KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Pemberontak (1)


__ADS_3

“Bara majulah, lawan aku dan kerahkan semua ilmu kanuragan yang kau punya!” perintah Sesepuh Anggada yang dibarengi dengan majunya salah satu tetua yang bernama Bara.


“Baik sesepuh,” jawab Bara melangkahkan kakinya maju ke depan.


Bara langsung melesat ke arah sesepuh dan melancarkan beberapa pukulan tangan kanan dan kiri diselingi dengan tendangan juga bergantian kaki kanan dan kiri. Anggada menangkis sembari bergerak mundur beberapa langkah.


Bara salto ke belakang menjauh dari sesepuh dan mengambil ancang-ancang, dibarengi dengan Anggada yang siap menerima serangan muridnya itu. Kembali Bara melesat ke arah sesepuh, kali ini kecepatannya meningkat dari sebelumnya.


Pukulan dan tendangannya juga lebih cepat yang membuat Anggada sedikit kewalahan. Namun, sesepuh masih unggul dan meningkatkan kecepatannya untuk menangkis serangan Bara. Lagi-lagi Bara salto ke belakang untuk sedikit menjauh dari Anggada.


Kini Bara mulai mengaktivasi jurusnya, seluruh tubuhnya dilapisi dengan tenaga dalam berwarna kuning. Dan terjadilah sebuah hal yang mengejutkan semua yang berada di halaman perguruan.


Tenaga dalam milik Bara yang berwarna kuning itu menjalar satu langkah di samping kanannya, lalu membentuk sebuah sosok yang sama persis dengan Bara. Ya, Bara menjadi dua wujud, dua wujud itu melesat ke arah sesepuh dengan kecepatan penuh.


Kembali Bara melancarkan pukulan dan tendangannya, sama seperti sebelumnya. Kali ini dengan dua tubuhnya yang dilapisi tenaga dalam berwarna kuning, memaksa Anggada menggunakan Ajian Karang—ajian yang sama dengan Ki Tunggul.


Sembari salto ke belakang, Bara melepaskan cahaya kuning dengan tangan kanannya. Cahaya kuning itu melesat cepat ke arah sesepuh dan terjadi kepulan asap debu yang tebal.


“Cukup Bara, aku tak menyangka kau bisa membuatku kewalahan,” seru Anggada.


“Maafkan saya sesepuh,” ucap Bara.


“Jurus apa itu Bara?” tanya Sesepuh Anggada.


“Itu adalah—!”


Bara menjelaskan pada gurunya bahwa beberapa hari yang lalu tak sengaja menginjak pacet. Bukannya pacet itu mati, tetapi malah menjadi lebih banyak. Pemuda berbadan gempal itu terinspirasi dari hewan berlendir itu, Bara berlatih sendirian dan mengaktivasi jurus membelah diri miliknya.


Bara menyerap kembali tenaga dalam berwarna kuning miliknya, dibarengi dengan hilangnya sosok Bara yang satunya lagi.

__ADS_1


“Bagus Bara, aku sangat terkesan atas jurusmu,” sahut Ki Tunggul yang tengah duduk diantara muridnya.


Bara kembali duduk diantara teman-temannya, setelah Anggada memperbolehkannya.


Hingga semua murid melakukan uji tanding dengan Ki Tunggul dan Sesepuh Anggada, mereka mendapat arahan dari Ki Tunggul. Ki Tunggul memberi penjelasan kepada para muridnya, agar kekuatan yang mereka miliki supaya digunakan dalam jalan kebenaran.


Tidak untuk pamer atau unjuk kebolehan, karena kekuatan yang sejati hanya ada di dalam hati mereka masing-masing. Kejahatan bukan untuk dibalas dengan kejahatan, melainkan dengan menghentikannya lalu membujuk pada jalan yang benar.


Jika mereka menyimpan dendam, itu hanya akan menimbulkan dendam-dendam yang lain dan tidak akan pernah ada hentinya.


Ki Tunggul juga mengingatkan kepada mereka, bahwa mereka tidak mengetahui seberapa besar kekuatan musuh. Jadi ada baiknya mereka bekerja sebagai kelompok, tidak mementingkan ego pribadi masing-masing.


***


Malam itu begitu dingin dengan rembulan bulat utuh bersinar terang, bintang bertebaran seakan menghiasi langit. Terlihat dua orang pria dengan tubuh kekar, memasuki istana saat pergantian jaga prajurit kerajaan.


Pria yang depan berambut panjang diikat seperti ekor kuda. Sedangkan seorang di belakangnya berkepala plontos membawa pisau di tangan kanannya.


Padahal, esok harinya Raja Brahma hendak mengumumkan kenaikan pangkat pada Garu Langit, menjadi penasihat pribadi sang raja.


Garu Langit dan Condro Mowo adalah sedikit dari sekian banyak pengikut Ki Badra yang tersebar di Negeri Yava. Dengan niat menggulingkan pemerintahan, Garu Langit menyusup ke dalam kerajaan untuk mengetahui rencana pihak kerajaan dalam Pertandingan Besar.


Garu Langit dan Condro Mowo masuk ke kamar raja tanpa ada seorang pun yang tahu. Itu dikarenakan mereka hafal jadwal pergantian para penjaga kerajaan. Dua orang itu mengendap-endap dari balik tirai tempat tidur raja.


Seperti merasa ada yang masuk ke kamarnya, Raja Brahma sedikit membuka matanya. Dan betapa kagetnya sang raja, Garu Langit menusuk dengan pisau yang sudah di siapkannya.


Namun, apa yang terjadi? Sang raja berhasil menahan tikaman Garu Langit dengan menggenggam tangan pria berambut panjang itu. Condro Mowo yang semula terdiam, dengan pisau ditangannya juga menikam Raja Brahma.


Keributan terjadi, perkelahian antara Raja Brahma dan kedua bawahannya mengundang kegaduhan yang terdengar oleh prajurit yang telah melakukan pergantian berjaga di depan kamar sang raja.

__ADS_1


Raja berteriak memanggil para prajurit penjaga, tetapi apa yang terjadi? Para prajurit tengah diringkus oleh pasukan Garu Langit yang terlebih dahulu memasuki istana secara mengendap-endap.


Dan lebih parahnya lagi, para petinggi kerajaan juga telah dikalahkan oleh pasukan Garu Langit yang sebagian besar adalah para pengukut Ki Badra.


“Kau tak akan bisa selamat Brahma, hahaha!” seru Garu Langit mendongakkan kepalanya. “Sebentar lagi kerajaan akan jatuh, dan Ki Badra akan menguasai Negeri Yava!”


“Tidak mungkin, orang-orang sepertimu akan berakhir mengenaskan!” kecam Raja Brahma.


Raja Brahma pun berhasil diringkus Garu Langit, tangannya diikat ke belakang dan hendak dibawa ke penjara bawah tanah.


Kegaduhan juga membuat Wulan beranjak dari kamarnya untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi. Namun, belum juga Wulan keluar dari kamarnya, gadis itu melihat ayahnya yang tengah ditawan oleh Garu Langit. Perlahan Wulan melangkah mundur dari pintu kamarnya dan hendak bersembunyi.


“Apa yang dilakukan Patih Garu Langit?” ucap Wulan Lirih sembari mengintip dari dalam kamarnya.


“Ayo cepat jalan!” seru Garu Langit membawa Raja Brahma menuju penjara bawah tanah. “Istrinya sudah diringkus. Tak mungkin dia bertindak macam-macam, jadi biarkan saja!”


“Tapi, bukankah raja punya seorang putri?” tanya Condro Mowo mengerutkan keningnya.


“Prajurit! Cari putri raja, tangkap dia!” tutup Garu Langit memerintahkan para pasukannya sembari berlalu membawa raja.


Para prajurit kerajaan juga dibawa ke penjara bawah tanah, dengan mudah mereka dikalahkan oleh para pengikut Ki Badra. Begitu pula Patih Ragas yang tak berkutik saat ditangkap di dalam kamarnya.


Mendengar pembicaraan Garu Langit dan Condro Mowo, Wulan berencana kabur dari istana. Perlahan, tuan putri itu mengendap-endap dari balik tembok kamarnya menuju jendela.


Dibukanya jendela yang berukiran bunga itu, tidak terlalu kecil tetapi cukup untuk dilewati tubuh Wulan yang ramping.


“Aku harus pergi ke perguruan Lembah Manah. Itu satu-satunya jalan untuk meminta bantuan!” ucap Wulan lirih sembari keluar melalui jendela kamarnya.


Wulan melompat ke atap istana berpindah ke atap rumah bangunan yang lain. Sesekali gadis itu bersembunyi dari balik atap jika ada utusan Garu Langit yang tengah berjaga.

__ADS_1


Kurang lebih lima belas menit, Wulan berhasil meninggalkan istana. Dengan mengendap-endap bersembunyi diantara rumah-rumah petinggi kerajaan, Wulan tiba di pintu gerbang kerajaan sebagai pertanda telah keluar dari ibukota kerajaan.


Jika menggunakan tenaga dalam dan meringankan tubuhnya, butuh waktu tiga hari untuk sampai di Perguruan Jiwa Suci. Dan jika ingin mempersingkat waktu, Wulan harus melewati setiap tepi kadipaten saat menuju ke sisi timur Kadipaten Purwaraja.


__ADS_2