
Setelah memastikan semua baik-baik saja, Pak Daryoko menyarankan agar portal gaib itu dihancurkan, khawatir jika ada seseorang yang tersesat di dalamnya, ataupun ada yang menyalahgunakan portal itu.
Sementara para warga yang lain, merawat Araka, Narendra dan Pataksi yang terluka akibat pertarungannya dengan Berandal Suro Menggolo.
Lembah Manah kembali mengambil ancang-ancang, berdiri pada tengah-tengah pohon Lamtoro Kembar. Pemuda itu menggunakan Ajian Tapak Harimau untuk menghancurkan portal gaib buatan Berandal Suro Menggolo.
Sesaat kemudian portal itu menghilang dari tengah pohon lamtoro kembar. Berandal Suro Menggolo diserahkan kepada keamanan desa dan akan dilaporkan ke pihak kadipaten untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“Maafkan aku!” seru Araka yang telah menguasai tubuhnya dan mendekati Lembah Manah.
“Maaf untuk apa?” sahut Lembah Manah.
“Karena telah meremehkanmu!” ucap Araka mengulurkan tangan kanannya. “Namaku Araka!”
“Oh, itu!” jawab Lembah Manah seraya menyambut tangan Araka. “Tak masalah. Aku Lembah Manah!”
Keduanya saling berbincang selama perjalanan kembali ke rumah Ki Daryoko. Araka masih heran dengan kekuatan Lembah Manah.
Terkadang Araka hanya merasakan ilmu kanuragan tingkat Andhap pada tubuh Lembah Manah, dan tanpa disadari tiba-tiba Araka merasakan ilmu kanuragan Lembah Manah berada pada tingkat Madyo.
Menurutnya, kekuatan Lembah Manah tidak bisa ditebak dan juga tidak bisa diukur pada tingkatan ilmu kanuragan dalam jalur kependekaran.
“Ini adalah hasil latihan kerasku!” ucap Lembah Manah menjelaskan. “Aku berbeda dari kebanyakan pendekar, emm, aku mempunyai kelainan pada tubuhku!”
“Apa itu?” Araka mengerutkan keningnya.
“Emm, maaf. Aku tidak bisa memberitahukannya kepada siapa pun!” sahut Lembah Manah.
Araka hanya tersenyum menanggapi perkataan Lembah Manah. Sepertinya dirinya sadar, bahwa di atas langit, masih ada langit. Araka yang merasa dirinya hebat, sangat menyepelekan Lembah Manah yang dikira hanya memiliki ilmu kanuragan pada tingkat Andhap.
Namun, justru Lembah Manah yang kekuatannya di atas pemuda itu, dan menyembunyikan kehebatannya.
“Setelah ini, kau mau kemana, Lembah!” ucap Araka yang semakin akrab dengan Lembah Manah. “Lebih baik ikut kami ke Perguruan Pedang Putih!”
“Bukannya aku menolak!” sahut Lembah Manah menepuk pundak Araka. “Tetapi aku harus pergi ke kerajaan untuk mengikuti pertandingan antar pendekar muda!”
__ADS_1
“Benarkah! Perguruan kami juga telah mengirimkan beberapa murid terbaik!” seru Araka menjelaskan. “Baiklah jika itu maumu. Semoga saja kau bisa melakukan yang terbaik!”
Akhirnya Araka bisa memaklumi Lembah Manah, dia pun tak memaksa pemuda itu untuk mengikutinya ke Perguruan Pedang Putih.
Sesampainya di rumah Ki Daryoko, semua dijamu dengan makan siang yang telah disiapkan oleh beberapa abdi dalem.
Disela-sela jamuan makan itu, Ki Daryoko mewakili warga Desa Tritis mengucapkan terima kasih kepada pihak Perguruan Pedang Putih, dan juga kepada Lembah Manah yang berhasil mengalahkan Berandal Suro Menggolo.
Desa kembali tenang seperti hari biasanya. Ancaman Berandal Suro Menggolo telah berakhir meski masih menyisakan kesedihan kepada pihak yang menjadi korban kekejamannya.
“Lembah, bolehkah aku bertanya sesuatu?” seru Araka ketika hanya duduk berdua di paseban rumah kepala desa.
“Apa itu?” sahut Lembah manah mengerutkan keningnya.
“Sewaktu di Desa Buntu. Apakah kau yang menghabisi Kelompok Girisi dan menyelamatkan para gadis desa itu?” ucap Araka penasaran.
“I-iya?” jawab Lembah Manah. “Aku bersembunyi di bukit itu. Emm, tetapi justru bukit itulah markas mereka dan tempat melakukan ritual aneh itu!”
Lembah Manah menceritakan semua yang terjadi di Desa Buntu. Dari bertemu Amiri ketika mandi di sungai, hingga kedatangan Araka yang langsung mengkhawatirkan keadaan Amara.
***
“Saya mohon pamit, Ki!” ucap Lembah Manah membungkukkan badannya.
“Terima kasih nak Lembah telah bersedia membantu kami!” sahut Ki Daryoko. “Desa ini akan selalu terbuka untuk nak Lembah!”
Lembah Manah keluar dari pintu gerbang kediaman kepala desa dengan diiringi lambaian tangan dari para petinggi desa dan beberapa warga desa. Di belakang pemuda itu, tampak Araka, Narendra dan Pataksi juga berpamitan.
“Kalau ada waktu, berkunjunglah ke tempat kami!” seru Araka.
“Aku pasti akan mengunjungi kalian!” tutup Lembah Manah berlalu meninggalkan mereka.
Lembah Manah melangkahkan kakinya, perlahan tapi pasti pemuda itu menuju ke arah barat. Melewati jalan tanah berbatu dengan kanan dan kiri pohon mahoni besar. Sesekali terdengar kicauan burung kutilang yang tengah melakukan ritualnya.
***
__ADS_1
Keesokan paginya, Lembah Manah bergegas keluar dari Desa Tritis. Pemuda itu berjalan menyusuri jalan setapak hingga ujung barat desa.
Jalan tanah berbatu dengan kanan kiri pepohonan rimbun, sesekali terdengar kicauan burung kutilang yang bertengger pada ranting pohon mencoba menarik perhatian si betina.
Jalan setapak berujung pada sebuah pohon besar yang tumbuh menyendiri, pertanda sebentar lagi sampai pada batas kadipaten. Terdapat hamparan sawah luas milik warga desa yang ditanami padi, diselingi dengan perkebunan palawija.
Setelah berjalan menyusuri sawah, ada bantaran sungai yang tidak terlalu lebar yang menjadi sumber pengairan sawah dan ladang milik warga setempat.
Sungai itu bernama Sungai Sigebang, sungai yang menjadi pembatas antara Kadipaten Purwaraja di timur dan Kadipaten Kabaman di sebelah barat.
Air yang terlihat jernih membuat Lembah Manah ingin membasuh muka, sesekali bermain air dengan membuat riak kecil, ataupun melempar batu tipis ke tengah sungai.
Tanpa terasa matahari sudah mulai meninggi, Lembah Manah keluar dari Desa Tritis, sekaligus keluar dari Kadipaten Purwaraja. Ya, Desa Tritis merupakan desa paling ujung barat Kadipaten Purwaraja.
“Selamat Datang di Kadipaten Kabaman!” seru Lembah Manah membaca tulisan pada sebuah tugu perbatasan hampir setinggi pohon kelapa. “Aku harus mencari informasi untuk menuju kerajaan!”
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Di saat Lembah Manah butuh petunjuk mengenai kadipaten yang dikunjunginya, pemuda itu menemukan sebuah pasar besar dan berhenti sejenak untuk sekadar beristirahat.
Sembari mencari informasi tentang jalan menuju kerajaan, Lembah Manah melihat-lihat ramai pedagang yang menjajakan dagangannya. Dari hasil bumi, pakaian, bahkan persenjataan pun ada di pasar besar ini.
Salah satu pedagang di depannya menawari Lembah Manah beberapa makanan. Karena perutnya yang memang sudah tidak bisa diajak kompromi, pemuda itu merima tawaran pedagang di hadapannya itu. Tak ada salahnya juga mengisi perut kosong, setelah perjalanan yang cukup melelahkan.
Pedagang itu penasaran dengan Lembah Manah, karena baru kali ini melihat pemuda itu di pasar desa ini.
"Maaf anak muda, apakah anak muda ini warga baru di desa ini?” tanya pedagang itu.
"Tidak paman, saya hanya menumpang lewat di desa ini dan kebetulan dari pagi belum makan, jadi saya beristirahat sejenak di pasar ini!” sahut Lembah Manah. “Apa nama desa ini, Paman?”
“Desa ini bernama Desa Wirakan!” jawab paman pedagang itu. "Lha memangnya anak muda ini dari mana dan mau kemana?" Pedagang itu penasaran dengan Lembah Manah.
"Saya dari Kadipaten Purwaraja paman, tepatnya Desa Kedhung Wuni dan hendak menuju kerajaan!” sahut Lembah Manah sembari menikmati sebakul nasi dan tumis kangkung kesukaannya.
"Memangnya ada perlu apa? Perjalanan anak muda ini sangat jauh!" tanya pedagang itu lagi semakin tambah penasaran.
"Ada urusan penting yang harus saya selesaikan paman!” Lembah Manah menjawab dengan menyembunyikan tujuan yang sebenarnya.
__ADS_1