
Patih Ragas meringkuk melindungi Wulan. Patih berbadan kekar itu hanya mengalami sedikit luka gores pada tubuhnya. Berbeda dengan Wulan, tampaknya tuan putri itu mengalami luka dalam yang cukup parah. Jika saja Patih Ragas tak membuat tameng pelindung, mungkin Wulan sudah tewas.
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengevakuasi para korban menuju sebuah tempat yang tidak jauh dari medan pertempuran.
“Dimana Lembah!” seru Wanapati menyadari Layung Semirat dan Barani tertunduk lesu.
“Aku tak menemukannya!” sahut Layung Semirat.
Di sisi lain, jauh di belakang istana.
“Lembah! Lembah!” suara berat Ni Luh mencari keberadaan Lembah Manah.
Lembah Manah yang mendengar suara Ni Luh, perlahan membuka matanya. Hanya gelap yang dilihat pemuda itu. Lembah Manah berusaha menyingkirkan puing reruntuhan istana yang menimpa tubuhnya.
“Ni Luh! Apa kau baik-baik saja Ni Luh!” sahut Lembah Manah yang berhasil menyingkirkan puing istana dan tertatih-tatih mendekati Ni Luh.
Darah telah mengering di sekitar tubuh Ni Luh, menandakan gadis itu telah menderita cukup lama. Sebuah puing reruntuhan menimpa bagian perut ke bawah yang membuat gadis itu tak bisa bergerak.
“Aku akan menyelamatkanmu!” ucap Lembah Manah mencoba untuk menyingkirkan puing itu.
“Percuma Lembah. Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi!” jawab Ni Luh seraya mengusap wajah Lembah Manah.
Lembah Manah teringat kejadian sebelum mereka tertimpa puing reruntuhan istana itu. Pemuda itu hendak membawa Ni Luh pergi ke tempat yang lebih aman, tetapi waktu sangat tidak memungkinkan karena serangan bola energi melesat begitu cepat.
Ni Luh mendorong tubuh Lembah Manah dan membuat gadis itu menerima serangan bola energi dari Ki Badra. Sementara Lembah Manah terlempar ke belakang dan juga menerima serangan itu, tetapi tak separah Ni Luh. Mereka berdua terdorong oleh serangan itu hingga sisi belakang istana.
“Sial! Sial!” umpat Lembah Manah dengan sisa-sisa tenaganya hendak membongkar reruntuhan bangunan istana yang terbuat dari beton.
Baru kali ini Lembah Manah merasakan kesedihan yang begitu dalam. Pemuda itu menyapukan pandangan di sekitarnya dan hendak mencari pertolongan. Namun, Ni Luh menahannya dengan meraih pergelangan tangan pemuda itu.
“Lembah! Aku sangat mencintaimu!” ucap Ni Luh lirih. “Apa kau juga mencintaiku?”
__ADS_1
Dengan berani Ni Luh mengungkapkan perasaan yang telah dipendamnya selama ini.
Seluruh tubuh Lembah Manah terasa lemas, dadanya semakin sesak untuk bernapas, air mata perlahan mengalir dari sudut matanya yang membuat pemuda itu semakin sulit untuk bernapas.
“Aku selalu merasa tenang jika berada disisimu!” sahut Lembah Manah memandangi wajah Ni Luh. “Jika aku harus mati, aku ingin mati bersamamu!”
“Bodoh!” ucap Ni Luh dengan napasnya terengah-engah dan tersenyum membelai rambut Lembah Manah. “Maukah kau memelukku?”
“Aku sangat mencintaimu Ni Luh!” sahut Lembah Manah memeluk tubuh Ni Luh dengan memejamkan matanya.
Ni Luh menyambut pelukan Lembah Manah. Sesuatu yang tak ingin mereka lakukan, tetapi terjadi begitu saja atas dasar cinta.
Keduanya menikmati saat-saat yang mungkin akan menjadi saat yang terakhir untuk Ni Luh. Ini adalah pelukan pertama dalam hidupnya dan mungkin menjadi pelukan terakhir dari Ni Luh kepada seorang pemuda yang sangat dicintainya.
Cukup lama mereka berpelukan.
Dalam bayangannya di masa lalu, sewaktu kecil Ni Luh selalu dekat Lembah Manah. Lembah Manah juga sering membantu jika Ni Luh mendapat kesulitan. Hingga mereka dewasa, tumbuhlah benih cinta di hati Ni Luh.
Lembah Manah melepaskan pelukannya ketika menyadari pelukan Ni Luh yang mulai melemah. Diletakkan jari kanannya tepat di depan hidung Ni Luh. Lalu memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan kanan Ni Luh.
“Ni Luh!” teriak Lembah Manah yang sesaat kemudian pemuda itu kehilangan kesadaran dan perlahan menutup kedua matanya.
Demi cintanya yang besar kepada pemuda pujaan hatinya, Ni Luh rela mempertaruhkan nyawanya untuk Lembah Manah. Ni Luh telah meninggalkan orang yang dicintainya. Ni Luh telah meninggalkan pemuda yang selama ini mewarnai hidupnya.
***
Wanapati, Jayadipa dan Nata hanya terpaku memandangi tubuh Ni Luh yang dibawa oleh Layung Semirat. Ketiga pemuda itu hanya bisa menangis meratapi kepergian salah satu temannya yang mungkin telah dianggap sebagai keluarga. Sementara yang lain tengah memeriksa keadaan Lembah Manah.
Mungkin pemuda itu tidak mengalami luka yang cukup parah, tetapi jiwanya akan terguncang setelah menerima kenyataan bahwa Ni Luh telah tiada.
Hari itu juga, semua diterpa kesedihan. Orang-orang yang mereka cintai, sebagian telah berpulang.
__ADS_1
Raja Perwita Agung pun juga tak bisa menghindari serangan Ki Badra. Meski Eyang Balakosa telah membuat perisai pelindung, tetapi kakek tua itu hanya bisa sedikit mengurangi tekanan yang diterima, bukan berarti bisa menahan gempuran serangan.
Patih Sobo Lepen memberikan masa berkabung selama tujuh hari ke depan. Untuk menghormati mereka yang gugur dalam pertempuran.
***
Beberapa hari berlalu setelah penyerangan Pertandingan Besar, Lembah Manah tampak masih saja berdiam diri pada sebuah makam yang tidak jauh dari perguruannya.
Itu adalah makam Ni Luh yang dimakamkan di samping makam kedua orang tuanya. Pemuda itu menangis dengan tatapan kosong, masih belum bisa menerima apa yang baru saja terjadi.
“Tabib Lee, bagaimana keadaan Lembah Manah!” seru Ki Tunggul yang duduk di gubuk dekat pintu masuk perguruan. “Setelah kepergian Ni Luh, anak itu hanya berdiam diri, bahkan dia belum makan selama tujuh hari!”
“Aku tak tahu mengenai dirinya!” jawab Tabib Lee mengelus berewoknya. “Tapi yang pasti, hatinya masih sangat terluka!”
“Apakah ini akan mengganggu kejiwaannya, Tabib!” ucap Wanapati khawatir.
“Itu tergantung kemauan Lembah sendiri dan orang-orang yang mendukungnya!” tutup Tabib Lee.
Bukan hanya Lembah Manah saja yang merasa kehilangan, seluruh perguruan juga merasa demikian. Bahkan Ki Tunggul sudah menganggap Ni Luh sebagai putrinya sendiri, karena Ni Luh satu-satunya perempuan di Perguruan Jiwa Suci.
Hari-hari berlalu, kesedihan masih menyelimuti perguruan. Setiap pagi hingga sore, Lembah Manah masih tetap saja terpaku di depan makam Ni Luh. Pemuda itu tampak kurus dengan rambut yang mulai panjang menjadi kusut, wajahnya tampak buruk.
“Ni Luh akan bersedih jika melihatmu seperti ini!” ucap seorang pemuda di belakang Lembah Manah. “Jangan sia-siakan pengorbanannya hanya untuk meratapi kepergiannya!”
Wanapati bersama Jayadipa dan Nata memberanikan diri untuk mendekati dan mencoba membujuk Lembah Manah. Mereka bertiga sangat prihatin melihat keadaan temannya.
Tanpa mereka duga, Lembah Manah menghentikan tangisnya. Perlahan pemuda itu bangkit dan memeluk Wanapati.
“Maafkan aku!” seru Lembah Manah sesaat setelah menyadari keterpurukannya.
Itu adalah sepatah kata yang keluar sejak kepergian Ni Luh. Ya, Lembah Manah tak berbicara apa pun setelah kejadian itu dan tak ada yang berani mendekati pemuda itu.
__ADS_1
“Setiap hari Ni Luh bercerita padaku bahwa dia sangat mencintaimu!” seru Jayadipa yang membuat Lembah Manah terdiam. “Tapi apa yang terjadi. Dia mengorbankan nyawanya untuk orang yang sangat dicintainya. Apa kau mau seperti ini terus, Lembah!”