KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Rumah Pembuatan Arak


__ADS_3

Suasana desa tampak sepi, tak seperti Desa Kabangun yang ramai warga melakukan aktivitasnya. Namun, Lembah Manah tak memedulikan hal itu, pemuda itu memantapkan langkahnya menyusuri jalan tanah berbatu.


Akhirnya Lembah Manah menemukan rumah dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan Kadaka. Ada dua kolam ikan di depan rumah dan juga ditumbuhi bunga teratai berwarna putih. Pada awalnya, pemuda itu mengendap-endap karena melihat pintu yang tertutup rapat.


Dengan mengendap-endap, Lembah Manah membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Baru saja tiga langkah memasuki ruang depan, pemuda itu dikejutkan dengan sebuah lemparan belati berwarna merah yang melesat ke arahnya.


Dengan mudah Lembah Manah menghindar, melompat dan berguling ke samping kanan. Belum juga menguasai tubuhnya, beberapa belati melesat ke arahnya tanpa terlihat siapa pemilik dan pelempar senjata itu.


Dengan gesit Lembah Manah menghindari setiap lesatan senjata pendek itu, karena di dalam rumah tampak kosong tanpa adanya perabotan membuat pemuda itu mudah bergerak.


“Kampret!” lirihnya sembari bersembunyi dari balik meja yang dimiringkan.


Pada satu kesempatan, pemuda itu melihat sekelebat bayangan hitam bergerak menjauh dari ruangan bagian dalam. Lembah Manah mengejar sosok hitam itu yang sepertinya hendak meninggalkan rumah Kadaka.


“Tidak semudah itu!” ucapnya sembari menggunakan Gerbang Kehidupan aktivasi tingkat Madyo.


Lembah Manah melesat dengan memanfaatkan dinding papan rumah sebagai alas pijakan. Dengan sekali hentakan kaki kanannya, pemuda itu berhasil menyusul sosok hitam yang menyerangnya dengan belati berwarna merah.


Pertarungan tak terhindarkan, sosok hitam itu memakai cadar penutup muka dan baju terusan yang menutup kepalanya. Lembah Manah hanya menghindari tebasan lawannya yang bersenjatakan belati berwarna merah.


Cukup gesit pemuda itu dalam melakukan pertarungan jarak dekat. Hingga pada satu kesempatan, Lembah Manah berhasil menggenggam tangan sosok hitam itu yang membawa belati pada tangan kanannya.


Dipuntirnya tangan itu ke belakang hingga terdengar suara ‘krak’, yang membuat lawannya meringis kesakitan dan melepaskan belati dalam genggamannya.


“Apakah dengan cara ini, pendekar aliran putih menggali informasi dari lawannya?” ucap pria yang memakai pakaian hitam itu berlutut di depan Lembah Manah.

__ADS_1


“Aku tak peduli apa pun caranya. Yang jelas, aku harus mendapat informasi darimu!” sahut Lembah Manah.


Semula, pria berpakaian hitam itu tak mau memberi informasi kepada Lembah Manah dan diancam akan dibunuh oleh pemuda itu. Namun, dengan sedikit merobek urat pergelangan tangan kiri dengan belati lawannya, akhirnya pria berpakaian hitam itu membuka mulutnya.


“Ba–baiklah akan kuberitahu!” ucap pria berpakaian hitam itu dengan nada bergetar. “Tapi aku mohon lepaskan aku!”


Sosok hitam itu mengatakan bahwa, kedua adik Kadaka telah dibawa oleh Panji Giri ke kompleks rumah pembuatan arak yang baru saja dibuatnya bersama Kelompok Belati Merah. Dan ibunya, melarikan diri ke ibukota kadipaten tanpa ada yang tahu kabarnya.


Lembah Manah mengikat tawanannya pada sebuah tiang soko guru tepat di dalam rumah Kadaka yang telah kosong. Dengan mulut tersumpal kain sobekan bergambar tombak berwarna putih, pemuda itu meninggalkan tawanannya begitu saja.


“Jika kau beruntung, akan ada warga yang berbaik hati menolongmu!” seru Lembah Manah keluar dari pintu rumah Kadaka. “Tapi jika kau tak memperbaiki kelakuanmu, kau akan tahu sendiri bukan?”


Sore hari, Lembah Manah bergegas menuju kompleks rumah pembuatan arak yang baru saja dibuat oleh Panji Giri bersama Kelompok Belati Merah. Menurut keterangan dari tawanannya di dalam rumah Kadaka, kompleks itu berada diujung selatan desa, dengan rumah yang paling besar sebagai pusatnya.


Cukup lama pemuda itu bergerak ke arah selatan, menyusuri tepian desa dan melewati rumah-rumah warga. Hingga menemukan beberapa bangunan yang sepertinya baru saja selesai digarap, dengan ujung selatan bangunan paling besar yang mungkin itu adalah pusat kompleks tersebut.


Kompleks pembuatan arak itu juga belum terlihat menggeliat, mungkin dikarenakan masih sore hari, jadi belum banyak yang membuka pintu-pintu kompleks itu.


Pada bagian paling depan, ada semacam kedai sebagai tempat menjajakan arak yang sudah jadi dan siap konsumsi.


Perlu diketahui, kompleks pembuatan arak itu berproduksi pada malam hari. Dan itu adalah rencana awal Panji Giri bersama Kelompok Belati merah untuk menguasai Kadipaten Kabaman dan mengambil alih kepemimpinan.


Lalu, menghancurkan Perguruan Tombak Putih, bersama kekuatan yang dihimpunnya dari para pendekar aliran hitam yang berkunjung ke kompleks miliknya.


Hingga malam tiba, kompleks itu mulai ada kehidupan, pintu-pintu terbuka dengan lampu pelita dan obor yang tertanam di teras bangunan. Banyak pemuda-pemuda seusia Lembah Manah yang menjadi pekerja paksa kompleks pembuatan arak tersebut.

__ADS_1


Dengan upah minim, mereka dipaksa untuk bekerja pada malam hari hingga pagi menjelang. Bahkan, jika sedikit melakukan kesalahan, para pemuda itu tak mendapatkan upah dan disiksa dengan cara dicambuk.


Tampak seorang pemuda yang sangat dikenal oleh Lembah Manah memasuki bangunan paling besar bersama seorang pria yang berusia sekitar tiga puluhan tahun dengan belati berwarna merah terselip pada pinggang kirinya. Dialah Panji Giri, bersama ketua Kelompok Belati Merah.


Lembah Manah mendekati bangunan paling besar itu dengan cara berpindah dari atap bangunan yang satu, ke atap bangunan yang lainnya dan tentu saja menekan aktivasi ilmu kanuragannya pada tingkat terendah, agar tak terdeteksi targetnya.


Hingga sampai pada atap bangunan paling besar, pemuda itu sedikit membenamkan tubuhnya pada sebuah hiasan atap bangunan berbentuk ayam jago.


Tak ada yang menyadari kedatangan pemuda itu, dan langsung mengintip keadaan di dalam bangunan melalui salah satu jendela yang terbuka.


“Kalian harus cepat bekerja!” seru salah satu pendekar aliran hitam bawahan Panji Giri.


“Hoi, kau yang berbaju hitam, jangan bermalas-malasan!” sahut bawahan Panji Giri yang lainnya memperingatkan para pekerjanya.


Para pendekar aliran hitam itu mengawasi pemuda yang direkrut untuk pembuatan arak. Tanpa ada kesejahteraan sedikit pun dari para pekerja itu, mereka tampak kurus dengan kantung mata yang menghitam.


Tak lama berselang, Lembah Manah melihat dua orang pemuda yang wajahnya sangat mirip dengan Kadaka. Dua pemuda itu mendapat lecutan cambuk dari para bawahan Panji Giri yang bertindak sebagai mandor pengawas pekerjaan.


“Jadi dua pemuda ini adalah adik dari Kadaka!” seru ketua Belati Merah dengan senyum di bibirnya. “Masukkan mereka ke penjara bangunan bagian belakang!”


Ketua Belati Merah itu menatap ke arah Panji Giri dan berkata, “Panji Giri! Ayo kembali ke pondokan depan!”


Panji Giri dan ketua Kelompok Belati Merah berlalu begitu saja menuju kedai tempat pemasaran arak yang siap konsumsi. Mereka hendak bersenang-senang bersama para antek-anteknya.


Tanpa mereka sadari, tiba-tiba Lembah Manah mengambil belati merah dari saku bajunya bagian dalam yang direbutnya dari salah satu anggota kelompok itu ketika di rumah Kadaka.

__ADS_1


Lembah Manah melemparkan belati itu ke arah salah satu pendekar aliran hitam yang menjadi pengawas dua adik Kadaka, tepat mengenai bahu kiri pendekar aliran hitam itu.


“Hoi! Siapa yang berani melukai ketua kami!” seru salah satu bawahan pendekar aliran hitam itu.


__ADS_2