KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Begawan Narmada (2)


__ADS_3

Maka tak heran jika Begawan Narmada tahu betul seluk-beluk dari Lembah Manah. Hingga tiba saat ini, Begawan Narmada mengobati Lembah Manah dan berniat untuk melatih pemuda itu di atas Gunung Sundara.


“Aku akan mengajarkanmu ilmu yang tak dimiliki oleh kebanyakan pendekar. Bahkan, Gendon tak punya ilmu ini!” seru Begawan Narmada.


“Benarkah kakek begawan. Sebelumnya, Lembah mengucapkan banyak terima kasih kepada kakek begawan!” sahut Lembah Manah mencium punggung tangan kanan Begawan Narmada.


Beberapa hari berlalu, tubuh Lembah Manah telah pulih seperti sediakala. Pemuda itu banyak menyerap ekstrak penempaan tubuh, dan juga pusaka siluman berkualitas baik yang diberikan oleh Begawan Narmada.


Bahkan, pemuda itu banyak mengonsumsi inti sari buah asam gunung, yang hanya ada di Gunung Sundara. Kini, Lembah Manah bersiap untuk menerima ilmu dari Begawan Narmada.


Untuk latihan dasar, latihan fisik menjadi fondasi dari ilmu yang diajarkan. Begawan Narmada mengajak Lembah Manah berlari melewati lereng curam, mendaki, memanjat tebing batu terjal dan juga melompati ngarai Gunung Sundara.


“Apa kau merasa lelah?” tanya Begawan Narmada disela-sela gerakannya.


“Sama sekali belum kakek begawan. Sepertinya tenaga fisik Lembah tidak ada habisnya!” sahut Lembah Manah tersenyum.


“Itu tandanya jurus Rahpati yang ada ditubuhmu berhasil kuatasi. Juga pada dasarnya fisik dan stamina tubuhmu sangat bagus!” ucap begawan menjelaskan.


“Benarkah kakek begawan!” jawab Lembah Manah.


“Ayo kita kembali ke gubuk!” tutup begawan.


Sesampainya di pondokan, segera Begawan Narmada mengambil sebuah kitab. Entah dimana begawan menyembunyikan kitab itu, yang jelas kitab itu aman ditangan seseorang yang berhati mulia.


Lembah Manah membaca isi kitab itu dengan saksama, halaman demi halaman tidak ada yang terlewat dan juga memahami arti dari apa yang dibacanya.


“Apa kau sudah memahami?” ucap Begawan Narmada yang dijawab dengan anggukan kepala Lembah Manah.


“Coba kau berdiri di halaman depan. Lakukan semua gerakan yang telah kau baca dari kitab itu!” seru Begawan Narmada meminta Lembah Manah menuruti perintahnya. “Ajian ini juga mempercepat gerakan tubuhmu dalam bertarung!”


“Baik kakek begawan!” sahut Lembah Manah.


Lembah Manah berdiri di halaman depan pondokan, sedangkan Begawan Narmada hanya duduk di teras sembari memandu setiap gerakan Lembah Manah.

__ADS_1


‘Bumi dan semesta adalah kosong, gelegar guntur laksana penghancur, angin berembus menerpa dedaunan halus, ombak datang menghantam karang, api kecil pelita api besar bencana, segala yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah’


“Bagus Lembah, kau telah menguasai Ajian Mayu Bawono!” ucap Begawan Narmada.


“Apa!”


Lembah Manah terkejut mendengar bahwa yang tengah dipelajarinya adalah Ajian Mayu Bawono. Pemuda itu sama sekali belum pernah mendengar tentang ajian itu, dan mungkin ajian itu telah punah dari dunia persilatan.


Ketika hari menjelang siang, mereka berganti cara berlatih, kali ini latihan uji tanding. Pukulan dan tendangan Lembah Manah mengandung tenaga fisik dan kecepatan yang sangat besar, terlihat debu beterbangan diantara mereka.


Begawan Narmada hanya mengikuti pergerakan Lembah Manah dengan mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengimbangi pemuda itu.


“Luar biasa kakek begawan, gerakan jurus ini sangat menakjubkan!” ucap Lembah Manah sembari terus menyerang Begawan Narmada.


“Bagus, Lembah. Pergerakanmu semakin cepat dan sangat berisi!” seru Begawan Narmada memuji Lembah Manah. “Dengan begitu, kau dapat memadukan berbagai ajian yang kau kuasai!”


“Terima kasih kakek begawan!” Lembah Manah membungkukkan badannya. “Ini semua berkat bimbingan kakek begawan!”


Di saat Begawan Narmada istirahat, Lembah Manah tidak juga merebahkan tubuhnya. Pemuda itu duduk bersila dan memejamkan mata, lalu memahami setiap apa yang dibacanya dari kitab yang mempelajari Ajian Mayu Bawono.


“Lembah, ini ada kentang rebus. Makanlah dulu!” ucap begawan yang membuat Lembah Manah membuka mata, dan ternyata matahari telah condong di ufuk barat.


Segera Lembah Manah menikmati makan sorenya itu bersama Begawan Narmada. Tak berselang lama, kembali Lembah Manah melanjutkan latihannya. Pemuda itu berdiri di halaman gubuk, memasang kuda-kuda dan melakukan gerakan-gerakan seperti yang diarahkan Begawan Narmada.


“Lembah! Coba kau pindahkan batu besar itu!” ucap begawan sembari menunjuk batu sebesar kambing tak jauh dari gubuknya.


Semula Lembah Manah ragu untuk melakukannya, tetapi setelah mendapat arahan dari Begawan Narmada, dengan yakin pemuda itu dapat melakukannya.


Dan benar, batu sebesar kambing berpindah tempat sejauh lima langkah dari tempatnya dengan kekuatan fisik Lembah Manah. Pemuda itu sendiri juga terkejut atas kehebatan ilmu yang dipelajarinya.


“Benar-benar luar biasa!” lirih Lembah Manah.


***

__ADS_1


Satu bulan lebih telah berlalu di Gunung Sundara, Lembah Manah benar-benar berlatih dengan giat. Sepertinya efek serangan Eyang Rahpati juga tidak kambuh lagi setelah berhasil diobati oleh Begawan Narmada. 


Malam ini seperti biasanya, Begawan Narmada kembali mengajak Lembah Manah berlari menuju puncak. Bukan, bukan berlari, lebih tepatnya melompat.


Kali ini gerakan Lembah Manah semakin gesit dan cepat. Jika dilihat dengan mata biasa yang tampak hanya sekelebat bayangan hitam berpindah-pindah tempat.


Hingga sampai puncak, keduanya berhenti di suatu pelataran luas berpasir yang disebut dengan Puncak Latar Ombo. Satu pukulan diarahkan kepada Lembah Manah, itu hanya gertakan begawan agar muridnya itu lebih waspada dan bersiap menghadapi serangan berikutnya.


Dengan kecepatan gerakannya, Lembah Manah semakin mudah menghindari pukulan dan tendangan Begawan Narmada yang mengandung tenaga dalam sangat besar.


Semakin lama, pukulan dan tendangan Begawan Narmada semakin cepat saja, sehingga angin dari pukulan dan tendangan itu terdengar menderu dengan keras.


Perlahan kecepatan Lembah Manah juga dapat mengimbangi kecepatan Begawan Narmada, begitu juga staminanya yang seakan tidak pernah ada habisnya.


“Kau berkembang dengan pesat Lembah!” ucap begawan sembari melancarkan pukulan dan tendangannya.


Pukulan dan tendangan yang tadinya bisa menjatuhkan Lembah Manah, kini bisa ditangkis dan ditahan oleh pemuda itu. Bahkan hanya bergeser sedikit saja karena kekuatan fisik dan staminanya yang sudah diuji.


Setahap demi setahap, Lembah Manah mengerahkan kekuatan bertarungnya. Sekarang pemuda itu sudah mencapai Ajian Mayu Bawono tahap sempurna, selama ini dia belum pernah menggunakan kekuatan sebesar itu.


Tanpa terasa malam mendekati dini hari, Begawan Narmada menghentikan latihan kali ini yang dirasa sudah cukup.


Begawan Narmada mengajak Lembah Manah untuk kembali ke pondokannya. Dengan gerakan secepat kilat, tak membutuhkan waktu lama Lembah Manah telah sampai di pondokan Begawan Narmada.


Dan seperti biasanya, Lembah Manah duduk bersila, memejamkan mata, lalu memahami isi kitab yang dia pelajari tanpa memedulikan dinginnya hawa Gunung Sundara.


Rutinitas ini berjalan setiap hari, hingga kemampuan Lembah Manah hampir bisa mengimbangi kekuatan Begawan Narmada.


“Lembah! Kau sudah menguasai semua yang telah aku ajarkan! Sudah saatnya kau kembali ke perguruan!” seru Begawan Narmada mendatangi Lembah Manah yang tengah bermeditasi.


“Aku berharap kau bisa menggunakan kekuatanmu sebaik-baiknya. Kau bisa kapan saja mengunjungiku ke tempat ini. Selama matahari masih terbit dari timur, tempat ini selalu terbuka untukmu!”


“Terima kasih kakek begawan. Semua yang kakek begawan ajarkan, tidak akan Lembah sia-siakan!” sahut Lembah Manah yang disambut dengan senyuman Begawan Narmada. “Tapi, masih ada sesuatu yang mengganjal dihati Lembah!”

__ADS_1


__ADS_2