KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Pemberontak (2)


__ADS_3

Sinar matahari pagi menghangatkan suasana Perguruan Jiwa Suci, diiringi kicau burung kutilang menjadi melodi yang menenangkan hati. Seperti biasa, setelah sarapan, murid perguruan menerima materi dari Ki Tunggul di aula pembelajaran.


Sementara itu, Wanapati, Jayadipa dan Ni Luh ditugaskan menemui Layung Semirat di pesisir pantai selatan untuk membawa informasi setelah mengantar surat balasan dari Perguruan Bulan Sabit.


Mereka bertiga berangkat sebelum matahari terbit, jika bergerak dengan tenaga dalam kemungkinan sebelum matahari tepat di atas kepala mereka sudah sampai tujuan.


“Ni Luh! Apa kau masih sanggup bergerak?” tanya Jayadipa yang mengkhawatirkan Ni Luh.


“Lebih cepat lagi aku juga masih sanggup,” jawab Ni Luh sembari bergerak dari satu dahan pohon ke dahan pohon yang lainnya.


“Baguslah kalau begitu! Semoga saja kita tepat waktu!” sahut Wanapati yang bergerak paling depan.


***


Di pagi hari saat hari ketiga, Wulan telah memasuki Desa Kedhung Wuni, melewati jalan berbatu dengan kanan kiri pohon besar dan sesekali bergerak melompat di atas dahan pohon itu. Wulan sengaja menutup mukanya dengan cadar, agar tidak ada yang mengenalinya, meski itu utusan Garu Langit sekalipun.


“Lembah! Lembah! Lembah Manah! Dimana kau!” teriak Wulan setelah sampai di depan perguruan dengan berlari memasuki halaman.


Mendengar suara teriakan, Ki Tunggul yang semula memberi materi di aula pembelajaran berhenti sejenak dan melangkah keluar untuk mencari sumber suara.


“Nona muda! Ada perlu apa Nona Muda datang ke perguruan kami?” tanya Ki Tunggul yang diikuti para murid keluar dari aula pembelajaran.


“Aku mencari Lembah, dimana Lembah Manah?” sahut Wulan menyapukan pandangannya ke setiap sudut perguruan.


Namun siapa yang menyangka, Taka—salah seorang tetua perguruan, melompat melayang di udara dan melepaskan Tinju Apinya ke arah Wulan. Beruntung Wulan masih bisa menghindari satu serangan Tinju Api milik Taka dengan melompat ke belakang.


“Aku tidak ingin bertarung! Aku hanya mencari Lembah. Dimana Lembah Manah!” seru Wulan dengan memasang kuda-kuda.


“Pakaianmu berwarna hitam dan kau memakai penutup muka. Kalau tidak mencelakai Lembah, lalu mau apa?” Taka berdiri di hadapan Wulan dengan mengepalkan tangan kanannya ke depan. “Lembah tidak ada di perguruan ini!”


“Hanya dengan warna pakaian, kau menilaiku demikian!” geram Wulan mengepalkan tangan kanannya.


Wulan ingin menjelaskan maksud kedatangannya, tetapi Taka menghujaninya dengan Tinju Api secara terus menerus. Hingga Wulan terpojok dan berdiam diri, tubuhnya bersandar pada pohon besar di halaman perguruan dan mulai kehabisan tenaga.


“Tunggu Taka, dia belum sempat menjelaskan kedatangan—!”


“Dia pasti orang jahat guru!” jawab Taka memotong ucapan Ki Tunggul.

__ADS_1


Wulan hanya bisa memejamkan mata saat Taka hendak melayangkan Tinju Api dengan tangan kanannya.


“Tuan Putri!” Tiba-tiba terdengar teriakan seorang pemuda dari luar pagar perguruan dan mengejutkan seisinya. Dialah Lembah Manah, dan langsung berlari ke arah Wulan.


Hanya melihat dari sorot matanya saja, pemuda itu tahu bahwa gadis bercadar yang tengah bertarung dengan Taka adalah Wulan.


“Hentikan Taka! Dia adalah Putri Wulan putri dari Raja Brahma Wijaya!” ucap Lembah Manah berusaha melerai Wulan dan Taka.


“Lembah!” Semua mata terbelalak seakan tak percaya atas kepulangan pemuda itu. Sudah lebih dari satu bulan sejak penyerangan Eyang Rahpati, Lembah Manah menghilang tanpa ada kabar.


Meski mereka telah diyakinkan oleh Ki Tunggul bahwa Lembah Manah aman ditangan Begawan Narmada, tetapi tetap saja mereka khawatir akan keadaan temannya itu.


Dengan kedua kaki bertekuk lutut, Lembah Manah memberi hormat kepada Wulan, diikuti seluruh murid perguruan dan juga Ki Tunggul serta Sesepuh Anggada.


“Maafkan hamba Tuan Putri, hamba tidak bermaksud—!”


“Tidak apa-apa. Aku kesini hanya mencari Lembah!” seru Wulan memotong ucapan Taka. “Semuanya bangunlah, jangan sungkan!” lanjut Wulan.


“Ada perlu apa Tuan Putri sampai jauh-jauh datang ke perguruan kami?” selidik Lembah Manah atas kedatangan Wulan.


“Berani sekali mereka menangkap Raja Brahma!” umpat Lembah Manah dengan mengepalkan tangan kanannya. “Guru, kita harus bagaimana?”


Ki Tunggul memberi solusi, jika mereka harus segera membebaskan raja. Ki Tunggul berencana mengalihkan perhatian para prajurit Ki Badra ke halaman istana.


Setelah itu, Wulan yang mengetahui seluk beluk istana kerajaan, bersama Lembah Manah membebaskan para tahanan di dalam penjara bawah tanah.


“Semoga rencana kita berhasil!” ucap Ki Tunggul.


“Guru, kemana Wanapati, Jayadipa dan Ni Luh?” tanya Lembah Manah menolehkan kepala ke sekelilingnya.


“Mereka pergi menemui Layung Semirat di pesisir pantai selatan. Kemungkinan sore atau malam hari mereka baru pulang!” sahut Ki Tunggul.


***


Di tempat lain, rombongan Wanapati tengah berjumpa dengan Layung Semirat. Mereka berempat bersembunyi di sebuah gua yang letaknya di tebing tepi pantai. Sepertinya pertemuan mereka akan sedikit lama, selain melepas rindu, Layung Semirat juga melapor tentang keadaan Perguruan Bulan Sabit di Desa Telaga Biru.


“Layung, bagaimana kabarmu. Setahun kita tidak bertemu, pastinya kau bertambah hebat!” ucap Wanapati sembari menepuk pundak Layung Semirat.

__ADS_1


“Ya seperti yang kau lihat Wanapati. Kalian juga tambah lebih hebat pastinya!” sahut Layung Semirat.


Cukup lama mereka saling bertukar cerita, dari kepergian Layung Semirat setahun yang lalu, hingga menceritakan Lembah Manah yang semakin lama ilmu kanuragannya semakin meningkat dan menjuarai pertandingan di kerajaan. Kemudian menghilang setelah terkena satu jurus milik Eyang Rahpati yang menyerang perguruan.


“Aku tak percaya Lembah sehebat itu. Jika bertemu, pasti akan kujitak kepalanya hahaha!” seru Layung Semirat sembari tertawa. “Lalu dimana anak itu sekarang?”


“Kami juga tidak tahu pasti!” sahut Wanapati menolehkan kepalanya ke arah Ni Luh yang masih bersedih ketika menyinggung tentang Lembah Manah. “Tapi menurut guru, Lembah Manah aman bersama seorang pertapa sakti!”


“Apa!” Layung Semirat terkejut.


Layung Semirat juga melaporkan, menurutnya Ki Badra yang telah mendirikan Organisasi Lowo Abang segera melakukan pergerakan saat Pertandingan Besar nanti. Entah mengirim beberapa anak buahnya mengikuti pertandingan, atau menyusup sebagai penonton. Yang jelas mereka harus waspada saat Pertandingan Besar nanti.


“Lalu bagaimana keadaan Perguruan Bulan Sabit?” tanya Jayadipa penasaran.


“Aku juga tak habis pikir. Perguruan sehebat itu bisa kalah hanya dengan dua orang saja,” jawab Layung Semirat seraya menggelengkan kepalanya.


“Apa!”


Wanapati, Jayadipa dan Ni Luh terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Layung Semirat.


“Ya, Indurasmi dan Kanigara. Dua anak buah Ki Badra yang meluluhlantakkan Perguruan Bulan Sabit!” Layung Semirat meneteskan air mata. “Tapi Indurasmi tewas di tangan adiknya sendiri, Sambara!”


“Apa!” Lagi-lagi ketiganya dibuat terkejut oleh perkataan Layung Semirat.


“Dan yang paling mengkhawatirkan, Kitab Bulan berhasil dibawa Kanigara!” sambung Layung Semirat.


“Oh tidak!” ucap mereka bertiga secara bersamaan.


“Ki Badra semakin merajalela bersama para pengikutnya!” sahut Wanapati mengepalkan tangan kanannya.


“Baiklah, sampaikan pada ayahku, aku akan mengikuti Kanigara dan mencari markas Ki Badra. Sebelum dia menjauh, jika selisih satu hari aku masih bisa mengejarnya, tapi kalau lebih kemungkinan akan kehilangan jejak. Aku akan kembali ke perguruan dua bulan lagi?” tutup Layung Semirat.


“Tapi—!”


“Untuk urusan berlari, tidak ada yang bisa mengalahkanku!” ucap Layung Semirat memotong perkataan Wanapati.


Layung Semirat berlalu dan hendak membuntuti Kanigara. Dengan luka diperutnya, Kanigara tak mungkin menggunakan ilmu kanuragan atau ilmu perpindahan tubuh karena telah kehabisan tenaga dalam. Dan pastinya bergerak lambat untuk menghadap Ki Badra.

__ADS_1


__ADS_2