
Lembah Manah tidak berniat mengejar perampok yang lolos, pemuda itu mendekati pemilik kedai makan untuk membayar ganti rugi atas kerusakan yang menimpa tempat usahanya.
“Tidak usah pendekar!” seru salah seorang pengunjung dengan pakaian bangsawan menghentikan tindakan Lembah Manah. “Aku akan mengganti semua kerusakan ini!”
“Te-terima kasih paman!” sahut Lembah Manah.
“Justru kamilah yang seharusnya berterima kasih!” ucap pria bangsawan itu. “Kalau tidak ada pendekar, mungkin harta kami sudah dikuras habis oleh kawanan perampok ini!”
Lembah Manah membungkukkan badan untuk memberi hormat pada pria bangsawan itu. Lalu meminta pemilik kedai makan untuk melaporkan kejadian ini kepada pihak kadipaten, agar para perampok segera diadili.
“Pendekar, bolehkah aku tahu siapa namamu?” tanya pria bangsawan itu. “Sepertinya aku baru melihatmu di tempat ini?”
“Saya Lembah Manah paman!” jawab Lembah Manah. “Saya Cuma menumpang lewat dan hendak menuju kerajaan!”
“Kalau pendekar berkenan, mampirlah ke rumahku!” sahut pria bangsawan itu.
Tanpa bisa menolak, Lembah Manah mengikuti pria bangsawan itu yang ternyata dikawal beberapa abdi dalem untuk menuju ke rumahnya.
Sesampainya di kediaman pria bangsawan itu, Lembah Manah disambut oleh beberapa abdi dalem dan yang pasti dengan jamuan makanan. Meski sudah menyantap makanan di kedai makan, tetapi pemuda itu tak bisa menghentikan rahangnya untuk mengunyah makanan.
“Perkenalkan, namaku Wirayuda!” ucap pria bangsawan itu menghentikan kegiatan Lembah Manah. “Aku adalah pemimpin Kadipaten Purwaraja!”
Sontak perkataan pria bangsawan itu membuat Lembah Manah batuk kecil dan hampir memuntahkan makanan yang berada dalam mulutnya. Pemuda itu tak menyangka jika Ki Wirayuda adalah pimpinan dari kadipaten tempatnya tinggal.
Sebelumnya, pemuda itu belum pernah sekalipun melihat wajah pemimpin kadipaten atau bisa disebut adipati. Keluar dari desa saja jarang, apalagi mengunjungi pusat kadipaten, Lembah Manah belum pernah sama sekali.
“Ma-maafkan saya, Ki!” sahut Lembah Manah membenarkan posisi duduknya. “Saya tidak tahu kalau Ki Wirayuda ini adalah seorang Adipati!”
“Tidak apa-apa nak Lembah!” kilah Ki Wirayuda.
__ADS_1
Disela-sela jamuan makan, Ki Wirayuda bercerita kepada Lembah Manah. Ini mengenai perampok yang menyerang mereka di kedai makan siang tadi. Kawanan perampok itu menghuni Pegunungan Wukir yang terletak di sisi utara kadipaten.
Pegunungan Wukir sendiri menjadi batas wilayah dengan Kadipaten Purwaraja dan Kadipaten Gemalang di sebelah utara. Setiap ada rombongan yang melewati pegunungan itu, para perampok selalu menghadang dan menguras habis harta rombongan itu.
Bahkan gerombolan perampok tak segan-segan untuk membunuh atau memperkosa para gadis yang berada di dalam rombongan.
Perampok itu juga sangat terorganisir. Karena jika ada pendekar yang sengaja menyamar dan hendak menyergapnya, perampok itu tidak akan muncul. Itu disebabkan anak buah mereka tersebar di segala penjuru dan pasti sudah tahu rencana pengepungan mereka.
Mereka juga sangat mengetahui medan Pegunungan Wukir, jadi sangat sulit untuk melacak keberadaannya. Ki Wirayuda sendiri telah menyewa banyak pendekar, tetapi tidak ada yang mampu menumpas kawanan perampok itu.
Tak hanya sekali, Ki Wirayuda juga menyewa pendekar untuk menyisir sisi utara Pegunungan Wukir. Namun, hasilnya tetap sama saja, kawanan perampok telah mengetahui jika kelompoknya tengah dikepung, karena informasi dari anak buah mereka yang membuat mereka lolos.
“Jadi, apa rencana Ki Wirayuda selanjutnya?” tanya Lembah Manah dengan wajah serius.
“Kami sangat berharap nak Lembah bisa membantu untuk membasmi kawanan perampok ini!” sahut Ki Wirayuda yang membuat Lembah Manah terpaku. “Karena saya sendiri telah melihat kehebatan nak Lembah sewaktu di kedai makan tadi!”
Lembah Manah tampak mengerutkan keningnya dan berpikir sejenak. Lalu menggaruk dagunya beberapa kali dan berkata, “baiklah, Ki, saya akan membantu!”
Keesokan harinya, Ki Wirayuda sendiri memimpin rombongan untuk menuju Pegunungan Wukir. Lembah Manah hanya berpakaian biasa saja, para abdi dalem juga mengenakan pakaian sederhana.
Sedangkan Ki Wirayuda mengenakan pakaian bangsawan duduk di dalam kereta kuda bersama Lembah Manah, untuk memancing para kawanan perampok itu keluar.
Satu abdi dalem menaiki kuda paling depan sebagai penunjuk jalan. Pria dengan usia kira-kira empat puluhan tahun itu beberapa bulan terakhir memang sering melewati Pegunungan Wukir, untuk menyampaikan pesan ke Kadipaten Gemalang.
Menurut abdi dalem itu, jika tidak menyewa pendekar dengan ilmu kanuragan yang tinggi untuk melintasi Pegunungan Wukir, mereka sering dihadang oleh kawanan perampok itu.
Pernah suatu ketika, abdi dalem itu tidak mendapat pendekar pengawal dan harus menyampaikan pesan penting ke kadipaten sebelah. Abdi dalem itu hanya mendapat pendekar yang ilmunya biasa saja. Apa yang terjadi?
Abdi dalem itu dihadang kawanan perampok dan dikuras semua harta yang dia miliki. Bahkan para perampok itu membunuh pendekar yang disewanya. Benar-benar kejam.
__ADS_1
“Ketua! Aku melihat rombongan kadipaten melewati sisi timur!” ucap salah satu anak buah perampok itu kepada Brajah—ketua perampok Pegunungan Wukir.
“Rombongan kadipaten ya?” sahut Brajah tersenyum mendengar laporan anak buahnya.
Akhir-akhir ini mereka jarang mendapatkan mangsa karena banyak rombongan yang melewati Pegunungan Wukir membawa pendekar dengan ilmu kanuragan yang tinggi. Jadi mereka tidak berani melawan, hingga mereka merampok di Kedai Makan Simpang Tiga.
Brajah mengira rombongan kadipaten hanya melintas saja, karena tidak membawa seorang pendekar sewaan dengan ilmu kanuragan tinggi. Bahkan hanya membawa anak muda yang berilmu kanuragan rendah, yang menurutnya bukan halangan untuk menghadang rombongan itu.
Apa! Pemuda berilmu kanuragan rendah? Ya, Lembah Manah sengaja menurunkan aktivasi ilmu kanuragannya hingga tingkat Andhap tahap awal, agar para perampok itu mengira pengawal rombongan kadipaten tak mempunyai ilmu tinggi.
“Para bawahanku sudah siap. Apakah kami harus menghadang mereka!” seru anak buah Brajah.
“Baiklah! Pimpin anak buahmu!” sahut Brajah sembari menyentuh mata pedangnya dengan ibu jari tangan kanannya. “Aku akan menguji, apakah mereka memang menyepelekan perampok Pegunungan Wukir ini!”
Di dalam kereta kuda, Ki Wirayuda merasa ada yang aneh. Menurutnya, kawanan perampok itu kenapa belum menghadang rombongan mereka? Padahal sudah cukup jauh memasuki pegunungan sisi timur.
Apakah rencana mereka sudah diketahui oleh kawanan perampok itu?
“Ada yang datang dari balik semak-semak!” seru abdi dalem yang berjalan paling depan. “Mereka berjumlah lima orang!”
Di dalam kereta kuda, Ki Wirayuda tersenyum karena kawanan perampok itu akhirnya datang juga. Jadi tak usah repot-repot lagi mencari keberadaan kawanan perampok itu.
“Semuanya! Waspadalah!” Abdi dalem yang paling depan memperingatkan rombongannya.
Lima kawanan perampok itu menyerang rombongan Ki Wirayuda. Namun, para abdi dalem masih bisa mengatasinya dengan mudah. Empat perampok berhasil dilumpuhkan, tetapi salah satu perampok berlari menuju hutan.
“Aku akan mengejarnya!” seru Lembah Manah keluar dari kereta kuda.
Lembah Manah bergegas meninggalkan rombongan Ki Wirayuda. Pemuda itu berlari ke dalam hutan untuk mengejar salah satu perampok yang berhasil meloloskan diri.
__ADS_1
Pada saat Lembah Manah mengejar ke dalam hutan, lima kawanan perampok yang telah bersiap dari balik semak-semak, kembali mendekati rombongan Ki Wirayuda.
“Sial!” umpat Ki Wirayuda menarik pedang dari sarangnya. “Mereka tak hanya lima orang!”