
Malam berganti pagi, matahari menampakkan wujudnya dari timur dengan guratan-guratan kuning yang memanjakan mata. Lembah Manah telah bersiap sedari langit timur sedikit memerah. Berbeda dengan Wulan, dan rombongan Araka, tampaknya mereka masih terlelap dalam tidurnya karena kelelahan.
“Selamat pagi Tuan Putri!” seru Lembah Manah yang hanya dijawab senyuman Wulan sesaat setelah bangun dari tidurnya.
Wulan tersenyum membelalakkan mata, di depannya sudah tersaji kelinci bakar dengan ukuran besar. Sebenarnya, sepanjang malam Lembah Manah tak sedikit pun memejamkan matanya, pemuda itu berjaga-jaga jika kemungkinan bala bantuan Bagiri dan Bandini datang menyergap mereka.
Dan ketika langit timur sedikit terang, Lembah Manah berburu kelinci dengan tombak yang kemarin dibuatnya. Sementara rombongan Araka juga mulai terjaga dari tidur lelapnya, keadaan Tiga Bunga Bersaudara juga lebih baik setelah menyerap ekstrak penempaan tubuh yang mereka miliki.
Sekar sedikit murung ketika melihat kedekatan Lembah Manah dan Wulan. Dan itu diketahui oleh Kenanga yang sangat ahli dalam hal percintaan.
“Selama janur kuning belum melengkung, dia bukan milik siapa-siapa!” lirih Kenanga di telinga Sekar dan hanya disambut dengan senyuman putri Kepala Desa Seribu Embun itu.
***
Perjalanan dilanjutkan, mereka bergerak menyusuri hamparan padang rumput dan mendapati hutan rakyat yang ditanami satu jenis pohon saja. Wulan bergerak meringankan tubuhnya, berpindah dengan memanfaatkan dahan pohon besar sebagai pijakan.
Sedangkan Lembah Manah dan rombongan Araka mengikuti di belakang Wulan, dengan jarak tidak lebih dari sepuluh langkah.
Hingga menjelang sore hari, mereka telah sampai di pesisir pantai utara desa dan hendak mencari Dermaga Bemini. Terlihat beberapa nelayan tengah menepi dan menyandarkan perahu mereka.
Tak jauh dari perahu para nelayan itu, Lembah Manah melihat dermaga yang menurutnya itu adalah dermaga yang mereka cari. Benar saja, setelah berjalan sekitar satu kilometer mereka telah sampai di Dermaga Bemini.
Namun, mereka tak menjumpai nelayan yang tengah melaut sore hari. Kemungkinan esok pagi, mereka baru mendapat perahu yang mengantar warga ke Pulau Menjangan.
“Lagi-lagi kita harus bermalam, Tuan Putri!” seru Lembah Manah menghela napas pelan.
“Baiklah! Itu tak jadi masalah, sembari menunggu rombongan Patih Ragas datang, kita bermalam di pantai ini!” sahut Wulan tersenyum.
“Bagaimana dengan kalian, Araka?” Lembah Manah menoleh ke rombongan Araka dan merasakan adanya keraguan dari pihak Araka.
__ADS_1
“Kami ikut dengan kalian. Anggap saja kau sebagai ketua kelompok ini!” sahut Araka yang disambut senyuman Sekar dan Tiga Bunga Bersaudara.
Hingga menjelang malam, mereka bertujuh bermalam di tepi pantai, mengingat pemukiman penduduk lokasinya berjauhan satu dengan yang lainnya. Lagi pula jika rombongan Patih Ragas melewati tempat ini, tentu akan bertemu dengan mereka bertujuh.
Malam semakin larut, Wulan terlelap di bawah pohon cemara laut dengan alas daun dan ranting kering. Lembah Manah masih terdiam di depan perapian yang masih menyala.
Pemuda itu sengaja membuat perapian sedikit menjauh dari bibir pantai, agar tak terlihat jika ada prajurit aliran hitam itu berpatroli.
Tanpa ada angin, tanpa ada hujan, tiba-tiba Sekar memeluk Lembah Manah dari belakang, entah kenapa Sekar nekat melakukan itu. Mungkin saja Sekar menahan rasa rindu dengan Lembah Manah, karena lama tak bertemu dengan pemuda itu.
Dan malam ini, adalah kesempatan Sekar untuk melepaskan rindunya kepada Lembah Manah. Mengingat sepanjang perjalanan dari hamparan padang rumput, hingga pesisir pantai utara, Lembah Manah selalu didekati Wulan.
“Hei! Apa yang kau lakukan, Sekar!” kilah Lembah Manah mencoba melepaskan kedua tangan Sekar yang memeluknya. “Nanti mereka bangun!”
“Biar saja mereka bangun, sekalian mereka tahu kalau aku memelukmu!” sahut Sekar sembari tersenyum. “Aku rindu kamu, Lembah!”
Sekar melepaskan tangannya dan duduk di samping Lembah Manah. Sekar banyak bercerita kepada Lembah Manah mengenai banyak pemuda yang menyukainya. Menurutnya, para pemuda yang mengejarnya hanya akan mempermainkannya, tanpa ada yang serius untuk menjalin hubungan.
“Emm, apa itu, Sekar?” sahut Lembah Manah mengerutkan keningnya. “Apa mungkin mereka kurang tampan, atau ilmu kanuragannya kurang tinggi. Ahh, aku tahu, emm, mungkin mereka bukan anak bangsawan seperti dirimu, Sekar!”
“Bukan!” jawab Sekar mendekatkan wajahnya pada wajah Lembah Manah yang kembali memperhatikan perapian. “Alasannya adalah kau, Lembah!”
Setelah berkata demikian, Sekar menempelkan bibirnya pada pipi Lembah Manah dan berlalu meninggalkan pemuda itu di depan perapian. Sekar merebahkan tubuhnya di samping Tiga Bunga Bersaudara.
Lembah Manah hanya diam terpaku, membelalakkan matanya, lalu menelan ludahnya sendiri. Diusapnya pipi kiri dengan tangan kirinya, dan menoleh ke arah Sekar yang langsung berbaring bersama Tiga Bunga Bersaudara.
“Mungkin Sekar hanya bercanda!” lirih pemuda itu merebahkan tubuhnya di depan perapian dengan alas rumput kering yang telah dibuatnya.
***
__ADS_1
Langit timur mulai sedikit terang, yang menandakan sebentar lagi pagi menjelang. Sepanjang malam, tak ada pergerakan dari musuh atau apa pun yang mencurigakan. Lembah Manah juga tetap terjaga, hanya terlelap beberapa saat saja pemuda itu terbangun karena suara binatang malam.
Pagi ini, mereka sarapan dengan ikan laut bakar, hasil tangkapan Lembah Manah dengan tombaknya. Seperti pagi kemarin, Wulan membuka matanya sesaat setelah matahari menyinari wajahnya.
“Selamat pagi Tuan Putri!” seru Lembah Manah tersenyum.
Di sisi lain, Sekar memperhatikan Lembah Manah penuh dengan rasa cemburu. Lembah Manah memperlakukan Wulan dengan sangat baik, dan itu membuat Sekar semakin kagum terhadap pemuda itu.
“Pantas saja betah berlama-lama! Rupanya ada Tuan Putri!”
Teriak seseorang di belakang Lembah Manah yang tak lain adalah Wanapati. Ya, pemuda itu datang bersama Jayadipa, Nata dan Patih Ragas beserta tiga bawahannya, dan satu lagi seorang nelayan yang mereka sewa untuk mengantar sampai seberang.
Lembah Manah tak bisa berkata-kata jika sudah ada Wanapati di hadapannya.
“Ja—jangan Wanapati!” seru Lembah Manah melihat ikan hasil tangkapannya diserbu oleh rombongan Wanapati.
“Hmm, enak sekali. Apa kau tak mau makan Lembah?” sahut Wanapati menikmati ikan bakar di depan perapian yang hanya menyisakan baranya saja.
Lembah Manah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan salah satu kawannya itu. Wulan meraih dua potong dan mendekati Lembah Manah, tuan putri itu memberikan satu potong lagi untuk Lembah Manah.
Untung saja pemuda itu mendapat tangkapan yang tidak sedikit, jadi cukuplah untuk mengisi perut sebelum menuju Pulau Menjangan.
“Kenapa hanya kalian bertiga. Dimana teman yang lain?” seru Lembah Manah.
“Begini Lembah—!”
Wanapati menceritakan, bahwa murid perguruan dibagi menjadi beberapa tim yang berisi tiga sampai empat orang.
Wanapati, Jayadipa dan Nata ditugaskan mendampingi Patih Ragas. Sementara murid yang lain, ada yang bergerak ke pesisir selatan dan ada juga yang bergerak ke pesisir pantai timur, untuk menekan pergerakan anggota Keraton Agung Sejagat.
__ADS_1
“Jadi begitu!” sahut Lembah Manah menggaruk lehernya.