KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perjalanan


__ADS_3

“Sati, apa rumah kamu masih jauh?” tanya Lembah Manah memecah keheningan.


“Itu kak, pertigaan belok ke kanan,” jawab Sati.


Setelah sampai pada pertigaan yang Sati maksud, mereka belok ke kanan. Sati berlari meninggalkan Lembah Manah, anak itu memeluk ibunya yang tengah duduk di depan rumah dengan air mata di pipinya.


“Ibu, ini Sati Bu, Sati pulang, maafkan Sati yang tidak mematuhi kata-kata ibu. Sati berjanji akan selalu menurut sama ibu!” Sati menangis memeluk ibunya yang tertunduk.


“Ini kamu Sati, ini benar Sati anak ibu?” ucap seorang perempuan yang kira-kira berumur lima puluhan tahun dan masih tidak percaya akan kepulangan anak kesayangannya. “Syukurlah nak, kamu pulang dengan selamat!”


“Iya Bu, Sati dibawa Lampor Bu, karena tidak menuruti kata ibu,” ucap Sati menyesal. “Untung ada kak Lembah yang menyelamatkan Sati Bu!”


“Benarkah? Sekarang di mana kak Lembah itu?” tanya ibunya pada Sati.


Lembah Manah yang tengah ditinggal Sati berlari, lalu berjalan ke halaman rumah Sati dan terhenti sejenak.


“Kak Lembah, sini kak!” teriak Sati sembari melambaikan tangannya.


Lembah Manah mendekat dan berdiri di depan Sati dan ibunya lalu mengulurkan tangan kanannya untuk memperkenalkan diri.


“Emm, bibi, saya Lembah, Lembah Manah!”


“Oh, jadi ini nak Lembah Manah, saya Suci, ibunya Sati,” seru ibunya Sati mengulurkan tangan kanannya.


Mereka bertiga masuk menuju ruang makan untuk menikmati hidangan siang. Sati tampak senang telah kembali ke rumahnya, anak itu tak menyangka jika bermain saat hari menjelang petang, itu sangat berbahaya baginya.


Setelah kejadian kemarin, Sati berjanji akan menjaga dan menuruti perintah ibunya karena memang ayah Sati telah meninggal saat desa di landa banjir.


Saking asyiknya mereka bercerita, tanpa sadar hari hampir sore. Ibu Suci menawari Lembah Manah untuk menginap dirumahnya, atau tinggal beberapa hari lagi untuk sekadar beristirahat.


Lembah Manah yang tak enak hati, akhirnya menuruti permintaan Ibu Suci untuk tinggal dirumahnya selama beberapa hari. Selain mengajari Sati sedikit ilmu kanuragan dasar, Lembah Manah juga menasihati Sati untuk selalu berbuat baik pada sesama.


Selang beberapa hari, Lembah Manah hendak melanjutkan perjalanan menuju kerajaan.


“Bibi Suci, emm, Lembah mohon pamit, Lembah hendak pergi ke kerajaan untuk mengikuti pertandingan!”


 “Terima kasih ya nak Lembah, rumah kami akan selalu terbuka untuk nak Lembah. Kami akan menyaksikan nak Lembah dalam pertandingan!” sahut Ibu Suci.

__ADS_1


“Emm, Lembah mohon pamit bibi, Sati!” Pemuda itu melangkah meninggalkan rumah Sati dengan melambaikan tangannya.


“Terima kasih kak Lembah!” sahut Sati membalas lambaian tangan Lembah Manah.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Lembah Manah melanjutkan perjalanan menuju pusat kerajaan untuk mengikuti pertandingan antar pendekar muda.


Pemuda itu harus berjalan ke barat, meski bergerak pelan, tetapi Lembah Manah tidak akan berhenti dan terus melangkah.


***


Sementara itu, Wanapati, Jayadipa dan Ni Luh mulai bergerak ke arah barat. Mereka singgah di pusat kadipaten setelah dua hari berjalan tanpa beristirahat.


Mereka terkagum melihat keindahan pusat kadipaten yang ramai orang, maklum saja mereka belum pernah mengunjungi Pusat Kadipaten Purwaraja. Kalaupun pernah, itu hanya sekadar melintas karena ada misi lain.


Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka mencari penginapan terlebih dahulu, karena hari menjelang petang.


Setelah tiga kali keluar masuk penginapan—karena selalu penuh, akhirnya Wanapati melihat sebuah penginapan yang tidak terlalu besar tetapi tampak nyaman. Pemuda itu mengajak kedua temannya menuju penginapan tersebut.


“Selamat sore tuan muda, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pria yang menyambut kedatangan mereka.


“Untuk tuan muda seperti Anda, kami masih menyediakan kamar untuk Anda,” ucap pria penjaga penginapan.


“Berapa harga sewanya paman?” tanya Wanapati.


“Satu malam untuk tiga orang, enam keping koin emas sudah mendapat semua fasilitas tuan,” jawab penjaga penginapan itu lagi.


“Baiklah, kami memesan untuk satu malam paman,” sahut Wanapati sembari menyerahkan biaya sewa penginapan.


Mereka bertiga diantar oleh sang penjaga penginapan menuju kamar mereka.


“Untuk penginapan sekelas penginapan ini, harga sewanya cukup murah juga ketimbang beberapa penginapan yang sudah kita datangi,” ucap Wanapati pada kedua temannya.


“Iya, kau benar Wanapati, meski sederhana setidaknya kita bisa beristirahat untuk malam ini,” sahut Jayadipa. Sedangkan Ni Luh hanya tersenyum mendengar pembicaraan kedua temannya.


Untuk mengisi waktu luang, mereka berjalan-jalan di sekitar penginapan. Melihat-lihat kemegahan di setiap sudut rumah-rumah mewah milik petinggi kadipaten.


Terkadang, mereka juga bertemu dengan beberapa murid dari perguruan lain yang juga hendak menuju pusat kerajaan.

__ADS_1


***


Di sebelah barat Desa Kedhung Kayang, ada sebuah desa yang bernama Seribu Embun. Desa yang masih dalam wilayah Kadipaten Purwaraja.


Terlihat beberapa nelayan tengah menyandarkan perahunya pada dermaga di tepi danau yang sangat luas. Mereka kesal, karena beberapa hari ini tangkapan ikan tak sesuai harapan.


“Kalau begini terus, istri dan anak kita mau makan apa!” seru salah satu nelayan yang duduk di atas perahunya.


“Kenapa siluman air itu memburu ikan tangkapan kita?” sahut nelayan yang lainnya yang juga masih duduk di atas perahunya, berdekatan dengan nelayan yang sebelumnya.


“Bahkan kemarin malam, perahu milik Saruti di serang siluman air itu!” timpal nelayan yang lainnya lagi.


Beberapa hari terakhir ini beredar rumor tentang keberadaan siluman air yang menghuni Danau Wadas, danau yang menjadi sumber penghasilan penduduk Desa Seribu Embun.


Belum jelas seperti apa wujud siluman air itu, karena hanya menyerang pada waktu malam hari. Siluman air itu memangsa ikan-ikan yang menjadi buruan para nelayan desa. Bahkan, siluman itu berani melawan salah satu nelayan dan menghancurkan perahu milik nelayan itu.


Menurut penuturan salah satu warga desa, kedatangan siluman air ditandai dengan air danau yang bergelombang, lalu muncul gelembung dari dalam air dan seketika semua hancur begitu saja oleh ombak yang besar.


Tak hanya satu perahu saja yang pernah menjadi korban keganasan siluman air itu, tetapi sudah banyak nelayan yang mengeluhkan tentang makhluk itu.


Mereka juga telah melapor kepada kepala desa, meski pihak desa telah mengerahkan beberapa pendekar sewaan untuk memburu siluman itu, tetapi tidak ada yang mampu menghentikan siluman tersebut.


***


Sudah dua hari Lembah Manah berjalan ke arah barat. Sesekali pemuda itu beristirahat pada sebuah gubuk, atau menumpang pada rumah salah satu penduduk yang dilewatinya.


Jika ingin makan, Lembah Manah tak perlu khawatir, cukup pergi ke sungai terdekat dan menangkap ikan sudah cukup untuk mengganjal perutnya.


Hingga sampai pada sebuah danau besar dengan air sangat jernih, Lembah Manah beristirahat dan duduk di bawah pohon mahoni besar. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan, sembari melihat sekeliling danau itu.


“Aneh! Kenapa para nelayan itu tidak pergi mencari ikan!” lirihnya sembari memperhatikan beberapa nelayan tengah duduk di dermaga.


Lembah Manah mencoba mendekati sekumpulan nelayan itu—mencoba untuk mencari tahu penyebab mereka menyandarkan perahu dan tidak mencari ikan.


“Selamat siang paman!” sapa Lembah Manah mendekati sekumpulan nelayan itu. “Kenapa paman ini tidak mencari ikan?”


“Saudara ini siapa?” jawab salah seorang nelayan yang duduk paling dekat dengan tepi danau.

__ADS_1


__ADS_2