
Sementara itu, di sebuah pelataran tepat di bawah pohon pinus kembar, terlihat lima orang perempuan tengah berdiri menunggu kedatangan Ki Demang.
Satu perempuan memakai topeng sang pelaku penculikan, tiga perempuan lainnya membawa tombak yang diikat pada punggungnya, sepertinya tiga perempuan itu saudara kembar. Dan satu lagi, bocah perempuan yang diikat pada sebuah pohon pinus, yaitu Andini.
Lembah Manah berhenti sejenak di sebuah pohon pinus yang tinggi dan mengisyaratkan dengan tangan kanan diangkat ke atas, agar ketiga temannya juga ikut berhenti bergerak.
Pemuda itu berdiri pada ranting yang tidak begitu besar, diikuti tiga temannya yang juga berhenti di belakang pada tiga pohon pinus yang berdekatan.
“Emm, sepertinya, aku merasakan ada lima orang. Satu bocah perempuan, menurutku itu Andini dan empat orang dewasa yang pasti salah satunya perempuan bertopeng!” ucap Lembah Manah memejamkan matanya sembari menurunkan tingkat aktivasi ilmu kanuragannya menjadi nol, agar tak terdeteksi oleh perempuan bertopeng.
“Wanapati, emm, apakah kau merasakan tingkat aktivasi ilmu kanuraganku?” tanya Lembah Manah kepada Wanapati.
“Bagaimana mungkin! Aku tak merasakan apa pun!” jawab Wanapati kaget membelalakkan matanya.
“Baguslah, emm, aku akan bergerak terlebih dahulu. Jika aku bersiul, kalian harus cepat mendekat ke sumber siulanku!” ucap Lembah Manah melesat berpindah ke pohon pinus yang lainnya dan dijawab dengan anggukan kepala ketiga temannya.
“Aku tak habis pikir dengan anak itu. Benar-benar misterius!” lirih Jayadipa yang dibalas senyuman oleh dua temannya.
“Perguruan kita semakin kuat jika anak itu bergabung!” sahut Wanapati tertawa.
Lembah Manah mendekat ke pohon pinus kembar, tempat dimana perempuan bertopeng menyandera Andini. Pemuda itu mengendap-endap dari belakang dan melepaskan Andini dari ikatannya di pohon pinus, tanpa diketahui oleh lima perempuan di depannya.
Setelah berhasil mendapatkan Andini, Lembah Manah melompat meringankan tubuh dan mendarat pada salah satu dahan pohon pinus kembar lalu bersiul memanggil ketiga temannya.
“Apa kalian mendengar siulan itu!” ucap Wanapati kepada kedua temannya sembari melebarkan senyumnya.
“Itu tanda dari Lembah Manah!” sahut Jayadipa mengepalkan dua tangannya di depan dada.
Mereka bertiga bergerak melompat ke dahan pohon pinus di depannya dan menjumpai Lembah Manah yang tengah menggendong Andini.
“Aku akan mengalihkan perhatiannya sembari menyerahkan Andini pada Ki Demang,” ucap Lembah Manah yang posisinya berhadapan dengan tiga temannya seraya melompat menjauhi area pinus kembar.
“Apa! Aku tak merasakan ilmu kanuragan seseorang. Kenapa kau bisa memasuki kawasanku,” umpat perempuan bertopeng kepada Lembah Manah yang jaraknya sekitar tiga puluh langkah dari pohon pinus kembar.
“Itu karena kau lengah!” teriak Lembah Manah sembari tersenyum.
“Aku akan meringkusnya Nyai Ratu!” ucap salah satu perempuan di samping perempuan bertopeng.
“Tidak! Aku akan menghadapi pria yang membawa bocah itu. Sisanya aku serahkan pada kalian!” geram perempuan bertopeng.
__ADS_1
Perempuan bertopeng mengejar Lembah Manah, melompat meringankan tubuhnya dan mendarat di dahan pohon pinus.
Lembah Manah menggendong Andini di punggungnya, pemuda itu melompat meringankan tubuh berpindah dari dahan pohon pinus ke dahan yang lainnya dan dikejar oleh perempuan bertopeng.
“Apa! Bukankah kalian Kenanga, Kanthil dan Cempaka dari Perguruan Tombak Putih!” seru Wanapati kaget, karena melihat tiga perempuan yang bekerja sama dengan perempuan bertopeng adalah peserta pertandingan dari Desa Kabangun di wilayah Kadipaten Kabaman.
“Bagaimana kalian—!”
“Ahh ini semua membuatku bingung,” umpat Jayadipa memegang kepala dengan kedua tangannya.
“Kenapa kalian bertiga bersekongkol dengan perempuan bertopeng itu?” tanya Ni Luh pelan.
“Maafkan kami bertiga!” jawab Kenanga, perempuan yang paling tua diantara kedua saudaranya. “Aku mendengar, juara pertandingan itu dari Desa Kedhung Wuni, berarti—!”
“Ya benar, laki-laki yang membawa pulang Andini itulah pemenang pertandingan di kerajaan,” sahut Wanapati.
“Hoi! Kalian belum menjawab pertanyaan kami!” bentak Ni Luh yang memasang wajah galak.
“Maafkan kami, kami bertiga—!”
Kenanga menceritakan, bahwa dia bersama kedua adiknya pulang terlebih dahulu setelah gugur dalam pertandingan, tanpa menyaksikan pertarungan selanjutnya.
Saat perjalanan pulang, mereka mendapat misi dari pemimpin Desa Kabangun untuk membawa pesan ke Desa Lapan Aji di wilayah Kadipaten Purwaraja.
Kenanga juga menceritakan, perempuan bertopeng itu hendak menculik Andini, tanpa mengetahui apa itu motifnya.
Kenanga dan kedua adiknya mengikuti perempuan bertopeng, tetapi sesampainya di dekat pohon pinus kembar, mereka bertiga ketahuan oleh sang perempuan bertopeng.
Pertarungan tak terhindarkan, Kenanga dan kedua adiknya kalah oleh perempuan bertopeng. Dan sesaat sebelum perempuan bertopeng bertindak lebih jauh, Kenanga meminta untuk diampuni dan bersedia menjadi pengikut perempuan bertopeng.
“Lalu apa rencana kalian sekarang?” sahut Wanapati menyela cerita Kenanga.
“Kami juga tak tahu harus bagaimana?” jawab Kenanga menundukkan kepalanya.
“Aku sarankan kalian kembali ke jalan yang benar. Bantulah kami untuk menghentikan perempuan bertopeng itu,” sahut Wanapati.
“Tapi—!”
“Kenapa? Apa kau meragukan pemuda sang juara pertandingan itu?” geram Wanapati dengan mengepalkan tangan kanannya.
__ADS_1
“Bukan itu masalahnya. Kami sudah beberapa hari meninggalkan perguruan. Apakah guru mau memaafkan kami?” lirih Kenanga menundukkan kepalanya.
“Seorang guru akan selalu menerima muridnya, jika sang murid mau berjalan dalam ajaran kebaikan,” kilah Wanapati membujuk Kenanga dan kedua adiknya.
“Baiklah, maafkan kami,” tutup Kenanga tersenyum.
***
Lembah Manah masih melesat dari satu dahan pinus ke dahan pohon pinus yang lainnya. Pemuda itu dikejar perempuan bertopeng di belakangnya, dengan jarak tiga puluh langkah.
“Berhenti kau, kembalikan Andini!” teriak perempuan bertopeng.
“Kalau bisa kejar aku,” jawab Lembah Manah tersenyum memprovokasi perempuan bertopeng.
Perlahan, cuaca yang terik berubah menjadi gelap. Kabut turun begitu tebal di sekitar hutan pinus, Lembah Manah memutuskan untuk berhenti sejenak dari lompatannya.
“Ada apalagi ini,” lirih Lembah Manah berbicara sendiri.
“Kakak, Andini takut,” seru Andini yang terhenti dari tangisnya.
“Iya Andini, emm, kakak akan segera membawa Andini pergi dari tempat ini,” sahut Lembah Manah.
Lembah Manah tertegun, tetapi masih mampu melihat sekitarnya, meskipun tertutup kabut yang begitu tebal.
“Kalau kabut dari atas bukit, tidak mungkin setebal ini. Pasti ajian perempuan itu,” ucap Lembah Manah berbicara sendiri. “Ahh! Kabut ini tak jadi masalah untukku!”
“Hahaha, kau tak akan bisa kabur dari Ajian Halimun Wening milikku!” teriak perempuan bertopeng.
“Apa! Ajian Halimun Wening. Itu kan—!”
Ajian Halimun Wening adalah sebuah ajian yang bisa mendatangkan kabut oleh penggunanya. Dengan kabut tebal, lawan tidak bisa melihat dan akan terkurung di dalam kabut yang dibuat oleh pengguna.
Namun, tanpa diduga sosok perempuan datang mendekat ke arah Lembah Manah. Sepertinya, pemuda itu tidak asing dengan sosok perempuan itu yang samar-samar terlihat dari tebalnya kabut.
“Hei Lembah, apa hanya dengan kabut kau kalah dari perempuan itu?” teriak sosok perempuan itu kepada Lembah Manah.
“Suara itu, emm, sepertinya aku mengenal suara perempuan itu,” lirih Lembah Manah menyipitkan matanya. “Nawang, apakah itu kau Nawang!”
“Rupanya kau masih mengingat suaraku Lembah, syukurlah,” sahut Nawang dengan tersenyum dari balik tebalnya kabut.
__ADS_1
“Pergilah Lembah, aku akan menghadapi perempuan itu,” ucap Nawang.
“Tapi—!”