KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perguruan Anggrek Hitam (2)


__ADS_3

“Naiklah di belakang dan jangan banyak bicara!” sahut paman kusir kuda itu mempersilakan rombongan Wanapati. “Jika penjaga perbatasan bertanya, jawab saja kalau kalian abdi dalem Nona Muda Ayu Ratri!”


Kereta kuda bergerak pelan, di dalam kereta kuda itu, Ayu Ratri mendengar percakapan empat pemuda di gerobak belakang.


Gadis itu teringat tentang nama Lembah Manah, menurutnya pemuda itu adalah pemenang pertandingan pendekar muda di kerajaan beberapa saat yang lalu. Dan mendapat satu tempat pada pertandingan besar enam minggu lagi di Kerajaan Indra Pura, tetapi kenapa mereka pergi ke Desa Sumber Agung yang berada di wilayah Kerajaan Tanjung Pura?


Ayu Ratri ingin bertanya kepada mereka, tetapi gadis itu mengurungkan niatnya. Mengingat dia seorang anak Kepala Desa Sumber Angin, yang bersebelahan dengan Desa Sumber Agung, tidak enak rasanya jika bertanya lebih jauh lagi kepada para pemuda itu.


“Siapa pemuda yang bernama Lembah ini?” lirih Ayu Ratri di dalam kereta kudanya.


Ketika melewati pintu gerbang perbatasan kerajaan, mereka diperiksa oleh beberapa penjaga dan menjawab pertanyaan seperti apa yang diucapkan oleh paman kusir kuda. Sepertinya aman, dan kereta kembali melaju memasuki wilayah Kerajaan Tanjung Pura.


“Paman Lampati! Jika bertemu kedai makan, kita berhenti sejenak!” seru Ayu Ratri sembari membuka tirai kereta kuda yang dijawab dengan anggukan kepala kusir kuda itu.


Matahari telah tegak lurus di atas mereka, setelah melewati hutan, mereka memasuki wilayah Kerajaan Tanjung Pura. Untuk menghindari kecurigaan para prajurit kerajaan, Wanapati meminta Paman Lampati untuk mempercepat laju kereta kudanya.


“Bangun, bangun!” seru Paman Lampati ketika sampai di sebuah kedai makan yang agak ramai pengunjung.


Mereka berempat membuka mata sesaat setelah mendengar teriakan dari kusir kuda itu. Sepertinya kedai makan itu lokasinya di pinggiran pusat kerajaan, karena tidak terlalu banyak prajurit yang berjaga.


Merasa dibangunkan oleh Paman Lampati, Lembah Manah kaget dan terjatuh dari gerobak, di saat yang bersamaan, Ayu Ratri turun dari dalam kereta kudanya.


“Aduh!” seru Lembah Manah ketika kepalanya menghantam tanah dan ditertawakan tiga temannya.


“Apa aku sedang bermimpi! Kenapa di depanku ada Dewi Rengganis!” seru Lembah Manah mengusap wajah dengan kedua tangannya yang membuat Ayu Ratri tersipu malu dengan ucapan pemuda itu.


PLAK!


Wanapati menampar kepala Lembah Manah dan berkata, “bocah gendeng! Dewi Rengganis, kepalamu peang!”


“Aduh!” teriak Lembah Manah memegangi kepalanya.


“Maafkan kelancangan hamba Nona Muda—!”


“Ayu Ratri!” sahut gadis itu melanjutkan perkataan Lembah Manah.

__ADS_1


“Perkataan tadi keluar begitu saja karena melihat kecantikan Nona Muda bagaikan Dewi Rengga—!”


PLAK!


Kembali Wanapati menampar kepala Lembah Manah.


“Berhenti merayu Nona Muda!" kilah Wanapati menoleh ke arah Ayu Ratri dan berkata, "maafkan teman saya yang satu ini Nona Muda. Jika lapar dia selalu lepas kendali!"


“Aduh!” teriak Lembah Manah lagi yang mengundang tawa rombongannya.


Ayu Ratri tertawa dengan menutupi wajahnya, tetapi Bergas Lukito sepertinya mengenal gadis cantik itu.


“Apakah nona muda ini putri dari Kepala Desa Sumber Angin?” tanya Bergas Lukito yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Ayu Ratri.


Mereka memasuki kedai makan itu dan melakukan ritual siangnya. Wanapati duduk bersama tiga rekannya, sementara Paman Lampati berada di meja lain bersama Ayu Ratri.


Wanapati hendak keluar dari kedai itu terlebih dahulu, takutnya makanan mereka dibayar oleh Ayu Ratri, mengingat semua hidangan yang mereka pesan adalah porsi besar.


Beberapa pengunjung melirik ke arah rombongan Wanapati, tetapi ketika Wanapati menoleh ke arah pengunjung itu, pengunjung itu memalingkan pandangan ke arah yang lain.


“Paman! Berapa semuanya!” seru Wanapati kepada pria pelayan kedai makan.


“Apa!” sahut Wanapati membelalakkan matanya, lalu melirik ke arah Lembah Manah dengan senyuman pasrah. “Lembah! Kamu yang bayar ya! Aku tunggu di depan, hehehe!”


“Huh dasar Wanapati!” protes Lembah Manah.


“Sudah kita bagi dua saja, Lembah. Aku dua puluh lima, kamu dua puluh lima!” ucap Nata menengahi Lembah Manah dan Wanapati.


Kembali mereka melanjutkan perjalanan, dengan bergerak pelan, kereta kuda itu memasuki wilayah Desa Sumber Waringin yang berada di sebelah selatan Desa Sumber Agung.


Ayu Ratri berniat untuk mencari penginapan di pusat desa, karena hari beranjak sore. Jika perjalanan tetap dilanjutkan, akan terlalu berbahaya, mengingat telah terjadi teror di desa sebelahnya.


Rombongan Wanapati memutuskan untuk turun dari gerobak kereta kuda dan melanjutkan dengan berjalan kaki menuju Desa Sumber Agung.


“Terima kasih atas tumpangannya, paman!” ucap Wanapati membungkukkan badan diikuti tiga temannya.

__ADS_1


“Sama-sama anak muda! Berhati-hatilah kalian!” sahut Paman Lampati.


“Sampai jumpa nona muda!” teriak Lembah Manah melambaikan tangannya ketika kereta kuda telah berjalan menjauhi mereka.


Tak menunggu lama, mereka bergerak dengan meringankan tubuh ke arah utara. Berpindah dari dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lain, sesekali mereka berlari di jalanan tanah berbatu ciri khas pedesaan.


“Bergas! Bawa kami ke tempat yang tinggi, agar dapat memantau seluruh Desa Sumber Agung!” seru Wanapati memecah keheningan.


“Kebetulan perbatasan desa ini di pisahkan oleh bukit kecil. Kita bisa menjadikan bukit itu untuk tempat pemantauan!” sahut Bergas Lukito.


Hingga hari menjelang petang, mereka melesat memasuki hutan untuk menghindari warga yang bisa saja itu pelaku penculikan.


Beberapa saat berlalu, mereka telah sampai di puncak bukit kecil tempat untuk pengintaian. Seluruh desa tampak jelas dari atas bukit kecil ini, hanya beberapa rumah saja yang tertutup atap pendopo kepala desa sehingga tak terlalu kelihatan.


Malam semakin larut, hanya ada beberapa warga saja yang bersiaga sembari membawa obor. Para warga itu membagi tiga orang dalam satu kelompok.


Beberapa murid Perguruan Anggrek Hitam juga bersiaga, ada yang bersembunyi di atap rumah warga, ada yang bersembunyi dibalik semak-semak, bahkan ada juga yang menjadi satu di dalam kandang ternak.


“Byakta!” seru Nata menggunakan mata istimewanya. Namun, setelah beberapa saat memperhatikan seluruh desa, pemuda itu tertawa kecil.


“Hei! Jangan berisik! Apa yang kau tertawakan!” protes Wanapati meletakkan jari tangan kanan di depan bibirnya.


“Hihihi, hei Bergas! Sepertinya temanmu bersembunyi di kandang kambing!” ucap Nata menahan tawa yang dibalas Bergas Lukito dengan tersenyum menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Wanapati masih penasaran dengan cara kerja penculik itu. Meski penjagaan telah diperketat, tetapi masih saja ada korban di setiap malamnya. Bahkan, semakin hari korbannya semakin bertambah.


Biasanya, keluarga korban menyadari jika kerabatnya telah hilang karena diculik, ketika pagi setelah matahari terbit.


Memasuki dini hari, Wanapati melihat beberapa warga yang berpatroli mulai menguap karena rasa kantuk yang tak tertahankan dan mulai berhenti bergerak, sepertinya mereka tertidur.


“Byakta!”


Kembali Nata mengaktifkan jurus penglihatannya. Namun, pemuda itu menguap setelah beberapa saat, diikuti tiga temannya—Wanapati, Lembah Manah dan Bergas Lukito.


“Nata! Apa yang kau li—!” Ucapan Wanapati terhenti.

__ADS_1


“Gawat! Ajian Panyirepan!” seru Nata yang perlahan memejamkan matanya.


Perkataan Wanapati terhenti, pemuda itu tertidur, diikuti Bergas Lukito dan Lembah Manah yang perlahan masih memiliki kesadaran dan mendengar perkataan Nata sebelum mereka semua tertidur.


__ADS_2