon diri,” ucap Siligundi sembari beranjak dari reruntuhan bangunan bersama beberapa anak buahnya.
“Cakara, bukankah kau anggota dari Lima Pendekar Pedang?” Pria tua bermata satu itu bertanya pada salah satu bawahannya.
__ADS_1
“Benar Ki, tapi—!”
Cakara menjelaskan pada Ki Badra bahwa, salah satu dari mereka tewas ditangan Ki Gendon, saat mencoba mengambil Kitab Tanah milik Ki Gendon. Dan kini Lima Pendekar Pedang hanya tersisa empat orang yang semuanya menjadi pendekar pelarian dari perguruan mereka.
“Saya juga mendengar—!”
Cakara kembali menceritakan kalau pedang dari salah satu pendekar yang tewas itu telah diwariskan pada putranya.
“Jika kalian berlima bergabung bersamaku, bukankah kekuatan kita tak tertandingi, bisakah kau membujuk mereka!” seru pria bermata satu itu.
“Baik Ki, akan kucoba,” sahut Cakara.
Lima Pendekar Pedang adalah salah satu kelompok yang paling ditakuti di seluruh Negeri Yava. Mereka berasal dari Perguruan Tanah Putih yang terkenal dengan ilmu berpedangnya.
Kelima pendekar itu kini menjadi pelarian di tiga kerajaan karena rencana mereka gagal untuk mengambil Kitab Tanah milik Ki Gendon, bahkan salah satu dari mereka tewas karena terkena jurus Ki Gendon.
Ada tiga lubang pada bilah pedang itu. Pedang itu mampu bergerak sendiri tanpa dikendalikan oleh pemiliknya, pedang itu bernama Pedang Iblis Hitam.
Yang kedua adalah Cayapata, pria berbadan gempal ini membawa Pedang Bintang, bentuknya sedikit melengkung dengan lebar setengah jengkal. Kemampuan pedang ini dapat memancarkan panas tanpa melukai tubuh pemiliknya.
Agni Ageng satu-satunya perempuan dalam kelompok ini membawa Pedang Api. Agni Ageng bertubuh langsing dan tidak terlalu tinggi dengan pedang yang membesar pada bagian ujungnya dan memiliki dua mata yang tajam. Kemampuan pedang ini mampu menembakkan api.
Yang ke empat ada Bayu Amerta yang membawa Pedang Bayangan. Dia adalah putra dari salah satu pendekar yang tewas di tangan Ki Gendon. Pria pendek dan mungil ini memilik pedang yang berbentuk seperti keris, tetapi lebih panjang dan lebih besar. Kemampuan Pedang Bayangan adalah dapat memperbanyak diri.
Dan yang terakhir ada Samudro Aji dengan membawa Pedang Panjang. Samudro Aji memiliki tubuh yang paling tinggi diantara ke empat pendekar pedang lainnya. Bentuk Pedang Panjang seperti tongkat, bulat memanjang dengan ujungnya yang runcing. Seperti namanya, pedang ini mampu memanjangkan diri dan kembali pada bentuk semula.
Keempat pendekar pedang itu kini menjadi pendekar bayaran, yang bisa disewa oleh siapapun dengan bayaran tinggi. Mereka berpindah-pindah tempat tinggal, dan setiap tiga bulan sekali mereka mengadakan pertemuan di Pulau Iblis, pulau yang letaknya di sebelah selatan Negeri Yava.
__ADS_1
Cakara pun menuju Pulau Iblis untuk pertemuan rutin Lima Pendekar Pedang. Pria itu berangkat sendirian, karena pertemuan itu hanya dihadiri oleh kelima anggotanya saja. Dengan jurus perpindahan tubuh, tentu dengan mudah Cakara sampai pada tujuannya.
“Daryata, Sarira! Pergilah ke Perguruan Teratai Putih di Desa Sumber Angin. Ambil Kitab Angin. Ingat! Lakukan dengan rapi, jangan ceroboh!” perintah pria tua bermata satu.pada dua bawahannya.
“Baik Ki, kami mohon diri,” jawab Daryata.
Dulu Daryata menimba ilmu di Perguruan Teratai Putih. Namun, karena menginginkan kekuatan yang lebih besar, Daryata lebih memilih menjadi pengikut pria bermata satu. Sedangkan Sarira teman kecil Daryata yang dibujuk, dengan iming-iming mendapat kekayaan.
“Hadyan! Kagendra! Aku tugaskan kau mengambil Kitab Bunga milik Perguruan Anggrek Hitam di Desa Sumber Agung. Lakukan dengan rapi!” perintah pria bermata satu.
“Baik Ki! Kami mohon pamit!” jawab Hadyan.
Sejak kecil Hadyan dibawa oleh Ki Badra karena dianggap bocah pembawa sial oleh orang tuanya dan para penduduk Desa Sumber Agung. Dengan bujukan untuk balas dendam, Hadyan patuh dan mengikuti pria bermata satu itu untuk diberi kekuatan.
Berbeda dengan Kagendra yang merupakan anak kepala desa. Karena selalu dikekang oleh orang tuanya, Kagendra memilih untuk menjadi pengikut pria bermata satu.
“Yugala! Kamaraka! Ambillah Kitab Air milik Perguruan Bintang Selatan di Desa Banyu Asin. Lakukan dengan rapi!” perintah pria bermata satu.
“Baik Ki! Segera laksanakan!” jawab Yugala.
Yugala dan Kamaraka adalah dua orang bandit yang terkenal beringas di Kerajaan Indra Pura. Mereka direkrut oleh pria bermata satu karena sangat mengetahui daerah di Desa Banyu Asin. Jadi memudahkan untuk mengambil Kitab Air.
“Taraka! Nariya! Kalian ikut bersamaku untuk mengambil Kitab Tanah milik Perguruan Jiwa Suci di Desa Kedhung Wuni. Tapi tunggu rencanaku!” ucap pria bermata satu.
“Baik Ki!” jawab Taraka singkat.
Taraka dan Nariya adalah mantan abdi dalem Kerajaan Indra Pura. Taraka pemimpin prajurit divisi penyergapan, sedangkan Nariya adalah pemimpin prajurit dari divisi pelacakan. Mereka berdua memiliki kelebihan masing-masing dalam bidangnya, dan itulah yang membuat Ki Badra tertarik untuk merekrut dengan iming-iming menjatuhkan Kerajaan Indra Pura.
__ADS_1