
Ada perubahan pada tubuh Eyang Angkoro Murko. Muncul sisik kecil pada tangan dan kakinya, diikuti dua taring keluar dari dalam mulutnya bagian atas. Tumbuh dua tanduk di kepalanya, tepatnya di atas kedua telinganya, kanan dan kiri.
Kedua tangan dan kakinya ditumbuhi cakar sepanjang hampir satu jengkal. Pada tulang belakang sedikit menyembul keluar, hingga membuat jubah yang dipakainya sedikit sobek. Dan terakhir, tumbuh ekor dengan panjang hampir satu depa, dengan ujung yang runcing.
“Hati-hati, Lembah!” seru Patih Ragas memperingatkan Lembah Manah.
Namun, tidak ada jawaban dari Lembah Manah, ketika pemuda itu dicekik oleh Eyang Angkoro Murko yang telah berada di dekatnya.
“Gawat! Dia sangat cepat!” lanjut Patih Ragas dan melesat ke arah Lembah Manah.
Patih Ragas hendak menebaskan pedangnya, tetapi satu tendangan mendarat pada perutnya, hingga membuat tubuhnya terlempar beberapa depa jauhnya, dengan mulut mengeluarkan darah.
Tubuh Lembah Manah dihempaskan dan jatuh berguling. Ketika terjatuh, pemuda itu menggigit kecil lidahnya, dan seketika itu juga cairan hijau keluar dari pori-pori yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Belum juga berdiri dengan sempurna, sekelebat cahaya hijau menghantam tubuhnya, hingga dirinya terpukul semakin jauh dari medan perang. Tepat perkiraan Lembah Manah, Eyang Angkoro Murko tak mengendurkan serangannya.
Tubuh Lembah Manah berhenti berguling setelah menabrak sebuah pohon di hutan kecil tak jauh dari Istana Sokapura. Namun, banyak pohon tumbang akibat terkena hempasan tubuh Lembah Manah ketika terseok memasuki hutan kecil itu.
Lembah Manah berusaha berdiri dengan tangan kanan yang menopang tubuhnya. Pemuda itu merasakan sesak pada bagian dadanya, dan juga batuk mengeluarkan darah.
Untuk ke sekian kalinya, serangan yang menyerap energi alam tak mampu dibendung oleh Batu Kecubung Hijau. Meski tidak menimbulkan luka fisik, tetapi tetap saja merasakan efek serangan itu.
Lagi-lagi kelebatan cahaya hijau menghujani Lembah Manah yang bersumber dari kibasan tangan Eyang Angkoro Murko. Sungguh, baru kali ini Lembah Manah mendapat serangan sekuat ini.
Cairan hijau yang semula menyelimuti tubuhnya, perlahan menghilang pada beberapa bagian. Tubuh Lembah Manah melayang semakin tinggi ke awang-awang, pada saat itu juga tubuh pemuda itu menjadi sasaran serangan Eyang Angkoro Murko.
Beberapa serangan mendarat pada tubuhnya yang tak terlindung oleh cairan hijau, hingga membuatnya mendapat serangan telak. Lembah Manah jatuh menukik dan menimpa belasan pohon hingga tumbang.
__ADS_1
Para pendekar dari aliran putih hendak menolong Lembah Manah. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan tempatnya, serangan gelombang kejut bertekanan sedang membuat para pendekar aliran putih itu terlempar tak karuan.
Benar-benar kekuatan Eyang Angkoro Murko di luar kewajaran seorang manusia. Mungkin saja dirinya telah memiliki ilmu kanuragan tingkat Resi, mengingat Keris Memolo merupakan salah satu pusaka peninggalan seorang Begawan.
Bergerak sangat cepat, Eyang Angkoro Murko telah berada di hadapan Lembah Manah dan mendaratkan satu pukulan. Tubuh Lembah Manah semakin jauh terlempar dan mendarat di bukit kecil tepat belakang istana.
Dan sialnya, bukit kecil itu adalah tempat berlindung rakyat Sokapura dan juga para petinggi tiga kerajaan. Tak mau mengambil risiko, mereka lari berhamburan menuruni bukit kecil itu, dan berpindah ke tempat yang lebih aman.
Lagi-lagi Eyang Angkoro Murko berdiri tepat di hadapan Lembah Manah yang mencoba bangkit dari keterpurukan. Dengan tertatih, pemuda itu keluar dari cekungan selebar tiga depa yang terbentuk oleh hempasan tubuhnya sendiri.
“Orang seperti kalian memang pantas mendapatkannya, hahaha!” teriak Eyang Angkoro Murko yang menggetarkan langit Sokapura. “Sebelum matahari terbenam, aku akan membunuh kalian semua!”
Hari menjelang sore, matahari mulai condong di ufuk barat, pertarungan juga belum usai. Selama itu juga, Lembah Manah mendapat serangan bertubi-tubi dari Eyang Angkoro Murko yang pergerakannya sangat cepat.
Biasanya pemuda itu yang dikenal dengan kecepatannya, tetapi kali ini, Eyang Angkoro Murko mematahkan anggapan itu.
Sebuah serangan kembali mendarat pada tubuh Lembah Manah, hingga membuat tubuhnya kembali terlempar beberapa depa jauhnya. Darah keluar dari mulutnya, dada semakin panas dan napasnya bertambah sesak.
Diambang putus asa, pemuda itu mencoba untuk berinteraksi dengan Ki Gendon. Namun, percuma saja, Ki Gendon tak mampu memberi solusi dan hanya membiarkan Lembah Manah mencari cara sendiri untuk mengalahkan Eyang Angkoro Murko.
“Hoi bocah! Apa kau melupakanku!” Terdengar suara di relung kepala Lembah Manah yang tak asing bagi dirinya.
“Naga Maruta!” sahut Lembah Manah duduk bersila sembari batuk kecil yang mengeluarkan darah. “Jika aku menggunakanmu, belum tentu aku bisa mengalahkannya!”
“Kau juga melupakan sesuatu. Tubuhmu istimewa!”
Tanpa diundang oleh Lembah Manah, tiba-tiba Pedang Naga Maruta telah menancap tepat di hadapan pemuda itu. Lembah Manah meraih potongan ruas bambu dari saku bajunya bagian dalam, untuk meminum ramuan pemulihan tubuh.
__ADS_1
Selang beberapa embusan napas, tubuh Lembah Manah sedikit pulih dan mengaktifkan dua titik pusat tenaga dalam yang dimiliknya. Dengan senyum sinis dan berdiri memasang kuda-kuda, pemuda itu menggenggam Pedang Naga Maruta di tangan kanannya.
“Rupanya kau juga memiliki pedang legendaris Resi Kamananta!” seru Eyang Angkoro Murko terkesan merendahkan Lembah Manah.
Setelah berkata demikian, sisik pada lengan kanan Eyang Angkoro Murko perlahan memanjang ke depan. Semakin ke depan, semakin panjang dan membentuk sebuah pedang berwarna hijau dengan motif sisik di seluruh mata pedang itu.
“Terimalah!”
Eyang Angkoro Murko melesat ke arah Lembah Manah dengan mendaratkan beberapa tebasan pedang. Lembah Manah menangkis setiap tebasan Eyang Angkoro Murko sembari bergerak ke belakang.
Tak hanya percikan api kecil yang keluar dari dua pedang yang beradu. Melainkan dua cahaya terang menari-nari di atas bukit kecil yang sedikit gundul karena banyak pepohonan yang telah tumbang. Cahaya biru milik Lembah Manah dan cahaya hijau milik Eyang Angkoro Murko.
Meski Lembah Manah tidak menguasai ilmu berpedang, tetapi dengan tuntunan dari Naga Maruta, pedang itu seolah bergerak dengan sendirinya dan melindungi Lembah Manah.
Pada satu kesempatan, Lembah Manah melihat celah pertahanan yang terbuka pada bagian bawah Eyang Angkoro Murko. Satu tebasan mendarat pada paha kanan Eyang Angkoro Murko hingga membuatnya mengendurkan serangan dan menjaga jarak dengan Lembah Manah.
Asap tipis menyelimuti luka pada paha kanan Eyang Angkoro Murko. Pemimpin Lowo Abang itu mencoba untuk menyembuhkan lukanya sendiri. Namun, Eyang Angkoro Murko membelalakkan matanya ketika mendapati lukanya masih menganga.
“Kenapa! Tidak! Ini aneh!” geram Eyang Angkoro Murko.
“Luka pertama mengundang luka kedua!” seru Lembah Manah kembali menebaskan pedangnya dan mendarat pada dada kiri Eyang Angkoro Murko.
Pemimpin Lowo Abang itu terhuyung ke belakang dan memegangi luka dengan tangan kirinya. Kali ini, Eyang Angkoro Murko duduk bersila, kedua telapak tangannya di satukan dan berada pada keningnya, setelah melepaskan pedang di tangan kanannya.
Perlahan, asap tipis keluar dari dua telapak tangannya dan menjalar menyelimuti seluruh tubuhnya. Sesaat setelah asap tipis itu menghilang, dua luka sayatan di bagian dada dan paha kanannya telah sembuh seutuhnya.
“Dengan tubuh seperti ini, aku tidak akan bisa mati, hahaha!” teriak Eyang Angkoro Murko berdiri dan menggenggam pedangnya.
__ADS_1
“Sial! Benar-benar bukan manusia!” umpat Lembah Manah membelalakkan matanya.