KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Pergerakan (1)


__ADS_3

“Ini tidak mungkin!” sahut Barani dengan wajah terlihat panik karena tak tahu jurus apalagi yang akan dia gunakan untuk melawan Lembah Manah.


“Kau lihat Rahmawati, apa yang aku katakan!” ucap Ki Sabdo Bujono.


“Benar sesepuh. Aku tak menyangka pemuda itu menjadi lawan yang kuat untuk Barani!” sahut Rahmawati menelan ludahnya.


Lembah Manah melangkah pelan mendekati Barani dan berkata, “Gerbang Kegelapan, terbukalah!”


Pemuda itu membuka Tiga Gerbang Kehidupan yang membuat kedua tangannya dilapisi oleh aura tenaga dalam berwarna hitam dari lengan hingga ujung jarinya. Dengan langkah pelan ke arah Barani, Lembah Manah menyunggingkan sedikit senyum sinis di bibirnya.


“Apa! Dia juga memiliki Tiga Gerbang Kehidupan!” ucap Ki Sabdo Bujono yang lagi-lagi dibuat terkejut oleh Lembah Manah. “Siapa sebenarnya anak ini?”


“Apa maksud sesepuh!” sahut Rahmawati.


“Itu adalah jurus yang meningkatkan kecepatan tangan, kaki dan jantung yang berdetak lebih cepat!” jawab Ki Sabdo Bujono menjelaskan.


Semua penonton kembali dibuat terkejut oleh Lembah Manah, ada yang membelalakkan matanya, ada juga yang diam tak bergerak dengan mulut menganga, hingga Raja Brahma sampai menelan ludah menyaksikan jurus milik Lembah Manah.


“Apa! Jurus aneh apalagi yang dia miliki!” seru Wanapati membelalakkan matanya.


“Luar biasa, anak ini benar-benar penuh kejutan!” sahut Jayadipa menggelengkan kepalanya.


“Lembah! Bagaimana bisa kau—!” lirih Ni Luh tak bisa melanjutkan perkataannya karena begitu terkejut menyaksikan jurus milik Lembah Manah.


Barani yang mulai kehabisan tenaga dalam tak tahu lagi jurus apa yang akan dia gunakan untuk melawan Lembah Manah. Tanpa berpikir panjang, Barani berlutut dan menghadap ke arah Lembah Manah sembari mengangkat tangan kanannya dengan telapak terbuka.


“Aku menyerah!” ucap Barani.


Sontak, perkataan Barani membuat semuanya terkejut. Tidak ada yang menyangka, Barani yang sedari awal memegang kendali dan mendominasi pertarungannya melawan Lembah Manah, kini justru menyerah dari lawannya.


“Pemenangnya Lembah Manah dari Desa Kedhung Wuni!” teriak Patih Ragas diikuti sorakan penonton yang menyebut nama Lembah Manah.


Raja Brahma juga tampak bertepuk tangan, menyaksikan pertandingan yang sangat menegangkan.

__ADS_1


Namun, banyak juga yang menyayangkan keputusan Barani untuk menyerah, tetapi Barani tahu batasan tubuhnya. Pemuda itu sudah mencapai batas kekuatannya, hingga tubuhnya kehabisan tenaga dalam dan tak mampu lagi meladeni Lembah Manah yang staminanya tetap terjaga.


“Apa! Kenapa kau menyerah, Barani!” seru Rahmawati dari tempat duduknya.


“Barani tahu batasan tubuhnya, aku menyadari itu!” sahut Ki Sabdo Bujono mengelus jenggotnya.


Penonton yang menjagokan Barani untuk menjadi juara dalam pertandingan pendekar muda hanya bisa membelalakkan matanya karena tak menyangka Barani akan menyerah begitu saja.


Bahkan, ada yang tertegun tak bisa berkata-kata menyaksikan Barani gugur dalam putaran kedua.


“Babak empat besar akan diadakan esok hari!” teriak Patih Ragas menenangkan pengunjung pertandingan. “Untuk para peserta, dipersilakan menginap di tempat yang telah disediakan oleh pihak kerajaan, terima kasih!”


Para penonton membubarkan diri dengan rapi. Raja Brahma Wijaya juga tampak kembali ke istana diikuti para petinggi kerajaan.


Lembah Manah beserta rombongan diantar oleh prajurit kerajaan untuk menuju pondokan yang mereka tempati.


***


Sementara itu, di sebuah tempat yang dipenuhi dengan para pendekar hebat, seorang pria yang berusia kira-kira delapan puluhan tahun tengah mengumpulkan kekuatan untuk mewujudkan ambisinya menguasai Negeri Yava.


“Tapi, sampai kapan kita akan menunggu, Ki?” tanya salah satu pendekar yang berdiri diantara kerumunan pengikut yang lain.


“Lebih cepat, lebih baik, hahaha,” jawab pria tua itu tertawa keras. “Besok kalian harus segera bergerak dan sebentar lagi impianku akan tercapai, hahaha!”


Pria tua dengan penutup mata sebelah kirinya itu menempati bekas reruntuhan bangunan milik petinggi Kerajaan Tanjung Pura yang bertugas menjaga wilayah lautan, tepatnya di Pulau Api.


Pria bermata satu itu merebut reruntuhan bangunan saat kabur menghindari pertarungan dengan teman seperguruannya yang hampir mengalahkannya.


Dialah Ki Badra, seorang pria tua bermata satu yang berniat mengumpulkan lima kitab pusaka yang tersebar di seluruh Negeri Yava. Ambisinya adalah menyatukan Negeri Yava tanpa ada tiga kerajaan dan hanya di bawah satu pemimpin, yaitu dirinya sendiri.


Pulau Api adalah sebuah pulau yang berada di sebelah utara Negeri Yava. Pulau Api masih dalam kekuasaan Kerajaan Tanjung Pura, dimana jarak dari bibir pantai paling utara ke pulau itu hanya sepuluh kilometer.


Luasnya tiga kilometer persegi dengan banyak pepohonan yang berumur lebih dari seratus tahun.

__ADS_1


Di Negeri Yava sendiri ada tiga kerajaan besar yang berdampingan. Sokapura berada paling ujung timur. Tanjung Pura di sebagian utara dan barat, lalu Indra Pura berada paling selatan ujung negeri tersebut.


Pria tua bermata satu itu tak segan-segan untuk mencari pendekar yang sepaham dan setia dengannya untuk membangun kekuatan.


Pendekar pelarian, perampok, penghianat kerajaan, bahkan anak-anak tak luput dari bujukannya agar patuh padanya dengan iming-iming diberi jurus atau ilmu kanuragan aliran hitam.


“Indurasmi, Kanigara!” seru pria tua itu memanggil dua anak buahnya. “Pergilah ke Perguruan Bulan Sabit, tugasmu adalah mengambil Kitab Bulan. Aku mendengar kalau Kerajaan Indra Pura menyimpan salah satu pusaka di perguruan itu. Apa pun yang terjadi kalian harus berhasil!”


“Tapi Ki—“


“Hahaha! Apa kau takut dengan adikmu!”


Belum selesai Indurasmi berbicara, pria tua itu memotong perkataan Indurasmi.


“Baiklah Ki!” Tanpa bisa melawan Indurasmi dan Kanigara menuruti perintah pemimpinnya itu.


Perguruan Bulan Sabit berada di Desa Telaga Biru. Letaknya di ujung paling selatan Negeri Yava dan masih termasuk wilayah Kerajaan Indra Pura. Jika dari Perguruan Jiwa Suci tempat tinggal Lembah Manah, letaknya ke arah barat daya.


Flashback...


“Tak akan kubiarkan kau membawa kitab ini!”” seru Ki Gendon dengan membawa Kitab Bulan milik Trah Socha.


“Aku akan membawa anak ini, akan kujadikan pengikutku dan akan kuhancurkan seluruh Desa Telaga Biru nantinya hahaha!” teriak pria bermata satu dengan menggendong Indurasmi yang masih berumur sepuluh tahun.


Pria bermata satu itu pergi begitu saja setelah dihalau oleh musuh bebuyutannya, Ki Gendon. Untuk sementara Kitab Bulan milik Trah Socha masih aman dari orang-orang yang menginginkannya.


“Ki, aku menitipkan Kitab Bulan dan anak ini padamu. Aku mohon jangan sampai jatuh ke tangan yang salah!” ucap Ki Gendon pada pemimpin terdahulu Perguruan Bulan Sabit, Ki Ranu.


“Baiklah Ki, Perguruan Bulan Sabit sangat berhutang padamu,” seru Ki Ranu sembari menerima Kitab Bulan dari tangan Ki Gendon.


“Jangan sungkan Ki. Aku malah khawatir akan pihak aliran hitam yang semakin merajalela, semoga saja tak terjadi apa-apa pada generasi kita selanjutnya,” Ki Gendon berkata lirih.


“Iya benar Ki,” balas Ki Ranu.

__ADS_1


Indurasmi adalah keturunan dari Trah Socha, dimana seluruh keturunannya memiliki mata istimewa yang mampu memanipulasi lawan walau hanya sekali berpandangan mata. Trah Socha hanya menyisakan Indurasmi dan adiknya—Sambara yang tinggal di Perguruan Bulan Sabit.


__ADS_2