KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Ahli Racun (3)


__ADS_3

Semua terkejut melihat kelakuan nekat Lembah Manah, sampai-sampai Ni Luh menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Jayadipa hanya menundukkan kepala, tak berani melihat keduanya beradu meminum racun.


Namun, Wanapati, Patih Ragas dan Wulan tetap menyaksikan Lembah Manah dan Ki Jalmo meminum racun itu.


“Patih, apa kau yakin Lembah Manah akan baik-baik saja?” ucap Wulan kepada Patih Ragas.


“Dari awal aku melihat saat pertandingan, anak ini memiliki kemampuan di atas rata-rata dibandingkan peserta yang lain!” lirih Patih Ragas dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. “Aku yakin dia mampu melewatinya!”


Tak ada reaksi apa pun pada tubuh Lembah Manah, malah dia terlihat tersenyum pada rombongan di belakangnya.


“Bagaimana mungkin kau—!”


Perkataan Ki Jalmo terhenti setelah keluar darah dari mulutnya. Disusul darah yang keluar dari hidung dan telinganya.


Lembah Manah terheran atas apa yang dilihatnya, begitu pula rombongan di belakangnya. Semua mata melotot melihat kengerian yang di derita Ki Jalmo, semua lubang pada tubuhnya mengeluarkan darah.


“Aku sudah memintamu untuk menyerah, emm, tapi kau malah meminta untuk beradu meminum racun,” ucap Lembah Manah lirih.


“Bagaimana ini bisa terjadi guru?” lirih Lembah Manah bertanya kepada Ki Gendon tanpa diketahui rombongannya yang masih terpana akan keadaan Ki Jalmo.


“Sederhana saja Lembah, jadi—!”


Ki Gendon menjelaskan jika seorang ahli racun, setiap saat pasti akan meminum ramuan anti racun. Jadi jika diberi ramuan penawar racun, kedua ramuan itu akan menimbulkan kerusakan pada organ tubuh dan bisa menimbulkan kematian.


“Emm, lalu bagaimana aku tak terkena efek racunnya sama sekali guru?” Lembah Manah kembali bertanya penasaran.


“Itu sebaliknya, kau telah meminum ramuan penawar racun terlebih dahulu, jadi racun apa pun tak akan mempan pada tubuhmu!” seru Ki Gendon mengelus jenggotnya. “Ingat Lembah, kau meminum penawar, bukan anti racun!”


“Emm, jadi begitu. Terima kasih guru,” sahut Lembah Manah lirih.


Pemuda itu berjalan mendekati rombongannya yang masih tertegun melihat jasad Ki Jalmo berlumuran darah.


“Tidak, dadaku! Sakit sekali! Tidak!”

__ADS_1


Lembah Manah jatuh telentang, tangan kanannya memegangi dada sebelah kiri, dengan tarikan napas yang dalam dan berat.


Semua rombongan mendekati Lembah Manah, Ni Luh berlari paling depan disusul Wulan yang terlihat sangat khawatir akan keadaan pemuda itu. Ni Luh memeluk Lembah Manah dan menangis di dadanya.


“Tidak mungkin, Lembah!” teriak Ni Luh sembari menangis.


“Lembah, tidak!” ucap Wulan.


“Lembah, jangan mati!” tampak Wanapati menangis melihat Lembah Manah jatuh telentang.


Namun, yang namanya Lembah Manah, selalu menunjukkan tingkah konyolnya. Itu semua hanya gurauannya saja, pemuda itu sengaja bertingkah seolah terkena racun agar mendapat perhatian dari teman-temannya.


“Aku melihatmu menangis, Wanapati, hahaha!” ucap Lembah Manah sembari bangkit dan berdiri. “Aku tidak apa-apa, wek!” lanjutnya Lembah Manah menjulurkan lidah dan berlari menjauh dari Wanapati.


“Awas kau ya. Kami semua khawatir, kau malah bergurau!” umpat Wanapati sembari berlari mengejar Lembah Manah.


Lembah Manah berhenti berlari, menyerah dan menurut apa yang akan dilakukan Wanapati. Namun, Wanapati hanya menjitak kepala pemuda itu dengan muka geregetan.


“Kau ini, dasar kacung kampret!” teriak Wanapati.


“Ohh, kalau itu rahasia, hahaha,” jawab Lembah Manah dengan tertawa lepas dan memukul kepala Wanapati, lalu kembali memutari rombongan.


“Dasar kacung kampret, awas kau ya,” Wanapati kembali mengejar Lembah Manah dan hendak meraih kepalanya untuk dijitak.


“Hei, sudah, sudah, kalian ini seperti anak kecil. Aku sangat khawatir!” sahut Ni Luh menengahi keributan kecil itu.


Jayadipa hanya tersenyum melihat tingkah Lembah Manah dan Wanapati. Sementara Wulan dan Patih Ragas, sepertinya mereka berdua harus segera kembali ke kerajaan untuk melapor kepada Raja Brahma.


Mereka segera berpisah setelah memakamkan jasad Ki Jalmo dengan layak. Patih Ragas dan Wulan hendak kembali ke kerajaan, sedangkan Lembah Manah, Wanapati, Jayadipa dan Ni Luh pulang ke Desa Kedhung Wuni.


“Lembah, apakah kita akan bertemu lagi?” ucap Wulan dengan mata berkaca-kaca.


“Emm, iya pasti Tuan Putri. Jika Tuan Putri ada waktu luang, mainlah ke desa kami, tempat kami akan selalu terbuka untuk siapa pun!” sahut Lembah Manah tersenyum.

__ADS_1


Tanpa Lembah Manah duga, tiba-tiba Wulan memeluknya dengan erat. Entah mengapa gadis itu melakukannya, mungkin saja Wulan tak ingin berpisah dengan pemuda konyol itu.


“Jika ada waktu, berkunjunglah ke kerajaan Lembah!” ucap Wulan yang kini meneteskan air matanya.


“Ba—ba, baiklah Tuan Putri. Tapi tolong lepaskan pelukan Tuan Putri, emm, ini terlalu erat. Aku susah bernapas,” sahut Lembah Manah pasrah di pelukan Wulan.


Wulan melepaskan pelukannya, gadis itu berharap Lembah Manah mengusap air matanya agar terlihat romantis. Namun, apa yang terjadi? Pemuda kurang peka itu malah terdiam kaku berdiri di hadapan Wulan.


“Dasar, anak ini sangat aneh. Tak peka sedikit pun pada perasaan perempuan,” gerutu Wulan lirih.


Sementara itu, Ni Luh terlihat memeras ujung baju dengan tangan kanannya. Seakan gadis itu geram melihat adegan yang seharusnya terjadi padanya, malah terjadi kepada Wulan. Wanapati dan Jayadipa hanya berdiri terdiam tak berkata apa pun.


“Hati-hati di jalan Tuan Putri, Patih Ragas!” ucap Lembah Manah melambaikan tangan yang diikuti Wanapati dan Jayadipa.


Namun, tidak dengan Ni Luh, gadis itu masih memeras ujung bajunya sendiri dengan wajahnya memerah padam.


“Kalian juga hati-hati, aku akan selalu merindukanmu, Lembah!” sahut Wulan yang juga membalas dengan lambaian tangan dan berlalu menuju kerajaan.


Mereka pun berpisah dari pelataran rumah Ki Jalmo. Lembah Manah berinisiatif untuk membakar seluruh kediaman Ki Jalmo, agar tak ada peralatan yang tersisa sedikit pun yang mungkin saja akan disalahgunakan jika ditemukan orang yang tak bertanggung jawab.


“Wanapati, apakah kamu tahu. Ada seseorang yang marah saat Lembah Manah berpelukan?” ucap Jayadipa kepada Wanapati.


“Benarkah Jayadipa, aku berharap itu bukan kau, hahaha!” sahut Wanapati tertawa lepas.


“Ih, kalian. Sukanya meledek orang!” gerutu Ni Luh memukul kedua temannya dengan wajah memerah.


Lembah Manah berjalan paling belakang dengan senyum di bibirnya, lalu Ni Luh berjalan di depannya tengah menjewer telinga Wanapati dan Jayadipa dengan kedua tangannya. Butuh waktu beberapa hari lagi jika mereka berjalan pelan untuk pulang ke Desa Kedhung Wuni.


***


Hari menjelang siang, mereka berempat masih berada di dalam wilayah pusat kerajaan. Untuk mempersingkat waktu, Wanapati menganjurkan rombongannya untuk melewati jalan ketika mereka berangkat.


Selain jalannya ramai penduduk, juga banyak terdapat penginapan atau pasar besar agar mereka tak kesulitan jika kemalaman atau lapar melanda. Lembah Manah hanya mengikut saja dengan rombongan Wanapati.

__ADS_1


Dua hari bergerak dengan meringankan tubuh, mereka memasuki Kadipaten Purwaraja dan sampai di desa Seribu Embun yang merupakan ibukota kadipaten. Mereka dibingungkan dengan percabangan jalur yang mereka temui di ujung timur desa.


Jika ke arah kanan, akan lebih cepat sampai Desa Kedhung Wuni, tetapi sedikit lama sampai di perguruan. Berbanding terbalik dengan jalur arah kiri, yang lebih lama sampai ke desa, tetapi lebih cepat sampai perguruan.


__ADS_2