KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Awal Pertandingan


__ADS_3

Pranayuda terlihat mencabut tongkat berwarna kuning yang diikatkan pada punggungnya. Wanapati tak ingin kalah, pemuda itu mengeluarkan Kapak Pembelah Langitnya yang diselipkan pada pinggang kirinya.


Kedua senjata itu beradu dari genggaman pemiliknya masing-masing. Pranayuda mengalirkan tenaga dalam berwarna kuning pada senjatanya, hingga kekuatannya dua kali lipat dari sebelumnya.


Wanapati juga mengikuti permainan lawannya, dengan cepat mengalirkan tenaga dalam pada kapaknya, hingga diselimuti cahaya kuning.


Kembali dua senjata itu beradu hingga menimbulkan asap debu dari arena pertandingan. Lima belas menit mereka bertarung membuat Pranayuda mulai kehabisan tenaga dalam, pemuda itu mulai menggunakan jurusnya.


“Ajian Bambu Kuning!” seru Pranayuda menyabetkan tongkatnya ke arah Wanapati yang berjarak sepuluh langkah, diikuti lima cahaya kuning melesat horizontal.


“Kapak Pembelah Langit!” sahut Wanapati sembari mengibaskan kapaknya menangkis serangan Pranayuda.


Kedua tebasan cahaya berwarna kuning itu bertabrakan, hingga menimbulkan asap debu mengepul menyelimuti arena pertandingan. Mereka masih baik-baik saja, tetapi tenaga dalam Pranayuda semakin terkuras dan hendak kembali menyerang Wanapati.


“Rupanya kau masih bisa bertahan!” seru Pranayuda dengan napas terengah-engah.


“Ya, seperti yang kau lihat!” sahut Wanapati dengan sedikit tersenyum.


“Baiklah, apakah kau bisa menangkis seranganku berikutnya!” Pranayuda tampak mengangkat tongkatnya vertikal ke atas dengan kedua tangan, lalu mengibaskan ke bawah, seakan membelah sesuatu di depannya.


“Bambu Kuning Penghancur!” teriak Pranayuda yang mengeluarkan seluruh tenaganya dan diikuti dengan puluhan cahaya kuning membentuk tongkat sepanjang dua depa meluncur deras ke arah Wanapati.


“Kapak Pembelah Langit!” teriak Wanapati yang menebaskan kapaknya dari kanan ke kiri, diikuti cahaya kuning melesat ke arah Pranayuda.


Kedua tenaga dalam itu bertabrakan, sepertinya cahaya kuning milik Wanapati lebih dominan menghabisi cahaya kuning yang membentuk puluhan tongkat milik Pranayuda. Benturan tenaga dalam itu menimbulkan getaran yang hebat di sekitar arena pertandingan.


Cahaya kuning berbentuk tongkat mulai lenyap, tetapi cahaya kuning milik Wanapati masih melesat menembus asap debu karena tabrakan dua tenaga dalam tersebut, hingga tepat mengenai tubuh Pranayuda.


BLAS!


Pranayuda terhempas sepuluh langkah ke belakang karena terdorong lesatan cahaya kuning milik Wanapati dan membuatnya keluar dari arena pertandingan.

__ADS_1


“Pemenangnya Wanapati dari Perguruan Jiwa Suci!” teriak Patih Ragas yang diikuti tepuk tangan dan teriakan dari penonton yang menyebut nama Wanapati.


“Pemuda itu lumayan juga!” ucap Ki Lugut Salari, pemimpin Perguruan Ular Putih yang duduk bersama murid lainnya, Pramasala.


“Kenapa kau langsung kalah!” gerutu Pramasala mengepalkan tangan kanannya.


Wanapati hanya tersenyum dan membungkukkan badannya ke arah sang Raja, lalu memutarkan tubuhnya empat arah ke area penonton. Raja bertepuk tangan menyaksikan pertarungan pertama yang sangat menakjubkan.


Untuk pertama kalinya, Ni Luh tersenyum melihat kemenangan temannya.


Pranayuda langsung dihampiri beberapa prajurit yang bersiap di tepi arena pertandingan untuk dibawa ke ruang perawatan. Wanapati kembali ke tempat duduknya dengan tersenyum ramah pada penonton yang bertepuk tangan saat di lewatinya.


“Pertarungan berikutnya, Kenanga dari Perguruan Tombak Putih melawan Giandra dari Perguruan Bambu Wulung!” teriak Patih Ragas memusatkan perhatian setelah penonton bersorak usai pertarungan pertama.


Kedua peserta pun memasuki arena pertarungan diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai dari penonton yang meneriakkan nama mereka. Sang Raja pun mengangguk-anggukkan kepalanya melihat kedua peserta tersenyum kepadanya.


Pertarungan dimulai setelah Patih Ragas memberi aba-aba. Pertarungan kedua sepertinya kurang imbang karena tingkat aktivasi kanuragan Giandra dua tingkat di atas aktivasi kanuragan Kenanga.


Jika Giandra berada pada aktivasi tingkat Madyo tahap awal, Kenanga berada pada aktivasi tingkat Andhap tahap menengah.


“Pemenangnya Giandra dari Perguruan Bambu Wulung!” ucap Patih Ragas diiringi tepuk tangan dari penonton.


“Jelas Giandra yang menjadi pemenang, tingkat ilmu kanuragannya lebih tinggi dari Kenanga!” lirih Wanapati berbicara sendiri sembari bertepuk tangan.


“Pertarungan yang tidak seimbang!” teriak salah satu penonton.


“Bagus Giandra, kamu pasti juaranya!” teriak penonton lainnya yang menjagokan Giandra untuk menjadi juara pertandingan.


“Sudah kuduga, Giandra pasti menang dengan mudah!” lirih Ki Pethuk Cemeng, Pemimpin Perguruan Bambu Wulung yang duduk bersama murid lainnya, Gantala.


Giandra kembali ke tempat duduknya tanpa ada luka sedikit pun, pemuda kekar itu berkumpul bersama Gantala dan sang guru Ki Pethuk Cemeng.

__ADS_1


Pertarungan ketiga sepertinya lebih menarik dari sebelumnya. Mereka memiliki tingkat aktivasi kanuragan yang sama, yaitu berada pada tingkat Andhap tahap akhir.


“Pertandingan ketiga, Rahmawati dari Perguruan Pedang Putih melawan Cempaka dari Perguruan Tombak Putih!” teriak Patih Ragas memusatkan perhatian.


Kedua peserta memasuki arena pertarungan dan saling memberi hormat dengan membungkukkan badan mereka, lalu menghadap ke arah raja.


Pertarungan pun di mulai setelah Patih Ragas memberi aba-aba. Kedua peserta saling serang, Rahmawati lebih menguasai jalannya pertarungan dengan permainan pedangnya. Sementara Cempaka hanya bertahan dengan tombaknya, sembari mengamati pola serangan Rahmawati.


Kedua senjata saling bersinggungan hingga menimbulkan percikan api yang mewarnai jalannya pertarungan. Gerakan Rahmawati terlihat lebih agresif ketimbang pertahanan Cempaka yang lemah gemulai, tetapi pasti.


Saat melihat celah karena terlalu asyik menyerang, Cempaka mendaratkan satu pukulan dengan pangkal tombak yang tumpul tepat mengenai dada Rahmawati, hingga gadis memakai selendang itu mengeluarkan darah dari mulutnya dan menyerah setelah mata tombak Cempaka berada pada lehernya.


“Pemenangnya Cempaka dari Perguruan Tombak Putih,” ucap Patih Ragas yang seketika diikuti dengan tepuk tangan dan teriakan penonton dengan menyebut nama Cempaka.


“Apa yang kau lakukan Rahmawati!” lirih Ki Sabdo Bujono—salah satu sesepuh Perguruan Pedang Putih yang duduk bersama murid lainnya, Barani.


Raja pun ikut bertepuk tangan menyaksikan peserta perempuan yang mahir bermain senjata mereka.


“Cempaka kamu hebat!” seru Kenanga menyambut saudaranya kembali duduk di sampingnya.


“Terima kasih Kenanga!” sahut Cempaka.


“Kanthil, kamu juga harus menang untuk Perguruan Tombak Putih!” ujar Cempaka sembari menepuk pundak Kanthil yang duduk di sampingnya..


“Pertarungan ke empat, Pramasala dari Perguruan Ular Putih melawan Kartika dari Wilayah Bunga Merah!” Kembali suara Patih Ragas menghentikan teriakan penonton usai pertandingan sebelumnya.


Kedua peserta maju ke arena pertarungan dan saling memberi hormat. Tak lupa membungkukkan badannya ke arah raja. Itu adalah syarat mutlak setiap peserta pertandingan sebagai tanda hormatnya pada sang pemimpin kerajaan.


Kartika memulai serangan setelah sang pengadil memberi aba-aba, gadis itu melesat cepat ke arah Pramasala dengan pukulan tangan kanannya.


Satu langkah sebelum Kartika mendaratkan pukulannya, Pramasala menggeser tubuhnya selangkah ke kiri, pemuda itu berhasil lolos dari serangan pertama. Kartika melayangkan pukulan kedua dengan tangan kirinya setelah mendaratkan kakinya.

__ADS_1


Dan lagi-lagi Pramasala dapat menghindar dengan mudah. Kartika mundur beberapa langkah, gadis itu mencabut pedang dari sarangnya yang diikat pada pinggang kirinya.


Pramasala tak mau kalah dan mengeluarkan pedang dari sarangnya. Kartika melesat ke arah Pramasala, gadis itu menebaskan pedangnya dari atas ke bawah, meraih wajah lawannya, tetapi masih bisa ditangkis dengan mudah oleh Pramasala.


__ADS_2