
Pada satu kesempatan, Cakara menggunakan jurusnya diikuti kedua tangannya dialiri aura tenaga dalam berwarna hitam. Satu pukulan mendarat telak pada perut Sayekti hingga membuat pria itu terlempar beberapa langkah dan jatuh terhuyung.
Cakara menoleh ke arah Darma Jaya yang masih menghalau setiap tebasan Pedang Iblis Hitam. Dari jarak dua puluh langkah, Cakara menggerakkan tangan kanannya ke depan, diikuti Pedang Iblis Hitam berhenti menyerang Darma Jaya.
Darma Jaya melompat ke belakang untuk menjaga jarak dengan Pedang Iblis Hitam dan juga pemiliknya. Lalu pemuda itu memasang kuda-kuda.
Cakara mengisyaratkan tangan kanannya ke depan, saat itu juga cahaya hitam menyelimuti pedangnya yang masih melayang setinggi tiga depa, tepat di depannya. Sesaat kemudian, pedang itu meluncur deras ke arah Darma Jaya.
Menyadari mendapat tekanan, Darma Jaya menebaskan pedangnya mencoba untuk menghalau pedang milik Cakara. Sekelebat cahaya putih melesat ke arah Pedang Iblis Hitam, yang menimbulkan dua serangan beradu.
Namun, sesaat setelah cahaya putih menghilang, Pedang Iblis Hitam tetap melesat ke arah Darma Jaya. Dengan menyilangkan pedang di depan tubuhnya, Darma Jaya mencoba untuk menangkis pedang berwarna hitam milik Cakara itu.
SRET
Bahu kiri Darma Jaya terkena sayatan pedang Cakara, hingga membuat pemuda itu meringis kesakitan. Jika tidak melapisi tubuhnya dengan tenaga dalam, tentu saja Pedang Iblis Hitam telah menghunjam tepat di jantung Darma Jaya.
Beruntung pemuda itu hanya menderita luka gores, tetapi tentu saja Cakara tak berhenti di situ. Ketika Darma Jaya menjatuhkan pedangnya untuk menghentikan pendarahan pada lukanya, Cakara mendekati pemuda itu dengan pedang yang telah diangkat tinggi-tinggi pada tangan kanannya.
“Orang seperti kalian lebih baik ma—aahhkk!”
Tiba-tiba perkataan Cakara terhenti dan berubah menjadi teriakan kesakitan, ketika sebuah tongkat yang terbuat dari air yang dipadatkan mendarat pada dada kirinya.
Ya, benar setelah mengalahkan Cayapata, Lingga mendapati Sayekti dan Darma Jaya kesulitan menghadapi Cakara.
Ketika Cakara hendak menebas Darma Jaya, dengan cepat Lingga mendaratkan Semburan Naga Air pada tubuh Cakara. Dengan terhuyung ke belakang, Cakara memegangi dadanya. Belum juga menguasai tubuhnya, Lingga telah melesat ke arahnya dengan melancarkan beberapa jurus.
Hanya dengan menyilangkan pedangnya, Cakara berusaha menangkis serangan Lingga. Beberapa pukulan mendarat pada tubuh Cakara hingga membuat pria kurus itu terhuyung ke belakang dan jatuh terlentang.
__ADS_1
Lingga mundur beberapa langkah sembari melakukan gerakan aneh. Tubuhnya berputar dengan tangan kanan ke atas, lalu tangan kirinya ke depan. Sesaat setelah memasang kuda-kuda, kedua tangan pemuda itu ditarik ke atas, samping kanan dan kirinya, hanya sebatas dadanya saja.
Tanpa ada yang menduga, muncul gumpalan air yang keluar dari dalam tanah, tepat di sekitar tubuh Cakara yang jatuh terlentang. Tangan kiri Lingga menggenggam, diikuti gumpalan air itu berubah menjadi mata tombak dengan panjang satu jengkal melayang setinggi pohon kelapa tepat di atas tubuh Cakara.
Sesaat kemudian, tangan kanan Lingga dihempaskan ke bawah, seakan memerintahkan puluhan gumpalan air yang berbentuk mata tombak menghujam tubuh Cakara. Dengan sisa tenaga, Cakara mencoba menghalau dengan menyilangkan pedang di depan tubuhnya.
Namun, itu sia-sia saja, puluhan mata tombak yang terbentuk dari gumpalan air yang dipadatkan menghujani tubuh Cakara, hingga membuat pria kurus itu tewas dengan luka puluhan tusukan.
“Terima kasih, pendekar!” ucap Darma Jaya meringis kesakitan.
“Berhati-hatilah, mereka tak akan berhenti menyerang!” sahut Lingga.
***
Lembah Manah yang baru saja mengalahkan Kagendra, melesat ke arah Empu Tulak yang tertimpa puing tembok pagar istana. Dengan Ajian Mayu Bawono yang dimilikinya, mudah saja Lembah Manah menyingkirkan reruntuhan yang terbuat dari beton itu.
Lembah Manah tidak memedulikan Eyang Rahpati yang masih melawan para prajurit Sokapura dari pihak Raja Brahma. Pemuda itu terlebih dahulu fokus untuk menyelamatkan Empu Tulak.
Ini aneh, Cambuk Api Naga Geni sepertinya melindungi Empu Tulak dari reruntuhan pagar tembok istana.
Beberapa saat setelah menerima serangan dari Eyang Rahpati, Empu Tulak sadar bahwa dirinya akan terkubur oleh puing tembok pagar istana. Kakek tua itu mencoba untuk mengayunkan cambuknya pada tubuhnya sendiri.
Dengan mengaliri tenaga dalam pada tubuhnya, Cambuk Api malah seperti menyelimuti tubuh Empu Tulak dan melindungi kakek tua tersebut dari serangan Eyang Rahpati.
“Uhuk, uhuk, Lembah!” sahut Empu Tulak sembari batuk kecil.
Lembah Manah menyandarkan Empu Tulak pada salah satu puing bangunan. Lalu mengambil ramuan pemulihan tubuh dari saku bajunya bagian dalam.
__ADS_1
“Kau belum juga jera!” teriak Lembah Manah berdiri menatap Eyang Rahpati yang masih berjibaku dengan prajurit Sokapura.
Saat Eyang Rahpati hendak mendaratkan satu pukulan pada salah satu prajurit Sokapura, Lembah Manah melesat dengan memanfaatkan puing bangunan untuk berpijak.
Satu pukulan telapak tangan terbuka mendarat pada dagu Eyang Rahpati, hingga membuat petinggi Lowo Abang itu terlempar semakin tinggi ke awang-awang.
Tak berhenti sampai di situ, Lembah Manah melesat dan telah berada di atas tubuh Eyang Rahpati yang terlentang. Dengan membuka Gerbang Kehidupan, pemuda itu melesat cepat, hingga yang terlihat hanya sekelebat bayangan hitam saja.
Satu serangan menggunakan siku tangan kanan mendarat pada perut Eyang Rahpati, hingga membuat kakek tua itu meluncur dan mendarat kasar pada permukaan tanah yang menimbulkan asap debu berhamburan.
Sesaat setelah asap debu menghilang, terlihat cekungan seperti kawah terbentuk akibat serangan Lembah Manah. Namun, Eyang Rahpati masih berdiri dan memasang kuda-kuda, tangan kanannya ditarik ke belakang dan terbentuklah bola bening sebesar buah delima pada cengkeraman petinggi Lowo Abang tersebut.
Beberapa detik kemudian, Eyang Rahpati melepaskan bola bening itu ke atas, mengarah pada Lembah Manah yang masih meringankan tubuhnya. Perlahan, Lembah Manah menggigit kecil lidahnya, diikuti cairan berwarna hijau keluar dari pori-pori, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya.
Lembah Manah melesat dan menyambut serangan Eyang Rahpati. Kali ini dengan membuka Gerbang Kehidupan, sebagian tubuhnya diselimuti cahaya berwarna hitam. Tubuhnya menukik seraya menyilangkan dua tangan di depan wajahnya.
Berhasil! Serangan Eyang Rahpati hancur dan Lembah Manah melesat ke arah petinggi Lowo Abang itu yang hanya berdiri memasang kuda-kuda.
Satu pukulan telapak tangan terbuka mendarat pada wajah Eyang Rahpati, hingga membuat tubuhnya terlempar beberapa langkah keluar dari cekungan seperti kawah itu. Dengan cepat, Lembah Manah meraih pergelangan tangan kanan Eyang Rahpati.
KRAK
Satu pergelangan tangan kanan patah, diikuti teriakan kesakitan menggetarkan langit Sokapura. Lembah Manah berputar, sedetik kemudian pemuda itu meraih lengan kiri Eyang Rahpati hingga menimbulkan teriakan kedua yang lebih keras.
Lembah Manah melangkah mundur lalu menarik tangan kanannya ke belakang diikuti cahaya biru menyelimuti tangan pemuda itu.
“Pukulan Tapak Harimau!”
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Lembah Manah meraih perut bagian bawah dari Eyang Rahpati, hingga membuat petinggi Lowo Abang itu terlempar beberapa langkah ke belakang. Tubuhnya berhenti melayang setelah menabrak puing pagar istana tepat di samping Empu Tulak.
“Sekarang kau tak mungkin lagi membangkitkan tenaga dalammu!” lirih Lembah Manah seraya mengembalikan tubuhnya ke wujud semula.