KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Keraton Agung Sejagat (2)


__ADS_3

Tampak Eyang Balakosa tengah mengawasi para muridnya uji tanding.


“Kalian, lanjutkan latihannya!” sahut Eyang Balakosa kepada muridnya. “Lembah! Ada perlu apa kau mengunjungi perguruan kami!”


“Begini Eyang!” ucap Lembah Manah setelah dipersilakan duduk di gubuk sebelah pelataran halaman perguruan. “Emm, apakah Eyang pernah mendengar tentang Keraton Agung Sejagat?”


“Apa! Keraton Agung Sejagat!” Eyang Balakosa membelalakkan matanya. “Sewaktu pertandingan di kerajaan, mereka beraksi di beberapa wilayah desa ini. Apakah mereka membuat ulah lagi?”


Lembah Manah menceritakan semua seperti apa yang ada di dalam gulungan dari Tatar Pakujiwo, tentang sepak terjang kerajaan baru itu.


Mendengar cerita Lembah Manah, Eyang Balakosa juga sependapat dengan pemuda itu. Menurut pemimpin Perguruan Pedang Putih itu, Kerajaan Indra Pura memang sedang mengalami penurunan dari segi kekuatan maupun perekonomian. Itu akibat ulah kedua putranya yang saling berebut untuk menjadi raja.


“Aku mendengar dari beberapa warga, Keraton Agung Sejagat berada di Pulau Menjangan!” seru Eyang Balakosa mengelus jenggotnya.


“Emm, Pulau Menjangan ya!” sahut Lembah Manah menganggukkan kepalanya.


Pulau Menjangan adalah sebuah pulau yang berpenduduk sekitar seratus orang saja, mereka bekerja sebagai nelayan, karena di pulau ini kurang subur untuk ditanami tumbuhan pangan.


Lokasi pulau ini di sebelah utara Desa Kedhung Wuni, dengan jarak hanya dua kilometer dari bibir pantai.


“Baiklah Eyang! Terima kasih! Informasi ini sangat penting bagi kami. Lembah mohon undur diri!” Sahut pemuda itu.


Eyang Balakosa juga memberitahukan bahwa, Tiga Bunga Bersaudara, Araka dan Sekar tengah mencari keberadaan Keraton Agung Sejagat. Sudah beberapa hari mereka meninggalkan perguruan untuk menuju Dermaga Bemini.


Lembah Manah undur diri dan bergegas pulang ke perguruannya. Dalam perjalanan pulang, ketika sampai di batas desa—tepatnya di Sungai Putih. Tanpa sengaja Lembah Manah bertemu rombongan Patih Ragas yang bergerak menuju perguruannya.


Patih Ragas bersama tim kecil yang dibuat oleh Raja Brahma berjumlah lima orang. Dan salah satu dari rombongan itu adalah, tentu saja Tuan Putri Wulan.


“Huh! Kenapa gadis ini malah ikut!” umpat Lembah Manah lirih.


“Patih Ragas!” seru Lembah Manah dari belakang rombongan Patih Ragas.


“Hei Lembah! Kenapa kau bisa di sini?” sahut Patih Ragas.

__ADS_1


“Emm, aku baru saja mengunjungi Perguruan Pedang Putih!” jawab Lembah Manah. “Dan menerima informasi bahwa markas Keraton Agung Sejagat berada di Pulau Menjangan!”


“Apa! Pulau Menjangan!”


Lembah Manah menjelaskan informasi yang didapat dari Eyang Balakosa dan berencana untuk langsung bergerak menuju Pulau Menjangan. Pemuda itu meminta Patih Ragas untuk melapor ke perguruan bersama rombongannya dan segera menyusulnya.


“Patih! Aku akan langsung menuju Dermaga Bemini! Tolong segera menyusul dengan rombongan perguruan!” seru Lembah Manah hendak bergegas.


“Apa! Kenapa kau tidak pulang dulu Lembah!” sahut Patih Ragas menanggapi keputusan Lembah Manah.


“Akan terlalu lama, Patih!” kilah Lembah Manah. “Aku takut kelompok ini segera berpindah markas karena kemungkinan keberadaan mereka telah diketahui!”


“Hmm, baiklah! Aku akan segera menyusul!” tutup Patih Ragas.


Namun, Wulan bersikeras untuk ikut bersama Lembah Manah. Dan setelah berdiskusi beberapa saat, akhirnya Lembah Manah mengizinkan Wulan untuk ikut bersamanya. Sedangkan Patih Ragas menuju perguruan bersama tiga bawahannya.


Pemuda itu memisahkan diri dari rombongan Patih Ragas dan berjalan meninggalkan Wulan yang membuat gadis itu semakin kesal.


Gila! Putri Wulan adalah gadis yang sangat cantik dan sekaligus putri dari Raja Brahma. Bagaimana bisa pemuda konyol itu mengacuhkannya begitu saja?


Setelah memasuki Desa Kedhung Wuni, Lembah Manah bergerak ke arah utara. Sementara Wulan masih saja mengekor di belakang pemuda itu. Meski dengan memasang wajah kesal, tetapi tuan putri itu masih penasaran dengan Lembah Manah.


Perlahan mereka memasuki pusat desa yang mulai ramai lalu-lalang penduduk melakukan aktivitasnya.


Dermaga Bemini? Tentu saja pemuda itu pernah mendengar tentang keberadaan dermaga itu. Dengan mengandalkan warga yang ditemui di perjalanan, Lembah Manah mencoba mencari dimana dermaga itu berada.


“Jadi, kau benar-benar ingin ke Pulau Menjangan?” ucap Wulan masih saja mengekor di belakang Lembah Manah. “Aku tidak yakin jika hanya kita berdua saja. Apa sebaiknya kita pulang ke perguruan?”


Lembah Manah berhenti melangkah, pemuda itu mendongakkan kepalanya ke atas dan mengumpat tak jelas, “sial! Kenapa gadis ini selalu mengikutiku, sudah cerewet lagi, huh! Dasar perempuan!”


“Hei! Aku ini bertanya padamu, Lembah!” seru Wulan dengan nada sedikit keras.


“Ya! Aku akan pergi ke Pulau Menjangan!” jawab Lembah Manah sekenanya.

__ADS_1


“Kalau begitu, aku akan ikut!” ucap Wulan tersenyum.


“Emm, tuan putri yang cerewet, mengapa masih saja mengikutiku? Lebih baik tuan putri kembali ke istana. Katakan kepada raja, kalau Keraton Agung Sejagat berada di Pulau Menjangan!” gerutu Lembah Manah.


“Tidak mau! Aku akan tetap ikut. Kalau tidak, aku akan berteriak kalau kau pemuda mesum yang melecehkanku!” ancam Wulan.


“Jangan, hei, jangan. Aku mohon, jangan lakukan itu!” Lembah Manah gemetaran dan menoleh ke sekitarnya yang ramai warga. “Baiklah! Tuan putri boleh ikut!”


Kembali mereka berdua melangkahkan kakinya, masih di dalam keramaian warga yang melakukan aktivitasnya. Lembah Manah berjalan di depan, sementara Wulan mengekor agak jauh karena tertinggal di belakang pemuda itu dengan wajah cemberut. Lalu gadis itu tiba-tiba tersenyum sendiri.


“Apa kau tahu dimana letak Dermaga Bemini?” ucap Wulan dengan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.


Lembah Manah berhenti melangkah, berbalik badan ke arah Wulan lalu berkata, “emm, tentu saja aku tahu. Ya walaupun bertanya kepada warga!”


“Tidak perlu bertanya dengan warga!” sahut Wulan meletakkan kedua tangan pada pinggul kanan dan kirinya. “Aku sering ikut ayahku saat meninjau perbatasan. Tentu saja aku tahu semuanya!”


“Hehehe, baiklah tuan putri boleh ikut!” ucap Lembah Manah menggaruk kepalanya. “Dan tuan putri akan menjadi penunjuk jalan!” lanjut pemuda itu melangkah dengan pasti meninggalkan Wulan.


“Tunggu! Hoi dasar Kacung Kampret!” protes Wulan.


Beberapa saat kemudian, mereka telah keluar dari pusat desa. Wulan bergerak dengan meringankan tubuh, berpindah dari satu dahan pohon ke dahan pohon yang lainnya seakan menunjukkan kehebatannya di depan Lembah Manah.


“Hei! Kau ini sangat lambat?” seru Wulan menjauh dari Lembah Manah.


Lembah Manah memutuskan untuk memperlambat gerakannya, karena pemuda itu ingin menghemat tenaga. Mereka berdua bergerak dengan kecepatan sedang, sesekali melewati jalan tanah berbatu, lalu mendapati hamparan padang rumput dengan diselingi semak belukar.


Sepertinya Wulan mulai kehabisan tenaga dalam, terlihat dari napasnya yang terengah-engah. Tuan putri itu sampai di hamparan rumput itu terlebih dahulu dan beristirahat sejenak, agar staminanya pulih.


Mendapati Lembah Manah telah berdiri di belakangnya, Wulan berlagak kuat dan berkata, “kau ini lambat!”


“Tuan putri! Minumlah! Anu, ini adalah ramuan pemulihan tubuh!” sahut Lembah Manah tahu jika Wulan memaksakan tubuhnya.


“Aku tidak membutuhkan itu!” ucap Wulan berlagak sok kuat. “Kau sendiri saja yang minum!”

__ADS_1


‘Awas kalau kau kehabisan tenaga dalam!’ gumam Lembah Manah dalam hatinya.


__ADS_2