KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Berandal Suro Menggolo (2)


__ADS_3

Kelompok pertama terdiri dari Araka, Pak Daryoko dan Pak Damar. Mereka bertiga berjaga di bawah pohon perdu, beberapa langkah dari semak-semak tempat Berandal Suro Menggolo menghilang.


Kelompok yang kedua terdiri dari Narendra, Ki Darmo dan Mara. Kelompok dua ini berjaga di tepian lembah kidang dan bersembunyi dibalik semak-semak, yang agak jauh dari tempat Berandal Suro Menggolo menghilang.


Dan kelompok yang ketiga terdiri dari beberapa warga desa yang dipimpin oleh Pataksi. Mereka berjaga di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa, tepat memasuki area Lembah Kidang.


Mereka belum juga menyadari, jika Berandal Suro Menggolo menjalankan aksinya hanya pada saat turun hujan. Itu adalah strategi dari Gajira untuk berjaga-jaga jika korbannya melakukan perlawanan dan juga strategi untuk melarikan diri.


Dengan air hujan, Gajira mampu membunuh korban tanpa terluka. Dan dengan air hujan juga, Gemala mampu melarikan diri dengan cepat.


Hari pertama pengintaian, tidak ada tanda-tanda pergerakan. Langit cerah, sepertinya hujan tidak akan turun. Ketiga kelompok itu masih bersiaga pada posisinya, tetap waspada jikalau musuh menampakkan wujudnya.


Hari kedua juga tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Berandal Suro Menggolo, langit pun cerah tanpa ada mendung. Hari ketiga hingga hari ke tujuh, tetap tidak ada pergerakan dari target. Seminggu juga langit cerah, tanpa mendung sedikit pun.


Seperti perjanjian awal, jika selama seminggu tak ada pergerakan, Araka dan kedua temannya diperbolehkan untuk pulang ke Perguruan Pedang Putih.


“Ki, sepertinya tak ada pergerakan selama seminggu ini!” ucap Araka disela-sela pertemuan dengan para petinggi desa. “Saya mohon pamit, Ki!”


“Baiklah nak Araka!” sahut Ki Daryoko tampak sedikit kecewa, karena rencana mereka tak berhasil. “Saya mewakili seluruh warga desa mengucapkan terima kasih atas bantuan dari Perguruan Pedang Putih!”


Ketiganya memohon pamit pada kelompok pengintaian itu dan tentu saja kepada kepala desa—Ki Daryoko.


Meskipun tidak ada pergerakan selama seminggu, warga desa tetap saja khawatir jika suatu saat Berandal Suro Menggolo kembali menjalankan aksinya. Sementara pendekar yang mereka mintai pertolongan telah pergi meninggalkan desa.


Araka dan kedua temannya pergi meninggalkan desa, mereka hendak kembali ke Perguruan Pedang Putih di pusat kadipaten. Melewati perbukitan yang sejuk penuh dengan pepohonan rindang, Desa Tritis tampak indah jika dilihat dari bukit perbatasan desa.


“Araka!” seru Narendra memecah keheningan, karena selama perjalanan pulang mereka hanya diam saja. “Apa kau tak merasa aneh?"


“Aneh kenapa!” sahut Araka menghentikan langkah kakinya.


“Menurutku—!”

__ADS_1


Narendra berasumsi bahwa, Berandal Suro Menggolo ini telah mengetahui kedatangan mereka. Jadi tak menjalankan aksinya, karena ada pihak Perguruan Pedang Putih yang melindungi Desa Tritis. Berandal Suro Menggolo tak berani jika melawan salah satu perguruan terkuat itu.


“Ahh, itu hanya perasaanmu saja, Narendra!” jawab Araka dengan tersenyum.


“Ahh, kau ini!” sela Pataksi tertawa. “Pulang ke perguruan hanya ingin bertemu Amara, iya kan Araka hahaha!”


“Awas kau ya, Pataksi!” geram Araka berlari mengejar Pataksi yang meninggalkan mereka berdua.


***


Setelah seminggu tak ada pergerakan, di hari ke delapan hujan turun di Desa Tritis, pertanda Berandal Suro Menggolo menjalankan aksinya. Mereka merampok rumah Ki Darmo, merampas barang berharga dan menganiaya Ki Darmo dan istrinya.


Mara yang tengah menanam biji jagung di belakang rumah mencoba melawan Berandal Suro Menggolo tersebut. Hanya dengan bermodal bela diri yang biasa saja, dengan mudah Mara dilumpuhkan oleh Gajira.


“Kembalikan hartaku!” seru Ki Darmo meraih bungkusan kain yang dibawa Gemala.


“Diam kau, orang tua keparat!” geram Gemala.


Melihat Mara pingsan, Gajira membawa pemuda itu dengan digendong pada pundak kanannya. Gajira yang bertubuh tinggi besar, mudah saja membawa Mara yang tubuhnya kurus.


Mereka membawa Mara sebagai sandera atau tawanan untuk meminta tebusan kepada pihak desa.


“Lepaskan anakku! Rampok kurang ajar!” teriak Ki Darmo menghadang pergerakan Gajira. Namun, dengan satu pukulan tangan kiri Gajira, Ki Darmo jatuh tersungkur dengan hidungnya yang mengeluarkan darah.


Gajira dan Gemala berlalu begitu saja, setelah menguras habis harta Ki Darmo.


“Cepat pak, kejar Mara pak!” seru istri Ki Darmo yang dijawab dengan tangisan dari Ki Darmo karena merasa tak mampu menghadang Berandal Suro Menggolo.


Hujan masih saja mengguyur dengan derasnya, mengiringi aksi Berandal Suro Menggolo. Ketika sampai di pertengahan desa, Mara tersadar dari pingsannya. Namun, pemuda itu masih tetap berpura-pura pingsan, dia tahu kalau dirinya hendak di bawa ke Lembah Kidang.


Mara berpikir, bagaimana caranya supaya warga desa tahu persembunyian Berandal Suro Menggolo ini dan bagaimana cara agar mereka dapat menemukannya? Mara pun meninggalkan jejak dengan menaburkan biji jagung yang masih dibawa dalam kantong celananya.

__ADS_1


Mara memperkirakan tak akan kehabisan biji jagung miliknya. Menaburkan dua hingga tiga biji setiap beberapa langkah dari Gajira yang menggendongnya. Sementara Gemala berjalan di depan dengan membawa hasil rampokan.


Dan sesampainya di Lembah Kidang mereka menghilang. Tepat seperti perkiraan Mara, biji jagung yang ditaburnya juga telah habis.


Ternyata Gajira dan Gemala membuka portal alam gaib di bawah pohon lamtoro kembar tepat di tengah-tengah Lembah Kidang. Seperti ada pintu yang tak terlihat, tetapi dapat diraba dengan tangan. Jika portal itu di sentuh tangan, maka akan terbuka dengan sendirinya.


***


Araka dan kedua temannya berteduh pada sebuah gubuk di atas bukit yang mereka lalui. Mereka masih berada dalam lingkup Desa Tritis. Araka berpikir sejenak, jika Berandal Suro Menggolo tidak dihentikan, mereka akan terus menghantui dan meresahkan warga desa.


Bahkan jika di Desa Tritis sudah tidak ada lagi rumah warga yang bisa dikuras hartanya, mereka pasti berpindah ke desa yang lainnya dan akan terus berpindah-pindah tempat. Akhirnya Araka memutuskan untuk kembali ke Desa Tritis sembari menunggu hujan reda.


“Perasaanku tidak enak!” ucap Araka memecah keheningan. “Jika tidak dihentikan, Berandal Suro Menggolo pasti akan bertindak lagi!”


“Tuh kan, apa kubilang!” sahut Pataksi sembari tertawa. “Ayo kembali ke rumah Ki Daryoko!”


***


“Bibi, bolehkah saya menumpang berteduh sebentar!” ucap Lembah Manah kepada seorang perempuan setengah baya yang menggendong anak laki-laki tengah duduk di teras rumahnya.


“Silakan, anak muda!” jawab perempuan itu yang tak lain adalah Ibu Rawi. “Sebelumnya saya belum pernah melihat anak muda ini?”


“Saya Lembah Manah, Bibi!” jawab Lembah Manah sembari menggosok-gosok tangannya karena kedinginan. “Saya hanya kebetulan lewat desa ini. Kenapa desa ini sangat sepi, Bibi?”


Ibu Rawi diam terpaku mendengar perkataan Lembah Manah. Perempuan setengah baya itu meneteskan air matanya mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, hingga membuat suasana desa menjadi sepi ketika hujan.


Lembah Manah kebingungan melihat perempuan di sampingnya itu malah menangis, sesaat setelah satu pertanyaan lepas dari mulutnya. Apakah ada yang salah dari perkataannya? batin pemuda itu.


“Begini nak Lembah—!”


Ibu Rawi menceritakan semua yang terjadi beberapa hari yang lalu. Dengan isak tangisnya, sesekali perempuan setengah baya itu membelai rambut anak laki-laki dalam gendongannya—Alang.

__ADS_1


__ADS_2