
Pada satu kesempatan, pemuda yang menjadi lawan Lembah Manah melemparkan tombaknya ke arah Lembah Manah. Lembah Manah mampu menghindar dengan salto ke belakang dan menendang pangkal tombak milik lawannya, hingga melesat ke arah tetua yang menjadi lawan latih tanding pemuda itu.
Tombak melesat kembali ke pemiliknya dengan kecepatan dua kali lipat. Kemungkinan tetua itu tak mampu menghindar, karena telah kehabisan tenaga dalam, akibat permainan tombaknya.
“Awas tetua!” seru pemuda yang satunya lagi menonton di tepi arena.
Dengan membuka Gerbang Kehidupan aktivasi tingkat Madyo tahap akhir, Lembah Manah menginjak dinding samping bangunan sebagai alas pijakan, lalu melompat menghalau tombak yang melesat ke arah tetua yang menjadi lawannya dengan satu tendangan kaki kanan.
Hampir saja, kurang satu jengkal saja tombak itu menembus jantung tetua yang menjadi lawan latih tanding dengannya. Tombak terlempar dan menancap pada balok kayu di sudut arena latihan yang lainnya.
Bukannya berterima kasih, tetua itu malah merasa seperti direndahkan oleh Lembah Manah. Kali ini bukan lagi latih tanding, tetua muda itu sepertinya ingin membunuh Lembah Manah. Terlihat dari raut wajahnya yang penuh amarah dan seperti menyembunyikan sesuatu.
Saat Lembah Manah hendak membungkukkan badan untuk meminta maaf, tetua itu melesat mencabut tombaknya dan menghunuskan ke arah Lembah Manah.
Lembah Manah yang selalu sigap, masih menggunakan Gerbang Kehidupan. Satu tebasan mengarah leher Lembah Manah yang masih membungkukkan badan, tetapi pemuda itu menjatuhkan tubuhnya sembari melepaskan satu pukulan telapak tangan terbuka pada bahu kiri tetua muda itu.
Tetua muda itu terlempar beberapa langkah ke belakang dan tubuhnya menghantam tembok bangunan, hingga mulutnya mengeluarkan darah. Sebenarnya Lembah Manah bisa saja menyerang organ vitalnya, tetapi pemuda itu sadar jika pertarungan ini hanyalah ajang latih tanding saja.
“Kau sudah kalah tetua, kenapa masih menyerang saudara Lembah Manah!” seru salah satu pemuda yang datang bersama tetua itu. “Kenapa kau berubah menjadi seperti ini?”
“Tetua, apa kau baik-baik saja?” ucap Puspa Ayu menghampiri tetua muda itu.
“Maafkan aku tetua!” Lembah Manah tampak khawatir dan menghampiri tetua muda itu. “Cepat bawa ke bagian pengobatan!” usul Lembah Manah memapah tetua muda itu bersama bawahannya.
Sesampainya pada bagian pengobatan, tetua muda itu langsung mendapat perawatan oleh salah satu tetua pengobatan. Lembah Manah dan Puspa Ayu hanya menunggu di luar ruangan pengobatan, sedangkan bawahan tetua muda itu ikut memasuki ruang pengobatan.
“Bagaimana keadaan Tetua Kadaka?” Bawahan tetua itu tampak khawatir bertanya pada tetua pengobatan.
__ADS_1
“Jika pukulan itu ke bawah satu jengkal lagi, mungkin nyawanya tidak tertolong!” jawab tetua pengobatan sembari berlalu ke belakang untuk mengambil beberapa ramuan. “Untung saja hanya cedera biasa, besok juga segera pulih!”
Pemuda bawahan Kadaka keluar dari ruang pengobatan dan menghampiri dimana Lembah Manah serta Puspa Ayu berada. Wajah pemuda itu tampak berbinar ketika mendekati Lembah Manah.
“Tetua Kadaka baik-baik saja, besok juga segera sembuh!” seru pemuda bawahan Kadaka.
“Syukurlah kalau Tetua Kadaka baik-baik saja!” sahut Puspa Ayu.
“Aku merasa aneh dengan Tetua Kadaka—!” ucap Lembah Manah mendongakkan kepalanya.
Menurut Lembah Manah, serangan pertama Tetua Kadaka memang hanya untuk berlatih tanding saja. Namun, setelah serangan jurus yang kelima, ada niat mencelakai Lembah Manah dengan tebasan tombaknya.
“Entah kenapa akhir-akhir ini Tetua Kadaka sering marah-marah kepada kami, para bawahannya!” seru pemuda bawahan Kadaka menundukkan kepalanya. “Aku mendengar, keluarganya mendapat masalah, tetapi aku tak tahu itu apa?”
“Ada masalah?” lirih Lembah Manah menggaruk dagunya. “Pasti ada yang tidak beres. Apa kau tahu dimana rumah Tetua Kadaka?”
“Maafkan aku, saudara Lembah Manah!” Tiba-tiba terdengar suara dari belakang mereka bertiga yang tengah duduk di depan ruang pengobatan. Tampak Kadaka keluar dari ruang pengobatan.
Kadaka menghampiri mereka bertiga sembari memegangi bahu kirinya, lalu duduk di samping Lembah Manah dan berkata, “maafkan aku saudara Lembah. Sebenarnya—!”
Kadaka bercerita kepada mereka bertiga bahwa dirinya hanya disuruh oleh Panji Giri untuk membunuh Lembah Manah. Kadaka juga diancam oleh Panji Giri, jika tidak menuruti perintahnya, keluarga Kadaka akan dihabisi.
“Apa!” seru mereka bertiga bersamaan.
“Tolong jangan beritahukan hal ini kepada siapa pun!” pinta Kadaka kepada ketiga temannya itu.
“Aku harus menghentikan Panji Giri. Bukannya memperbaiki sikapnya, malah semakin menjadi!” geram Lembah Manah mengepalkan tangan kanannya. “Dimana aku bisa menemukan keluargamu, Tetua Kadaka?”
__ADS_1
“Rumahku ada di Desa Gembong, desa paling barat kadipaten ini!” sahut Kadaka dengan batuk kecil. “Rumahku paling ujung barat, ada dua kolam ikan di depan rumah yang ditumbuhi bunga teratai!”
“Hanya ada ibu dan dua adik laki-laki di rumahku. Aku mohon selamatkan mereka!” pinta Kadaka dengan bertekuk lutut memegangi lutut Lembah Manah.
“Eh, bangunlah tetua, aku tak pantas mendapat perlakuan seperti ini!” Lembah Manah mencoba meraih tubuh Kadaka dan hendak mengajaknya untuk duduk kembali.
***
Menjelang sore hari, Lembah Manah menemui Ketua Perguruan Tombak Putih. Tidak ada satu murid perguruan yang tahu mengenai pertemuan keduanya. Pemuda itu meminta izin kepada Jaladara untuk pergi ke Desa Gembong.
“Ada perlu apa kau pergi ke desa itu, Lembah!” ucap Jaladara kaget sesaat setelah mendengar pernyataan Lembah Manah.
“Keluarga Tetua Kadaka dalam bahaya, ketua!” sahut Lembah Manah. “Sebenarnya kasus ini tak boleh diketahui oleh siapa pun, tetapi aku harus meminta izin kepada ketua?”
Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya Jaladara mengizinkan Lembah Manah pergi ke Desa Gembong. Meski Jaladara telah mengusulkan untuk membawa beberapa muridnya, tetapi Lembah Manah bersikeras untuk bepergian sendiri.
Akhirnya, Lembah Manah sendirian keluar dari Perguruan Tombak Putih, itu juga sudah terbiasa baginya, karena setelah keluar dari Lorong Alam Lelembut, pemuda itu selalu berkelana sendiri.
Lagi pula, Kadipaten Kabaman ini cukup aman dari aliran hitam. Jika ada, itu hanya bandit atau segerombolan perampok kecil yang bermarkas di pinggiran kadipaten.
Lembah Manah hanya berjalan untuk menuju Desa Gembong, melewati pusat ibukota kadipaten yang tak dijaga oleh penjaga gerbang. Mungkin karena kadipaten ini, tidak ditemukan kasus kriminal berat.
Ramai warga berlalu-lalang menjalankan aktivitasnya, membuat Lembah Manah tersenyum sendiri ketika melangkahkan kakinya. Namun, sesekali pemuda itu melesat meringankan tubuhnya, saat melewati hutan warga yang ditanami satu jenis tanaman saja.
Satu hari bergerak ke arah barat, akhirnya sampai juga pemuda itu di Desa Gembong. Namun, tak seperti memasuki ibukota kadipaten, tampak beberapa orang berjaga di gapura Desa Gembong.
“Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau warga baru?” seru salah satu penjaga gapura desa.
__ADS_1
“I-iya paman!” sahut Lembah Manah sembari menunjukkan sobekan kain bergambar tombak berwarna putih dari saku bajunya bagian dalam. “Aku adalah utusan Tetua Kadaka dari Perguruan Tombak Putih, emm, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada tetua Panji Giri!”
Setelah berdiskusi beberapa saat, para penjaga itu mengizinkan Lembah Manah untuk memasuki Desa Gembong. Pemuda itu kembali melangkahkan kakinya menuju ujung barat desa untuk mencari kediaman Kadaka.