KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Bukit Pinus (1)


__ADS_3

“Bagaimana kalau kita lewat Desa Lapan Aji,” ucap Wanapati memecah keheningan.


“Kenapa tidak melewati jalan yang kita lewati saat berangkat beberapa hari yang lalu,” sahut Jayadipa sedikit protes.


“Itu terlalu memakan waktu,” kembali Wanapati berkilah.


“Aku menurut kamu saja Wanapati, asalkan kita pulang dengan selamat,” ujar Lembah Manah menengahi dua temannya.


Pada akhirnya, mereka mengambil jalur kiri, agar cepat sampai ke perguruan.


Tak lama berselang, mereka berempat pun telah keluar dari pusat kadipaten dan mulai memasuki wilayah Desa Lapan Aji. Di sebelah timur desa ini berbatasan langsung dengan Desa Kedhung Wuni—tempat dimana Lembah Manah tinggal.


Desa Lapan Aji di kelilingi oleh perbukitan, di ujung perbatasan sebelah utara terdapat air terjun yang dapat dilihat dari setiap sisi desa.


Air terjun itu di kenal dengan nama Curug Kedhung Kayang, karena air terjun itu lebih menjorok ke Desa Kedhung Kayang, itulah mengapa diberi nama demikian.


Desa Lapan Aji sendiri terkenal sebagai penghasil sayuran. Tiap panen, warga diharuskan menyisihkan hasil panennya untuk dijual keluar desa, tentu saja dengan harga yang lebih menjanjikan.


“Bagus ya, air terjun itu,” ucap Wanapati memecah keheningan.


“Di kelilingi pepohonan, berlatar sawah. Sungguh menyejukkan hati,” imbuh Jayadipa.


Lembah Manah dan Ni Luh tersenyum memandangi air terjun yang tampak jelas dari jalan utama desa. Diselingi para penduduk desa yang pulang dari sawah dan hendak kembali ke rumahnya untuk beristirahat karena hari telah beranjak siang.


“Mari paman,” ucap Lembah Manah kepada pria paruh baya yang lewat di depannya. Mereka hanya dibalas dengan senyum dan anggukan kepala pria paruh baya itu.


“Itu dia!” seru Wanapati mengagetkan ketiga temannya.


“Jangan bilang kalau kau mau makan siang di kedai itu,” sahut Jayadipa menunjuk kedai makan tak jauh di depan mereka.


“Tentu saja aku akan memesan makanan kesukaanku. Ayolah, hari sudah siang. Kita juga harus menempuh perjalanan jauh ke perguruan,” rengek Wanapati seperti anak kecil.

__ADS_1


Wanapati berjalan paling depan memasuki kedai makan, diikuti Jayadipa di belakangnya, sementara Lembah Manah dan Ni Luh berjalan berdampingan paling belakang.


“Ahh, kalian ini. Selalu saja berduaan di belakang, apa sih yang kalian bicarakan?” umpat Wanapati pada dua temannya yang hanya dibalas dengan senyuman dari bibir Lembah Manah. Sedangkan Ni Luh, wajahnya merah merona menahan malu karena ejekan Wanapati.


“Kau tidak tahu saja Wanapati. Dunia kan milik mereka berdua!” imbuh Jayadipa sembari duduk pada bangku tempat makan.


Ada empat tempat duduk dalam setiap satu meja. Kedai makan itu tempatnya luas, dengan pagar dari anyaman bambu di depan yang, di kanan dan di kirinya ada gubuk-gubuk kecil sebagai tempat beristirahat. Mereka berempat duduk di dalam kedai itu.


“Paman, apakah kedai paman menyediakan daging ayam?” tanya Wanapati kepada pelayan kedai itu.


“Kami selalu ada anak muda. Mau ditambah lagi?” ucap pria pelayan itu.


“Paman, tolong ditambah tumis kangkung paman!” sahut Lembah Manah dari tempat duduknya.


Tak menunggu waktu lama, pesanan mereka tiba. Sepertinya Wanapati sangat lapar, pemuda itu mengambil nasi terlebih dulu sebelum paman pelayan meletakkannya di atas meja.


Lembah Manah hanya memandangi temannya dengan mata melebar, pemuda itu seperti tak percaya jika Wanapati memiliki nafsu makan yang sangat besar.


Jayadipa menggelengkan kepalanya, sementara Ni Luh hanya tersenyum sesekali malah mengalihkan pandangannya pada pria pujaan hatinya—kacung kampret.


Terdengar teriakan seorang pria dari luar, tak jauh dari kedai tempat Lembah Manah dan teman-temannya menikmati makan siang. Pria itu memakai pakaian seperti petinggi desa, usianya sekitar tiga puluh lima tahun.


Segera Lembah Manah keluar dari kedai untuk memastikan apa yang tengah terjadi.


“Tunggu sebentar, aku akan memeriksa keluar!” seru Lembah Manah sesaat setelah meneguk minumannya.


Ketiga temannya hanya menganggukkan kepala sembari melahap makanannya tanpa menoleh ke arah Lembah Manah yang meninggalkan meja makan.


Terlihat seorang pria tengah mengejar perempuan bertopeng yang menggendong anak kecil perempuan.


“Tolong selamatkan putriku Andini!” ucap pria itu kepada Lembah Manah yang berdiri di depan kedai makan.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Lembah Manah mengejar perempuan bertopeng itu. Pemuda itu melompat dari satu dahan pohon dan berpindah ke dahan pohon yang lainnya, mengikuti perempuan bertopeng yang menggendong bocah perempuan kecil yang tengah menangis.


“Ni Luh, tolong kau bereskan semua makanan ini. Aku dan Jayadipa ingin menyusul Lembah!” ucap Wanapati sembari memberi beberapa kepingan koin emas kepada Ni Luh.


“Berhati-hatilah, aku akan menyusul kalian!” sahut Ni Luh seraya mengambil kepingan pemberian Wanapati.


Ketika sampai di ujung desa, perempuan bertopeng itu berhenti dan berdiri pada hamparan rerumputan yang dekat dengan area persawahan. Perempuan bertopeng itu menurunkan bocah perempuan yang diketahui bernama Andini dari gendongan dan mengarahkan pedang ke leher Andini.


Lembah Manah tertegun sejenak dan berhenti tak jauh dari tempat perempuan bertopeng itu berdiri. Pemuda itu mencoba berbicara baik-baik, agar perempuan bertopeng tidak bertindak lebih jauh lagi.


Di dalam dekapan perempuan bertopeng, Andini hanya bisa menangis tak tahu apa yang tengah terjadi padanya.


Tak berselang lama, pria yang mengaku ayah dari Andini itu berhasil menyusul Lembah Manah, diikuti Wanapati dan Jayadipa di belakangnya.


"Kembalikan putriku!” seru ayah Andini sangat berharap putrinya kembali. "Berapa pun kau meminta tebusan, aku akan berikan!”


"Aku tidak ingin tebusan apa pun darimu Ki Demang, aku hanya menginginkanmu!” jawab perempuan bertopeng itu.


"Siapa sebenarnya Nyai ini? Dan mengapa Nyai membawa Andini?” ucap Lembah Manah menyela pembicaraan.


"Kau tak perlu tahu siapa aku, ini tidak ada hubungannya denganmu. Yang jelas aku adalah penguasa Bukit Pinus!” seru perempuan bertopeng menggertak Lembah Manah. “Minggir kau anak muda jangan mencampuri urusanku!”


Bukit Pinus adalah sebuah bukit yang menjadi pembatas antara Desa Lapan Aji dengan Desa Kedhung Kayang. Bukit Pinus juga tempat dimana Curug Kedhung Kayang berada.


Lembah Manah mencoba menenangkan perempuan bertopeng itu, perlahan pemuda itu berjalan mendekat. Namun, belum sempat Lembah Manah berjalan lebih dekat lagi, perempuan bertopeng itu semakin mendekatkan pedangnya pada leher Andini, hingga membuat tangisan Andini semakin menjadi.


“Jangan anak muda, jangan mendekat lagi!” pinta ayah Andini kepada Lembah Manah dan langsung diiyakan oleh pemuda itu.


“Jangan lukai Andini, aku mohon, jangan lukai putriku!”


Terdengar suara tangisan dari belakang Lembah Manah, yang tak lain adalah ibu dari Andini yang datang bersama dua orang pria paruh baya, mungkin abdi dalem dari satu keluarga ini. Tampak di belakang mereka Ni Luh menyusul Lembah Manah yang kabur dari kedai tempat mereka makan siang.

__ADS_1


Keanehan pun terjadi, siang yang seharusnya terik di Desa Lapan Aji, tiba-tiba berubah menjadi penuh kabut. Dan anehnya lagi, kabut hanya turun di sekitar mereka, sedangkan di dalam desa, cuaca tetap terik seperti biasanya karena tengah memasuki musim kemarau.


“Aneh! Kenapa turun kabut di tempat ini!” lirih Lembah Manah memperhatikan sekelilingnya.


__ADS_2