
Daryata hanya terdiam dengan jarak lima langkah di belakang Sarira. Sepertinya pemuda bermata satu itu bersiap untuk menyerang jika kesepakatan gagal.
Pertukaran terjadi sesuai apa yang direncanakan. Ki Bayu Maruto mendapat penawar racun, dan Sarira mendapat Kitab Angin.
Sarira mundur perlahan dan berdiri mendekati Daryata. Sementara Ki Bayu Maruto langsung meminum ramuan yang dianggapnya penawar racun itu.
Beberapa saat semua terdiam menunggu reaksi dari penawar racun.
“Baiklah! Aku percaya pada kalian!” seru Ki Bayu Maruto menghela napas pelan. “Sepertinya dadaku tak merasa nyeri lagi!”
“Seorang pendekar selalu menepati janjinya!” sahut Sarira menyunggingkan senyum sinisnya.
Namun, tanpa diduga, Daryata melepaskan satu serangan yang mengandung tenaga dalam sangat besar melesat cepat ke arah Ki Bayu Maruto.
Beruntung pria tua itu menghentakkan kakinya ke tanah dan menghindar ke samping kiri yang membuat serangan Daryata menghancurkan pohon di belakang Ki Bayu Maruto.
“Hmm, itu di luar kesepakatan, hahaha!” Daryata tertawa lepas mendongakkan kepalanya ke atas.
“Kurang ajar!” geram Ki Bayu Maruto.
Sarira mengisyaratkan untuk mundur dan kembali ke markas mereka. Namun, peringatan itu tak diindahkan oleh Daryata yang malah semakin gencar melancarkan beberapa serangannya.
Meski memiliki ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap akhir, rupanya tenaga dalam Daryata begitu besar yang membuat serangan dan staminanya terkontrol dengan baik.
Berbeda dengan Daryata, Sarira lebih sedikit pendiam. Pemuda bertangan aneh itu lebih mengutamakan pertarungan jarak jauh dengan memanfaatkan jarum beracunnya. Sarira sendiri memiliki ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap menengah, selangkah lagi berada pada tingkat Inggil tahap akhir.
“Baiklah kalau itu maumu!” seru Sarira pada Daryata dan berbalik badan hendak beranjak dari tempat itu. “Aku tunggu di tepi pantai. Jika sampai matahari terbenam kau tak menyusul, aku akan kembali ke markas terlebih dahulu!”
“Tenang saja Sarira, hmm!” jawab Daryata terkesan meremehkan lawannya. “Tak sampai matahari condong ke arah barat, aku akan meratakan hutan ini!”
Sarira melesat meninggalkan Daryata yang tengah asyik melancarkan serangannya ke arah Ki Bayu Maruto dan kedua muridnya.
Tanpa Daryata sadari, beberapa murid perguruan yang bersembunyi kini menampakkan wujudnya dan berdiri pada dahan pohon tempat mereka bersembunyi.
__ADS_1
Ingin meminta tolong kepada Sarira, pemuda bertangan aneh itu tentunya sudah melesat jauh dari tempat pertarungan ini. Mau tak Mau Daryata harus menghadapi Ki Bayu Maruto dan beberapa murid Perguruan Teratai Putih atas kecerobohannya sendiri.
“Hmm, baiklah jika kalian terus menyerang! Aku tak akan menahan diri lagi!” seru Sarira menyunggingkan senyum sinisnya.
Beberapa murid bersamaan menyerang Daryata dengan cahaya putih yang keluar dari telapak tangan mereka. Daryata tampak kesulitan menghadapi serangan itu, pemuda bermata satu itu hanya menghindar dengan melompat ke sana kemari dan sesekali salto ke depan dan ke belakang.
Pada satu kesempatan, Puspo Baskoro dan Ranti Lemini menyatukan kekuatan mereka. Dua cahaya putih menjadi satu, melesat ke arah Daryata tepat mengenai dada pemuda bermata satu itu. Daryata terlempar beberapa langkah ke belakang dengan darah keluar dari mulutnya.
“Sial! Beraninya keroyokan!” umpat Daryata mengusap darah pada sudut bibirnya. “Kalau berani satu lawan satu, hmm!”
Perlahan pemuda itu bangkit dan mengibaskan kedua tangannya, yang diikuti puluhan kerikil keluar dari dalam saku lengan panjangnya bagian dalam. Tak ada satu kerikil yang mengenai sasaran, semua menghindar dan membuat pohon di hutan itu meledak hancur berhamburan.
Asap debu tebal mengepul menyelimuti area pertarungan ditambah dengan kabut, membuat jarak pandang menjadi terbatas.
Ki Bayu Maruto kini telah pulih sepenuhnya, setelah duduk bersila dan bermeditasi di atas pohon yang sedikit tersembunyi dari amukan Daryata. Kini, Ki Bayu Maruto berdiri tepat di hadapan Daryata dengan jarak sepuluh langkah.
Pria tua itu menarik tangan kanannya ke belakang dan mengumpulkan energi alam yang berupa angin terserap pada telapak tangannya.
BUM
Dengan kecepatan yang tak bisa dilihat menggunakan mata biasa, cahaya putih yang mengandung energi alam berupa pusaran angin itu menghantam dada kiri Daryata.
Pemuda bermata satu itu terlempar ke belakang sejauh sepuluh langkah dan terjatuh dengan darah keluar dari mulutnya.
“Hmm, baiklah!” ucap Daryata yang masih menyepelekan lawan-lawannya. “Aku akan menggunakan jurus terakhirku!”
Perlahan Daryata membuka penutup matanya sebelah kiri. Pemuda itu membelalakkan matanya dan mengeluarkan cahaya merah yang mengandung tenaga dalam berbentuk bulat. Bulatan berwarna merah itu mengelilingi tubuhnya yang semakin lama semakin membesar.
“Cepat menjauh dari tempat ini! Dia akan meledakkan diri!” teriak Ki Bayu Maruto memperingatkan para muridnya.
“Hahaha, aku senang melihat kalian lari kocar-kacir!” seru Daryata mendongakkan kepalanya ke atas. “Ini adalah pemberian terbesar dari pemimpin, hmm!”
Semakin lama bulatan merah semakin membesar, diikuti Ki Bayu Maruto dan para muridnya yang melesat menjauh menghindari cahaya merah milik Daryata.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, dan sepertinya para murid telah menjauh dari bulatan merah milik Daryata.
BLUM!
Cahaya merah itu meledak begitu dahsyat dan meluluhlantakkan Alas Lali Jiwo. Pohon-pohon hancur berhamburan, asap debu mengepul ke atas setinggi ratusan meter. Hewan-hewan yang tak sempat menghindar, hangus terpanggang ledakan itu.
Jika Ki Bayu Maruto tidak membuat perisai pertahanan diri, mungkin pria tua itu sudah ikut hancur bersama cahaya merah milik Daryata, tetapi bagaimana dengan para murid perguruan yang lain?
Untung saja dengan sigap mereka telah keluar dari Alas Lali Jiwo yang membuatnya aman terhindar dari ledakan Daryata. Namun, tiga murid tak kunjung kembali yang kemungkinan terkena ledakan itu dan ikut tewas bersama Daryata.
***
“Dasar, bocah gila!” lirih Sarira dari tepi pantai yang melihat dan merasakan dampak ledakan temannya sendiri.
***
Sesaat setelah asap debu menghilang, Ki Bayu Maruto dan dua murid terbaiknya, diikuti beberapa murid yang selamat dari ledakan kembali memasuki hutan dan memeriksa pada bagian Daryata meledakkan diri.
Tidak ada bekas jasad Daryata, sepertinya tubuhnya hancur menjadi debu bersama ledakannya sendiri.
“Sungguh berbahayanya anak ini!” lirih Ki Bayu Maruto menggelengkan kepalanya. “Benar perkataanmu, Daryata, hutan ini akan kau ratakan, tetapi nyawamu juga ikut melayang!"
Setelah beberapa saat berkeliling dan memeriksa ke berbagai tempat, Ki Bayu Maruto meminta para muridnya berkumpul dan hendak kembali ke perguruan mereka. Tiga murid yang tidak ditemukan jasadnya, kemungkinan juga menjadi debu seperti Sarira.
“Kita kembali ke perguruan!” seru Ki Bayu Maruto melesat paling depan dan diikuti para muridnya.
***
Di tepi pantai pesisir utara, Sarira menghela napas dalam-dalam sembari menutup matanya.
“Pengorbananmu tak sia-sia, Daryata!”
Setelah berkata demikian, Sarira melangkah menuju pantai dengan membawa Kitab Angin pada tangan kanannya, lalu pemuda itu menghilang dalam kehampaan.
__ADS_1