KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perang (1)


__ADS_3

Tak lama berselang, para petinggi tiga kerajaan digiring ke panggung dan mendekat ke tiang gantung. Ada sekitar lima belas orang dengan usia empat puluh hingga enam puluhan tahun, berdiri saling berdekatan di belakang Ki Badra dan Tirta Banyu.


Tampak Kusumawijaya dibawa oleh empat prajurit bawahan Ki Badra untuk maju di bawah tiang gantung. Tangannya terikat ke belakang, dengan tubuh penuh luka lecutan cambuk.


Rakyat Sokapura yang menyaksikan tak mampu berkata-kata, banyak dari mereka hanya menundukkan kepalanya. Salah satu putra mahkota dari kerajaan sebelah akan segera dieksekusi oleh saudara kandungnya sendiri.


“Adik kecilku yang malang!” seru Tirta Banyu sesaat setelah mendekati adiknya sendiri. “Sebentar lagi kau akan menemui ajalmu, dan aku akan memimpin wilayah Indra Pura, hahaha!”


Kusumawijaya hanya menatap kakaknya dengan mata sayu. Dirinya benar-benar tak pernah berpikir jika Tirta Banyu tega terhadap keluarganya sendiri. Dan lebih lagi, jika dirinya yang dipilih oleh rakyat untuk naik takhta, Kusumawijaya akan menyerahkan jabatan itu kepada kakaknya sendiri.


Kusumawijaya tidak pernah berniat untuk menjadi raja. Jika diberi kesepakatan, dirinya lebih memilih untuk menjadi rakyat biasa dan tidak mengganggu pemerintahan Tirta Banyu di dalam istana kerajaan, daripada harus bersitegang dengan saudaranya sendiri.


Namun, ada cerita lain dibalik kebencian Tirta Banyu terhadap Kusumawijaya. Kusumawijaya lebih dicintai rakyat Indra Pura, karena kelembutannya. Berbanding terbalik dengan Tirta Banyu yang tegas dan keras.


Itulah yang membuat Tirta Banyu ingin segera menyingkirkan adiknya sendiri.


Sesaat setelah Kusumawijaya menaiki kursi setinggi pinggang orang dewasa, salah satu algojo memasang tali kekang pada leher adik Tirta Banyu tersebut. Dengan tawa kerasnya, Tirta Banyu menendang kursi itu menggunakan kaki kanannya.


“Tamatlah riwayatmu Kusumawijaya, hahaha!”


Bersamaan dengan itu, seluruh rakyat Sokapura dan bahkan mungkin ada rakyat Indra Pura dan Tanjung Pura berteriak secara bersamaan menyaksikan kekejaman Tirta Banyu. Ada yang menutup mata, ada yang menundukkan kepala, dan ada juga yang jatuh terkulai.


Namun tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melesat ke arah tubuh Kusumawijaya. Disusul empat bayangan hitam bergerak cepat meraih tubuh para petinggi kerajaan di atas panggung eksekusi.


“Apa yang terjadi?” Tirta Banyu keheranan menyaksikan tali gantungan terpotong dengan rapi, lalu menoleh ke arah belakang tiang gantungan. “Kenapa semua menghilang?”


“Itu di sebelah sana!” teriak seorang prajurit penjaga menara mengarahkan tangan kanannya pada seorang pemuda yang membawa tubuh Kusumawijaya.

__ADS_1


“Dialah pemuda yang mengalahkan Hadyan. Dia memiliki Tiga Gerbang Kehidupan!” seru Kagendra dari atas panggung melihat jelas Lembah Manah yang mendaratkan Kusumawijaya pada salah satu tembok pagar istana.


“Apa!” Semua yang berada di atas panggung eksekusi terkejut mendengar penjelasan Kagendra.


“Ada lagi di sebelah sana!” Prajurit penjaga menara kembali berteriak dan menunjuk pada empat bayangan hitam yang membawa setidaknya lima belas para petinggi kerajaan.


Ya, Lembah Manah bersama Barani, Layung Semirat, Bergas Lukito dan juga Nata bergerak cepat meraih tubuh para petinggi tiga kerajaan. Dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa, Lembah Manah memotong tali eksekusi menggunakan kipas baja milik Wulan.


Dari atas tembok pagar istana, Lembah Manah mengisyaratkan agar seluruh rakyat yang berada di halaman istana untuk segera menjauh dan berlindung di bukit kecil yang tak jauh dari Istana Sokapura.


Karena mungkin sebentar lagi tempat itu akan menjadi medan pertempuran.


“Semuanya, lari! Lindungi diri kalian!” Seorang kakek tua berteriak memperingatkan rakyat Sokapura yang masih berada di pelataran halaman istana. Semua lari berhamburan menyelamatkan dirinya masing-masing.


Ada yang menuju ke bukit kecil belakang istana sesuai arahan Lembah Manah. Dan ada juga yang memilih menjauh dari pusat kerajaan.


“Bunuh mereka, jangan sampai lolos!” teriak Tirta Banyu dari atas panggung eksekusi.


Namun, belum juga anak panah terlepas dari busurnya, satu ledakan mendarat tepat di tengah prajurit pemanah, hingga membuat mereka terlempar berhamburan dengan luka yang tidak ringan.


“Maafkan kami Sokapura, terpaksa kami harus menggunakan meriam peledak ini!” seru Empu Tulak dari luar tembok istana, kakek tua itu memimpin para pendekar dari Kadipaten Lembah Bunga. “Serang!”


Setelah berkata demikian, lima meriam peledak bergantian menyerang Istana Sokapura.


“Terima kasih, kalian semua telah datang tepat waktu!” seru Raja Brahma memandangi para pendekar aliran putih.


Di saat para prajurit yang berpihak kepada Ki Badra disibukkan dengan peluru dari meriam peledak. Tiba-tiba sebuah kapak bercahaya kuning berputar melesat cepat dan melukai mereka dengan berbagai macam cedera.

__ADS_1


“Apa itu!” seru salah satu pendekar aliran hitam membelalakkan matanya.


Tentu saja itu adalah Kapak Pembelah Langit milik Wanapati yang berhasil memberi serangan kejutan. Pemuda itu berdiri di atas tembok pagar istana dengan tangan kanan ke depan dan fokus mengendalikan kapaknya.


“Aku tak menyangka, Kapak Pembelah Langit masih ada di tempat ini!” ucap salah seorang prajurit melihat kapak milik Wanapati menghabisi sepuluh bawahan Ki Badra.


Pada salah satu menara pengintai, Wulan berhasil mengalahkan tiga prajurit penjaga. Dengan kipas bajanya yang telah kembali dari Lembah Manah, tuan putri itu membuat luka sayatan pada leher tiga lawannya.


“Hoi kalian!” seru Wulan memandangi para pendekar aliran hitam. “Bersiaplah untuk mati!”


“Itu kan, Wulan! Putri Raja Brahma!” ucap salah satu pendekar aliran hitam yang melihat Wulan berdiri di menara pengintai. “Kurang a—aahhkk!”


Perkataan pendekar aliran hitam itu terhenti dan berubah menjadi teriakan kesakitan ketika satu pisau pipih mendarat di lehernya. Benar, Wulan mengibaskan kipas bajanya dan menghabisi sepuluh pendekar aliran hitam dengan pisau beracun yang melesat dari senjata andalannya itu.


Setelah menghabisi sepuluh pendekar aliran hitam, Wulan menoleh ke arah kerumunan pendekar aliran hitam yang lainnya lagi. Tuan putri itu mengibaskan kipas bajanya, diikuti puluhan pisau pipih melesat cepat ke arah kerumunan pendekar aliran hitam yang menjadi incarannya.


Namun, sebuah bola api melesat menghantam serangan Wulan dan menghamburkan pisau pipih itu tak tentu arah. Lima pisau pipih milik Wulan menancap pada tembok pagar istana, tetapi lima pisau pipih yang lain berhasil melukai lima prajurit bawahan Ki Badra.


“Sial! Apa itu!” geram Wulan mencari sumber serangan bola api yang menggagalkan rencananya.


“Ohh, rupanya Tuan Putri Sokapura!” ucap seorang perempuan yang menghalau serangan Wulan dengan bola api miliknya. “Kita bertemu lagi, Tuan Putri!”


Dialah Agni Ageng, salah satu dari Lima Pendekar Pedang yang membawa Pedang Api untuk menghalau serangan pisau pipih milik Wulan.


“Nona Agni, pisau ini mengandung racun!” seru salah satu prajurit bawahan Ki Badra menyadari tubuhnya tak bisa digerakkan ketika terkena pisau pipih milik Wulan.


Meski hanya sedikit goresan, tetapi racun pada pisau pipih milik Wulan membuatnya tak bisa bergerak untuk beberapa saat.

__ADS_1


“Kau pantas mendapatkannya, orang-orang biadab!” teriak Wulan, lalu kembali mengibaskan kipas bajanya ke arah yang lain diikuti lima pisau pipih melesat cepat menancap pada lima leher yang berbeda.


“Kurang ajar!” geram Agni Ageng.


__ADS_2