KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Cambuk Api (6)


__ADS_3

“Bertarunglah secara jan—aahhkk!”


Perkataan Karang Wilis berganti dengan teriakan kesakitan ketika satu pukulan telapak tangan terbuka mendarat pada dagu pria itu. Karang Wilis terlempar beberapa langkah ke belakang dengan mulut menyemburkan darah. Tubuhnya berhenti berguling ketika menghantam tembok Joglo Kadipaten.


Menyadari temannya telah dilumpuhkan, Sayekti yang masih berjibaku dengan bawahan Darma Jaya melesat ke arah Lembah Manah. Satu tebasan pedang hampir merobek dada Lembah Manah, jika saja pemuda itu tidak menggeser tubuhnya ke samping kiri.


Serangan Sayekti mengandung tenaga dalam yang besar, hingga membuat suara angin menderu dari tebasan pedangnya. Lembah Manah hanya menghindari setiap tebasan pedang Sayekti, stamina pemuda itu masih tetap terjaga meski telah bertarung dalam waktu yang cukup lama.


Hingga pada satu kesempatan, Sayekti menjatuhkan pedangnya dan berlutut di depan Lembah Manah, lalu berkata, “aku menyerah, pendekar!”


Sontak perkataan Sayekti membuat Lembah Manah terkejut, tetapi pemuda itu masih bersiaga untuk mengantisipasi serangan kejutan dari Sayekti, seperti lawannya yang sudah-sudah. Menurutnya, Sayekti telah kehabisan tenaga dalam, pria pembawa pedang itu juga tahu batasan tubuhnya.


Tubuh Sayekti tak mampu lagi melayani stamina Lembah Manah yang seakan tak pernah lelah. Ya benar, pemuda itu memiliki titik pusat tenaga dalam yang berbeda dari kebanyakan pendekar, hingga staminanya seakan tak pernah habis.


Lembah Manah meminta tiga pendekar aliran putih untuk menjaga dan mengawasi Sayekti, agar tak menyerang lagi atau bahkan diserang oleh kawanannya.


Melihat kawanan mereka dengan mudah dilumpuhkan oleh Lembah Manah, para pendekar aliran hitam itu semakin menciut nyalinya. Dari semula mereka menang jumlah, kini bisa dibilang lebih berimbang, bahkan didominasi oleh para pendekar aliran putih.


“Mati saja kau Darma Jaya!” Lokadenta mengayunkan cambuknya ke arah Darma Jaya yang terkapar setelah menerima satu pukulan Lokadenta.


Namun, sekelebat bayangan hitam menyambar tubuh Darma Jaya. Lembah Manah yang baru saja membereskan lima pendekar aliran hitam, melesat ke arah Darma Jaya yang hampir terkena sabetan cambuk Lokadenta. Sepertinya Darma Jaya telah menerima beberapa luka dari cambuk pusaka itu.


“Kurang Ajar!” geram Lokadenta melihat Darma Jaya diselamatkan Lembah Manah.


“Terima kasih saudara Lembah!” Darma Jaya memegangi dada kirinya yang terkena satu sabetan cambuk pusaka.


Lembah Manah hanya tersenyum meninggalkan Darma Jaya di bawah tiang penyangga pendopo dan bersiap menghadapi Lokadenta.


“Kembalikan cambuk itu pada kakek empu!” geram Lembah Manah memperingatkan Lokadenta.


“Hoi bocah! Lebih baik kau pulang ke rumah dan bantu orang tuamu berkebun, hahaha!” seru Lokadenta mengejek Lembah Manah. “Dari pada hanya mengantarkan nyawa!”

__ADS_1


Setelah berkata demikian, Lokadenta mengayunkan cambuknya ke arah Lembah Manah. Dengan dialiri tenaga dalam yang besar, ujung cambuk itu menyala seperti ekor naga yang bersiap menjilat apapun di depannya.


Satu lecutan berhasil dihindari Lembah Manah dengan melompat ke belakang, hingga membuat pohon Kamboja di samping Lembah Manah hancur berkeping-keping. Lokadenta memutar cambuk di atas kepalanya, lalu datang lagi satu sabetan ke arah Lembah Manah.


Lagi-lagi pemuda itu masih bisa menghindar berguling ke samping, hingga cambuk itu mengenai batu kemudian hancur berkeping-keping. Cukup lama Lokadenta menghujani Lembah Manah dengan lecutan-lecutan cambuknya.


Sembari menghindari serangan Lokadenta, Lembah Manah mencari cara untuk memperpendek jarak dan mendekati Lokadenta. Karena cambuk pusaka itu membuat Lembah Manah kesulitan untuk menyerang.


Meski telah membuka Gerbang Kedua, tetapi jika terkena lecutan cambuk itu, tubuh Lembah Manah akan tetap merasakan efeknya, walaupun tanpa melukai tubuhnya. Itu karena energi api yang terkandung di dalam Cambuk Api Naga Geni itu berbeda dari energi murni tenaga dalam.


“Aku tahu! Meski ini sedikit gila, tapi aku yakin akan berhasil!” lirih Lembah Manah yang tiba-tiba saja mendapat sebuah ide.


Pemuda itu berniat memasang badan dan menerima serangan Lokadenta, lalu segera melesat menyerang pria berkepala plontos itu.


Apa! Ini ide gila!


Lokadenta memutar cambuk di atas kepalanya, lalu menyerang Lembah Manah. Tanpa ada yang mengira, pemuda itu sengaja memasang tubuhnya untuk menerima serangan Lokadenta.


“Apa!” Kartala melihat Lembah Manah terkena serangan hendak melesat ke arah pemuda itu, tetapi lima bawahan Lokadenta telah mengepung pria pemabuk itu.


Begitu juga Lokadenta, pria itu terkejut kenapa pemuda di depannya malah sengaja memasang badan dan menerima satu serangannya. Di saat Lokadenta terkejut sejenak, Lembah Manah menarik cambuk itu dari genggaman Lokadenta.


Cambuk Lokadenta terlempar, pada saat itu juga Lembah Manah memanfaatkan momentum. Meski panas masih terasa pada lengan kiri akibat cambuk pusaka itu, Lembah Manah tak memedulikan dan tetap melesat ke arah Lokadenta.


Dengan Gerbang Kedua yang masih aktif, Lembah Manah menghujani puluhan pukulan pada tubuh Lokadenta. Dari wajah, dada, hingga pada bagian perut tak luput dari serangan pemuda itu.


Hingga satu pukulan terakhir, mendarat pada dagu Lokadenta hingga membuatnya terlempar sepuluh langkah ke belakang dengan mulut mengeluarkan darah. Tubuhnya berhenti melayang saat menghantam salah satu sudut tembok Joglo Kadipaten.


“Bagaimana mungkin kau—!”


“Itu mudah saja. Aku sengaja memasang badan, agar bisa mendekatimu untuk menyerang!” ucap Lembah Manah menyela perkataan Lokadenta. “Aku kesulitan karena cambuk itu menghalangiku. Jadi, ini satu-satunya cara untuk mendekat!”

__ADS_1


Namun, tiba-tiba saja Sayekti meraih cambuk pusaka yang terjatuh tak jauh darinya dan melesat ke arah Lembah Manah. Semua terkejut, pergerakan Sayekti begitu cepat hingga tak ada yang mampu menghentikan pria itu.


Satu ayunan cambuk melecut ke arah Lembah Manah dan sepertinya pemuda itu tak sanggup menghindar karena masih berbincang dengan Lokadenta. Namun, apa yang terjadi?


Sayekti bukan menyerang Lembah Manah, melainkan mendaratkan satu lecutan cambuk pada tubuh Lokadenta, tepat pada bagian dadanya.


“Itu balasan karena kau telah membunuh orang tuaku!” ucap Sayekti dengan napas terengah-engah.


“Apa!” Semua terperanjat dengan tindakan Sayekti.


“Dia sudah tak berdaya!” seru Lembah Manah memperingatkan Sayekti. “Kenapa masih menyerangnya?”


Saat merekrut Sayekti, Lokadenta telah membunuh kedua orang tuanya. Sayekti mengikuti Lokadenta karena takut, bukan semata-mata karena keinginannya.


Melihat pemimpinnya telah dikalahkan dan tak berdaya, para pendekar aliran hitam menjatuhkan senjata mereka. Para pendekar aliran hitam itu berlutut dan dikumpulkan menjadi satu dengan tangan terikat ke belakang.


“Bagaimana lukamu, Lembah?” seru Kartala mendekati Lembah Manah dan melihat luka lebam menghitam pada lengan kanannya.


“Sepertinya tidak masalah, sesepuh!” sahut Lembah Manah mengelus lengan kirinya. “Nanti juga sembuh!”


Kartala merasa, seharusnya Lembah Manah terluka cukup parah setelah menerima serangan Lokadenta. Karena cambuk itu mengandung energi api yang panas, tetapi kenapa pemuda itu hanya menderita luka lebam?


Berbagai pertanyaan membutuhkan jawaban dari seorang Lembah Manah, tetapi pria tua pemabuk itu mengurungkan niatnya.


Gerbang Kedua yang melindungi tubuh pemuda itu, hingga tubuhnya diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam. Walaupun terkena serangan Lokadenta, tetapi ajian itu dapat meredam rasa sakit yang ditimbulkannya.


Meski Lembah Manah tetap merasakan panas dari cambuk pusaka, tetapi pemuda itu tak memedulikannya, nantinya juga sembuh dengan sendirinya.


“Baiklah, sesepuh, saya mohon izin!” ucap Lembah Manah sembari membungkukkan badannya kepada Kartala.


“Tunggu du—!”

__ADS_1


Belum juga menyelesaikan perkataannya, Lembah Manah telah melompat ke pagar tembok pendopo desa dan hilang diantara rimbunnya pepohonan.


“Jarang sekali menemukan pemuda sepertimu, Lembah!” Kartala memandangi pepohonan tempat Lembah Manah pergi sembari mengembuskan napasnya perlahan. “Jika saja ada yang menyakitimu, aku akan berdiri di depanmu!”


__ADS_2