KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Keadaan Ni Luh


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang, Lembah Manah segera bergegas menuju kamar perawatan, diikuti Wanapati dan Jayadipa berjalan di belakangnya. Lembah Manah mencoba bertanya kepada salah satu prajurit yang masih berjaga di sekitar arena pertarungan.


Benar saja, pemuda itu mendapat jawaban, jika kamar perawatan tak jauh dari arena pertarungan.


Hanya menyusuri lorong kamar obat-obatan, beberapa langkah saja mereka telah sampai di sebuah tempat yang cukup luas dan bisa menampung beberapa orang. Lembah Manah memasuki kamar itu tanpa mengetok pintu terlebih dulu.


Pemuda itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Ni Luh, diantara beberapa peserta yang berbaring mendapat perawatan.


Akhirnya mereka bertiga melihat seorang perempuan di tempat tidur paling pojok terbaring lemah. Ya, Ni Luh sedang dalam perawatan oleh salah satu perawat kerajaan.


Lembah Manah menghampiri Ni Luh dan berjalan paling depan dari kedua temannya. Pemuda itu tampak khawatir atas apa yang menimpa Ni Luh.


“Ni Luh, apa kamu baik-baik saja?” seru Lembah Manah.


Namun, apa yang terjadi? Ni Luh tertegun, tak bisa berkata apa-apa untuk beberapa saat melihat kedatangan Lembah Manah.


“Lembah, benarkah ini kamu Lembah Manah!” jawab Ni Luh kaget.


“Emm, seperti yang kau lihat, ini aku Lembah Manah!” sahut pemuda itu.


Tanpa tersadar Ni Luh memeluk Lembah Manah dengan erat, sepertinya gadis itu sangat merindukan temannya yang hilang beberapa waktu lalu, hingga dia tak peduli dengan Wanapati dan Jayadipa yang berdiri di belakang Lembah Manah.


Sejak pertama bertemu dengan Lembah Manah sewaktu menimba ilmu di perguruan, Ni Luh memang sudah menunjukkan rasa ketertarikannya kepada pemuda itu. Karena sering bersama, diam-diam Ni Luh menyukai Lembah Manah.


Namun, karena dulu mereka berdua masih sangat muda, Lembah Manah hanya menganggap Ni Luh sebagai teman saja, tidak lebih. Meski pemuda itu telah dikeluarkan dari perguruan, tetapi Ni Luh masih sering mengunjungi Lembah Manah di rumahnya.


“Anu, emm, Ni Luh tolong lepaskan pelukanmu, ini terlalu erat. Aku tak bisa bernapas!” seru Lembah Manah.


“Ohh, maaf Lembah, aku terkejut karena kedatanganmu, ternyata kau selamat dari jurang itu,” jawab Ni Luh yang perlahan melepaskan pelukannya dengan muka yang sedikit memerah.


Berita jatuhnya Lembah Manah ke dalam Jurang Pengarip-Arip juga sampai ke telinga Ni Luh. Gadis itu mendengar dari Ibu Lembah Manah, ketika dirinya tengah berkunjung ke rumah pemuda itu.

__ADS_1


Ni Luh berpikir, Lembah Manah tidak akan kembali, karena jurang itu sangat dalam dan belum ada orang yang selamat ketika terjatuh ke jurang itu. Ni Luh juga sering mendatangi jurang itu, berharap bisa menemukan Lembah Manah.


“Ehem, ehem, sepertinya kita salah kamar Jayadipa!” seru Wanapati.


“Dunia serasa milik berdua ya, Wanapati, sampai-sampai yang lainnya dianggap menumpang!” timpal Jayadipa menjawab perkataan Wanapati yang seakan menggoda kedua temannya itu.


Lembah Manah yang khawatir akan keadaan Ni Luh, mencoba memeriksa bekas luka pada lengan kiri gadis itu. Dibukanya kain yang menutupi luka Ni Luh, terlihat goresan menganga hampir satu jengkal yang mulai membiru.


“Emm, Bibi bagaimana keadaan Ni Luh?” tanya Lembah Manah kepada perawat kerajaan.


“Sepertinya racunnya sudah menyebar ke seluruh tubuh Ni Luh. Aku juga belum mengerti itu racun apa. Untuk mengantisipasi, hanya kuberikan ramuan penenang,” jawab perawat kerajaan itu.


“Emm, sekarang apa yang kau rasakan pada tubuhmu Ni Luh?” tanya Lembah Manah kepada Ni Luh.


“Tubuhku merasa lemas seperti tak punya tenaga, aku juga kesulitan untuk berdiri dan merasa kedinginan meski hawa di sekitarku panas,” jawab Ni Luh menyampaikan apa yang dirasakan tubuhnya.


“Emm, maaf Ni Luh, bolehkah aku melihat lehermu!” ucap Lembah Manah dan langsung diiyakan oleh gadis itu. Tampak hitam kebiruan melingkar pada leher Ni Luh.


Lembah Manah mencoba memeriksa luka Ni Luh, lalu pemuda itu mengalirkan tenaga dalam pada tangan kanannya yang mengarah pada luka goresan di lengan kiri Ni Luh.


Dengan telapak tangan kanan terbuka, gerakan pemuda itu seperti menarik sesuatu dari luka Ni Luh. Lembah Manah mengeluarkan seluruh racun yang sudah menyebar pada tubuh gadis itu melalui tangan kanannya yang diselimuti cahaya biru, lalu mengarahkan racun itu pada tempayan yang berisi air di samping Ni Luh.


“Emm, tahan ya Ni Luh!” seru Lembah Manah.


Semua racun telah keluar dari tubuh Ni Luh, racun itu berwarna hitam yang sedikit bercampur dengan darah Ni Luh.


“Akhirnya, semua racunnya keluar,” seru Lembah Manah mengusap keringat di keningnya. “Emm, minumlah Ni Luh, ini adalah ramuan pemulihan tubuh!”


Lembah Manah mengambil potongan ruas bambu dari saku bajunya bagian dalam dan memberikannya kepada Ni Luh. Pemuda itu menyadari jika racun pada tubuh Ni Luh sama dengan racun pada Ibu Rama, yaitu Racun Belenggu Hitam.


Racun yang membuat tubuh seseorang menjadi lemah tak berdaya, tetapi tidak menimbulkan kematian.

__ADS_1


“Syukurlah, terima kasih Lembah,” ucap Ni Luh tersenyum.


“Emm, iya Ni Luh. Sekarang istirahatlah, baringkan tubuhmu!” sahut Lembah Manah.


Kembali Jayadipa dibuat kaget oleh Lembah Manah karena kemampuan pengobatannya. Begitu juga dengan Wanapati, pemuda itu hanya bisa membelalakkan matanya melihat Lembah Manah dengan tenang mengobati Ni Luh.


“Ba, ba, bagaimana kau bisa menguasai ilmu pengobatan?” seru Wanapati terbata-bata.


“Ohh, itu rahasia, wek, hahaha!” sahut Lembah Manah menjulurkan lidah dan tertawa.


Mereka berempat tertawa karena tingkah konyol Lembah Manah yang selalu menghangatkan suasana.


***


Hari beranjak sore, keadaan Ni Luh juga mulai membaik. Kini mereka berempat beranjak dari kamar perawatan kerajaan dan keluar untuk mencari penginapan.


“Bagaimana kalau kita ke penginapan yang kemarin,” ucap Wanapati.


“Baiklah, tidak masalah,” sahut Jayadipa.


Lembah Manah dan Ni Luh berjalan di belakang, sedangkan Wanapati dan Jayadipa berjalan di depannya. Lembah Manah hanya menuruti Wanapati, karena dia tidak tahu penginapan mana yang menjadi tujuan mereka.


Selama perjalanan menuju penginapan, Ni Luh selalu memandang wajah Lembah Manah. Namun, ketika Lembah Manah mengarahkan pandangannya kepada Ni Luh, gadis itu memalingkan wajahnya ke arah yang lainnya.


Ni Luh tampak canggung, tak tahu harus berkata apa, sementara Lembah Manah tak berani harus memulai pembicaraan kepada gadis di sampingnya itu. Pada akhirnya, mereka berdua hanya berjalan berdampingan, mengekor di belakang Wanapati dan Jayadipa yang mengoceh tidak jelas.


Hingga mereka tiba di penginapan, Wanapati memesan dua kamar untuk satu malam. Suasana penginapan tidak terlalu ramai, karena penginapan yang mereka datangi cukup jauh dari arena pertandingan.


“Paman, kami berempat memesan dua kamar untuk satu malam. Apakah masih ada yang kosong?” seru Wanapati bertanya pada pria penjaga penginapan itu.


“Ohh, selamat satang kembali tuan muda. Untuk Anda, kami siap menyediakan dua kamar. Ini kuncinya tuan, mari saya antar,” jawab pria penjaga penginapan itu sembari mengantar mereka menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2