KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perang (6)


__ADS_3

Namun tiba-tiba sebuah tombak berwarna putih menghalau jarum beracun milik Sarira, hingga membuat jarum itu terlempar entah ke mana jauhnya. Sedangkan tombak berwarna putih itu menancap pada salah satu sudut tembok pagar istana.


Sedetik kemudian, tombak berwarna putih itu kembali kepada pemiliknya.


“Kurang ajar!” geram Sarira menatap pemilik tombak berwarna putih yang baru saja menghalau serangannya itu. “Siapa kau? Beraninya main belakang!”


“Dalam posisi seperti sekarang, kau harus fokus!” sahut pria tua memutar tombak di atas kepalanya. “Lawanmu bisa datang dari arah mana pun!”


Ketika Sarira masih dalam keterkejutannya, Ki Bayu Maruto menendang perut pemuda bertangan aneh itu hingga terlempar beberapa langkah ke belakang.


“Terima kasih, Ki!” ucap Ki Bayu Maruto memasang kuda-kuda di samping pria tua pembawa tombak berwarna putih.


Dia adalah Ki Jaladara, ayah dari Puspa Ayu sekaligus pemimpin Perguruan Tombak Putih. Setelah mengalahkan beberapa prajurit bawahan Tirta Banyu, Ki Jaladara melihat Ki Bayu Maruto dalam bahaya.


Ayah dari Puspa Ayu itu melemparkan tombaknya tepat di tengah-tengah wajah, antara Ki Bayu Maruto dan Sarira, hingga berhasil menghalau satu jarum beracun milik Sarira.


Dengan kepayahan, Sarira mencoba untuk bangkit dan memasang kuda-kuda. Pemuda itu menggigit ibu jari tangan kirinya, lalu mengoleskan darah yang keluar dari luka gigitannya ke salah satu bagian kayu pelontar pada tangan kanannya.


Saat itu juga, cahaya hitam menyelimuti kayu pelontar jarum pada tangan kanan Sarira. Dengan tersenyum tipis, pemuda itu mengarahkan pelontar itu ke depan, diikuti cahaya hitam sepanjang satu jengkal melesat horizontal ke arah Ki Bayu Maruto dan Ki Jaladara.


Tak hanya puluhan, mungkin ratusan cahaya hitam melesat keluar dari kayu pelontar milik Sarira. Menyadari dalam tekanan, Ki Jaladara memutar tombak di depan tubuhnya, seakan membuat perisai untuk menghalau serangan Sarira.


Sementara Ki Bayu Maruto menciptakan sebuah pusaran angin dari kedua telapak tangannya yang condong ke depan. Semakin lama, pusaran angin itu semakin membesar dan menyerap ratusan cahaya hitam milik Sarira.


“Sial! Serangannya tak pernah habis!” umpat Ki Jaladara menangkis serangan Sarira.


“Tenanglah, Ki! Aku akan mengalihkan perhatiannya!” sahut Ki Bayu Maruto.


Beberapa menit berlalu, perlahan serangan Sarira mulai melemah dan memiliki jeda beberapa detik. Hal ini dimanfaatkan oleh Ki Bayu Maruto, pria tua itu melepaskan pusaran angin dari dua telapak tangannya yang berisi cahaya hitam milik Sarira yang berputar.


Pusaran angin melesat cepat menyambar tubuh Sarira. Pemuda bertangan aneh itu terlempar beberapa langkah ke belakang dengan tangan terbuka. Ki Jaladara yang berhasil menangkis serangan, dengan cepat melempar tombak dari genggaman tangan kanannya.

__ADS_1


KRAK


Kayu pelontar di tangan kanan Sarira hancur berkeping-keping terkena mata tombak Ki Jaladara. Pemimpin Perguruan Tombak Putih itu sengaja mengincar kayu pelontar yang menjadi senjata andalan Sarira, untuk menekan pergerakannya.


Ki Jaladara berpendapat, Sarira telah menerima serangan dari Ki Bayu Maruto. Jadi dirinya tak berniat untuk melukai Sarira.


Sarira jatuh tersungkur dengan darah keluar dari mulutnya. Pemuda itu terdiam, tetapi masih terlihat bernapas. Sepertinya Sarira pingsan.


Pertarungan telah terjadi beberapa saat, hingga matahari naik setinggi satu tombak. Namun, sepertinya masih belum terlihat siapa yang akan menjadi pemenang, mengingat kedua kubu belum mengeluarkan kekuatannya.


Raja Brahma dan Kusumawijaya masih aman dalam lindungan Nastiti, Wulan, serta Lembah Manah yang berjibaku melawan prajurit bawahan Tirta Banyu yang seakan tak pernah ada habisnya.


Sedangkan di depan pintu gerbang istana, Tirta Banyu, Ki Badra dan para bawahannya masih mengamati medan perang.


Tiba-tiba, seorang pemuda maju ke depan dan berdiri di samping Ki Badra dan berkata, “Ki, aku akan mencoba pemuda itu!”


Kagendra menunjuk ke arah Lembah Manah yang tengah dikepung tiga prajurit bawahan Tirta Banyu.


Baru melesat beberapa langkah meninggalkan tempatnya, Kagendra telah dihadang oleh seorang pemuda bersama seorang kakek tua yang sangat dikenalnya. Ki Rogojambang dan Bergas Lukito mencegah Kagendra mendekati Lembah Manah.


“Kalian berdua, menyingkirlah!” ucap Kagendra terdengar serak dan dingin.


“Kembalikan kitab pusaka milik perguruan kami!” sahut Bergas Lukito dengan nada mengancam.


Setelah berkata demikian, Bergas Lukito melesat dan mendaratkan satu pukulan tangan kanan yang telah dialiri tenaga dalam. Kagendra sengaja memasang badan dan menerima serangan Bergas Lukito.


“Apa!” Bergas Lukito membelalakkan matanya dan menatap tangan kanannya yang masih mendarat pada perut Kagendra.


Kagendra melepaskan satu pukulan tangan kanan yang mendarat telak pada dagu Bergas Lukito. Pemuda itu terlempar ke awang-awang dengan tubuh terlentang. Tak sampai di situ, Kagendra melesat cepat dan tiba-tiba telah berada di atas tubuh Bergas Lukito.


Kagendra mendaratkan serangan dengan siku tangan kanannya meraih perut Bergas Lukito. Bergas Lukito meluncur deras ke permukaan tanah, dari mulutnya keluar darah dengan tubuh terlentang.

__ADS_1


Dengan sigap Ki Rogojambang meraih tubuh muridnya dan meletakkan pada permukaan tanah. Di sisi lain, Kagendra mendarat dan berdiri tanpa memasang kuda-kuda.


Beberapa saat kemudian, Ki Rogojambang melesat ke arah Kagendra melepaskan beberapa jurusnya. Kagendra hanya menghindar sembari melangkah ke belakang, bahkan tangan kanannya berada di belakang ketika menghalau setiap jurus Ki Rogojambang.


Ki Rogojambang melompat ke belakang untuk memperlebar jarak dengan Kagendra. Pemimpin Perguruan Anggrek Hitam itu melakukan gerakan aneh, lalu memukul tanah dengan tangan kanannya.


Muncul gelombang energi dari tanah yang dipukul oleh Ki Rogojambang melesat cepat ke arah Kagendra. Sembari bergerak mundur, Kagendra mencoba meraba kekuatan jurus dari Ki Rogojambang.


Dari tanah di depan Kagendra muncul batu memanjang meraih wajah pemuda bercadar itu. Kagendra terlempar ke belakang beberapa langkah.


Ketika tubuh Kagendra melayang, Ki Rogojambang mengarahkan kepalan kedua tangannya ke depan, diikuti sebuah bongkahan batu besar menyembul keluar beberapa jengkal di depan kakinya. Lalu bongkahan batu itu melesat cepat menghantam tubuh Kagendra.


BUGH


Tubuh Kagendra terlempar dan menghantam pagar tembok istana. Dari sudut bibirnya mengalir darah segar, tetapi tidak terlihat oleh siapa pun karena tertutup oleh cadar. Sedangkan bongkahan batu milik Ki Rogojambang terlempar dan kembali menyatu ke permukaan tanah.


Kagendra jatuh terlentang, tubuhnya diam dan tak bergerak. Dari dadanya juga tak terlihat mengembung mengambil napas, sepertinya Kagendra tewas.


Ki Rogojambang berlalu meninggalkan Kagendra dan hendak menuju Bergas Lukito yang tengah pingsan. Namun, tiba-tiba.


“Pancasona!”


Teriakan itu berasal dari belakangnya, Ki Rogojambang berbalik badan dan mendapati Kagendra telah berdiri di depannya bersiap melepaskan satu pukulan.


“Apa! Bagaimana mung—!”


Perkataan Ki Rogojambang terhenti ketika satu pukulan yang mengandung tenaga dalam mendarat pada dagunya. Pemimpin Perguruan Anggrek Hitam itu terlempar beberapa langkah ke belakang dan mendarat tepat di samping Bergas Lukito.


“Ajian Pancasona!” seru Ki Rogojambang membelalakkan matanya. “Kau telah bersekutu dengan siluman!”


Ajian Pancasona hampir sama dengan Rawa Rontek. Ajian itu bisa membuat penggunanya hidup kembali, meskipun telah mati. Ada ritual tersendiri untuk menyempurnakan ajian ini, salah satunya adalah berpuasa dalam jangka waktu yang tidak sebentar.

__ADS_1


__ADS_2