
Di tempat lain, Wanapati, Ni Luh dan Jayadipa telah sampai di ibukota kerajaan setelah beberapa hari menempuh perjalanan. Mereka melewati gerbang kerajaan yang dijaga oleh beberapa prajurit.
Mereka takjub melihat keindahan ibukota kerajaan yang ramai orang, maklum saja mereka belum pernah mengunjungi kerajaan yang jauh dari tempat tinggalnya.
Setelah mendaftarkan diri di arena pertandingan, mereka mencari penginapan terlebih dahulu, untuk beristirahat dan mempersiapkan diri sebelum pertandingan esok pagi.
Setelah beberapa kali keluar masuk penginapan karena selalu penuh, akhirnya Wanapati melihat sebuah penginapan yang tidak terlalu besar. Pemuda itu mengajak kedua temannya menuju penginapan tersebut.
“Selamat datang di penginapan kami tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pria pelayan penginapan yang menyambut kedatangan mereka.
“Paman, apakah masih ada dua kamar kosong untuk kami!” sahut Wanapati.
“Kami masih menyediakan kamar untuk Anda, tuan!” ucap pria pelayan penginapan.
“Berapa harga sewa per malam, Paman?” tanya Wanapati.
“Satu malam untuk tiga orang, enam keping koin emas sudah mendapat semua fasilitas tuan,” jawab pelayan penginapan itu lagi.
“Baiklah, kami memesan untuk satu malam paman,” seru Wanapati.
Setelah diantar oleh pelayan penginapan itu, mereka memasuki dua kamar. Satu untuk Wanapati dan Jayadipa, dan Ni Luh di kamar sebelahnya.
“Untuk penginapan sekelas penginapan ini, harga sewanya cukup murah juga, padahal ini ibukota kerajaan!” ucap Wanapati pada kedua temannya.
“Iya, kau benar Wanapati, setidaknya kita bisa beristirahat untuk hari ini,” sahut Jayadipa. Sedangkan Ni Luh berlalu begitu saja dan memasuki kamarnya.
Untuk mengisi waktu luang, mereka berjalan-jalan di ibukota kerajaan. Melihat-lihat kemegahan di setiap sudut rumah-rumah mewah milik petinggi kerajaan. Mereka juga bertemu dengan beberapa pendekar muda dan juga murid dari perguruan lain yang mengikuti pertandingan.
***
Sementara itu, Lembah Manah masih dalam perjalanan menuju ibukota kerajaan. Pemuda itu sedikit mempercepat langkahnya, karena jarak dari Kadipaten Kotaraja menuju pusat kerajaan membutuhkan waktu setengah hari.
Tak lama berselang, Lembah Manah telah sampai di pintu gerbang masuk kerajaan. Pemuda itu diperiksa oleh beberapa prajurit dan diperbolehkan untuk masuk setelah menunjukkan identitas bahwa dirinya berasal dari Desa Kedhung Wuni.
__ADS_1
Lembah Manah merasa kagum setelah melihat bangunan-bangunan megah di sepanjang jalan menuju arena pertandingan. Sesekali pemuda itu berhenti untuk memastikan apa yang dilihatnya itu apakah nyata atau tidak, dengan menyentuh bangunan itu.
Matahari tepat di atas kepala, pemuda itu mencari informasi dengan bertanya kepada warga yang berlalu-lalang. Akhirnya Lembah Manah menuju tempat pendaftaran pertandingan dan tanpa ragu lagi, pemuda itu mendaftarkan diri disela-sela para peserta yang lain.
***
Hingga tiba waktunya pertandingan itu dimulai, arena pertandingan tampak ramai oleh banyaknya penonton yang sangat antusias ingin menyaksikan.
Para peserta telah siap di bangku peserta yang disediakan oleh pihak panitia. Tak lupa bagian pengobatan dan kesehatan berjaga di tepi arena. Para prajurit juga memperketat penjagaan di area pertandingan.
Pertandingan antar pendekar muda kali ini sepertinya diikuti oleh banyak peserta, karena dari beberapa perguruan yang tersebar di Kerajaan Sokapura, mengirimkan murid terbaiknya. Tak mau kalah, pendekar muda dari berbagai penjuru juga mengikuti pertandingan ini.
Dari Kadipaten Purwaraja, ada Perguruan Jiwa Suci yang mendaftarkan dua muridnya. Wanapati dan Ni Luh.
Sementara Perguruan Pedang Putih yang juga dari Kadipaten Purwaraja, mengirimkan dua murid terbaiknya, Barani dan Rahmawati.
Dari Kadipaten Kabaman, ada Perguruan Tombak Putih yang membawa tiga murid bersaudara, Kenanga, Kanthil dan Cempaka.
Dari pesisir selatan Kadipaten Lembah Bunga, ada Perguruan Ular Putih yang mengirimkan dua murid terbaiknya. Dialah Pranayuda dan Pramasala.
Satu peserta tambahan dari kalangan kerajaan, yaitu Putri Wulansari, putri dari Raja Brahma Wijaya juga ingin menunjukkan kehebatannya.
Suropati, seorang pendekar muda dari Desa Tritis juga turut mengikuti pertandingan. Sementara dari Desa Seribu Embun, ada pendekar muda bernama Prajalana.
Seorang gadis bernama Kartika yang berasal dari Wilayah Bunga Merah tak ingin kalah dalam pertandingan pendekar muda. Dan terakhir ada Lembah Manah yang berasal dari Desa Kedhung Wuni.
Tak berselang lama, seorang pria dengan tubuh kekar berjalan ke tengah arena untuk menjadi pengadil pertandingan. Pria itu adalah Patih Ragas, seorang patih yang menjadi tangan kanan dari Raja Brahma Wijaya sang pemimpin Kerajaan Sokapura.
Raja duduk pada singgasana paling tinggi di area pertandingan, didampingi para petinggi kerajaan. Beliau sengaja menyaksikan pertandingan yang tahun ini pesertanya lebih banyak dari tahun sebelumnya. Dan juga kemeriahan rakyatnya yang sangat antusias menyaksikan pendekar muda dari Sokapura.
“Saya Patih Ragas akan menjadi pengadil di arena!” seru Patih Ragas berdiri di tengah arena pertandingan. “Terima kasih para hadirin yang telah setia menyaksikan acara tahunan ini!”
“Peraturan pertandingan ini sangat mudah, yang pertama, tidak boleh saling membunuh!”
__ADS_1
“Peserta yang tidak bisa melanjutkan pertandingan akan dianggap kalah!”
“Peserta boleh menyerah apabila tidak bisa melanjutkan pertandingan!”
“Saya berhak menghentikan pertandingan apabila salah satu peserta sudah tidak sanggup melanjutkan, atau ada peserta yang bertindak di luar batas!”
“Dan peserta yang keluar arena, akan dianggap kalah!” lanjut Patih Ragas menyampaikan semua peraturan dalam pertandingan.
“Sebelum pertarungan pertama dimulai, para peserta diharapkan memperhatikan siapa yang akan bertanding secara acak. Jika peserta masih dalam satu perguruan bertemu, maka akan di acak ulang oleh panitia!” imbuhnya.
Semua peserta saling tatap dan berbisik satu sama lain. Mereka ditempatkan pada tempat duduk paling depan dan dekat dengan arena pertandingan.
“Pertarungan pertama, Pranayuda dari Perguruan Ular Putih melawan Wanapati dari Perguruan Jiwa Suci. Kedua peserta diharap maju ke arena!” teriak Patih Ragas yang diikuti oleh tepuk tangan dari para penonton.
“Wah, aku mendapat giliran yang pertama Ni Luh!” seru Wanapati kepada Ni Luh yang duduk di sampingnya.
“Semangat Wanapati, kamu pasti menang!” sahut Ni Luh.
Wanapati melangkah menuju arena pertarungan dibarengi Pranayuda dari sudut yang berbeda.
Penonton semua bersorak ingin segera menyaksikan pertarungan pertama. Ada yang meneriakkan nama Pranayuda, ada juga yang meneriakkan nama Wanapati, walaupun tidak terlalu banyak.
Raja Brahma Wijaya ikut bertepuk tangan mengikuti euforia penonton dengan senyum ramahnya.
“Sudah paham aturan pertandingan?” ucap Patih Ragas yang diikuti anggukan kepala dari Wanapati dan Pranayuda.
“Beri hormat!” perintah Patih Ragas yang juga diikuti kedua peserta membungkukkan badannya, lalu memberi hormat pada raja.
“Mulai!” lanjut Patih Ragas.
Tanpa pikir panjang Pranayuda langsung menyerang Wanapati dengan pukulan tangan kanannya, Wanapati sedikit kaget, tetapi masih bisa menangkis dengan tangan kirinya dan berputar ke belakang.
Pranayuda kembali melancarkan serangannya dengan beberapa jurus tanpa memberi jeda pada Wanapati. Namun, Wanapati masih bisa menangkis jurus Pranayuda dan belum menggunakan jurusnya.
__ADS_1
Sembari mengamati pergerakan Pranayuda, Wanapati hanya menghindari serangan lawannya.
Wanapati yang tingkat kanuragannya satu tingkat lebih tinggi dari Pranayuda, tanpa kesulitan masih bisa menghindari serangan-serangan Pranayuda. Jika Pranayuda berada di tingkat Andhap tahap menengah, Wanapati berada di tingkat Andhap tahap akhir.