
Namun, Pramasala masih bisa menangkis dengan pedangnya dan mendorong Wanapati hingga terhuyung beberapa langkah ke belakang. Mereka saling pandang dari jarak sepuluh langkah. Pramasala mulai menggunakan jurusnya.
“Pedang Kemarung Hitam!”
Pramasala menebaskan pedangnya dari atas ke bawah, seolah menebas sesuatu di depannya, diikuti dengan keluarnya sepuluh cahaya hitam berbentuk bulat memanjang sebesar jari telunjuk orang dewasa melesat dengan cepat ke arah Wanapati.
“Kapak Pembelah Langit!”
Wanapati menebaskan kapaknya dari kanan ke kiri, diikuti dengan cahaya berwarna kuning yang melesat ke arah Pramasala.
DYAR
Terjadi ledakan dahsyat akibat benturan kedua tenaga dalam mereka yang membuat arena pertarungan bergetar dengan diiringi asap tebal mengepul.
“Siapa pemenangnya, aku tidak bisa melihat, asap ini terlalu tebal,” seru salah satu penonton.
Raja Brahma terlihat sedikit tegang menyaksikan pertarungan kali ini dengan sesekali menggigit kuku ibu jari kanannya. Sementara itu, Lembah Manah tetap dapat melihat dengan jelas meski asap tebal menyelimuti arena pertarungan.
“Tidak apa-apa, emm, mereka masih berdiri,” ucap Lembah Manah.
“Apa! Benarkah!” sahut Jayadipa.
Keduanya masih tetap berdiri setelah asap menghilang diiringi tepuk tangan dari penonton. Mereka tampak seimbang karena sama-sama memiliki ilmu kanuragan tingkat Andhap tahap akhir.
“Rupanya kau lumayan juga,” seru Pramasala yang siap melancarkan serangan berikutnya.
“Pedang Seribu Kemarung!”
Pramasala menebaskan pedang dari kanan ke kiri yang dibarengi dengan keluarnya seribu cahaya berwarna hitam yang melesat menuju Wanapati.
Wanapati mengalirkan tenaga dalam pada kapak yang digenggamnya, dan dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, pemuda itu menebaskan kapaknya dari kanan ke kiri.
“Kapak Pembelah Langit!” ucap Wanapati diikuti sepuluh cahaya kuning melesat horizontal ke arah Pramasala.
BLAR
__ADS_1
Ledakan kedua lebih dahsyat dari sebelumnya, hingga membuat getaran di sekitar arena pertarungan dan asap debu tebal yang mengepul. Cahaya hitam milik Pramasala lenyap karena cahaya kuning milik Wanapati dan hanya menyisakan beberapa saja yang tetap melesat ke arah Wanapati.
Namun, cahaya kuning milik Wanapati tetap melesat dengan cepat dan mengenai tubuh Pramasala. Pemuda berpedang itu terdorong oleh cahaya kuning milik Wanapati, hingga terseret keluar arena pertarungan.
Tanpa Wanapati sadari, satu serangan hitam milik Pramasala yang tersisa juga melesat ke arahnya, tetapi dengan kecepatan yang semakin berkurang.
Wanapati terkena satu serangan cahaya hitam itu pada bagian lengan kirinya. Menusuk dari bagian depan menancap tembus ke bagian belakang, diikuti darah keluar dari luka tersebut.
“Siapa pemenangnya, aku tak bisa melihat. Asap ini lebih tebal dari sebelumnya!” ucap salah satu penonton.
Raja Brahma semakin tegang menyaksikan ledakan yang kedua. Beliau terlihat sedikit beranjak dari singgasananya.
Tampak Wanapati masih berdiri dengan memegangi lengan kirinya yang sedikit berlumuran darah setelah kepulan asap debu itu menghilang.
Sedangkan Pramasala terhempas keluar arena jatuh telentang di depan bangku penonton yang jaraknya lebih dari lima puluh langkah di bibir arena pertarungan dengan pakaiannya sobek-sobek.
“Pemenangnya Wanapati dari Perguruan Jiwa Suci!” seru Patih Ragas yang diiringi tepuk tangan dan teriakan dari penonton.
Raja Brahma pun ikut bertepuk tangan menyaksikan pertarungan yang sangat menegangkan.
Pramasala juga mendapat perawatan, pemuda itu ditandu oleh beberapa prajurit lalu menuju kamar pengobatan. Lembah Manah, Jayadipa dan Ni Luh yang khawatir akan keadaan Wanapati, mereka bergegas menyusul menuju kamar pengobatan untuk memastikan keadaan temannya.
“Apa kau baik-baik saja Wanapati?” seru Lembah Manah bertanya kepada Wanapati sesaat setelah memasuki kamar perawatan.
“Sepertinya aku tidak apa-apa Lembah, ini hanya luka kecil,” jawab Wanapati sedikit menyembunyikan rasa sakitnya.
Lembah Manah mencoba memeriksa luka pada lengan kiri Wanapati. Menurutnya luka Wanapati tidak terlalu serius. Lembah Manah mengalirkan tenaga dalam pada kedua telapak tangannya, lalu menghentikan pendarahan pada luka Wanapati.
“Lembah, sebaiknya kau kembali ke bangku peserta. Suara Patih Ragas tidak terdengar dari sini jika namamu dipanggil,” ucap Wanapati mengingatkan Lembah Manah.
“Biar aku yang menjaga Wanapati, kau pergilah bersama Ni Luh,” imbuh Jayadipa.
“Emm, baiklah. Ayo Ni Luh!” sahut Lembah Manah sembari berjalan menuju bangku peserta diikuti Ni Luh di belakangnya.
“Lembah, terima kasih telah mengkhawatirkanku!” seru Wanapati.
__ADS_1
Lembah Manah hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Wanapati di kamar perawatan. Wanapati sepertinya baik-baik saja, dengan ditemani Jayadipa, pemuda itu beristirahat setelah meminum ramuan pemulihan tubuh yang diberikan oleh Lembah Manah.
“Pertarungan ketiga putaran kedua. Giandra dari Perguruan Bambu Wulung melawan Prajalana, dari Desa Seribu Embun!” seru Patih Ragas yang diiringi teriakan dan tepuk tangan dari penonton.
Kedua peserta memasuki arena pertarungan dari sudut yang berbeda. Setelah memberi hormat pada Raja Brahma, mereka saling membungkukkan badan satu sama lain.
“Mulai!” seru Patih Ragas.
Giandra berinisiatif menyerang terlebih dahulu, pemuda kekar itu melesat menebaskan pedangnya mengincar bagian atas tubuh Prajalana. Namun Prajalana masih bisa menangkis dengan mudah lalu salto ke belakang dan melempar pedangnya ke arah Giandra.
Giandra yang telah membaca serangan Prajalana, dengan mudah menangkis lemparan pedang Prajalana menggunakan pedangnya. Pedang Prajalana menancap pada lantai arena pertarungan setelah terkena tebasan pedang Giandra.
Kini Prajalana maju dengan gerakan salto ke depan untuk mengecoh Giandra yang menebaskan pedangnya mengarah pada Prajalana. Namun, tebasan Giandra tak juga mengenai tubuh Prajalana karena gerakannya yang lincah.
Prajalana kembali mendapatkan pedangnya setelah mencabut dengan gerakan salto ke belakang. Pemuda itu melesat ke arah Giandra dengan menebas pedangnya mengincar bagian atas tubuh Giandra.
Dan lagi-lagi, Giandra menangkis tebasan pedang Prajalana lalu mendorongnya hingga Prajalana terhuyung ke belakang.
Saat Prajalana terhuyung ke belakang, Giandra menebaskan pedangnya mengincar bagian bawah Prajalana. Sembari salto ke belakang, Prajalana melancarkan tendangan kaki kanannya tepat mengenai wajah Giandra.
Darah mengalir keluar dari mulut Giandra, diusapnya dengan telapak tangan kirinya. Pemuda kekar itu geram dan melesat menuju lawannya sesaat setelah Prajalana mendarat dari saltonya. Giandra menebas dengan mengalirkan tenaga dalam dan kekuatan penuh.
Prajalana yang belum siap mengambil kuda-kuda, menangkis tebasan Giandra tanpa menggunakan tenaga dalamnya. Prajalana terlempar keluar arena bersamaan dengan pedangnya, pemuda itu terguling beberapa langkah dan tubuhnya terhenti satu langkah di luar arena pertarungan.
“Pemenangnya Giandra dari Perguruan Bambu Wulung,” seru Patih Ragas.
“Bagus Giandra!” ucap Ki Pethuk Cemeng yang duduk di bangku peserta bersama Gantala.
Penonton bersorak dan bertepuk tangan menikmati pertandingan yang seimbang. Raja berdiri dan ikut memberi tepuk tangan, beliau merasa pertandingan pendekar muda kali ini banyak peserta yang berbakat.
“Astaga, aku keluar arena,” umpat Prajalana pada dirinya sendiri.
Giandra membungkukkan badannya ke arah Raja Brahma dan kembali ke tempat duduknya dengan melambaikan tangan ke penonton.
“Pertarungan ke empat, pertarungan terakhir putaran kedua. Barani dari Perguruan Pedang Putih melawan Lembah Manah dari Desa Kedhung Wuni!” seru Patih Ragas.
__ADS_1
“Wah, sekarang giliranku Ni Luh,” ucap Lembah Manah sembari melangkah menuju arena pertarungan.