KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Putaran Dua (1)


__ADS_3

Penonton pun bersorak dan bertepuk tangan atas sambutan Patih Ragas, mereka sudah tidak sabar menantikan pertarungan putaran kedua.


Terlihat Raja Brahma datang lebih awal dari sebelumnya diikuti para petinggi kerajaan.


Para peserta yang lolos putaran kedua duduk pada bangku yang telah disediakan. Terlihat Wanapati, Jayadipa, Lembah Manah dan Ni Luh duduk saling berdampingan.


Lembah Manah melihat antusiasme penonton yang sangat luar biasa membuatnya tersenyum sendiri. Sedangkan Ni Luh hanya menikmati senyum manis Lembah Manah tanpa diketahui oleh pemuda itu.


Wanapati dan Jayadipa juga melihat sorak-sorai penonton yang sangat ramai. Mereka berdua sesekali melihat ke arah peserta lain yang duduk berjajar dengan mereka, tetapi berbeda bangku. Peserta itu tampaknya juga sudah tidak sabar memulai putaran kedua.


“Panitia akan mengacak kembali para peserta yang lolos ke putaran kedua. Untuk nama yang disebut, diharapkan maju ke arena,” seru Patih Ragas.


Untuk sementara suasana sedikit tenang, karena panitia masih mengundi siapa saja peserta yang akan bertanding di putaran kedua.


“Pertarungan pertama di putaran kedua. Gadis Bercadar melawan Cempaka dari Perguruan Tombak Putih,” lanjut Patih Ragas yang diikuti teriakan dan tepuk tangan dari penonton.


“Pasti Gadis Bercadar pemenangnya,” ucap salah satu penonton.


“Cempaka, kamu pasti menang,” teriak penonton lainnya yang selalu berkomentar.


Cempaka adalah gadis paling kecil dari Tiga Bunga Bersaudara Perguruan Tombak Putih. Yang paling besar adalah Kenanga, yang kedua ada Kanthil, dan ketiga Cempaka yang merupakan paling bungsu.


Kedua peserta pun maju ke arena, saling memberi hormat dan menundukkan kepala ke arah raja, lalu memulai pertarungan setelah Patih Ragas memberi aba-aba.


Cempaka maju terlebih dahulu, melesat menebaskan tombaknya dengan gerakan dari atas ke bawah, seperti membelah sesuatu di depannya. Wulan menangkis dengan kipas baja yang juga digenggam di tangan kanannya.


Cempaka terus menyerang dengan tebasan-tebasan teratur dari arah kanan dan kiri diiringi dengan gerakan maju ke depan. Namun, Wulan masih bisa menangkis dan membaca gerakan Cempaka dengan mudah.


Lama mereka saling beradu tombak dengan kipas baja dan saling bertukar jurus. Kadang Cempaka maju menyerang, kadang Wulan yang lebih agresif meski hanya bersenjata kipas.


Cempaka sedikit menjauh dari Wulan, karena jika terlalu dekat itu sangat berbahaya apabila tiba-tiba Wulan mengeluarkan racun dari kipasnya. Cempaka tak ingin menjadi korban seperti lawan Wulan pada putaran pertama.


Beberapa saat berlalu, yang ditakutkan Cempaka pun terjadi. Dari jarak sepuluh langkah, Wulan mengibaskan kipasnya yang diikuti pisau pipih melesat ke arah Cempaka.

__ADS_1


Cempaka mengalirkan tenaga dalam pada tombaknya, lalu menangkis serangan Wulan sembari memutarkan tubuhnya dan melangkah ke belakang.


Cempaka berhasil menangkis semua pisau itu yang membuat Wulan semakin geram. Kini Cempaka melesat ke arah Wulan dengan menebaskan tombaknya dari atas ke bawah, begitu juga dengan Wulan, gadis bercadar itu melesat ke arah Cempaka mencoba menangkis dengan kipasnya.


Terjadi percikan api setelah kedua senjata itu bersinggungan. Cempaka mempercepat gerakannya, hingga gadis itu kembali memutarkan tubuhnya dengan kecepatan penuh. Wulan terlempar karena menangkis putaran cepat tubuh Cempaka yang memegangi tombaknya.


“Bagaimana aku bisa mengalahkannya?” Wulan berkata lirih yang mulai kehabisan akal menghadapi Cempaka.


Cempaka masih berdiri menggenggam tombak terhunus ke bawah di tangan kanannya. Menurut perkiraannya, sekali lagi dia memutarkan tubuhnya, dia pasti menang.


Namun, Wulan mempunyai rencana lain yang tak terduga, dalam benaknya tak mungkin dia hanya sampai pada putaran kedua, dia harus menjadi juara dalam pertandingan ini.


Wulan kembali maju menyerang Cempaka, diikuti Cempaka yang melesat ke arah Wulan. Mereka kembali beradu senjata, Cempaka memutarkan tubuhnya dengan kecepatan penuh. Sama seperti awal, Wulan terhempas karena efek putaran tubuh Cempaka.


Namun, ketika Cempaka menghentikan putarannya, dengan cepat Wulan melempar satu pisau pipih yang telah disiapkannya dari saku lengan panjang bagian dalam.


SRET


Cempaka yang kehabisan tenaga sedikit lengah dan terkena satu goresan tepat di kaki kirinya, dan disambut dengan senyuman sinis Wulan.


Cempaka hampir terjatuh, tetapi gadis itu masih berusaha memberontak, dan membuat tubuhnya semakin kaku. Tubuhnya tak bisa digerakkan karena racun dari pisau itu telah menyebar.


Wulan berhasil mendekati Cempaka dengan mengarahkan kipas yang dilipat ke leher Cempaka sesaat setelah tubuh Cempaka tak bisa bergerak.


“Pemenangnya Gadis Bercadar!” ucap Patih Ragas mengakhiri pertarungan.


Para penonton bersorak dan bertepuk tangan menyambut kemenangan Wulan. Raja juga ikut bertepuk tangan dan tersenyum melihat putrinya memenangkan pertarungan keduanya.


Wulan kembali ke tempat duduknya setelah memberi hormat pada ayahnya, dan kali ini, gadis bercadar itu melambaikan tangan pada penonton.


“Emm, jadi perempuan itu memakai racun pada pisaunya,” ucap Lembah Manah lirih.


“Perempuan itulah yang mengalahkan Ni Luh,” sahut Wanapati.

__ADS_1


“Benarkah Ni Luh?” Lembah Manah bertanya kepada Ni Luh.


Ni Luh hanya menjawab dengan anggukan kepalanya tanpa sepatah kata yang keluar, gadis itu merasa malu karena langsung kalah pada putaran pertama.


“Pertarungan selanjutnya Wanapati dari Perguruan Jiwa Suci melawan Pramasala dari Perguruan Ular Putih!” seru Patih Ragas diikuti penonton yang berteriak dan bertepuk tangan mendengar peserta berikutnya.


“Wah, sekarang giliranku,” ucap Wanapati pada ketiga temannya.


“Ayo Wanapati kamu pasti menang,” sahut Ni Luh.


Berbagai kata penyemangat juga datang dari Jayadipa dan Lembah Manah mengiringi penampilan Wanapati.


“Hati-hati dengan Kapak Pembelah Langitnya!” seru Pranayuda mengingatkan Pramasala.


“Ayo Pramasala kamu pasti menang,” teriak salah satu penonton.


“Beri kami pertunjukan yang menarik,” teriak penonton yang lainnya.


Kedua peserta maju ke arena pertandingan dari sudut yang berbeda. Lalu memberi hormat pada raja dan membungkuk satu sama lain.


“Mulai!” seru Patih Ragas pertanda pertandingan dimulai.


Pramasala melesat mengarahkan pukulannya ke wajah Wanapati. Wanapati menangkis dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya meraih wajah Pramasala.


Pramasala menangkis dengan tangan kirinya, lalu melancarkan tendangan dengan kaki kanannya mengarah perut Wanapati.


Wanapati terkena tendangan Pramasala, pemuda itu jatuh terguling beberapa langkah menjauhi lawannya. Pramasala tak mau mengendurkan serangan, pemuda itu mencabut pedang dari pinggang kirinya dan kembali melesat cepat ke arah Wanapati yang masih terjatuh tengkurap.


Ditebaskannya pedang Pramasala dari atas ke bawah yang telah dialiri tenaga dalam. Namun, karena Wanapati telah melihat pergerakan Pramasala, dengan cepat pemuda itu mencabut kapaknya lalu menangkis tebasan Pramasala dengan kapak di tangan kanannya.


Sembari terbangun Wanapati menendang perut Pramasala dengan kaki kanannya, Pramasala jatuh terguling beberapa langkah menjauh dari Wanapati.


Tampak raut muka kegelisahan pada wajah Jayadipa, karena pemuda itu tak pernah melihat Wanapati terkena serangan dari musuh. Begitu juga dengan Lembah Manah dan Ni Luh, mereka tak mau temannya gugur dalam putaran kedua.

__ADS_1


Kembali ke arena pertandingan. Sebelum Pramasala terbangun, Wanapati dengan sigap melesat dan melompat ke arah lawannya seraya menebaskan kapaknya dari atas ke bawah.


__ADS_2