
Jauh di sebuah desa yang bernama Desa Sumber Agung—tepatnya wilayah Kerajaan Tanjung Pura, seorang ibu tengah menangis di dalam kamar sebuah rumah kecil yang mengundang para penduduk mendatanginya.
Kejadian serupa terjadi lagi, misteri anak perempuan yang menghilang sewaktu malam hari.
Kepala desa dan para petingginya memasuki rumah sederhana itu dan menghampiri perempuan yang tengah menangis untuk menenangkannya.
“Lagi-lagi seperti ini!” seru kepala desa mengurut keningnya. “Dalam satu malam saja, sudah ada dua gadis yang menghilang. Sebenarnya siapa yang tega melakukan ini?”
“Ki, coba lihat tulisan ini, Ki! Sepertinya pelaku selalu meninggalkan pesan pendek seperti ini!” sahut salah satu petinggi desa.
Secarik kertas yang ditinggalkan oleh pelaku tergeletak pada salah satu sudut tempat tidur gadis yang menghilang. Dalam kertas tersebut tertulis peringatan terhadap para warga desa.
'Jika kalian ingin selamat, serahkan Kitab Bunga kepada kami'.
Sontak, tulisan itu merujuk kepada pihak yang memiliki Kitab Bunga yang tak lain adalah Perguruan Anggrek hitam.
Desa Sumber Agung terletak di sebelah timur pusat Kerajaan Tanjung Pura. Desa itu langsung berbatasan dengan wilayah Kerajaan Sokapura di sebelah timur. Dan di sebelah utara, berbatasan langsung dengan pantai.
Sedangkan Kerajaan Tanjung Pura sendiri, berada di sebelah barat Kerajaan Sokapura.
Para petinggi desa mulai kebingungan, banyak dari warganya yang mengungsi ke desa lain—atau bahkan berpindah ke ibukota kerajaan.
Mereka tidak ingin anak perempuan mereka menjadi sasaran penculikan, meski yang menjadi targetnya adalah gadis yang masih perawan.
Namun, tak menutup kemungkinan, jika penculik itu kembali lagi dan yang menghilang adalah penduduk perempuan. Maka dari itu mereka lebih memilih untuk mengungsi.
Kepala desa dan para petingginya hendak menuju ke Perguruan Anggrek Hitam, untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut.
“Apakah sudah ada jawaban dari Bergas Lukito?” tanya kepala desa kepada pimpinan perguruan.
“Belum Ki!” jawab pimpinan Perguruan Anggrek Hitam— Ki Rogojambang.
__ADS_1
Ki Rogojambang berharap, Bergas Lukito—salah satu murid perguruannya segera mendapat bantuan dari Perguruan Jiwa Suci. Namun, setelah seminggu berlalu, Bergas Lukito belum juga kembali dari perjalanannya ke timur.
“Kenapa tidak meminta bantuan pihak kerajaan Ki?” sahut Ki Prono—kepala Desa Sumber Agung.
“Maaf, Ki! Kalau tidak ada kepingan koin emas, mereka tidak akan menindaklanjuti kasus ini!” kilah Ki Rogojambang mengelus jenggotnya. “Lagi pula, uang kas desa dan perguruan sudah terkuras habis untuk menyewa pendekar dari berbagai perguruan!”
Pihak perguruan diambang kemunduran karena kasus yang terjadi di Desa Sumber Agung ini. Padahal, Desa Sumber Agung tidak lebih besar dari Desa Kedhung Wuni. Seharusnya pihak kerajaan tidak kesulitan untuk menjaga desa yang penduduknya tidak lebih dari lima ratus orang saja.
“Aku menyerahkan kasus ini kepada pihak perguruan!” seru kepala desa—Ki Prono seraya meninggalkan paseban di tengah perguruan.
“Baiklah, Ki!” sahut Ki Rogojambang keluar dari paseban dan membawa para muridnya memeriksa rumah penduduk desa satu demi satu, mencari apakah ada pihak yang mencurigakan di desanya.
***
“Akhirnya! Sampai juga!” seru seorang pemuda dengan napas terengah-engah berdiri di depan pintu gerbang Perguruan Jiwa Suci.
“Bergas Lukito menghadap Ki Tunggul!” lanjut pemuda itu membungkukkan badannya, ketika melihat penghuni perguruan berada di pelataran halaman.
“Silakan masuk, anak muda” jawab Ki Tunggul seraya melihat gambar anggrek berwarna hitam pada bagian dada Bergas Lukito. “Ada apa gerangan seorang pemuda jauh-jauh mengunjungi perguruan kami?”
Bergas Lukito menyampaikan maksud kedatangannya setelah dipersilakan duduk oleh Ki Tunggul di gubuk samping pintu masuk perguruan.
Pemuda itu menceritakan tentang kejadian yang menimpa desanya. Dalam dua minggu terakhir, terjadi penculikan terhadap anak perempuan dari usia sepuluh tahun ke atas. Menghilangnya para gadis itu terjadi pada malam hari ketika semua penduduk terlelap.
Meski telah dijaga oleh kerabatnya, tetapi tetap saja para gadis menghilang dan sang penculik meninggalkan pesan untuk menyerahkan Kitab Bunga.
“Tapi kenapa mesti perguruan kami yang kalian pilih?” tanya Ki Tunggul mengerutkan keningnya.
“Guru kami mendengar, jika juara pertandingan pendekar muda di kerajaan berasal dari tempat ini!” jawab Bergas Lukito.
Bergas Lukito tidak menyangka, kehadirannya diterima baik oleh perguruan milik Ki Tunggul. Jika di Kerajaan Tanjung Pura, mereka selalu dipandang remeh oleh perguruan yang dimintai pertolongan olehnya.
__ADS_1
Ki Tunggul meminta para muridnya untuk kembali ke aula pembelajaran, dan menerima materi dari Sesepuh Anggada. Namun, Wanapati dan Lembah Manah tetap tinggal untuk membicarakan masalah yang menimpa Perguruan Anggrek Hitam.
“Saya mohon, Ki! Tolong bantu masalah yang tengah kami hadapi di desa!” seru Bergas Lukito bersujud di depan Ki Tunggul.
“Hei! Jangan seperti itu!” sahut Ki Tunggul meraih pundak Bergas Lukito untuk membangunkan pemuda itu. “Berikan aku waktu sebentar untuk berdiskusi dengan muridku!”
Setelah mendengar cerita Bergas Lukito, Ki Tunggul berpendapat bahwa pelakunya adalah bawahan dari Ki Badra. Itu bisa dilihat dari pesan yang ditinggalkan oleh para pelaku untuk meminta Kitab Bunga milik Perguruan Anggrek Hitam.
“Hmm, baiklah! Aku akan mengutus Wanapati, Lembah Manah dan Nata!” ucap Ki Tunggul selang beberapa saat setelah berdiskusi dengan dua murid di sampingnya. “Lembah! Panggil Nata kesini. Aku ingin kalian bergerak cepat!”
***
Tujuh hari bergerak cepat, mereka berempat sampai di pusat Kerajaan Sokapura—bagian pesisir pantai utara. Mereka berencana menumpang kereta kuda milik pedagang antar kerajaan yang melintas jalur pesisir.
Dengan berpakaian biasa, mereka membaur bersama warga yang ramai keluar dan masuk Kerajaan Sokapura. Mereka bergerak tidak terlalu mencolok, sembari mengamati setiap pedagang yang melintas perbatasan.
Tak lama berselang, mereka melihat kereta kuda menuju pintu gerbang perbatasan kerajaan. Sepertinya kereta kuda itu milik seorang saudagar kaya, karena terlihat di belakang kereta kuda itu masih ada gerobak sambungan yang membawa barang dagangannya.
Wanapati melambaikan tangan untuk menghentikan laju kereta kuda itu.
“Kenapa berhenti, paman!” seru seorang gadis dari dalam kereta kuda.
“Empat orang pemuda menghentikan laju kereta kuda!” sahut pak tua kusir kereta kuda. “Apa kita mau memberi tumpangan kepada mereka nona muda?”
Lembah Manah berkata lirih kepada tiga temannya, “kenapa kita tidak jalan kaki saja?”
“Ini perbatasan!” kilah Wanapati mendekatkan mulutnya ke telinga Lembah Manah. “Dengan kereta pedagang, kita lebih mudah memasuki Kerajaan Tanjung Pura!”
Wanapati tidak memedulikan ocehan Lembah Manah yang mengumpat tak jelas. Pemuda itu tersenyum dan membungkukkan badannya ke arah kusir kereta kuda, lalu memperkenalkan diri dan rombongannya kepada kusir kuda itu.
“Paman! Bolehkah kami menumpang di gerobak belakang paman!” seru Wanapati tersenyum. “Kami ada keperluan di Desa Sumber Agung dan memasuki perbatasan yang sangat ketat!”
__ADS_1
Paman kusir kuda itu membuka tirai penutup di belakangnya, sepertinya tengah berdiskusi dengan seorang gadis yang berada di dalam kereta itu. Penampilan Wanapati dan rombongannya juga biasa saja, tak mencerminkan seorang bandit ataupun orang penting.