KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Lorong (2)


__ADS_3

Lembah Manah mengambil ancang-ancang, mengepalkan tangan ke depan bersiap menghadapi serangan lanjutan dari Gandarwa. Makhluk itu maju dengan melompat menghunjamkan cakar tangan kanannya, Lembah Manah mampu menangkis serangan dengan tangan kirinya.


Cukup lama mereka berdua bertukar jurus, saling jual-beli serangan, pukulan dan juga tendangan.


Gandarwa kembali menghunjamkan tangan kirinya, dengan gerakan dari bawah ke atas mencoba meraih wajah Lembah Manah.


Pemuda itu menangkis dengan tangan kanan, sembari melompat ke belakang. Lembah Manah kembali mengambil ancang-ancang, mencoba menyerang dengan pukulan, dan lagi-lagi Gandarwa dapat menghindar dengan mudah.


Kembali Gandarwa melepaskan tendangan dengan kaki kanan. Lembah Manah berhasil menahan dengan kedua tangannya. Kaki Gandarwa kini terkunci dan tidak bisa bergerak karena genggaman erat Lembah Manah. Kali ini, Lembah Manah melepaskan genggamannya.


Gandarwa terlihat hilang keseimbangan terhuyung ke belakang. Dengan sigap, Lembah Manah mulai menggunakan jurusnya, mengalirkan tenaga dalam pada kedua telapak tangan lalu berlari mendekati Gandarwa.


Dengan gerakan cepat, Lembah Manah mendaratkan beberapa pukulan meraih perut lawannya. Gandarwa hanya bisa pasrah menerima serangan Lembah Manah.


BRUK BRUK BRUK


Kali ini Lembah Manah melepaskan beberapa pukulan di bagian dada Gandarwa, tangan kanan bergantian dengan tangan kiri. Gandarwa terhuyung ke belakang, menerima pukulan telak dari Lembah Manah.


Dan yang terakhir, Lembah Manah melesatkan cahaya biru di tangan kanannya, tepat di perut Gandarwa.


GUBRAK!


Gandarwa terlempar beberapa langkah ke belakang dan terjatuh setelah tubuhnya tertahan oleh pohon besar. Gandarwa meringis kesakitan, dengan darah mengalir dari mulutnya.


"Anak muda, siapa namamu?" tanya Gandarwa dengan nada terbata-bata.


"Emm, anu, namaku Lembah, Lembah Manah!”


"Apa nama jurusmu dan dari mana asalmu?" seru Gandarwa terus bertanya penasaran.


“Emm, apa ya, aku lupa!” sahut Lembah Manah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Lalu dia menoleh ke arah Ki Gendon dengan raut muka seperti meminta tolong Ki Gendon  untuk membantunya. Namun Ki Gendon hanya mengisyaratkan tangan kanannya seperti cakar harimau dengan sedikit tertawa.


"Emm, anu, aku ingat, itu adalah Pukulan Tapak Harimau,” jawab Lembah Manah tersenyum. “Saya berasal dari Perguruan Jiwa Suci milik mendiang Ki Gendon!”

__ADS_1


"Pantas saja aku tak berdaya menghadapimu, jurus itu sulit dipelajari, tapi kau bisa menguasai dengan baik!” ucap Gandarwa memegangi perutnya. “Jurus itu juga hampir tak terdengar di dunia persilatan, aku tak menyangka bisa menyaksikan jurus itu secara langsung!”


Lembah Manah hanya terdiam, melihat musuh yang tadinya beringas dan tampak mengerikan itu, kini tergeletak tak berdaya di hadapannya.


"Aku mengaku kalah. Jangan khawatir anak muda, aku tidak akan mati karena jurusmu. Pukulanmu hanya menghilangkan semua jurusku. Kini aku tak punya ilmu kanuragan lagi,” lanjut Gandarwa meringis kesakitan.


"Ikutilah jalan ini, jika kau melihat pohon mahoni merah berjajar dua, itu berarti kau telah keluar dari Lorong Alam Kapisan ini!” sambung Gandarwa menunjukkan jalan keluar.


"Emm, baiklah, terima kasih. Tapi tolong maafkan aku, jika menghentikanmu dengan cara seperti ini!” sahut Lembah Manah.


Lembah Manah melanjutkan perjalanannya untuk keluar dari Lorong Alam Kapisan. Sesekali dia menoleh ke belakang, ke arah Gandarwa yang tak berdaya. Namun, Gandarwa menghilang menjadi cahaya dan terbang ke awang-awang.


“Kau akan menjadi pendekar yang hebat Lembah Manah. Aku akan bertemu dengan dewa!” teriak Gandarwa dengan menghilangkan tubuhnya.


Pemuda itu melangkahkan kakinya untuk mencari dimana keberadaan Pohon Mahoni Merah Kembar.


“Tolong, tolong, tolong pendekar, tolong selamatkan aku sebelum kau keluar dari tempat ini!”


Terdengar teriakan seorang wanita. Lembah Manah hanya memperhatikan pepohonan di sekitarnya, dan tak melihat sosok apa pun meski telah mendengar teriakan itu.


“Iya Lembah, sepertinya suara seorang wanita!”


Setelah memeriksa beberapa pepohonan, pandangan Lembah Manah tertuju pada sebuah pohon besar. Itu adalah Pohon Mahoni Merah Kembar, yang merupakan pintu keluar dari Lorong Alam Kapisan ini.


“Emm, kenapa kau bisa di sini?” tanya Lembah Manah kepada sosok wanita cantik yang tubuhnya terikat pada salah satu dahan pohon mahoni kembar.


“Tolong saya pendekar. Saya di culik oleh Gandarwa!” jawab perempuan berambut panjang itu memohon kepada Lembah Manah. “Tolong bawa saya keluar dari tempat ini, saya berjanji akan melakukan apa pun untuk pendekar!”


Lembah Manah yang selalu gugup jika berhadapan dengan perempuan, tidak bisa berkata apa-apa. Pemuda itu hanya diam membisu saat melepaskan ikatan perempuan itu.


“Terima kasih pendekar, saya berhutang budi kepada pendekar ini!” seru perempuan itu seraya memegang tangan kanan Lembah Manah dengan kedua tangannya.


“Emm, anu, panggil saja saya Lembah Manah, sepertinya kita seumuran!” Dengan gugup Lembah Manah berbicara kepada perempuan itu. “Emm, kamu ini siapa kok bisa sampai di tempat ini?”


“Panggil saja saya Nawang. Ceritanya panjang hingga saya bisa disekap oleh Gandarwa!” sahut perempuan itu yang mengaku bernama Nawang.

__ADS_1


Beberapa saat yang lalu...


Hari menjelang sore, Nawang masih saja berlatih ilmu pedangnya di belakang rumah. Di Desa Lapan Aji, saat ini tengah digemparkan dengan isu orang hilang saat hari menjelang petang.


“Nawang sebaiknya kau beristirahat, sebentar lagi petang!” perintah Nyai Ampel—nenek Nawang dari dalam jendela rumahnya.


“Sebentar lagi Nek, ini masih tanggung,” jawab Nawang seraya memainkan pedangnya.


“Anak perawan dibilangi kok keras kepala, mbok sekali-sekali itu nurut sama nenek!” gerutu Nyai Ampel memperhatikan Nawang.


Belum selesai Nyai Ampel berbicara, terlihat sosok hitam mendekap Nawang, lalu membawa gadis itu terbang. Nawang mencoba untuk melepaskan diri dengan menusukkan pedangnya ke arah sosok hitam itu.


Namun, percuma saja, pedang Nawang terjatuh saat membentur ranting pohon sebagai alas berpijak makhluk hitam itu. Nyai Ampel keluar rumah untuk mengejar cucu kesayangannya yang di bawa terbang sosok hitam itu, tetapi sia-sia saja, Nawang telah hilang ditelan rimbunnya pepohonan depan rumah.


Nawang dibawa makhluk itu ke tempat yang aneh, semuanya berwarna merah. Lalu tubuhnya diikat pada sebuah pohon besar.


“Lepaskan aku makhluk jelek!” seru Nawang pada makhluk yang telah menculiknya.


“Anak manusia, kau telah mengabaikan perintah nenekmu!” ucap makhluk aneh itu sembari mendekatkan cakarnya yang tajam ke wajah Nawang. “Jadi kau akan merasakan akibatnya!”


“Jauhkan tanganmu dariku!” geram Nawang seraya menggelengkan kepalanya.


“Aku Gandarwa, aku akan menculik anak manusia yang keluar saat petang dan mengabaikan nasihat orang tuanya!” teriak Gandarwa dengan mendongakkan kepalanya. “Ini adalah takdir dewa untukku. Akan aku jadikan budak, jika anak manusia menerima pemberianku hahaha!”


Nawang merasa bersalah karena telah mengabaikan nasihat neneknya. Sekarang, gadis itu hanya bisa pasrah akan nasibnya di tangan Gandarwa.


***


“Jadi begitu ceritanya!” seru Lembah Manah seraya menganggukkan kepalanya.


“Emm, lalu sekarang apa rencanamu, Nawang?”


“Aku juga tak tahu harus bagaimana, aku tak tahu jalan pulang!” Perlahan Nawang meneteskan air mata dan menyandarkan kepalanya pada bahu Lembah Manah.


Tubuh Lembah Manah semakin bergetar, ini pertama kalinya dia berdekatan langsung dengan perempuan.

__ADS_1


Setiap perempuan yang melihat Lembah Manah, pasti akan terpesona karena ketampanannya. Walaupun dibalik wajahnya yang tampan, tersimpan kekonyolan tingkat akut.


__ADS_2