
“Sepertinya aku akan ikut turun tangan!” ucap seorang pria tua yang berdiri tidak jauh dari Tirta Banyu. Dialah Eyang Rahpati, salah satu petinggi Organisasi Lowo Abang.
“Biarkan aku mencoba pemuda itu, Ki!” sambung Eyang Rahpati kepada Ki Badra menunjuk Lembah Manah yang tengah menghadapi prajurit bawahan Tirta Banyu. “Kali ini dia harus mati ditanganku!”
“Kau boleh lakukan apa pun sesuka hatimu, Rahpati!” timpal Ki Badra.
Saat Eyang Rahpati hendak melesat meninggalkan pintu gerbang istana, tiba-tiba seorang kakek tua menghadang pergerakan salah satu petinggi Organisasi Lowo Abang itu.
Kakek tua yang membawa cambuk berwarna hitam menyerupai seekor naga. Benar, Empu Tulak sang ahli pembuatan senjata membawa Cambuk Api Naga Geni.
“Aku tak menyangka kau masih hidup, empu tua bangka!” geram Eyang Rahpati.
“Tak akan kubiarkan kau menyerang pemuda itu!” sahut Empu Tulak menoleh ke arah Lembah Manah, lalu kembali berpaling kepada musuh di depannya. “Sepertinya aku harus mematahkan dua tanganmu!”
Setelah berkata demikian, Empu Tulak mendaratkan satu serangan dengan Cambuk Api. Beruntung Eyang Rahpati masih menghindar dengan mengentakkan kakinya ke tanah lalu melayang ke awang-awang.
Eyang Rahpati melepaskan serangan balasan. Telapak tangan kanannya mengarah ke depan, diikuti bola bening sebesar buah delima meluncur deras ke arah Empu Tulak. Dengan Cambuk Api, Empu Tulak menyabet serangan Eyang Rahpati dengan sekali lecutan.
DYAR!
Suara ledakan akibat dua serangan beradu menimbulkan cahaya merah di udara. Empu Tulak berputar dan bergerak mundur beberapa langkah seraya mengayunkan cambuknya. Sementara Eyang Rahpati masih tak bergeming, melayang di awang-awang setinggi satu pohon kelapa.
Meski sudah berumur, tetapi gerakan Empu Tulak sangat lincah. Mengingat dirinya adalah sang ahli senjata.
Kali ini Eyang Rahpati melakukan gerakan putaran. Kedua tangannya seakan menggenggam sebuah energi bola bening sebesar buah kelapa. Dengan gerakan ke depan, Eyang Rahpati melepaskan energi bola bening itu ke arah Empu Tulak.
“Tamatlah kau, tua bangka!” geram Eyang Rahpati.
Menyadari lawannya menggunakan jurus level tinggi, Empu Tulak mengalirkan tenaga dalam pada cambuknya hingga menyala api pada bagian ujungnya. Empu tua itu berputar dua kali mengayunkan cambuknya, lalu menyambut serangan Eyang Rahpati.
__ADS_1
DYAR!
Ledakan kedua lebih dahsyat dari ledakan yang pertama, hingga membuat prajurit yang bertarung di sekitar mereka berdua terlempar beberapa langkah akibat gelombang kejut dua serangan yang beradu.
Kembali Empu Tulak memutarkan tubuhnya mengayunkan cambuk api. Namun, tanpa diduga oleh kakek tua itu, Eyang Rahpati melesat dan mendaratkan satu pukulan pada perut Empu Tulak.
Kakek tua itu terlempar beberapa langkah ke belakang dengan terhuyung. Belum sempat menguasai tubuhnya, Eyang Rahpati menghujani serangan energi bola bening dari kedua telapak tangannya, bergantian kanan dan kiri.
BOOM BOOM BOOM
Ledakan demi ledakan mendarat pada permukaan tanah hingga membuat kawah-kawah kecil di berbagai tempat. Empu Tulak masih bisa menghindari serangan Eyang Rahpati dengan gerakan memutar seraya mengayunkan cambuknya. Bahkan, ada beberapa serangan Eyang Rahpati yang terkena lecutan cambuk api hingga hancur tak berbekas.
“Itulah kelemahanmu, tua bangka!” Eyang Rahpati tertawa bangga melihat lawannya kesulitan menghadapi serangan energi bola bening miliknya. “Cambukmu hanya untuk serangan jarak dekat, bukan!”
Setelah beberapa serangan berhasil ditahan oleh Empu Tulak, kakek tua itu memutarkan tubuhnya dan meringankan tubuh berpindah ke bagian atas pagar tembok istana. Dengan tempat yang lebih tinggi, Empu Tulak lebih leluasa menyerang dengan cambuknya.
Namun, pendapat Empu Tulak tidak sepenuhnya benar. Eyang Rahpati kembali mengeluarkan energi bola bening dari kedua telapak tangannya, bergantian kanan dan kiri. Lima energi bola bening sebesar buah delima melesat cepat ke arah Empu Tulak yang tengah memutar cambuk di atas kepalanya.
Dua serangan berhasil ditangkis dengan lecutan cambuk yang menyala pada ujungnya. Namun, tiga serangan mendarat pada pagar tembok istana hingga membuat tembok itu runtuh. Sepertinya Empu Tulak ikut tertimpa reruntuhan pagar tembok itu.
***
Sementara itu, di sisi lain pagar tembok istana, Wanapati masih memainkan jemarinya untuk mengendalikan Kapak Pembelah Langit. Cahaya kuning berkelebatan dengan cepat menyambar para prajurit bawahan Tirta Banyu.
Itu belum cukup untuk membuat pendekar aliran putih menang. Mereka belum tahu jika Organisasi Lowo Abang masih punya banyak anggota dengan ilmu kanuragan yang tinggi. Dan juga, masih ada Lima Pendekar Pedang yang setia kepada Ki Badra.
Pada saat Wanapati fokus mengendalikan kapaknya, tiba-tiba terdengar suara tawa kecil dari menara pengintai di belakang pemuda itu.
“Boleh juga kemampuanmu, anak muda!” seru seorang pria berdiri di atas menara pengintai. “Sepertinya tongkat milikku ingin berhadapan dengan kapakmu itu!”
__ADS_1
“Kau—!” Perkataan Wanapati terhenti, pemuda itu mencoba mengingat kembali seorang pria pembawa tongkat yang berdiri di atas menara pengintai.
“Bukankah kau, Patih Garu Langit!” sambung Wanapati seraya menangkap kapaknya setelah berputar pada leher salah satu prajurit bawahan Tirta Banyu. Dikibaskan kapak berwarna kuning itu, agar bercak darah yang menempel segera lenyap.
“Rupanya kau masih mengingatku!” sahut Patih Garu Langit menghunuskan tongkatnya ke depan. “Gara-gara kalian aku mendekam di dalam penjara bawah tanah. Sekarang terimalah seranganku!”
Setelah istana jatuh ke tangan Ki Badra, para tahanan penjara bawah tanah dibebaskan. Banyak dari mereka patuh kepada Ki Badra dengan iming-iming kekuasaan dan juga kebebasan. Garu Langit salah satunya yang telah bergabung dengan si pria tua bermata satu itu.
Garu Langit melompat dan menebaskan tongkatnya dari atas ke bawah meraih tubuh Wanapati.
TANG
Wanapati berhasil menahan serangan Garu Langit. Pemuda itu mengentakkan kaki kanannya, lalu melangkah ke belakang untuk menjaga jarak dengan Garu Langit. Namun, belum juga memasang kuda-kuda, Wanapati mendapat serangan dari belakang.
Satu tebasan pedang hampir memisahkan kepala dari tubuh pemuda itu jika tidak membungkukkan badannya.
“Sial! Beraninya keroyokan!” geram Wanapati melompat turun dari pagar tembok istana dan mendarat pada permukaan tanah, lalu memperhatikan lawan yang menyerangnya dari belakang. “Bukankah kau Condro Mowo! Seharusnya Pukulan Delapan Mata Angin telah melumpuhkanmu, tapi ke—!”
“Ini berkat bantuan Ki Badra, hahaha!” sahut Condro Mowo memotong perkataan Wanapati. “Sekarang, matilah di tanganku!”
Setelah berkata demikian, Condro Mowo melompat dengan menebaskan pedangnya. Namun, saat mata pedang Condro Mowo berjarak satu jengkal dengan kapak milik Wanapati, tiba-tiba satu pusaran tenaga dalam melemparkan Condro Mowo dan menghantam pagar tembok istana.
“Wesaran”! teriak Nata melemparkan tubuh Condro Mowo. “Kali ini aku tidak akan mengampunimu!”
“Nata, terima kasih!” sahut Wanapati tersenyum, mendapati Nata telah berdiri di sampingnya. “Biarkan aku menghadapi Garu Langit!”
Garu Langit kembali menebaskan tongkatnya ke arah Wanapati. Kali ini pemuda pembawa kapak itu menyambut serangan lawannya. Pertukaran jurus terjadi beberapa saat, hingga menimbulkan percikan api dari singgungan dua senjata.
“Tongkat Pengantar Kematian!”
__ADS_1
Hampir saja Wanapati terkena tebasan di kepalanya. Beruntung masih bisa menghindar dengan membungkukkan badannya seraya menebaskan kapaknya. Garu Langit terhuyung beberapa langkah ke belakang menghindari serangan Wanapati.
“Kurang ajar!” geram Garu Langit memasang kuda-kuda dan kembali bersiap menyerang Wanapati.