KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perang (17)


__ADS_3

“Apakah aku masih hidup!” Terdengar suara serak dari Roko Wulung, lalu pemuda itu membuka mata dan mendapati seorang pemuda berpakaian putih telah berdiri di hadapannya.


“Hoi bodoh!” lanjut Roko Wulung menoleh ke arah Sangga Buana. “Kita belum mati!”


“Apa! Benar, aku belum mati!” seru Sangga Buana membuka matanya.


Tepat satu depa sebelum serangan itu mengenai Roko Wulung dan Sangga Buana, Lembah Manah melesat cepat dan menangkis serangan Ki Badra dengan membuka Gerbang Kehidupan.


Seluruh tubuh pemuda itu diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam dan menyilangkan kedua tangan di depan wajahnya, seraya sedikit membungkuk. Serangan Ki Badra meledak dan menghamburkan apa yang ada di sekitar pertarungan itu.


Sesaat setelah kepulan asap debu menghilang, Lembah Manah melesat ke arah Ki Badra dan mendaratkan beberapa jurus. Kedua tangannya dialiri tenaga dalam berwarna hitam, yang membuat kecepatannya di atas rata-rata.


Sembari bergerak mundur, Ki Badra menangkis pukulan Lembah Manah. Pria tua bermata satu itu mencoba untuk meraba kekuatan Lembah Manah.


Pada satu kesempatan, Lembah Manah melakukan gerakan pertama Pukulan Tapak Harimau. Kali ini kedua tangannya dialiri tenaga dalam berwarna biru, yang membuat Ki Badra membelalakkan matanya.


“Siapa anak ini!” lirih Ki Badra mengerutkan keningnya.


Gerakan kedua Pukulan Tapak Harimau adalah menyerang bagian bawah lawannya. Dengan menyerang kuda-kuda milik lawannya, tentu lawan akan sulit untuk konsentrasi. Dengan pukulan telapak tangan terbuka, Lembah Manah berhasil meraih perut Ki Badra.


Baru kali ini Ki Badra mendapat satu pukulan yang membuat dirinya semakin heran dengan Lembah Manah. Setelah mundur beberapa langkah, Lembah Manah kembali melesat ke arah Ki Badra yang masih terhuyung ke belakang.


Dengan memiringkan tubuhnya, Lembah Manah mendaratkan dua pukulan menggunakan dua tangan menggenggam yang mendarat vertikal pada perut dan dada Ki Badra. Kali ini Ki Badra terlempar dengan tubuh terlentang dan melayang beberapa saat.


Ketika tubuh Ki Badra melayang, Lembah Manah melesat dan siap menyambut tubuh Ki Badra dengan satu pukulan. Namun, tiba-tiba Ki Badra memutar tubuhnya dan mendaratkan pukulan meraih wajah Lembah Manah.


Dengan tangan kirinya, Lembah Manah menangkis pukulan Ki Badra, lalu membanting tubuh Ki Badra ke permukaan tanah. Ki Badra jatuh kasar dan menggelinding ke depan, tetapi langsung bangkit dan menguasai tubuhnya.

__ADS_1


“Kurang ajar! Anak ini memaksaku untuk terus bertahan!” lirih Ki Badra memperhatikan Lembah Manah. “Hoi bocah! Siapa nama gurumu?”


“Beliau adalah Ki Gendon!” sahut Lembah Manah tegas.


"Apa!" lirih Ki Badra membelalakkan matanya.


Kali ini, Ki Badra melesat dengan mendaratkan beberapa pukulan. Lembah Manah menyambut serangan Ki Badra, tetapi malah dirinya yang bergerak maju lebih dominan.


Kedua tangan Ki Badra berwarna merah kekuningan yang berarti Ajian Pati Geni miliknya telah aktif. Dengan membuka Gerbang Kehidupan, seluruh tubuh Lembah Manah diselimuti oleh aura tenaga dalam berwarna hitam.


Saking cepatnya pertarungan mereka, yang terlihat hanya kelebatan cahaya berpindah-pindah tempat. Merah kekuningan milik Ki Badra, dan hitam milik Lembah Manah.


Pertukaran jurus terjadi beberapa saat, pukulan, tendangan tak lepas dari pertarungan itu. Jurus yang dikeluarkan Ki Badra juga merupakan jurus level tinggi yang tak dimiliki oleh siapa pun.


Hampir saja Lembah Manah terkena satu pukulan tangan kanan, beruntung pemuda itu masih sigap menarik kepalanya ke belakang. Sembari menjatuhkan tubuhnya ke permukaan tanah, Lembah Manah mendaratkan tendangan pada dagu Ki Badra.


Lembah Manah salto ke belakang untuk menjaga jarak. Sementara Ki Badra jatuh terseok dan berguling beberapa kali, tetapi kembali berhasil menguasai tubuhnya.


Ki Badra melakukan gerakan aneh, tubuhnya condong ke depan diikuti kaki kanannya sedikit ke belakang. Kedua tangannya berada di samping pinggang seperti mencengkeram sesuatu.


Tak lama berselang, sebuah bola berwarna merah kekuningan tercipta di antara dua cengkeraman tangan Ki Badra. Sedetik kemudian, Ki Badra mengarahkan kedua tangannya ke depan, diikuti bola berwarna merah kekuningan sebesar buah delima melesat cepat ke arah Lembah Manah.


Dengan menggeser tubuhnya ke samping kanan, Lembah Manah berhasil menghindari serangan Ki Badra. Belum juga berdiri dengan sempurna, datang serangan bertubi-tubi menghujani Lembah Manah.


Bola-bola energi berwarna merah kekuningan, keluar dari dua kepalan tinju Ki Badra, bergantian tangan kanan dan kiri.


Pada awalnya, Lembah Manah masih bisa menghindari serangan Ki Badra. Namun, bukannya semakin lemah, tetapi gelombang serangan Ki Badra semakin deras dan memaksa Lembah Manah untuk menangkis bola merah kekuningan itu.

__ADS_1


Berhasil! Lima serangan dihalau dengan lengan bagian luar dan hancur seketika. Namun, tiba-tiba Ki Badra telah berada di belakang Lembah Manah dan mendaratkan satu pukulan.


“Aku di belakangmu, bocah!” seru Ki Badra seraya melepaskan serangan.


Satu bola merah kekuningan mendarat di punggung Lembah Manah. Pemuda itu terlempar ke depan beberapa langkah dan jatuh tersungkur. Belum juga menguasai tubuhnya, Ki Badra telah berada di depan Lembah Manah.


“Apa! Cepat seka—aahhkk!”


Perkataan Lembah Manah berubah menjadi teriakan kesakitan, ketika satu tendangan mendarat pada perutnya. Lembah Manah semakin terlempar jauh dan menghantam puing reruntuhan tembok pagar istana.


“Kekuatan seperti itu mau melawanku!” ucap Ki Badra membusungkan dadanya.


Semua yang berada di tempat itu terkejut membelalakkan matanya. Mereka tak mengira mendapat lawan yang benar-benar kuat. Lembah Manah yang bisa dibilang pendekar nomor satu, dibuat tak berdaya oleh Ki Badra.


“Menyerahlah dan bergabung denganku. Kalian akan hidup me—aahhkk!”


Tiba-tiba perkataan Ki Badra berubah menjadi teriakan kesakitan dan tubuhnya terhempas ke depan. Belum juga bangkit berdiri, sekelebat bayangan hitam melemparkan tubuh Ki Badra hingga menghantam reruntuhan tembok pagar istana.


Bayangan hitam itu berpindah-pindah tempat dan mendekati tubuh Ki Badra yang tertimpa puing tembok pagar istana. Ki Badra terlempar setinggi satu pohon kelapa beserta beberapa puing bangunan, ketika satu pukulan mendarat pada perutnya.


Ki Badra melayang semakin tinggi ke awang-awang dengan posisi telungkup. Dari bawah, sekelebat bayangan hitam itu menyerang bagian perut Ki Badra, hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.


Tak berhenti sampai di situ, bayangan hitam itu berpindah ke atas tubuh Ki Badra sembari menghujani serangan bertubi-tubi. Setelah menampakkan wujudnya, bayangan hitam itu mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka pada punggung Ki Badra.


Ki Badra terjun bebas ke permukaan tanah, hingga membuat asap debu mengepul tak karuan. Wujud bayangan hitam itu adalah Lembah Manah yang membuka Gerbang Kehidupan, dan mendarat pelan tak jauh dari jatuhnya Ki Badra.


Sesaat setelah kepulan asap debu menghilang, terbentuklah cekungan seperti kawah selebar lima depa dengan kedalaman hampir setinggi orang dewasa. Di dalam cekungan itu, terlihat Ki Badra berusaha berdiri dengan menopang tubuh menggunakan tangan kanannya.

__ADS_1


Pria tua bermata satu itu melompat dan keluar dari cekungan bekas dirinya terjatuh. Perlahan, tangan kanannya ke depan setinggi perutnya saja, tetapi dengan telapak terbuka. Cahaya putih menyelimuti telapak tangan Ki Badra dan semakin lama menjalar ke seluruh lengannya.


“Kali ini kalian tidak akan selamat!” ucap Ki Badra menyunggingkan senyum sinis.


__ADS_2