
Pertukaran jurus terjadi beberapa waktu. Pukulan, tendangan, gerakannya sangat cepat, hingga yang terlihat hanya sekelebat bayangan hitam saja.
Di sisi lain, Sarira hanya terdiam mengamati setiap gerakan dari Ki Bayu Maruto yang tampaknya mengandung tenaga dalam sangat besar.
Dalam serangan fisik jarak dekat, Ki Bayu Maruto sedikit lebih unggul. Karena pukulan dan tendangan pria tua itu langsung mengarah pada titik vital Daryata yang menyerang tanpa perhitungan.
Pada satu kesempatan, Ki Bayu Maruto melihat celah pertahanan Daryata pada bagian dadanya sedikit terbuka. Pria tua itu melepaskan satu pukulan telapak tangan terbuka disertai dengan tenaga dalam, meraih dada Daryata yang lengah.
Pemuda itu terlempar beberapa langkah ke belakang dengan darah keluar dari mulutnya.
“Kurang ajar!” teriak Daryata seraya mendongakkan kepalanya ke atas.
Napas keduanya terengah-engah karena pertarungan yang sangat menguras tenaga. Daryata kembali bangkit, tanpa berlama-lama lagi pemuda itu mengibaskan tangan kanannya diikuti beberapa kerikil yang keluar dari saku baju lengan panjangnya bagian dalam.
DYAR DYAR DYAR
Kerikil itu meledak setelah mengenai beberapa pohon di belakang Ki Bayu Maruto yang telah menghindar.
Lemparan kerikil Daryata semakin membabi-buta, yang dengan mudah dihindari oleh Ki Bayu Maruto tanpa melepaskan serangan balasan.
Kerusakan semakin parah, pepohonan tumbang berhamburan akibat terkena kerikil Daryata yang mungkin mengandung bahan peledak. Debu asap tebal membubung tinggi di sekitar tempat pertarungannya. Namun, belum ada yang tahu siapa pemenangnya, karena Ki Bayu Maruto masih terus menghindari serangan kerikil Daryata.
Dengan kepayahan, Daryata mendekati Sarira yang masih terdiam. Seakan diberikan kode, Sarira melesat ke arah Ki Bayu Maruto dengan cepat. Pemuda itu mengarahkan tangan kanannya ke depan diikuti beberapa jarum keluar dari kayu pelontarnya.
Ki Bayu Maruto dapat menghindari serangan pertama dengan mudah. Namun, belum juga Ki Bayu Maruto mendarat dengan sempurna, Sarira telah menghujani pria tua itu dengan jarum beracunnya yang meluncur deras.
Puluhan jarum beracun melesat ke arah Ki Bayu Maruto hingga membuat pria tua itu semakin sulit menghindar dan terkena satu jarum beracun yang menancap pada lengan kirinya.
__ADS_1
“Serahkan Kitab Bunga!” ucap Sarira dengan nada berat. “Kau punya waktu dua hari untuk menemuiku di tempat ini lagi dan membawa kitab itu. Sebagai gantinya, akan kuberi penawarnya!”
“Apa!” Ki Bayu Maruto terkejut membelalakkan matanya, lalu mencabut jarum beracun dari lengannya.
“Ya, itu adalah racun penghancur jantung!” sahut Sarira tersenyum tipis. “Kau punya waktu tiga hari untuk hidup!”
Ki Bayu Maruto tertegun mendengar perkataan Sarira. Dalam hatinya, tak mungkin lagi dia selamat kecuali memberikan Kitab Angin dan mendapat penawar dari Sarira. Itu pun jika Sarira tidak mengkhianatinya untuk memberi penawar racun.
“Aku tak akan mengingkari janjiku!” seru Sarira hendak pergi diikuti Daryata yang telah berbalik badan. “Kembalilah dua hari lagi dan temui aku di tempat ini!”
Perlahan Daryata dan Sarira menghilang dari pandangan Ki Bayu Maruto. Sementara pria tua itu mulai merasakan nyeri pada dada sebelah kirinya. Sesekali mulai batuk yang mengeluarkan darah.
Ki Bayu Maruto berencana pulang ke perguruan, dengan berjalan terhuyung memegangi dada kirinya, Ki Bayu Maruto memasuki pintu gerbang dan disambut para muridnya yang tengah melakukan latihan uji tanding di halaman perguruan. Dipapahnya pria tua itu oleh dua murid terbaiknya—Puspo Baskoro dan Ranti Lemini.
“Guru! Apa yang terjadi guru?” ucap Puspo Baskoro panik, lalu memapah gurunya pada paseban di tengah perguruan mereka.
Ki Bayu Maruto menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Dari pengintaian pantai utara, hingga penyerangan Daryata dan Sarira di tengah Alas Lali Jiwo.
“Percuma saja Puspo!” sahut Ki Bayu Maruto menenangkan muridnya. “Untuk Daryata mungkin kau bisa mengimbanginya, tetapi melawan Sarira, itu bukan pilihan terbaik!”
“Jadi—!”
“Ya, aku akan menukar penawar dengan Kitab Angin milik perguruan!” tegas Ki Bayu Maruto.
Para murid terkejut dengan keputusan guru mereka. Meski telah mendapatkan penawarnya, belum tentu Daryata dan Sarira melepaskan mereka begitu saja. Namun, Ki Bayu Maruto telah percaya pada perkataan Sarira yang tak mungkin mengingkari janjinya.
“Aku harap, kalian menerima keputusanku ini!” lirih Ki Bayu Maruto.
__ADS_1
Selama sehari penuh, Ki Bayu Maruto hanya bermeditasi di dalam pondokannya. Napasnya terasa semakin sesak dan berat, dada kirinya juga terasa panas. Dua murid terbaik Ki Bayu Maruto tampak khawatir dan hendak menjenguk pemimpin perguruan itu.
“Ranti menghadap!" seru Ranti Lemini sesaat setelah memasuki pondokan milik Ki Bayu Maruto diikuti Puspo Baskoro di belakang gadis itu. "Bagaimana keadaan guru?"
“Seperti yang kalian lihat!” sahut Ki Bayu Maruto membuka kedua matanya dan memegangi dada sebelah kiri sembari batuk kecil mengeluarkan darah.
Ranti Lemini tampak semakin khawatir dan berusaha untuk mencari tabib terbaik di desa. Namun, tindakan itu dicegah oleh Ki Bayu Maruto, menurutnya ini adalah salah satu cara Sarira menyiksa Ki Bayu Maruto, agar dirinya segera memberikan Kitab Angin.
***
Hari ini adalah tepat dua hari setelah penyerangan Ki Bayu Maruto di tengah Alas Lali Jiwo. Tiba saatnya pria tua itu meminta penawar kepada Sarira, sekaligus menyerahkan Kitab Angin kepada dua mantan muridnya terdahulu.
Atas perintah Ki Bayu Maruto, dua murid terbaiknya mengikuti di belakang dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Diikuti para murid lainnya yang berjaga-jaga apabila Daryata dan Sarira mengingkari janji, atau menyerang mereka.
Matahari mulai sedikit meninggi, mereka bergerak ke utara dengan jeda waktu beberapa saat. Ki Bayu Maruto bersama dua muridnya di depan, dan beberapa murid yang lain mengikuti dari belakang.
“Aku harap Sarira tak mengingkari janjinya!” seru Ki Bayu Maruto yang perlahan mulai memasuki Alas Lali Jiwo.
“Jika mereka mencurigakan, lebih baik kalian menyerang Daryata!” lanjut Ki Bayu Maruto yang diiyakan kedua murid yang berjalan di belakangnya.
Memasuki tempat pertarungan dua hari yang lalu, Ki Bayu Maruto menyapukan pandangan ke sekelilingnya yang rupanya belum tampak kehadiran Daryata dan Sarira.
Puspo Baskoro dan Ranti Lemini berdiri agak jauh di belakang gurunya untuk bersiaga. Sedangkan beberapa murid yang lain, berjaga dengan jarak dua puluh langkah di sekitar Ki Bayu Maruto dengan membentuk formasi setengah lingkaran, mengelilingi tempat itu.
Dari balik pekatnya kabut yang berlawanan arah dari tempat Ki Bayu Maruto berdiri, tampak samar dua orang tengah mendekati orang tua itu yang membuat Puspo Baskoro dan Ranti Lemini lebih bersiaga lagi.
“Benar kan Ki! Aku tak pernah ingkar janji!” seru Sarira dari jarak sepuluh langkah di depan Ki Bayu Maruto yang mengejutkan pria tua itu. “Kini serahkan Kitab Angin dan akan kuberikan penawarnya!”
__ADS_1
Ki Bayu Maruto menuruti permintaan Sarira, pria tua itu berjalan mendekati pemuda dengan tangan kanan yang aneh menurutnya.
“Hati-hati guru!” ucap Puspo Baskoro yang disetujui Ranti Lemini.