
Tak ada jawaban dari semua penghuni kompleks itu. Mereka saling pandang pada teman yang lainnya dan hanya menggelengkan kepalanya.
Pendekar aliran hitam yang terkena lemparan Lembah Manah meringis kesakitan. Darah keluar dari lukanya, yang membuat pendekar aliran hitam itu jatuh tersungkur. Sedangkan para pekerja pembuat arak, lari berhamburan ke arah ruangan belakang.
“Kakak, sepertinya salah satu dari mereka mencoba melukai ketua!” sahut pendekar aliran hitam lainnya yang dekat dengan pengawas pekerjaan yang terluka sembari menunjuk ke arah sekumpulan Kelompok Belati Merah. “Coba kakak perhatikan belati ini!”
“Kurang ajar! Jadi kalian mengajak ribut dengan kami!” geram bawahan pendekar aliran hitam itu sesaat setelah melihat gagang belati yang tertancap pada bahu kiri ketuanya berwarna merah.
“Bukan kami pelakunya!” sahut salah satu anggota Belati Merah. “Seenaknya saja kalian menuduh kami!”
Ada dua kubu di dalam kompleks pembuatan arak ini. Yang pertama para aliran hitam yang direkrut oleh Panji Giri secara langsung. Dan yang kedua, adalah para anggota Kelompok Belati Merah.
Keributan pun terjadi antara anggota Kelompok Belati Merah melawan para pendekar aliran hitam yang bertugas menjadi pengawas pekerjaan pembuatan arak. Sementara para pemuda pekerja paksa, memilih keluar dari bangunan itu dan melarikan diri.
Salah satu pendekar aliran hitam itu melompat ke atas meja tempat dimana guci arak ditata rapi dan melesat ke arah sekumpulan anggota Belati Merah dengan satu tebasan pedangnya. Para anggota Belati Merah berhamburan tak tentu arah menghindari satu serangan.
Beberapa anggota Belati Merah memilih diam saja dan hanya menonton pertarungan salah satu anggotanya melawan satu pendekar aliran hitam pengawas pekerjaan. Meja dan kursi berhamburan, guci dan cawan tempat arak pecah di berbagai tempat, karena pertarungan itu.
Sementara itu di kedai depan, Panji Giri yang tengah menikmati arak terbaiknya, terpaksa menghentikan aksinya. Dengan wajah yang sudah merah karena mabuk, pemuda itu memeriksa pada kompleks bangunan produksi yang tengah terjadi keributan.
Tak hanya Panji Giri, Ketua Kelompok Belati Merah juga melakukan hal serupa. Belum sempat pria itu menikmati arak terbaiknya, dirinya mengikuti Panji Giri menuju bangunan kompleks belakang.
Hingga salah satu pendekar aliran hitam itu terpojok dan hampir tertusuk belati milik anggota Belati Merah, tiba-tiba Panji Giri menghentikan keduanya.
“Hentikan! Apa yang kalian lakukan!” bentak Panji Giri diikuti dengan kedua para bawahannya itu menghentikan pertarungannya.
Pada saat yang bersamaan, Lembah Manah tersenyum kecil dan melesat ke penjara bagian belakang yang menyekap dua adik Kadaka. Dengan meletakkan jari pada bibirnya, pemuda itu mengisyaratkan adik Kadaka menenangkan dirinya.
“Ayo pergi dari tempat ini!” lirih Lembah Manah sesaat setelah membuka pintu penjara dengan Gerbang Kehidupan. “Jangan takut, aku adalah sahabat Tetua Kadaka!”
__ADS_1
Tanpa menunggu lama lagi, Lembah Manah menyambar tubuh adik Kadaka yang lemah tak berdaya karena luka cambuk di sekujur tubuhnya. Dan dalam sekali hentakan kaki kanannya, pemuda itu melompat ke atap bangunan kompleks pembuatan arak, lalu kabur dari tempat itu.
Adik Kadaka itu tersadar dari lamunannya ketika Lembah Manah menurunkan tubuhnya di bawah pohon mahoni besar, tempat dimana pemuda itu mengawasi kompleks pembuatan arak milik Panji Giri.
“Tunggulah di sini. Aku akan menjemput saudaramu yang masih di dalam penjara bangunan belakang!” seru Lembah Manah dan berlalu dari pandangan pemuda adik Kadaka.
Pemuda itu masih terpaku menahan perih sembari memandang punggung Lembah Manah yang perlahan menghilang dari hadapannya. Dan lagi-lagi, dia kembali tersadar dari lamunannya, ketika Lembah Manah telah berhasil membawa pemuda yang satunya lagi di samping pemuda itu.
Setelah dua pemuda itu berkumpul, Lembah Manah mengambil potongan ruas bambu dari saku bajunya bagian dalam dan berkata, “minumlah! Ini adalah ramuan pemulihan tubuh!”
“Lebih baik kita pergi ke Perguruan Tombak Putih. Hanya di tempat itu kalian akan aman!” tambahnya lagi.
“Tapi kami harus mencari ibu kami!” seru salah satu dari adik Kadaka.
“Itu bisa dibicarakan dengan kakak kalian!” sahut Lembah Manah.
Siang hari, ketiganya sampai di pintu gerbang Perguruan Tombak Putih, Lembah Manah tak langsung memasukinya. Pemuda itu mempersilakan dua adik Kadaka untuk memasukinya, sedangkan dirinya malah berbalik arah dan hendak kembali ke markas Panji Giri.
“Aku akan menghentikan mereka!” seru Lembah Manah meninggalkan kedua pemuda itu.
“Terima kasih pendekar!” ucap salah satu pemuda itu memperhatikan Lembah Manah, hingga pemuda itu lenyap dari pandangannya.
Sementara itu di gapura Desa Gembong, beberapa penjaga mendapat amarah dari Ketua Belati Merah karena kelalaian mereka.
“Dasar bodoh!” bentak Ketua Kelompok Belati Merah memegang kerah baju salah satu penjaga gapura desa. “Kenapa kalian membiarkan utusan Tombak Putih memasuki tempat ini!”
“Ma-maaf ketua. Ka-kami tidak tahu hal itu! Aku kira pemuda itu utusan Tetua Panji Giri!” sahut salah satu penjaga gapura yang langsung mendapat satu pukulan pada wajahnya.
“Kurang ajar!” Ketua Belati Merah meninggalkan gapura desa dan kembali menuju markas mereka.
__ADS_1
Di dalam kompleks bangunan yang paling besar, Panji Giri dan Ketua Kelompok Belati Merah memarahi para bawahannya. Kenapa mereka saling bertarung dan menyebabkan kedua adik Kadaka itu sampai lolos.
Semula, Panji Giri beranggapan bahwa itu adalah perbuatan Kadaka. Namun, setelah mengunjungi rumah Kadaka dan mendapat informasi dari salah satu anggotanya yang diikat oleh Lembah Manah. Akhirnya Panji Giri tahu siapa dalang dibalik lolosnya adik Kadaka.
“Ini pasti perbuatan Lembah Manah!” geram Panji Giri mengepalkan tangan kanannya.
“Memangnya siapa pemuda itu?” Ketua Belati Merah menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan Panji Giri.
“Pemuda yang telah merebut kekasihku—Puspa Ayu!” Panji Giri memukul meja dengan tangan kanannya.
Namun, ketika mereka tengah berbincang tentang Lembah Manah sembari meminum arak. Mereka dikejutkan oleh kedatangan salah satu anggotanya yang penuh dengan luka patah tulang.
“Gawat ketua!” ucap salah satu anggota Belati Merah jatuh tersungkur di hadapan Panji Giri. “Pemuda itu memasuki gapura desa!”
“Apa!” sahut mereka serentak.
“Susul pemuda itu!” seru Panji Giri yang langsung diiyakan oleh Ketua Belati Merah dan para anggotanya.
Sebelumnya, di depan gapura Desa Gembong, Lembah Manah telah melumpuhkan tujuh penjaga dengan kebanyakan luka patah tulang. Lalu pemuda itu membiarkan salah satu penjaga untuk kabur dan melapor kepada ketua mereka.
Benar perkiraan Lembah Manah, sesaat setelah pemuda itu bersembunyi pada salah satu dahan pohon mahoni besar, gemuruh suara kaki berlari mendekati gapura desa dan hendak mencari dimana keberadaan dirinya.
Namun, belum juga sampai di gapura desa, Lembah Manah berhasil menjatuhkan salah satu dari tujuh pendekar itu. Terlihat Ketua Belati Merah sangat geram mendapati daerah kekuasaannya dengan mudah dikacaukan oleh seorang pemuda rendahan.
“Hoi kau!” geram Ketua Belati Merah menghunuskan belatinya. “Apakah kau yang bernama Lembah Manah?”
“Jika iya, lalu kau mau apa!” sahut pemuda itu dengan berkacak pinggang setelah melompat turun dari pohon mahoni.
“Kurang ajar! Tangkap keparat itu!” perintah Ketua Belati Merah pada para anggotanya.
__ADS_1