
Ki Wirayuda bersama lima abdi dalem berjibaku menghadapi lima kawanan perampok yang baru saja datang. Sepertinya ilmu kanuragan lima perampok itu masih di bawah para abdi dalem, jadi mereka tidak kesulitan untuk meringkusnya.
Sementara itu di dalam hutan, Lembah Manah berhasil mengalahkan beberapa perampok yang mencoba menghalangi jalannya untuk mengejar satu perampok yang berhasil kabur.
Namun, tanpa diduga, pemuda itu malah masuk ke dalam markas kawanan perampok Pegunungan Wukir. Perampok yang lolos itu kemudian berlari mendekati Brajah—pemimpin perampok. Dengan tersenyum dia mengacungkan jari tengah ke arah Lembah Manah.
Markas para perampok itu berapa pada sebuah cekungan dengan kanan dan kirinya batu besar. Pintu masuk markas itu berada di bawah sebuah batu besar dan ketika masuk, langsung menghadap ke arah batu-batu besar dan juga pepohonan yang tinggi.
“Kampret!” umpat Lembah Manah menggaruk dagunya. “Kenapa aku malah masuk ke sarangnya!”
“Hoi anak muda!” seru Brajah berdiri pada sebuah batu besar. “Setelah mengetahui markas kami, kau harus mati!”
Ucapan Brajah disambut dengan teriakan para kawanan perampok lainnya, yang jumlahnya lebih dari tiga puluh orang.
Sementara itu, di sekitar kereta kuda tempat pertarungan para abdi dalem dengan para perampok, Ki Wirayuda tampak khawatir, karena Lembah Manah tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
“Kenapa Lembah Manah belum juga kembali!” seru Ki Wirayuda dari kereta kudanya. “Kalian bertiga, cepat susul ke dalam hutan!”
Kembali ke markas perampok. Tiga orang perampok maju sekaligus menebaskan pedangnya ke arah Lembah Manah. Dengan Ajian Tapak Harimau miliknya, mudah saja pemuda itu menangkis serangan tiga perampok dan langsung mematahkan pergelangan tangannya.
AAHHKK
Teriakan mengerikan itu sebagai peringatan untuk perampok yang lain agar menyerah. Namun, peringatan Lembah Manah tak diindahkan oleh kawanan perampok yang lainnya. Malah semakin gencar menghujani pemuda itu dengan berbagai serangan.
Dengan membuka Gerbang Kehidupan, tentu saja tak kesulitan Lembah Manah melumpuhkan kawanan perampok, dan hanya menyisakan beberapa orang saja termasuk pimpinan mereka—Brajah.
“Keparat!” umpat Brajah menarik pedang dari sarang yang diikatkan pada punggungnya. “Bunuh bocah sialan ini!”
Serangan berbagai serangan mengarah ke tubuh Lembah Manah, tetapi dengan kecepatannya yang di atas rata-rata, pemuda itu dengan mudah menghindarinya. Tiga perampok berhasil dilumpuhkan, dan kini hanya tinggal Brajah seorang.
“Jika kau mengampuniku, aku akan memberimu separuh hasil rampokanku selama lima tahun terakhir ini!” pinta Brajah dengan wajah memelas.
Lembah Manah tampak terpaku mendengar perkataan Brajah. Pemuda itu menyapukan pandangannya ke arah yang lain sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Melihat Lembah Manah terpaku dalam diamnya, Brajah melesat menebaskan pedangnya meraih tubuh Lembah Manah.
Namun apa yang terjadi?
Dengan sigap Lembah Manah meraih pergelangan tangan Brajah yang menggenggam pedang, lalu memuntir ke belakang dan mendaratkan satu pukulan dengan siku tangan kanannya pada tengkuk leher Brajah.
Ya, pemimpin perampok itu tersungkur dengan mulut mengeluarkan darah. Brajah tak bergerak, sepertinya pemimpin perampok itu pingsan.
Tiga abdi dalem Ki Wirayuda terkejut, melihat kawanan para perampok tergeletak dengan luka yang tidak ringan. Ada yang patah pergelangan tangan, patah kaki, bahkan ada yang patah kedua tangan dan kakinya. Namun, tidak sampai menghilangkan nyawa mereka.
Ya, Lembah Manah hanya melumpuhkan dengan cara itu, pemuda itu tak tega sampai membunuh lawannya, agar para perampok itu berubah pikiran, dan bertobat di kemudian hari.
Para abdi dalem mengikat semua perampok itu dan dibawa turun Pegunungan Wukir untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Ada sekitar lima puluh perampok yang diikat berjajar ke belakang. Jika luka perampok itu serius, Ki Wirayuda menempatkan di dalam kereta kuda. Bagaimanapun juga, mereka membutuhkan pertolongan.
“Untuk selanjutnya, biarkan para perampok ini kami yang mengurusnya!” seru salah satu abdi dalem sesaat setelah sampai di halaman pendopo kadipaten.
“Terima kasih nak Lembah, telah membantu kami meringkus kawanan perampok ini!” ucap Ki Wirayuda.
Keesokan harinya Lembah Manah berpamitan kepada Ki Wirayuda untuk melanjutkan perjalanannya menuju pusat kerajaan. Dengan diiringi lambaian tangan para abdi dalem, Lembah Manah berjalan meninggalkan pendopo kadipaten.
Setelah keluar dari pusat kadipaten, Lembah Manah bergerak ke arah barat. Tidak biasanya cuaca siang itu sangat terik, matahari serasa berada di atas kepala.
Lembah Manah memutuskan untuk berendam di sungai yang ditemuinya, sungai itu tidak terlalu dalam, tetapi memiliki arus yang deras.
Pada bagian hilir tempat Lembah Manah mandi, ada sebuah lubuk yang dalam sehingga pemuda itu memilih mandi di bagian hulu, tempat yang tidak terlalu dalam dan hanya setinggi pinggangnya saja.
“Ahh! Segar sekali! Huh!” ucap Lembah Manah sembari bermain air dan membasuh kepalanya.
Ketika tengah bermain air, tiba-tiba Lembah Manah mengeluarkan salah satu jurusnya dan membuat lima ledakan di dalam air, lalu menciptakan cipratan air yang berhamburan ke atas permukaan sungai.
“Lumayan juga!” lirihnya sembari tersenyum.
__ADS_1
Tak lama berselang, setelah puas bermain air, Lembah Manah mengambil pakaiannya dan hendak melanjutkan perjalanan. Namun, belum juga sepuluh langkah meninggalkan sungai, pemuda itu dikejutkan oleh seorang bocah perempuan yang melompat dari balik semak-semak.
“Kakak, tolong aku!” pinta bocah perempuan itu dengan air mata membasahi pipinya. “Kakak pasti bisa mencari keberadaan kakak perempuanku!”
Bocah perempuan itu beranggapan bahwa Lembah Manah mempunyai jurus yang hebat dan mungkin bisa membantunya.
Lembah Manah masih terpaku dalam diamnya. Memperhatikan gadis berusia delapan tahun itu dan menyapukan pandangan ke sekelilingnya.
“Tidak ada orang lain!” lirih Lembah Manah dan mengusap kepala gadis itu. “Adik kecil, kamu mau minta tolong apa?”
“Para gadis desa diculik orang tak dikenal!” jawab gadis itu. “Kakakku juga menjadi korbannya!”
Lembah Manah mengerutkan keningnya lalu bertanya pada gadis kecil itu, “siapa namamu adik kecil?”
“Namaku Amiri, kak!” sahut gadis kecil itu.
Lembah Manah mengajak Amiri untuk pulang, takutnya jika orang tuanya mencari keberadaannya. Dalam perjalanan pulang ke rumah Amiri, Lembah Manah banyak bertanya tentang kasus yang menimpa di desa gadis kecil itu.
Setibanya di rumah, Amiri berlari menyambut pelukan seorang pria tua yang ternyata itu adalah kakeknya.
“Kakek, aku membawa seorang pendekar!” ucap Amiri kepada kakeknya. “Dia akan menyelamatkan kak Amara!”
Kakek tua itu memperhatikan Lembah Manah dari atas hingga ke bawah. Dengan seringai tipis di wajahnya, seakan kakek tua itu tidak mengharap kehadiran Lembah Manah.
“Anak muda, sebaiknya pergi saja dari tempat ini!” ucap kakek tua itu. “Amiri selalu saja menganggap kakaknya masih hidup. Padahal Amara hanyut di sungai setahun yang lalu!”
Mendengar perkataan kakek tua itu, Lembah Manah hendak meninggalkan kediaman Amiri. Namun, sesaat sebelum meninggalkan rumah Amiri, Lembah Manah menyapukan pandangan ke rumah-rumah sebelahnya, seperti ada yang janggal dan aneh.
Terlihat sangat sepi dan hanya ada orang tua yang sepertinya menyembunyikan sesuatu dari kedatangannya.
“Kenapa kakek berkata seperti itu!” ucap Amiri memukul-mukul pelan pundak kakeknya sembari menangis. “Bukankah kak Amara dibawa penculik tadi malam!”
“Maafkan cucuku ini anak muda!” sahut kakek tua itu kepada Lembah Manah. “Tidak mungkin ada penculik yang bertindak di wilayah Perguruan Pedang Putih!”
__ADS_1
“Baiklah kek, nanti akan saya laporkan kepada pihak Perguruan Pedang Putih!” Lembah Manah pergi meninggalkan rumah Amiri.