
“Terima kasih Maruta, emm, lalu sekarang apa yang harus aku lakukan?” ucap Lembah Manah yang masih kebingungan.
“Jika kau mau, aku akan menjadi pedang dan akan selalu membantumu,” sahut Naga Maruta.
Lagi-lagi Lembah Manah dibuat terkejut oleh perkataan sang naga. Maruta akan berubah menjadi pedang dan akan selalu membantu pemuda itu.
“Beri aku beberapa tetes darahmu tepat di bekas Batu Merah Delima, sebagai ikatan kontrak!” perintah Naga Maruta kepada Lembah Manah.
“Lalu aku akan menjadi sebuah pedang. Tapi perlu kau ingat, sesaat setelah aku menjadi pedang, dinding sebelah kirimu akan terbuka, itu adalah pintu masuk lorong alam lelembut. Kau harus melewati lorong itu untuk kembali ke tempat asalmu!”
“Satu lagi, Lembah. Di dalam setiap lorong ada satu makhluk penunggu. Anggaplah itu sebagai latihanmu, hahaha,” teriak Naga Maruta mengejek Lembah Manah.
Lembah Manah menoleh ke arah Ki Gendon, seakan meminta pendapat sang guru atas tawaran yang diberikan Naga Maruta. Ki Gendon hanya mengangguk, pertanda Lembah Manah diperbolehkan menerima tawaran itu.
“Terimalah Lembah, tak baik menolak pemberian makhluk suci Naga Maruta, karena kau ditakdirkan untuk menjadi pendekar hebat,” ucap Ki Gendon meyakinkan Lembah Manah.
“Baiklah guru,” jawabnya seraya menuruti perintah Ki Gendon dan bersiap untuk menghadapi kekuatan-kekuatan yang besar, seiring dengan kekuatannya yang semakin bertambah.
“Baiklah Maruta, emm, aku akan mengikat kontrak denganmu. Maaf jika aku telah melukaimu!”
Lembah Manah menggigit ibu jari tangan kanannya, lalu mengarahkan di antara kedua mata Naga Maruta dan memberi beberapa tetes darahnya.
Seketika Maruta berubah menjadi pedang yang menancap pada tanah tepat di depan Lembah Manah, dibarengi dengan terbukanya portal Lorong Alam Lelembut pada dinding tebing sebelah kiri tempat Lembah Manah berdiri.
Pedang itu tidak terlalu panjang, hanya sekitar satu meter. Memiliki ukiran berwujud kepala naga di bagian pangkal gagang pedang yang berwarna kuning keemasan.
“Cepat masuk Lembah, aku akan membantumu!” perintah Ki Gendon yang menyadari terbukanya portal pada dinding jurang.
Lembah Manah mencabut Pedang Maruta yang menancap di depannya, lalu berlari memasuki portal Lorong Alam Lelembut yang berada pada dinding jurang di sebelah kirinya. Suasana seketika hening.
“Anu guru. Emm, kenapa di lorong yang pertama ini berwarna merah?” Lembah Manah bertanya kepada Ki Gendon sembari melangkahkan kakinya.
“Aku juga tak mengerti Lembah, tapi bersiaplah untuk menghadapi kemungkinan terburuknya!” sahut Ki Gendon.
Sementara itu di rumah Lembah Manah...
__ADS_1
“Hari sudah sore, kemana anak ini? Mana ternak belum juga diberi makan!” lirih Purwandari yang merasa Lembah Manah belum kembali dari mencari rumput dan memberi makan ternak peliharaannya.
Wanita lima puluh tahun itu berjalan menuju rumahnya untuk memastikan apakah Lembah Manah ada di sana. Namun, tak ada siapa pun di dalam rumah. Purwandari keluar menuju kandang ternak, juga tidak ada peralatan sabit Lembah Manah.
“Kemana anak ini!” lirih Purwandari mengerutkan keningnya.
Hingga mencari di sekitar kebun cabai belakang rumah, Purwandari juga tak menemukan keberadaan putranya. Karena rumah mereka jauh dari pusat desa, dan hanya menyendiri di dekat sungai, Purwandari berencana untuk menyusul Lembah Manah menuju tepi hutan yang tak jauh dari rumahnya.
Dalam beberapa menit saja, Purwandari telah sampai di tepi hutan. Wanita itu menemukan alat milik Lembah Manah tergeletak berceceran.
“Ini kan sabit milik Lembah. Di sini juga ada jejak kaki terpeleset!” lirih Purwandari mendapati keranjang rumput dan juga sabit milik Lembah Manah.
“Apa jangan-jangan anak itu jatuh ke dalam jurang?” Purwandari memandang ke arah jurang yang tak terlihat dasarnya. “Lembah, Lembah, dimana kamu!”
“Tidak ada jawaban!” perlahan Purwandari meneteskan air matanya, wanita itu menduga jika Lembah Manah telah jatuh ke dalam jurang.
Pada akhirnya, Purwandari kembali ke rumah karena sebentar lagi hari mulai gelap. Wanita itu berencana melapor kepada pihak desa atas kejadian ini.
Kembali ke Lorong Alam Lelembut...
“Guru, emm, sampai kapan kita terus berjalan seperti ini. Sementara kita tidak menemukan jalan keluar!” ucap Lembah Manah merasa kebingungan melihat lorong alam pertama yang sangat aneh.
“Sudah jalan saja terus, jangan banyak protes,” gerutu Ki Gendon.
Lorong alam pertama memiliki warna serba kemerahan, mulai dari langit, pepohonan dan tanahnya pun berwarna kemerahan.
Ketika Lembah Manah sampai pada sepetak hamparan rerumputan, pemuda itu berhenti sejenak dan melihat-lihat ke atas, ke arah pepohonan, dia khawatir akan bahaya yang tengah mengintainya.
“Emm, anu guru, suasana kok jadi seram ya!” Lembah Manah memegangi tengkuk lehernya yang mulai merinding.
“Aku tak merasakan apa pun,” jawab Ki Gendon.
“Bagaimana guru bisa merasakan, lha wong guru kan cuma roh, hmm!” Lembah Manah tertawa kecil menyembunyikan ketakutannya.
“Woo! Dasar bocah gendeng,” gerutu Ki Gendon dengan memukul kepala Lembah Manah.
__ADS_1
“Wek, tidak kena!”
Dan ternyata benar, Lembah Manah seperti di ikuti sosok hitam. Dan sosok hitam itu sudah berdiri di atas dahan pohon yang besar, tepat di depan pemuda itu.
"Hoi anak muda, beraninya kau memasuki Lorong Alam Kapisan ini, akan kuhabisi kau!” ancam sosok makhluk hitam itu.
"Sebelumnya saya mohon maaf. Emm, saya hanya menumpang lewat,” jawab Lembah Manah dengan nada sopan.
"Kau tahu, siapa pun yang memasuki alam ini, tidak bisa keluar dengan selamat," seru makhluk hitam itu. "Dan siapa pun yang telah mengusik Gandarwa, dia akan mati!”
Siapa yang menyangka makhluk itu bernama Gandarwa. Manusia setengah siluman, memiliki cakar yang tajam di tangannya.
Berwajah hampir mirip dengan kelelawar, ada dua taring yang keluar dari mulut bagian atas. Telinganya berdiri ke atas, agak tipis dan panjang. Kulitnya hitam dan berbulu-bulu tipis, juga memiliki ekor dengan ujung yang runcing.
Dan alam yang pertama itu bernama Lorong Alam Kapisan.
SLAP!
Gandarwa melompat dan menyerang Lembah Manah dengan cakar di tangan kanannya, gerakannya seperti membelah sesuatu di hadapannya. Lembah Manah masih sempat menghindar, melompat dan berputar ke kanan dengan gesit.
“Maruta, emm, bagaimana caraku menyimpanmu, aku ingin melawannya dengan tangan kosong!” tanya Lembah Manah kepada pedang yang di genggamnya.
“Julurkan saja tangan kananmu ke atas, lalu sebut namaku tiga kali, hahaha,” jawab Maruta.
“Jangan bercanda kau,” gerutu Lembah Manah.
“Coba saja lakukan perintahku. Dan jika kau ingin menggunakanku kembali, julurkan saja tangan kananmu ke atas dan sebut lagi namaku tiga kali, maka aku akan berada di genggamanmu, hahaha!” Maruta menghilang setelah Lembah Manah melakukan perintahnya.
Lembah Manah bertarung dengan tangan kosong, menghindari setiap cakaran Gandarwa yang memiliki kuku tajam.
BRUK!
“Aduh, sakit guru!” Tiba-tiba Lembah Manah terjatuh, terkena tendangan dari kaki kanan Gandarwa, tepat di dada sebelah kirinya.
“Bocah gendeng, jangan bermain-main kalau tak ingin kehabisan tenaga,” seru Ki Gendon memperingatkan Lembah Manah.
__ADS_1