
“Hati-hati dengan kecepatan perpindahan tubuhnya,” sahut Ni Luh mengingatkan Lembah Manah.
Barani maju ke arena pertarungan diikuti Lembah Manah dari sudut yang berbeda. Mereka membungkukkan badannya pada Raja Brahma, lalu memberi hormat satu sama lain.
“Mulai!” seru Patih Ragas.
Lembah Manah menekan aktivasi ilmu kanuragannya pada tingkat Andhap tahap menengah agar tidak dianggap mudah dikalahkan oleh Barani. Sedangkan Barani yang berada pada tingkat Madyo tahap awal, pemuda itu percaya diri dapat dengan mudah mengalahkan Lembah Manah.
Barani melesat cepat dan langsung berada di belakang Lembah Manah, pemuda berkulit agak gelap itu melancarkan pukulan dengan tangan kanannya yang telah dialiri dengan tenaga dalam.
Lembah Manah hanya bergeser dan meraih tangan kanan Barani, lalu menghempaskannya ke lantai arena pertarungan. Barani terguling beberapa langkah dan langsung berdiri lagi.
“Apa!” Barani terkejut karena serangannya berhasil dibaca oleh Lembah Manah. “Hanya ada dua orang yang bisa menghindari kecepatanku. Yang pertama guruku sendiri dan yang kedua adalah kau!”
“Emm, benarkah!” sahut Lembah Manah hanya menjawab biasa saja.
Barani kembali mengalirkan tenaga dalam yang sebelumnya lenyap di tangan kanannya. Kini pemuda itu melesat dengan kekuatan penuh yang tak bisa dilihat oleh mata biasa. Kedua tangannya pun dialiri tenaga dalam yang berwarna hitam.
Dengan penglihatan dan pendengaran yang lebih tajam, dengan mudah Lembah Manah membaca serangan Barani. Tiba-tiba Barani berada di belakang Lembah Manah dan melancarkan pukulan dengan tangan kanannya.
Kembali Lembah Manah menggeser tubuhnya ke kiri. Namun, saat hendak meraih tangan kanan Barani, Lembah Manah terkena pukulan tangan kiri Barani yang tengah membaca pergerakan Lembah Manah. Pemuda itu terhempas beberapa langkah dengan tubuh terguling tiga kali.
Penonton dibuat berteriak oleh aksi keduanya. Ada juga yang membelalakkan mata karena kecepatan Barani yang tak bisa dilihat mereka. Raja Brahma tampak berdiri dari singgasananya dan memfokuskan pandangan pada dua pemuda di arena pertarungan.
Terlihat Wanapati dan Jayadipa memasuki area pertandingan, mereka duduk di samping Ni Luh yang tengah sendirian.
“Apa! Lembah bertarung melawan orang itu!” seru Wanapati terkejut melihat Barani yang menjadi lawan Lembah Manah, pemuda itu khawatir karena Barani mempunyai kecepatan di atas rata-rata.
“Iya Wanapati, Lembah terkena satu jurus milik Barani,” ucap Ni Luh.
“Barani memiliki kecepatan yang luar biasa, Lembah harus berhati-hati,” sahut Jayadipa menambahi.
__ADS_1
“Barani, kamu pasti menang!” teriak salah satu penonton.
Lembah Manah kembali bangkit, tetapi saat berdiri belum sempurna Barani sudah berada di hadapannya. Barani melancarkan pukulan dengan kedua tangannya, kecepatannya pun tak terlihat oleh mata biasa.
Pukulan Barani mengarah pada perut Lembah Manah, hingga terhempas ke belakang dan jatuh telentang. Para penonton bersorak-sorai melihat Lembah Manah terjatuh, Raja Brahma kembali berdiri menyaksikan kecepatan perpindahan tubuh Barani.
“Tidak, jangan kalah di sini Lembah,” seru Wanapati berkata lirih.
Ni Luh tampak gelisah saat melihat tubuh Lembah Manah terhempas terkena serangan Barani. Namun, gadis itu kembali tersenyum saat Lembah Manah perlahan bangkit dan berdiri.
Saat Lembah Manah mulai berdiri kembali, pemuda itu teringat tentang Batu Kecubung Hijau yang telah diserapnya dari Buto Ijo. Dengan senyum di bibirnya, Lembah Manah menaikkan aktivasi ilmu kanuragannya pada tingkat Madyo tahap awal, sama dengan Barani.
“Apa! Bocah itu bisa menaikkan tingkat aktivasi ilmu kanuragannya!” seru Ki Sabdo Bujono menyadari Lembah Manah menaikkan ilmu kanuragannya.
Sembari bangkit berdiri, Lembah Manah menggigit pelan lidahnya, hingga tubuhnya diselimuti oleh cairan berwarna hijau yang keluar dari pori-pori tubuhnya. Tepat perkiraan Lembah Manah, Barani kembali melesat dan berada di belakangnya.
“Pukulan Tangan Seribu!” seru Barani menggunakan jurusnya.
Tubuh Lembah Manah terpental ke atas, pemuda itu melayang dan langsung disambut Barani yang telah berpindah tempat melayang di atas awang-awang.
Dengan sekali pukulan, Lembah Manah kembali terhempas ke lantai arena dengan diselimuti asap debu tebal. Barani tak memberi ampun, lagi-lagi pemuda itu melesat ke arah Lembah Manah tanpa mengurangi kecepatan pukulan pada kedua tangannya.
“Luar biasa! Gerakan Barani sangat cepat, aku tak mampu melihatnya!” seru Wanapati terkejut sembari memegangi lengan kirinya.
“Apa! Jurus apa itu!” ucap salah satu penonton.
“Aku tak mengira Lembah Manah akan berhenti di babak ini!” ujar Ni Luh lirih.
Raja Brahma kembali dibuat beranjak dari singgasananya melihat kecepatan gerakan Barani. Jayadipa hanya menggelengkan kepalanya, pemuda itu berpikir Lembah Manah tak akan selamat dari jurus Barani.
“Pemuda itu tak mungkin bisa mengimbangi kecepatan Barani!” seru Rahmawati menyunggingkan senyum.
__ADS_1
“Bodoh kau Barani! Jangan terlalu sibuk menyerang!” sahut Ki Sabdo Bujono yang melihat bahwa Lembah Manah tengah baik-baik saja.
“Apa! Kenapa sesepuh berkata seperti itu?” tanya Rahmawati penasaran.
“Kita lihat saja. Bocah itu menggunakan cairan pelindung tubuh yang berwarna hijau dan menurutku itu jurus yang aneh!” jawab Ki Sabdo Bujono melipat tangan di depan dadanya.
“Apa!” teriak Rahmawati tertegun.
Barani melesat ke arah kepulan asap debu, tak terdengar suara apa pun selain suara tubuh Lembah Manah yang menerima pukulan Barani. Hingga Barani melepaskan pukulan terakhir dari jurusnya, pemuda itu mendaratkan pada dagu Lembah Manah.
Tubuh Lembah Manah terhempas beberapa langkah dan hampir saja keluar dari arena pertarungan.
Setelah kepulan asap debu perlahan menghilang, semua penonton dibuat terkejut, tak terkecuali Raja Brahma. Bahkan beliau maju beberapa langkah dari singgasananya untuk memastikan apa yang dilihatnya benar atau tidak, sosok dari balik kepulan asap debu itu masih berdiri tegak tanpa luka sedikit pun.
“Apa!” seru Barani terkejut melihat lawannya tampak baik-baik saja, tanpa terluka. “Bagaimana bisa kau tak terluka sedikit pun. Padahal sudah ku kerahkan semua kanuraganku!”
“Emm, itu mudah saja, saat aku berdiri dan kau melesat ke arahku, aku melapisi seluruh tubuhku dengan pelindung tubuh berwarna hijau ini!” sahut Lembah Manah tersenyum seraya memandangi cairan hijau pada tubuhnya.
Tanpa Barani sadari, Lembah Manah melapisi seluruh tubuhnya dengan cairan aneh berwarna hijau dari Batu Kecubung Hijau seperti yang dilakukan Buto Ijo sewaktu di Lorong Alam Kalimo.
Meski tubuhnya diserang bertubi-tubi oleh pukulan Barani, tetapi Lembah Manah tak merasakan efek apa pun dan tampak baik-baik saja.
“Apa! Bagaimana bisa Lembah melakukan jurus itu!” seru Wanapati dari tempat duduknya.
“Ini tidak mungkin, lagi-lagi anak itu membuat kejutan,” sahut Jayadipa menggelengkan kepalanya.
“Kau hebat Lembah” ucap Ni Luh berkata lirih dengan senyum tipis di bibirnya.
“Pemuda itu benar-benar luar biasa!” teriak salah satu penonton.
Perlahan cairan aneh berwarna hijau milik Lembah Manah menghilang, pelindung tubuh itu masuk melalui pori-pori pada seluruh tubuhnya.
__ADS_1
“Emm, aku tahu tenaga dalammu sudah hampir habis!” seru Lembah Manah tersenyum dan melangkah mendekati Barani. “Itu adalah salah satu kesalahanmu, terlalu asyik menyerang tanpa mengamati pergerakan lawan!”