KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Cambuk Api (1)


__ADS_3

Pagi itu di tepi sungai yang luas dan panjang, tampak banyak pendekar tengah berkumpul dengan formasi mengelilingi sebuah panggung. Terlihat juga panji-panji dari setiap perguruan berkibar di depan salah satu dari tetua mereka.


Panggung dengan tinggi satu meter dan panjang dua puluh meter itu digunakan untuk memperkenalkan sebuah pusaka. Di tengah panggung ada sebuah peti yang tidak terlalu besar, sebagai tempat untuk menyimpan pusaka itu.


Tampak seorang pria berkepala plontos dengan berewoknya yang panjang maju ke tengah panggung dan mengambil pusaka itu dari peti penyimpanannya.


Sebuah cambuk yang masih melingkar diangkatnya tinggi-tinggi oleh pria berkepala plontos itu sembari berjalan berkeliling di atas panggung.


“Siapa pun yang menentangku kalian akan menyesal!” seru pria berkepala plontos itu.


“Apa!” teriak semua pendekar terkejut, mereka saling pandang satu sama lain mendengar perkataan pria berkepala plontos itu.


“Itu kan Cambuk Api Naga Geni!” seru salah satu pendekar membelalakkan matanya.


“Kenapa cambuk itu bisa berada ditangan Lokadenta!” sahut pendekar lainnya.


“Pasti ada yang tidak beres!” timpal pendekar lainnya lagi.


Tampak seorang kakek tua berpakaian serba putih menaiki panggung dan berkata, “kurang ajar kau Lokadenta. Jadi kau mengumpulkan kami semua di tempat ini hanya untuk patuh dengan perintahmu!”


“Hahaha, benar Eyang Sobo Giri!” sahut pria berkepala plontos itu yang diketahui bernama Lokadenta. “Aku akan menguasai dunia persilatan, hahaha!”


Lokadenta mengumpulkan para pendekar di tepi sungai itu memiliki tujuan tertentu. Ya ,benar, pria berkepala plontos itu hendak menantang semua perguruan-perguruan dan para pendekar agar patuh kepadanya dan berniat menguasai wilayah Kadipaten Lembah Bunga.


Kadipaten Lembah Bunga sendiri berada di sebelah barat Kadipaten Kabaman yang hanya dipisahkan oleh sungai besar dan panjang. Sungai itu bernama Sungai Sabayu.


“Jika kalian tidak setuju, kalian boleh melawanku!” seru Lokadenta membusungkan dadanya. “Jika kalian menang, maka kalian akan aku bebaskan. Tapi jika kalian kalah, mau tak mau kalian harus jadi pengikutku, hahaha!”


Kakek tua yang tidak terima dengan pernyataan Lokadenta, seketika mencabut pedang dari sarangnya dan menyerang Lokadenta dengan beberapa jurusnya. Namun, dengan cambuk pusaka ditangannya, Lokadenta sulit dikalahkan.

__ADS_1


Kakek tua itu terkena sabetan cambuk pada dada kirinya dan tewas seketika dengan luka robek yang terbakar api.


“Itulah akibatnya jika melawanku, hahaha!” ucap Lokadenta kembali melingkarkan cambuk api pada tangan kanannya. “Aku beri kalian waktu hingga besok matahari tepat di atas kepala untuk menentukan pilihan kalian!”


Tiga hari sebelumnya...


Di sebuah pondokan yang tidak jauh dari Sungai Sabayu, seorang kakek tua tengah menyelesaikan sebuah pusaka yang menurutnya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi untuk membuatnya.


Sebuah cambuk dengan pangkal berbentuk kepala naga dan ujungnya yang menyerupai ekor naga.


“Aku memberi nama Cambuk Api Naga Geni!” ucap kakek tua itu mengangkat tinggi-tinggi cambuk itu dengan kedua tangannya.


Dialah Empu Tulak, seorang kakek tua yang pandai membuat berbagai macam senjata. Empu Tulak juga pemasok senjata prajurit Kerajaan Sokapura. Dari tangan Empu Tulak banyak pusaka-pusaka lahir yang kemudian diperjualbelikan di dunia persilatan.


Tak hanya seorang pandai besi, Empu Tulak juga mahir dalam membuat senjata dalam berbagai jenis. Dari panah, bubuk peledak, hingga cambuk yang tidak ada hubungannya dengan unsur besi, bisa dibuat oleh Empu Tulak.


“Guru memang sangat ahli dalam pembuatan berbagai pusaka!” seru pria berkepala plontos yang tak lain adalah Lokadenta.


Empu Tulak berlalu dari tungku-tungku pemanas dan hendak menuju kamarnya untuk menyimpan Cambuk Api Naga Geni. Namun, Lokadenta membuntutinya dan mengintip dimana gurunya menyimpan pusaka itu.


“Mana mungkin aku hanya menjadi seorang pandai besi!” lirih Lokadenta menyiratkan kebencian kepada sang guru. “Aku harus berdiri pada titik tertinggi sebagai seorang pendekar!”


Menjelang dini hari, ketika Empu Tulak terlelap, Lokadenta berencana untuk mengambil secara paksa cambuk pusaka yang baru saja selesai dibuat oleh gurunya.


Dengan mengendap-endap, dari kamarnya melewati beberapa perabotan tempat meletakkan berbagai senjata menuju kamar Empu Tulak. Sampai juga pria itu di depan pintu kamar sang guru.


Tidak terkunci, Lokadenta dengan mudah memasuki kamar Empu Tulak dan menjalankan aksinya. Pria itu membuka lemari kecil tepat di samping ranjang gurunya, dan meraih sebuah kotak berwarna hitam.


Lokadenta meraih kotak itu dan diletakkan pada lantai kamar yang masih berupa tanah. Pria itu tersenyum sinis ketika mendapatkan apa yang telah diinginkannya, Cambuk Api Naga Geni. Segera Lokadenta kembali memasukkan cambuk itu ke dalam kotak dan membawanya pergi tanpa menutup pintu lemari kayu.

__ADS_1


Namun, saat hendak keluar dari kamar gurunya, bahu Lokadenta menabrak daun pintu dan suara gaduh itu membuat Empu Tulak membuka matanya.


“Siapa disana!” Empu Tulak beranjak dari ranjangnya dan meraih obor yang tertanam pada dinding kamar yang terbuat dari papan kayu.


Sekelebat bayangan Lokadenta membuat Empu Tulak mengejar bayangan itu. Lokadenta berlari keluar rumah dengan membawa peti yang berisi cambuk pusaka.


Sementara Empu Tulak kembali memeriksa kamarnya dan terkejut ketika mendapati cambuk pusaka yang baru saja selesai dibuat tak berada pada tempatnya.


Aksi saling kejar terjadi di bawah rembulan yang bersinar. Meski usianya sudah renta, tetapi untuk mengejar Lokadenta bukanlah perkara sulit bagi Empu Tulak.


Lokadenta berlari ke arah hilir Sungai Sabayu, melewati batuan cadas hingga hutan rakyat yang ditanami satu jenis tanaman. Empu Tulak masih mengejar Lokadenta, karena menurut kakek tua itu, Cambuk Naga Geni bernilai jual tinggi. Dan apabila jatuh ke tangan orang yang salah, maka akan terjadi malapetaka.


“Kembalikan cambuk itu!” seru Empu Tulak mengejar Lokadenta.


Malam berganti pagi, Empu Tulak masih saja mengejar muridnya yang membawa kabur cambuk pusaka buatannya. Sesekali menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk mempersempit jarak pengejaran.


Hingga sampai pada bebatuan cadas yang luas dan sedikit datar, Lokadenta berhenti dan hendak melawan gurunya. Pria itu mengambil cambuk pusaka dan melempar peti berwarna hitam yang menjadi wadah penyimpanannya.


“Kembalikan cambuk itu! Murid durhaka!” seru Empu Tulak sesaat setelah berhasil mengejar Lokadenta.


“Maafkan aku guru!” sahut Lokadenta memutar-mutar cambuk pusaka di atas kepalanya. “Aku akan menjadi pendekar dan berada pada titik teratas!”


Setelah berkata demikian, Lokadenta mengayunkan cambuk ke arah Empu Tulak. Semula, kakek tua itu mampu menghindari setiap lecutan cambuk pusaka. Namun, karena staminanya yang terkuras dan usia yang sudah renta, Empu Tulak terkena satu tebasan pada bagian dadanya.


Empu Tulak terlempar ke belakang dengan luka robek pada bagian dada kirinya. Kakek tua itu meringis kesakitan dan memegangi luka dengan tangan kanannya. Terasa perih dan panas seperti terkena bara api, itulah yang dirasakan dada Empu Tulak saat ini.


Saat hendak kembali menyerang sang guru yang jatuh terduduk, tiba-tiba sekelebat bayangan hitam menghalau tangan Lokadenta dan membuat pria berkepala plontos itu terhuyung ke belakang.


“Siapa kau!” Lokadenta mendengus ke arah pemuda di hadapannya. “Beraninya mengganggu urusanku!”

__ADS_1


“Kau tak perlu tahu siapa aku!” sahut pemuda yang ternyata itu adalah Lembah Manah. “Yang jelas, aku akan menumpas segala bentuk kejahatan!”


__ADS_2