
Tiba-tiba angin berembus kencang membawa mendung pekat. Petir menyambar beberapa kali, padahal Sokapura masih dilanda musim kering. Tekanan tenaga dalam yang kuat membuat prajurit dan pendekar di bawah tingkat Inggil, membungkukkan badannya.
Entah dari aliran putih ataupun aliran hitam, para pendekar di bawah tingkat Madyo memuntahkan darah karena tekanan tenaga dalam yang kuat itu.
“Dia sudah datang!” lirih Ki Badra memperhatikan langit. “Semuanya! Mundur!”
Ki Badra meminta bawahannya yang tersisa untuk mundur dari medan perang. Mereka berlarian menuju istana yang hancur sebagian.
Saat itu juga, seorang pria tua memakai jubah berwarna hitam melayang setinggi lima pohon kelapa di atas langit Sokapura. Pria itu kira-kira berusia seratus tahun, atau mungkin lebih, karena seluruh kulitnya keriput dan rambutnya memutih.
“Pendekar tingkat Tawang!” seru Patih Ragas membelalakkan matanya memperhatikan sosok pria tua itu.
Dia adalah Eyang Angkoro Murko, pimpinan Lowo Abang yang sesungguhnya. Bisa dikatakan, setelah berguru kepada Eyang Andhap Asor, Eyang Angkoro Murkolah guru kedua dari Ki Badra.
Patih Ragas mencoba menyerang dengan satu tebasan pedang yang diikuti sekelebat cahaya biru melesat ke arah Eyang Angkoro Murko. Dengan kibasan tangan kirinya, Eyang Angkoro Murko menghancurkan serangan Patih Ragas.
“Hanya dengan seperti ini, kau mau melawanku. Kalian semua akan aku binasakan!” Eyang Angkoro Murko turun ke permukaan tanah dengan mendarat pelan, hingga tak terdengar apa pun ketika kakinya menapak tanah.
Beberapa prajurit Sokapura mencoba menyerang Eyang Angkoro Murko. Namun, percuma saja, hanya dengan kibasan tangan kirinya, para prajurit itu terlempar beberapa langkah jauhnya. Sungguh mengerikan kekuatan pendekar tingkat Tawang ini.
Para pendekar dari aliran putih juga menghujani Eyang Angkoro Murko dengan berbagai serangan. Itu juga percuma saja, tidak ada satu serangan yang mendarat pada tubuh Eyang Angkoro Murko.
Di sisi lain, Yugala, Agni Ageng, dan anggota Lowo Abang yang tersisa, diikuti Tatar Pakujiwo dan Panji Gobang berniat untuk melarikan diri dari medan perang. Sudah tidak ada gunanya lagi mereka berada di tempat ini.
Beberapa petinggi Lowo Abang telah tewas, diikuti para prajurit bawahan Tirta Banyu sebagian lari meninggalkan medan perang. Ditambah lagi, Lima Pendekar Pedang hanya menyisakan Agni Ageng seorang.
__ADS_1
Namun, tentu saja jalan mereka untuk melarikan diri juga tidak mulus. Ki Badra bukanlah tipe orang yang melindungi para bawahannya, atau pun mengampuni anggotanya, bisa saja mereka akan menjadi sasaran kemarahan pimpinan mereka sendiri.
Ki Badra melesat dan berdiri di samping Eyang Angkoro Murko, lalu membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh anggota Lowo Abang untuk berlari meninggalkan medan perang menuju hutan yang melewati kaki bukit belakang istana.
“Salam dari putra Ki Gendon!” Ki Tunggul mendekati dua orang tua itu dan menundukkan kepalanya untuk menyambut dua orang yang lebih tua dari dirinya. “Aku harap, tidak ada lagi pertumpahan darah di antara kita!”
“Jangan munafik kau Tunggul!” sahut Ki Badra langsung menyerang Ki Tunggul dengan mendaratkan beberapa jurus tingkat tinggi yang dimilikinya.
Ki Tunggul bergerak mundur secara pelan seraya menangkis serangan Ki Badra dengan dua tangannya. Memang, sedari awal, Ki Tunggul dan beberapa pemimpin perguruan hanya memberi perintah dari belakang medan perang.
Berkat kejelian para pemimpin perguruan itu dalam mengamati medan perang, pada akhirnya banyak dari pendekar aliran hitam yang terpukul mundur. Dan yang paling berperan dalam memberi komando adalah Eyang Balakosa.
Keduanya memperlihatkan jurus tingkat tinggi dengan kecepatan di atas rata-rata, hingga yang terlihat hanya sekelebatan cahaya hitam dan putih berpindah-pindah tempat. Kadang bertarung di permukaan tanah, di atas awang-awang, atau pun di tembok pagar istana.
Semua hanya terpaku melihat pertarungan dua pendekar tingkat Bantolo tersebut.
“Ajian Karang!” geram Ki Badra memperhatikan tubuh Ki Tunggul. “Kau menguasainya dengan baik!”
Jika saja Ki Badra dua puluh tahun lebih muda dari sekarang, tentu serangannya akan semakin mematikan, mengingat mereka berdua terpaut usia yang cukup jauh.
Ki Tunggul mendaratkan serangan dengan pukulan yang dialiri tenaga dalam berwarna putih.
Namun, Ki Badra hanya tersenyum dan menangkis dengan telapak tangan kanannya. Ki Tunggul bergerak mundur dan merasakan panas pada kepalan tangan kanannya.
“Ajian Pati Geni!” lirih Ki Tunggul memperhatikan tangan kanan Ki Badra. “Itu salah satu ajian terlarang!”
__ADS_1
Masih dalam keterkejutannya, Ki Badra melesat dan menghujani Ki Tunggul dengan jurus Pati Geni miliknya. Kedua tangan Ki Badra seperti bercahaya kemerahan, dan ketika bergerak, terlihat seperti kobaran api yang tertiup angin.
Ki Tunggul melapisi tubuhnya menggunakan Ajian Karang, hingga tubuhnya berselimut cahaya berwarna putih. Ketika Ki Badra melihat celah pertahanan yang terbuka, pria tua bermata satu itu mendaratkan satu pukulan pada perut Ki Tunggul.
Tanpa disangka, Ki Tunggul terlempar beberapa langkah ke belakang dan terhuyung, lalu kembali memasang kuda-kuda. Ki Tunggul kaget, kenapa Ajian Karang miliknya dapat ditembus dengan mudah oleh Ki Badra? Lebih lagi, ajian itu adalah pertahanan paling sempurna, dari ajian bertahan yang lainnya.
Salah satu alasannya adalah, Ki Badra menyerap energi alam yang berupa api, hingga kedua tangannya berselimut cahaya merah kekuningan. Panas yang ditimbulkan berasal dari api alami, bukan hanya sekedar tenaga dalam yang menjadi ilmu kanuragan.
Pertarungan masih berlanjut, Ki Badra dihujani banyak serangan dari beberapa petinggi pendekar aliran putih. Meski kali ini menang dalam jumlah, tetapi pendekar dari aliran putih belum bisa dikatakan untuk menang, mengingat dua lawan mereka belum memperlihatkan kekuatan sebenarnya.
Empu Tulak mengayunkan Cambuk Api yang menyala pada bagian ujungnya. Namun, dengan sekali kibasan tangan kirinya, Cambuk Api mental dan hampir mengenai beberapa pendekar lainnya.
Ki Bayu Maruto dan Ki Jaladara menggabungkan jurusnya, cahaya putih beradu dengan pusaran angin terlihat sangat indah, tetapi begitu mematikan. Lagi-lagi, Ki Badra mengibaskan tangan kirinya dan membuat dua serangan itu hancur seketika.
“Tak bisa dibiarkan!” geram Ki Rogojambang memukul tanah di depannya, diikuti gelombang kejut melesat cepat ke arah Ki Badra.
Tepat satu depa di depan Ki Badra, satu bongkahan batu memanjang meraih wajah Ki Badra. Namun, satu jengkal sebelum serangan itu mendarat di wajahnya, tangan kiri Ki Badra menyambut dengan telapak tangan terbuka yang membuat bongkahan batu itu hancur berkeping-keping.
“Kau layak untuk mati, Ki!” geram Ki Tunggul sembari melepaskan beberapa pukulan meraih tubuh Ki Badra. “Kejahatanmu sudah melampaui batas!”
Kembali Ki Badra menangkis setiap serangan Ki Tunggul dengan Ajian Pati Geni miliknya yang telah mencapai tahap sempurna.
Ki Badra melakukan gerakan memutar, lalu kedua tangannya ditarik ke belakang tepat di kanan dan kiri pinggangnya. Saat itu juga, cahaya merah kekuningan berkumpul pada kedua tangannya.
Dengan gerakan ke depan, Ki Badra mengarahkan kedua tangannya untuk menyerang beberapa pendekar aliran putih yang menyerang dirinya.
__ADS_1
“Matilah kalian!”