
Habis sudah Condro Mowo, sekujur tubuhnya dipenuhi luka memar yang menghancurkan titik meridian tenaga dalam miliknya. Lembah Manah yang telah mengalahkan Garu Langit, sedari tadi memperhatikan jurus milik Nata dengan mata terbelalak dan mulutnya yang menganga.
“Apa! Aku baru melihat jurusmu kali ini. Dan itu membuatku merinding!” puji Lembah Manah kepada Nata yang hanya disambut dengan senyuman Nata.
Rombongan Wanapati juga berhasil memojokkan prajurit Garu Langit, mereka memukul mundur dengan kerja sama yang solid, walaupun Raja Brahma berada di belakangnya. Sebagian ada yang terkapar dan sebagian lagi lebih memilih meletakkan senjata dan mengangkat kedua tangannya ke atas.
Prajurit itu pun menyerah, karena tahu pemimpin mereka telah dikalahkan. Kerajaan kembali pada Raja Brahma, rencananya Garu Langit dan para akan pengikutnya dijebloskan dalam penjara bawah tanah untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang diperbuatnya.
“Sekali lagi pihak kerajaan mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari Perguruan Jiwa Suci yang dengan gigih mengalahkan Garu Langit dan para pengikutnya!” ucap raja yang berdiri di depan istana. “Aku berharap, malam ini kalian tak menolak jamuan makan malam dariku!”
“Sudah sewajarnya jika kita saling membantu. Kami merasa terhormat atas kemurahan hati raja!” jawab Wanapati dengan membungkukkan badannya.
“Kebetulan sedari kemarin aku juga belum makan!” lirih Lembah Manah sembari memegangi perutnya yang mulai keroncongan.
“Hu! Kamu kalau urusan makan nomor satu!” umpat Jayadipa. “Maafkan teman hamba yang satu ini Yang Mulia. Kalau sudah lapar, Lembah lepas kontrol!”
Semua tertawa mendengar ocehan tak jelas Lembah Manah, berbeda dengan Ni Luh yang tampak cemberut memeras ujung bajunya karena Wulan selalu saja mendekatkan tubuhnya pada Lembah Manah.
***
Pagi menjelang, sinar matahari menghangatkan suasana istana kerajaan. Begitu pula kebersamaan Raja Brahma dan para rakyatnya yang kali ini diwakili oleh Lembah Manah dan teman-temannya dari perguruan.
Setelah pemberontakan semalam, istana juga tampak pulih dan sebagian lagi tengah berbenah karena sisa-sisa reruntuhan sisi bangunan.
Lembah Manah dan rombongan hendak pamit untuk kembali ke perguruan. Disela sarapan pagi di ruangan khusus, Wanapati membuka pembicaraan.
“Yang Mulia! Kami mohon untuk pamit kembali ke perguruan!” ucap Wanapati yang selalu pandai berbicara.
“Kenapa tidak tinggal lebih lama lagi?” sahut raja mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Kami hendak melapor kepada guru kami, Yang Mulia!” ujar Wanapati.
“Baiklah! Aku juga tidak bisa memaksa kalian untuk tetap di sini!” tutup raja menganggukkan kepalanya. “Istana ini akan selalu terbuka untuk kalian!”
Terlihat Wulan sepertinya berat untuk berpisah dengan Lembah Manah. Gadis itu tampaknya mulai jatuh hati dengan pemuda yang selalu membantunya itu.
Mereka pun bersiap pulang ke perguruan dengan diantar Patih Ragas menuju pintu gerbang istana.
Namun, baru saja beberapa langkah rombongan Lembah Manah meninggalkan ruangan khusus tamu, mereka dikejutkan dengan kedatangan iring-iringan beberapa prajurit.
Dilihat dari pakaiannya, sepertinya prajurit itu berasal dari Kerajaan Indra Pura. Beberapa prajurit berjalan beriringan menuju ruangan khusus tamu. Dan yang paling belakang, seorang pemuda kira-kira berusia dua puluh tahun berjalan tegap, diapit dua pengawal yang memiliki ilmu kanuragan tinggi.
Rombongan Lembah Manah membuka jalan untuk iring-iringan prajurit itu, dan berjajar rapi lalu membungkukkan badannya untuk memberikan hormat.
“Aku Tatar Pakujiwo! Aku adalah cucu dari Raja Perwita Agung datang dari Kerajaan Indra Pura!” seru pemuda paling belakang, sesaat setelah sampai di depan Raja Brahma.
“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan salah satu pangeran besar, dari kerajaan sebelah!” sahut Raja Brahma membungkukkan badannya. “Ada apa gerangan pangeran berkunjung ke istana kami!”
Perlahan Patih Ragas menerima gulungan itu sembari berlutut. Patih berbadan kekar itu lalu berjalan jongkok ke belakang, tetapi masih menghadap ke Tatar Pakujiwo dan setelah beberapa langkah Patih Ragas berdiri, lalu membuka gulungan itu.
“Aku mendengar ada kerajaan baru yang terdiri dari kelompok aliran sesat berdiri di Sokapura dan membangun basis di Kadipaten Purwaraja!” seru Patih Ragas membaca gulungan itu. “Jika kalian ingin mengikuti Pertandingan Besar, maka kalian harus membereskan masalah Keraton Agung Sejagat ini!”
Sontak, semua yang ada di ruangan khusus tamu itu terkejut mengetahui isi dari gulungan itu. Mereka tak mengira bahwa pihak Kerajaan Indra Pura telah menuduh Kerajaan Sokapura menutupi keberadaan kerajaan baru itu.
Padahal pihak istana tidak pernah tahu dengan isu tersebut. Bahkan, Lembah Manah sendiri juga tidak mengetahui tentang kerajaan baru yang membangun basis di kadipaten mereka.
Menurutnya, ini hanya akal-akalan pihak Kerajaan Indra Pura yang sengaja menggugurkan peserta dari Kerajaan Sokapura. Karena dilihat dari segi kekuatan, saat ini Kerajaan Indra Pura tengah menurun, karena dilanda perebutan takhta oleh kedua putranya.
“Aku tidak ingin berlama-lama di tempat ini!” seru Tatar Pakujiwo mengerutkan keningnya. “Sudah jauh, kotor dan tentu saja—!”
__ADS_1
Tatar Pakujiwo menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan senyum sinis, lalu pemuda itu melanjutkan perkataannya, “miskin!”
“Apakah pangeran tidak ingin tinggal lebih lama lagi di istana kami?” ucap Raja Brahma berbasa-basi menahan Tatar Pakujiwo.
“Tidak! Terima kasih, aku pamit!” sahut Tatar Pakujiwo meninggalkan ruang khusus tamu dengan diikuti beberapa pengawalnya.
Semua yang hadir dalam ruang khusus tamu membungkukkan badannya ketika Tatar Pakujiwo melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
“Sombong sekali pemuda ini!” lirih Wanapati membungkukkan badannya, meski terpaksa.
Sepeninggal iring-iringan Pangeran Tatar Pakujiwo, Raja Brahma meminta rombongan Lembah Manah untuk tetap tinggal di istana guna membahas tentang berita yang menuduh pihak kerajaannya.
Raja juga sependapat dengan Lembah Manah, Kerajaan Indra Pura tengah goyah karena kekuatan yang menurun dengan adanya perebutan takhta dari putra mahkotanya.
Raja meminta Patih Ragas untuk membentuk tim kecil yang berjumlah beberapa orang, agar segera menyelidiki keberadaan kerajaan baru itu di Kadipaten Purwaraja.
Di sisi lain, Lembah Manah beserta rombongannya pamit untuk pulang ke perguruan dan melapor kepada Ki Tunggul dan juga Adipati Wirayuda.
“Yang Mulia, hamba beserta rombongan mohon undur diri terlebih dahulu. Mengenai kasus ini, akan kami diskusikan bersama pihak perguruan dan kadipaten!” seru Wanapati membungkukkan badan.
“Baiklah! Segera tim Patih Ragas akan menyusul kalian menuju perguruan!” sahut raja memasang wajah gelisah.
Beberapa saat berlalu, rombongan Lembah Manah telah meninggalkan ibukota kerajaan. Mereka bergerak cepat agar segera sampai perguruan. Namun, saat melewati Perguruan Pedang Putih, Lembah Manah memisahkan diri dari rombongan.
Pemuda itu hendak mengunjungi Eyang Balakosa, untuk meminta informasi mengenai keberadaan Keraton Agung Sejagat.
Lembah Manah berbelok arah menuju Perguruan Pedang Putih, sementara murid yang lain pulang ke perguruan bersama Wanapati.
Tak berselang lama, Lembah Manah telah sampai di Perguruan Pedang Putih. Segera pemuda itu menyampaikan maksud kedatangannya.
__ADS_1
“Lembah Manah menghadap!” seru Lembah Manah ketika sampai di pintu gerbang perguruan dengan membungkukkan badannya.