
Alas Lali Jiwo begitu tenang, burung berkicau dengan riang. Meski hari sebenarnya menjelang siang, tetapi di dalam hutan itu masih terasa seperti pagi. Karena sinar matahari yang tak mampu menembus lebatnya pepohonan dan tebalnya lumut.
Kabut yang seakan tak mau pergi di seluruh penjuru, membuat hawa dingin menyelimuti membawa aura angker lagi mistis.
Tidak banyak warga desa yang berani memasuki Alas Lali Jiwo ini, meski hanya sekadar berburu binatang, mencari kayu bakar, ataupun mencari madu. Karena mereka yakin, masih banyak siluman dan makhluk halus yang menghuni hutan ini.
Alas Lali Jiwo terletak di ujung barat laut Negeri Yava, masuk dalam wilayah Desa Sumber Angin di Kerajaan Tanjung Pura. Lebih tepatnya di pesisir pantai barat, memanjang hingga pesisir utara desa.
Dalam pekatnya kabut dan rapatnya pepohonan, seorang pria tua tengah melompat dari satu dahan pohon berpindah ke dahan pohon yang lainnya. Meski dalam jarak pandang yang terbatas, sepertinya pria tua itu sangat hafal dengan Alas Lali Jiwo ini.
Pria tua yang memakai pakaian hitam dengan gambar bunga teratai berwarna putih di punggungnya itu terlihat sangat lincah gerakannya. Tak heran, hanya beliau yang menguasai seluk-beluk Alas Lali Jiwo.
Namun, tiba-tiba sekelebat cahaya hitam melesat ke arahnya.
DYAR!
Sebuah dentuman keras mengenai beberapa pohon dan membuatnya tumbang berhamburan. Jika sedetik saja pria tua itu tidak menghentikan gerakannya, tentu saja cahaya hitam itu membuat tubuhnya hancur berkeping-keping.
Pria tua itu tetap melesat tanpa memedulikan apa yang baru saja membuat pohon-pohon itu hancur. Namun, belum juga pria tua itu jauh bergerak, beberapa cahaya hitam kembali melesat ke arahnya dan membuat kerusakan lebih parah dari serangan pertama.
“Woi!” teriak pria tua itu berhenti dari lompatannya dan berbalik badan ke belakang. “Siluman! Keluarlah, jangan hanya bersembunyi!”
Pandangannya menyapu ke segala arah sekelilingnya tanpa mengurangi kewaspadaan. Namun, pria tua itu tak melihat siap pun atau apa pun yang menurutnya mencurigakan. Hanya gema suaranya sendiri yang perlahan lenyap dalam rimbunnya hutan.
Ketika pria tua itu ingin melanjutkan perjalanannya, kembali dia dikejutkan dengan beberapa kerikil yang melesat ke arahnya.
BUM! BUM! BUM!
Kerikil itu meledak setelah menghantam batang pohon besar, beruntung pria tua itu mampu menghindari serangan tiba-tiba itu dengan baik.
__ADS_1
WUS! WUS! WUS!
Beberapa jarum melesat ke arahnya, belasan, bahkan puluhan jarum berwarna hitam yang mungkin telah dilumuri racun oleh pemiliknya meluncur deras. Namun, dapat dihindari oleh pria tua itu, sehingga jarum beracun menancap pada batang pohon besar.
“Sial! Siapa orang yang memasuki Alas Lali Jiwo ini!” lirihnya sembari bersembunyi di atas dahan pohon besar.
Kini, dua serangan sekaligus melesat ke arah pria tua itu, beberapa kerikil dan jarum beracun meluncur deras. Namun, kali ini pria tua itu menarik tangan kanannya ke belakang, lalu dengan telapak tangan terbuka melancarkan sebuah serangan ke depan yang mengeluarkan embusan angin.
BUM! BUM! BUM!
Kerikil itu meledak mengenai beberapa batang pohon setelah berbalik arah karena satu jurus pria tua itu. Sedangkan serangan jarum beracun, berhamburan tak tentu arah.
“Siapa kalian!” teriak pria tua itu. “Aku tahu, kalian bukan siluman!”
Setelah berkata demikian, si pria tua membalikkan tubuhnya dan hendak meninggalkan tempat itu. Namun, baru beberapa langkah, pria tua itu mendengar suara tawa menggelegar, menggetarkan seisi Alas Lali Jiwo. Ketika pria tua itu menoleh ke belakang, suara tawa itu terdiam.
“Serahkan Kitab Angin!”
Pria tua itu adalah Ki Bayu Maruto, pemimpin Perguruan Teratai Putih yang tengah kembali dari pesisir pantai utara untuk melakukan pengintaian atas pergerakan Kelompok Lowo Abang.
Namun, dalam perjalanan pulang, Ki Bayu Maruto mendapat serangan aneh di dalam Alas Lali Jiwo dan ancaman mengenai Kitab Angin milik perguruannya.
Ketika membalikkan badannya ke belakang, Ki Bayu Maruto melihat dengan jelas dua orang berdiri tak jauh dari hadapannya. Seorang pemuda memiliki rambut panjang dengan satu mata kirinya tertutup, usianya kira-kira dua puluh lima tahun.
Dan satu lagi pemuda dengan tangan kanan seperti dilapisi kayu yang mungkin sudah di modifikasi sebagai pelontar jarum-jarum beracun yang menyerang Ki Bayu Maruto tadi. Usianya kurang lebih sama dengan pemuda yang pertama.
Keduanya sama-sama memakai jubah hitam dengan gambar kelelawar berwarna merah pada punggungnya. Dan juga, ikat kepala dengan gambar bermotif kelelawar dengan tiga garis horizontal di bawahnya.
“Daryata! Sarira!” ucap Ki Bayu Maruto terkejut membelalakkan matanya. “Kalian masih hidup, bukankah serangan waktu itu telah meluluhlantakkan perguruan!”
__ADS_1
Pemuda dengan mata satu bernama Daryata dan satu lagi pemuda yang menggunakan alat pelontar jarum adalah Sarira. Dulu, keduanya adalah murid Perguruan Teratai Putih. Namun, karena sebuah serangan untuk merebut Kitab Angin, seluruh perguruan hancur berantakan.
Daryata dan Sarira yang masih berusia sepuluh tahun, jasadnya tak ditemukan dan semua orang mengira bahwa mereka berdua telah mati. Namun, tanpa sepengetahuan seisi perguruan, Ki Badra telah membawa dua anak itu untuk diberi kekuatan yang mungkin akan berguna nantinya.
“Benar guru, ini kami, hmm!” sahut Daryata tersenyum. “Ketika aku dibawa oleh pemimpin, aku sengaja meminta kekuatan agar lebih kuat lagi, hahaha!”
“Cepat serahkan Kitab Angin kepada kami!” bentak Sarira dengan suara berat.
Ki Bayu Maruto terkejut akan perubahan sifat muridnya. Dulu mereka berdua sangat menurut dan saling mengasihi satu sama lain. Namun, kini, sifat keduanya berbanding terbalik dengan kepribadiannya terdahulu.
“Tidak akan kubiarkan kalian merebut kitab itu dari perguruan!” seru Ki Bayu Maruto.
Ucapan Ki Bayu Maruto dibalas dengan serangan Daryata. Pemuda itu mengibaskan tangan kanannya mendatar dari kiri ke kanan diikuti cahaya berwarna hitam melesat ke arah Ki Bayu Maruto.
Pria tua itu menghentakkan kakinya ke tanah dan melompat ke samping sembari mengirim serangan balasan dari telapak tangan kanannya yang terbuka.
BUM!
Serangan Daryata mengenai pohon di belakang Ki Bayu Maruto yang membuat pohon itu hancur berhamburan. Sedangkan serangan Ki Bayu Maruto hanya di tepis dengan tangan kanan Daryata yang membelokkan serangan embusan angin milik Ki Bayu Maruto dan mengenai pohon di samping kanan Daryata.
“Sial! Daryata kini semakin kuat!” lirih Ki Bayu Maruto.
Daryata melesat cepat ke arah Ki Bayu Maruto, lalu melepaskan tendangan kaki kanan yang berselimut cahaya hitam meraih kepala Ki Bayu Maruto. Pria tua itu menghindar dengan menarik tubuhnya ke belakang.
Namun, tanpa diduga, Daryata melepaskan satu tendangan kaki kiri kejutan tepat mengenai wajah Ki Bayu Maruto hingga membuat pria tua itu jatuh beberapa langkah ke samping kiri dengan darah keluar dari mulutnya.
“Hmm, sekarang kau merasakan kehebatanku bukan!” ucap Daryata merendahkan Ki Bayu Maruto.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Daryata melancarkan beberapa jurus ke arah Ki Bayu Maruto bergantian tangan kanan dan kiri.
__ADS_1
Menyadari Daryata mulai serius, Ki Bayu Maruto juga melayani serangan Daryata.
"Baiklah jika itu mau kalian!"