
Namun, tangan kanan Eyang Rahpati kembali mengeluarkan bola energi dan hendak mendaratkan satu serangan terakhir pada tubuh Lembah Manah. Menyadari dalam tekanan, Lembah Manah menggigit pelan lidahnya, hingga keluar cairan hijau yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Dalam waktu beberapa saat saja, pemuda itu masih teringat tentang Batu Kecubung Hijau yang mungkin akan membantu dirinya ketika mendapat serangan.
Dan benar saja, satu bola energi sebesar buah delima mendarat tepat pada perut Lembah Manah. Dengan energi alam berupa angin milik Eyang Rahpati, Lembah Manah terlempar menjauh dari tubuh Eyang Rahpati.
Napasnya terasa sesak, perut terasa panas, dari sudut bibirnya mengalir darah segar dan perlahan pandangannya semakin buram. Lembah Manah menutup mata, lalu terjatuh dari atas ketinggian dimana pemuda itu terkena serangan Eyang Rahpati.
Rupanya serangan yang berasal dari menyerap energi alam tak berhasil dibendung oleh Batu Kecubung Hijau milik Buto Ijo. Meski tidak menimbulkan luka fisik pada tubuhnya, tetapi tetap saja Lembah Manah merasakan efek luka bagian dalam tubuhnya.
Ki Tunggul hendak menangkap tubuh Lembah Manah, tetapi pemimpin perguruan itu masih saja disibukkan dengan mengevakuasi seluruh muridnya untuk keluar dari area perguruan.
Eyang Rahpati terlempar menjauh dari tubuh Lembah Manah dan lenyap entah kemana setelah mendaratkan satu bola energi yang menurutnya begitu menguras tenaga dalamnya. Sepertinya, petinggi Lowo Abang itu juga menderita luka serius pada pergelangan tangan kirinya.
Saat Lembah Manah terjatuh dari ketinggian, tiba-tiba sekelebat bayangan putih menyambar tubuh pemuda itu dan bergerak menjauh dari perguruan.
“Tunggul! Jangan khawatir, pemuda ini akan selamat ditanganku!” seru cahaya putih itu dan lenyap dari pandangan Ki Tunggul yang masih terpaku di luar pagar perguruan.
Beberapa saat berlalu setelah kepulan asap debu menghilang tertiup angin akibat serangan yang mendarat di belakang perguruan. Semua terlihat khawatir, semua tampak kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi.
Masih diselimuti rasa takut, Ni Luh memberanikan diri berlari menuju pelataran halaman perguruan. Gadis itu mencari keberadaan Lembah Manah, menolehkan kepala pada sekelilingnya, berharap menemukan pemuda yang dia cari.
Dengan berat hati, gadis itu berlutut dan menangis ketika tahu bahwa Lembah Manah tak ada di sekitar pelataran perguruan. Wanapati mencoba menenangkan gadis itu, tetapi tetap saja, rasa khawatir masih bersemayam dihati Ni Luh.
Ki Tunggul yang melihat kelebatan cahaya putih menyambar tubuh Lembah Manah, seketika terdiam dan mencerna perkataan cahaya putih itu dan mencoba untuk mengenali suara yang tak asing baginya.
“Tidak salah lagi, beliau adalah Begawan Narmada!” lirih Ki Tunggul menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
***
“Aku dimana?” lirih Lembah Manah sesaat setelah duduk dan mengucek matanya.
Kepalanya terasa sakit, perut terasa panas dan lengan kiri seakan mati rasa. Sekujur tubuh Lembah Manah merasakan sakit yang luar biasa akibat terkena serangan bola energi milik Eyang Rahpati.
Perlahan, Lembah Manah mencoba duduk di depan sebuah pondokan yang dikelilingi padang ilalang sangat luas. Pemuda itu terkejut karena tempat itu tampak sangat asing baginya.
“Kau berada di Gunung Sundara, anak muda!” Terdengar suara dari dalam pondokan yang mengagetkan Lembah Manah.
Pemuda itu menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang kakek tua yang berpakaian serba putih. Rambut kakek itu putih sepenuhnya, dengan alis, kumis dan jenggotnya semua memutih, mungkin karena usianya yang sudah sangat tua.
Samar-samar Lembah Manah teringat sesaat sebelum terjatuh dari ketinggian di pelataran halaman perguruan. Pemuda itu melihat sosok cahaya putih dan membawanya melesat jauh entah kemana.
“Kakek ini siapa? Kenapa aku ada di tempat ini?” Banyak pertanyaan keluar dari mulut Lembah Manah yang membutuhkan jawaban dari sosok kakek tua itu.
“Aku adalah Begawan Narmada!” sahut kakek tua itu mengelus jenggotnya. “Aku akan mengobati dan melatihmu, Lembah Manah!”
“Kau berada pada tempat yang bernama Alang-Alang Sewu!” seru kakek tua itu yang bernama Begawan Narmada. “Salah satu dataran yang berada pada punggungan sisi selatan Gunung Sundara!”
“Terima kasih kakek begawan telah menyelamatkanku!” sahut Lembah Manah memegangi perutnya yang terasa sakit.
“Kau beruntung memiliki Batu Kecubung Hijau yang menyelimuti seluruh tubuhmu!” ucap Begawan Narmada memperhatikan tubuh Lembah Manah yang masih ada bercak hijau pada perutnya. “Jika tidak, serangan Rahpati pasti akan mengambil nyawamu, Lembah!”
Lembah Manah terkejut mendengar perkataan Begawan Narmada, memang benar pemuda itu mengaktifkan Batu Kecubung Hijau milik Buto Ijo dan Gerbang Kehidupan. Yang membuat Lembah Manah terkejut lagi, bagaimana kakek tua itu tahu mengenai jurusnya tersebut?
Masih dalam keterpurukannya, Lembah Manah kembali pingsan dan tergeletak pada teras sebuah pondokan yang mungkin itu adalah tempat tinggal Begawan Narmada.
__ADS_1
Hingga hari menjelang petang, Lembah Manah terbangun dari pingsannya dan dipersilakan begawan untuk masuk pada pondokannya, yang merupakan tempat tinggal sementara selama berada di Gunung Sundara.
“Beristirahatlah Lembah, nanti malam kita mulai pengobatannya!” seru Begawan Narmada yang langsung diiyakan Lembah Manah.
Malam tiba, yang juga pertanda dimulainya ritual pengobatan. Dengan diterangi pelita, Lembah Manah duduk bersila menghadap ke depan di teras gubuk Begawan Narmada.
Perlahan Begawan Narmada menyalurkan tenaga dalamnya melalui kedua telapak tangan pada punggung Lembah Manah.
Keringat Lembah Manah bercucuran sebesar biji jagung menetes membasahi tubuhnya. Lembah Manah bertelanjang dada, itu sengaja dilakukan agar energi yang mengalir langsung bersinggungan dengan kulitnya.
“Sepertinya, kau memiliki kelainan pada tubuhmu, Lembah!” seru Begawan Narmada memecah keheningan.
“Benar kakek begawan!” sahut Lembah Manah terkejut, ketika Begawan Narmada mampu mendeteksi keadaan tubuhnya. “Pusat tenaga dalam Lembah, berada pada tulang belakang bagian atas dan bawah, kakek begawan!”
“Aku bisa menyembuhkan luka dari Rahpati!” ucap Begawan Narmada mengelus jenggotnya yang putih. “Rahpati menyerap energi alam berupa angin, ini tidak terlalu parah, Lembah. Apalagi kau meredam dengan kedua jurusmu!”
“Benarkah kakek begawan!” Lembah Manah tersenyum senang. “Sebelumnya, Lembah mengucapkan banyak terima kasih!”
Kembali Begawan Narmada menyalurkan tenaga dalamnya, keringat semakin deras bercucuran membasahi tubuh Lembah Manah.
Hingga suatu ketika, dalam satu hentakan dengan kedua telapak tangannya, Begawan Narmada berhasil mengeluarkan darah kotor melalui mulut Lembah Manah yang menyembur membasahi tempat duduknya.
“Kakek begawan, tubuhku terasa lebih bertenaga. Bahkan lebih bugar dari sebelumnya!” seru Lembah Manah merasakan ada yang berbeda dari tubuhnya.
“Syukurlah, aku telah berhasil mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuhmu!” sahut Begawan Narmada dengan senyum di wajahnya.
Begawan Narmada banyak bercerita kepada Lembah Manah bagaimana dirinya bisa tahu tentang Batu Kecubung Hijau dan juga Tiga Gerbang Kehidupan yang dimiliki pemuda itu.
__ADS_1
Rupanya, Begawan Narmada telah mengamati Lembah Manah sejak pemuda itu jatuh ke dalam Jurang Pengarip-Arip. Begawan Narmada yang merawat Naga Maruta ketika dilepaskan oleh Resi Kamananta.
Terlebih lagi, Begawan Narmada adalah guru spiritual dari Ki Gendon dan Ki Badra sewaktu masih muda dan masih menimba ilmu pada sebuah perguruan di Pegunungan Mahendra.