
Giandra dan Barani melesat cepat mendaratkan beberapa serangan pada tubuh Ki Badra. Rupanya serangan kejutan itu berhasil membuat Ki Badra terhuyung beberapa langkah ke belakang.
Pukulan Tangan Seribu milik Barani mendarat pada bagian wajah Ki Badra, hingga membuat pria tua bermata satu itu mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Kilatan Petir pada pukulan Giandra juga mendarat pada tubuh Ki Badra.
Namun, kedua pemuda itu membelalakkan matanya ketika Ki Badra berdiri tanpa memasang kuda-kuda setelah asap debu akibat serangan mereka menghilang. Memang benar dari bibirnya mengeluarkan darah, tetapi itu bukan luka berarti pada tubuh Ki Badra.
Serangan petir Giandra juga mendarat telak pada tubuh Ki Badra. Namun, pria tua bermata satu itu sengaja menenggelamkan kakinya ke dalam tanah, agar petir milik Giandra menjadi netral.
Satu pukulan mendarat pada perut Barani, setelah Ki Badra melesat ke arah pemuda berkulit agak gelap itu. Tak terlihat ketika Ki Badra berpindah tempat di depan Barani, hingga membuat Barani terlempar beberapa langkah ke belakang.
Giandra melesat, ketika Barani telah mendapat pukulan telak. Pemuda berbadan besar itu menyerang dengan beberapa pukulan. Kedua tangannya diselimuti oleh energi petir, agar serangannya menjadi maksimal.
Namun, Ki Badra masih bisa membaca serangan Giandra sembari bergerak ke belakang.
Satu pukulan mendarat pada dada kiri Giandra ketika pertahanannya terbuka. Ki Badra menyerang dengan tangan yang dialiri tenaga dalam berwarna merah kekuningan.
“Bagaimanapun juga, kalian tidak akan bisa menang melawanku, hahaha!” teriak Ki Badra membusungkan dadanya.
Sekelebat cahaya kuning melesat cepat menyerang Ki Badra. Itu adalah kapak milik Wanapati yang dikendalikan dari jarak dua puluh langkah. Jari tangan kanan Wanapati seolah memerintahkan Kapak Pembelah Langit untuk membuat luka pada tubuh Ki Badra.
Ki Badra masih bisa menghindari serangan kapak itu. Kadang tubuhnya berputar, menunduk, lalu melompat ke atas sembari menyerang Wanapati dengan bola api yang melesat cepat, keluar dari tangan kanan dan kirinya.
Kapak milik Wanapati tertancap pada pintu gerbang istana, ketika dirinya menghindari serangan bola api Ki Badra. Konsentrasi pemuda itu harus terbagi, antara mengendalikan kapak, dan juga menghindari serangan.
Setelah satu bola api keluar dari tangan kirinya, Ki Badra mendarat di permukaan tanah dan berputar sembari bergerak ke belakang. Sedetik kemudian, tangan kanannya mengepal ke depan, diikuti gelombang kejut bertekanan sedang melesat ke arah Wanapati.
Pemuda pembawa kapak itu terkena satu serangan pada bagian dadanya, hingga terlempar ke belakang dan terguling beberapa kali. Tubuhnya terhenti setelah menabrak puing reruntuhan bangunan dengan darah keluar dari mulutnya.
Nata melesat lalu mengeluarkan Wesaran untuk melemparkan Ki Badra. Namun, Ki Badra tak bergeming dari tempatnya dan hanya memejamkan mata ketika pusaran tenaga dalam mengenai tubuhnya.
Merasa Ki Badra di dalam jangkauan jarak serangnya, Nata melancarkan Pukulan Delapan Mata Angin meraih tubuh Ki Badra. Dengan tenang, Ki Badra menangkis setiap pukulan milik Nata seraya bergerak mundur ke belakang.
__ADS_1
Tepat ketika Nata melepaskan seratus dua puluh delapan pukulan, Ki Badra menggenggam tangan kiri Nata dan melemparkan pemuda bermata putih itu hingga tubuhnya menghantam puing reruntuhan rumah petinggi kerajaan.
Nata hendak berdiri, tetapi rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat dirinya kembali terjatuh dan pingsan.
Roko wulung melepaskan pukulan Natas Angin dengan kekuatan penuh. Di belakang pemuda itu, Sangga Buana menebaskan tongkatnya diikuti cahaya putih melesat cepat ke Ki Badra yang berdiri tanpa memasang kuda-kuda.
Dua cahaya menari-nari terlihat indah, tetapi memiliki kekuatan yang mengerikan ketika melesat membelah udara di depannya.
Menyadari mendapat serangan, Ki Badra menarik tangan kanannya ke belakang hingga diselimuti cahaya hitam.
Sedetik kemudian, Ki Badra menyambut dua serangan dengan satu pukulan tangan kanannya.
DYAR
Terjadi ledakan ketika tiga serangan beradu, diikuti asap debu mengepul ke atas dan hampir menyelimuti tubuh Ki Badra. Tak menunggu lama, Sangga Buana menyerang dengan jurus yang dimiliknya.
Tongkat miliknya bercahaya putih, dan ketika ditebaskan, terdengar angin menderu karena tenaga dalamnya yang besar. Ki Badra menangkis dengan lengannya bagian luar sembari mengamati pergerakan Sangga Buana.
Sangga Buana mundur ke belakang beberapa langkah, kini berganti serangan Roko Wulung menghujani Ki Badra. Pukulan Natas Angin bertumpu pada kekuatan tenaga dalam dan otot pada kedua tangan.
Jika Roko Wulung tidak bisa mengatur tenaga dalamnya dengan baik, bukan tidak mungkin pemuda itu malah tersiksa dengan jurusnya sendiri.
Pada satu kesempatan, Roko Wulung melepaskan satu pukulan dari jarak dekat meraih wajah Ki Badra. Namun, Ki Badra bergeser satu langkah ke samping kanan dan meraih tangan kanan Roko Wulung menggunakan tangan kirinya.
Ki Badra mendaratkan beberapa pukulan pada perut Roko Wulung dengan tangan kanannya. Lalu satu tendangan kaki kanan, Ki Badra daratkan pada wajah Roko Wulung, hingga pemuda itu terlempar beberapa langkah ke belakang dengan darah keluar dari mulutnya.
“Percuma saja kalian melawanku, anak muda. Lebih baik menyerahlah dan bergabung bersamaku!” ucap Ki Badra menatap Roko Wulung.
Kali ini Sangga Buana maju menebaskan tongkatnya dan menghujani Ki Badra dengan Tongkat Wesi Putih miliknya. Lagi-lagi Ki Badra hanya menghindar sembari melangkah ke belakang.
Pria tua bermata satu itu telah mengamati pola serangan Sangga Buana yang hanya itu-itu saja. Satu tebasan tongkat berhasil diredam oleh Ki Badra, membuat Sangga Buana terkunci. Ki Badra mendaratkan tendangan kaki kanan, tepat pada perut Sangga Buana.
__ADS_1
Pemuda itu terhuyung ke belakang beberapa langkah, dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
Roko Wulung kembali berdiri dan memasang kuda-kuda. Dengan sisa-sia tenaganya, Roko Wulung melepaskan Pukulan Natas Angin yang melesat cepat mengarah pada Ki Badra.
Namun, dengan sekali kibasan tangan kirinya, Ki Badra menghancurkan serangan Roko Wulung hingga lenyap tak tersisa.
“Apa!” Roko Wulung membelalakkan matanya. “Sial! Orang ini sangat kuat!”
Pukulan Natas Angin yang dipaksakan, tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Dan itu mudah dibaca oleh Ki Badra.
Dengan stamina yang mulai melemah, tentu serangan Roko Wulung dapat dihancurkan Ki Badra, meskipun hanya dengan kibasan tangan saja.
“Sekarang giliranku!”
Setelah berkata demikian, Ki Badra menarik tangan kanannya ke belakang, dengan badan sedikit membungkuk. Perlahan cahaya hitam berkumpul menyelimuti pergelangan tangannya.
Sedetik kemudian, Ki Badra mengarahkan tangan kanannya ke depan, diikuti cahaya hitam melesat cepat ke arah Roko Wulung dan Sangga Buana yang kepayahan berdiri berdampingan.
Kedua pemuda itu sepertinya hanya pasrah menerima serangan Ki Badra. Roko Wulung hanya memasang badan, tanpa membuat perisai pelindung dari tenaga dalam. Sementara Sangga Buana, menancapkan tongkatnya pada tanah, dan digenggam erat dengan tangan kanannya.
“Sepertinya kita akan berakhir di sini!” umpat Roko Wulung sedikit tersenyum, dan menoleh ke arah Sangga Buana.
“Jika di kehidupan berikutnya kita bertemu lagi, aku pasti akan memukulmu dengan tongkatku!” sahut Sangga Buana memejamkan matanya. “Kita akan selalu menjadi rival!”
Dan sedetik berikutnya.
DYAR
Ledakan dahsyat membuat asap debu mengepul menyelimuti langit Sokapura. Kerikil terhempas tak tentu arah akibat terkena gelombang kejut bertekanan tinggi menyapu sekitar ledakan itu.
“Celaka! Mereka tidak akan selamat!”
__ADS_1