KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Bukit Pinus (2)


__ADS_3

Semua yang berada di area tepi persawahan tak bisa melihat keberadaan perempuan bertopeng, itu karena terhalang kabut tebal. Namun, berbeda dengan Lembah Manah, pemuda itu dapat melihat perempuan bertopeng dan Andini dengan jelas.


“Temui aku di Bukit Pinus, besok tepat matahari di atas kepala!” teriak perempuan bertopeng diikuti dengan hilangnya kabut yang sebelumnya turun di sekitar area tepi sawah. “Aku tunggu kalian di Pinus Kembar!”


“Andini, jangan bawa pergi Andini!” seru ibu Andini menangis.


Kabut menghilang, perempuan bertopeng dan Andini juga ikut menghilang. Tangis ibu Andini semakin menjadi dalam pelukan suaminya. Kedua pria abdi dalem keluarga itu juga tampak kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa.


“Paman, emm, izinkan kami membantu paman untuk menyelamatkan Andini!” seru Lembah Manah disela tangisan ibu Andini.


“Kalian ini siapa?” tanya ayah Andini kebingungan.


“Saya Lembah Manah dan mereka bertiga teman saya!” jawab Lembah Manah seraya menunjuk Wanapati, Jayadipa dan Ni Luh yang berdiri di belakang dua pria abdi dalem keluarga Andini.


“Baiklah, sebaiknya kita bicarakan masalah ini di rumah!” sahut ayah Andini.


***


Malam menjelang, rombongan Lembah Manah dipersilakan untuk menginap di kediaman Andini untuk sementara waktu. Berharap mereka bisa membantu menyelamatkan Andini dari perempuan bertopeng, esok hari.


“Perkenalkan, saya Ki Demang Cabak Awu. Pemimpin Desa Lapan Aji dan ini istri saya, Dyah Sekar Ayu!” ucap ayah Andini memperkenalkan diri kepada rombongan Lembah Manah.


Ternyata beliau adalah Kepala Desa Lapan Aji. Ki Demang mempersilakan rombongan Lembah Manah untuk menikmati hidangan makan malam.


“Maafkan kami Ki Demang. Kami malah merepotkan Ki Demang!” ucap Wanapati disela-sela acara makan malam.


“Tidak apa-apa anak muda. Ngomong-ngomong, kalian ini hendak bepergian, atau pulang dari bepergian?” tanya Ki Demang.


“Kami baru saja mengikuti pertandingan antar pendekar di ibukota kerajaan dan dalam perjalanan pulang ke Desa Kedhung Wuni. Lebih tepatnya di Perguruan Jiwa Suci!” jawab Wanapati menjelaskan.

__ADS_1


“Aku mendengar pembicaraan dari warga desaku, kalau tidak salah juara pertandingan itu berasal dari Desa Kedhung Wuni. Apakah itu salah satu dari kalian?” tanya Ki Demang penasaran.


“Benar Ki Demang. Juara itu adalah Lembah Manah!” jawab Wanapati sembari menunjuk Lembah Manah yang dengan tenang menikmati hidangannya.


“Woi, Lembah! Kamu ditanya Ki Demang!” umpat Jayadipa kepada Lembah Manah.


“Emm, maaf Ki Demang. Anu, saya sangat lapar,  jadi sangat menikmati makanan ini,” jawab Lembah Manah dengan mulut penuh makanan.


Semua pun tertawa melihat tingkah konyol Lembah Manah yang salah tingkah. Namun tidak dengan ibu Andini—Dyah. Wanita itu masih saja menangis meratapi putrinya yang tengah dibawa perempuan bertopeng.


“Sudahlah Dyah, besok kita akan menjemput Andini ke Bukit Pinus. Dia pasti baik-baik saja!” ujar Ki Demang kepada istrinya.


“Benar bibi, besok Andini pasti kami bawa pulang,” sahut Wanapati meyakinkan Dyah.


Malam semakin larut, pembicaraan masih berlanjut. Seusai makan malam, Ki Demang bersama kedua abdi dalemnya mengajak tamunya itu untuk sekadar berbincang-bincang di aula bagian depan kediaman Ki Demang.


Aula itu agak luas karena digunakan untuk pertemuan dengan warga. Ki Demang menceritakan tentang Desa Lapan Aji. Desa yang terkenal sebagai penghasil sayuran. Tiap panen, warga diharuskan menyisihkan hasil panennya untuk dijual keluar desa dengan harga yang lebih menjanjikan.


Semua hasil panen hanya untuk pihak warga saja, jadi tidak ada pemasukan tambahan dari hasil menjual sayuran keluar desa.


Semua berawal saat Ki Demang dijodohkan dengan seorang gadis. Gadis itu adalah putri kepala desa dari desa sebelah, yaitu Desa Kedhung Kayang. Desa itu dipimpin oleh Ki Bondan, beliau orang yang berwibawa dan sangat memperhatikan warga desanya.


Ki Bondan memiliki dua orang putri. Sang kakak bernama Dyah Sekar Ayu, yang sekarang menjadi istri Ki Demang dan adiknya yang bernama Dian Lasmini.


Sejak saat itu, pihak petinggi Desa Lapan Aji menjodohkan keturunannya dengan keturunan petinggi Desa Kedhung Kayang dan terikat pada perjanjian kedua pihak desa.


Perjanjian itu adalah Desa Kedhung Kayang bersedia membeli hasil panen dari Desa Lapan Aji dengan harga yang tinggi, asalkan keturunan petinggi Desa Lapan Aji bersedia untuk dijodohkan dengan keturunan petinggi Desa Kedhung Kayang.


Pihak Desa Lapan Aji pun menyetujui perjanjian itu. Semua demi kesejahteraan warganya, dan perjanjian itu juga yang menjadi awal dari sistem menyisihkan hasil panen mulai diterapkan.

__ADS_1


Dyah memiliki sifat yang baik hati, ramah dan peduli sesama. Selalu menolong pada warga yang kesusahan. Berbeda dengan Dian yang terkesan acuh, tak peduli pada sekitarnya dan terlihat galak ketika bertemu orang yang baru pertama ditemuinya. Sifat angkuhnya membuat di jauhi para pemuda di desa.


“Jadi Desa Lapan Aji selalu menjual hasil panennya ke Desa Kedhung Kayang ya Ki Demang?” tanya Wanapati mengerutkan dahinya.


“Ya begitulah nak Wanapati, itu semua demi kesejahteraan warga!” jawab Ki Demang.


Malam semakin larut, hingga suara jangkrik semakin terdengar. Ki Demang segera menganjurkan para tamunya untuk beristirahat, agar esok pagi tubuh kembali bugar dan bersiap untuk menuju Bukit Pinus.


***


Pagi menjelang, Ki Demang telah bersiap di pelataran depan rumah bersama istri dan kedua abdi dalemnya. Lembah Manah beserta rombongan menyusul setelah beberapa saat. Mereka hendak menuju Bukit Pinus, tempat dimana Andini dibawa oleh perempuan bertopeng.


Dengan menunggang kereta kuda, Ki Demang dan Nyai Dyah berjalan di depan. Diikuti Lembah Manah dan rombongan berjalan kaki di belakangnya.


Mereka bergerak ke arah utara, karena Bukit Pinus sebagai pembatas dengan Desa Kedhung Kayang terletak di sisi utara desa.


Lembah Manah yang kurang sabar berjalan di belakang kereta kuda, ingin segera meninggalkan kereta Ki Demang karena hari semakin beranjak siang jika terlalu lama berjalan.


Setelah meminta izin dan meminta petunjuk jalan pada Ki Demang, Lembah Manah bersama rombongannya meninggalkan Ki Demang untuk berjalan terlebih dahulu.


Mereka melompat dari dahan pohon yang satu, ke dahan yang lainnya sembari mengamati apakah sudah memasuki Bukit Pinus, atau belum. Sesaat setelah sampai pada sebuah pohon pinus, Lembah Manah yang bergerak paling depan memutuskan untuk berhenti sejenak.


Pemuda itu melihat ke depan dan mendapati semua pepohonan di dominasi oleh pohon pinus dengan jalanan yang menanjak. Pertanda mereka telah memasuki Bukit Pinus.


“Aku yakin kita sudah memasuki Bukit Pinus!” seru Lembah Manah dengan napas terengah-engah.


“Menurutku juga begitu,” sahut Wanapati.


“Kita harus segera bergegas mencari pohon pinus kembar seperti yang dikatakan perempuan bertopeng,” ucap Jayadipa.

__ADS_1


“Tapi kita mesti menuju puncak bukit ini terlebih dulu,” kilah Ni Luh memberi petunjuk.


Tanpa berkata-kata lagi, mereka melanjutkan pergerakan untuk menuju puncak Bukit Pinus dengan meringankan tubuh, berpindah ke dahan pohon pinus yang satu ke dahan pohon pinus di depannya.


__ADS_2