
“Cepat pergilah, nanti akan aku ceritakan semuanya!” sahut Nawang sembari tersenyum dan sudah berada di depan Lembah Manah.
“Bukan itu masalahnya, bagaimanapun juga kau bukan tandingan perempuan itu, Nawang!” ucap Lembah Manah khawatir.
“Kita lihat saja nanti!” jawab Nawang dengan senyum di bibirnya yang dibalas dengan anggukan kepala dari Lembah Manah.
“Berhati-hatilah, Nawang!”
Segera Lembah Manah bergegas menjauh dari kepungan kabut tebal itu. Dengan menggendong Andini pemuda itu kembali melesat ke dahan pohon pinus di depannya.
“Hei perempuan bertopeng lawanlah aku,” teriak Nawang seraya berdiri pada salah satu dahan pohon pinus.
“Hahaha, kau mencoba melawanku di dalam kabutku. Itu sama saja bunuh diri,” sahut perempuan bertopeng memperingatkan Nawang.
“Kita lihat saja!” seru Nawang.
“Turunlah ke bawah, jika kau berani,” ucap perempuan bertopeng sembari mendaratkan tubuhnya pada sepetak hamparan rerumputan.
Nawang menyusul perempuan bertopeng dan mendaratkan tubuhnya tepat sepuluh langkah di depan perempuan bertopeng. Nawang tak bisa melihat apa-apa di dalam tebalnya kabut yang dibuat oleh perempuan bertopeng.
Sebenarnya sejak awal, gadis itu hanya menggertak perempuan bertopeng untuk mengulur waktu agar Lembah Manah segera menjauh dari mereka berdua.
Pertarungan tak terhindarkan, perempuan bertopeng menyerang Nawang yang telah bersiap dengan kuda-kudanya. Perempuan bertopeng menebaskan pedangnya, tetapi tepat sejengkal sebelum pedang itu sampai pada tubuh Nawang, Nawang berhasil menghindar dengan bergeser ke kiri dan segera menjauh dari jangkauan serang lawannya.
Cukup lama Nawang hanya menghindari serangan perempuan bertopeng tanpa membalas dengan jurusnya.
“Ayo lawan aku, jangan hanya menghindar. Apa kau takut dengan kabutku, hahaha,” teriak perempuan bertopeng disela-sela pertarungannya.
“Untuk apa takut dengan perempuan sepertimu!” balas Nawang menghindari setiap serangan perempuan bertopeng.
Nawang sengaja mengulur waktu sembari membuat lawannya kelelahan. Hampir saja Nawang terkena tebasan pedang perempuan bertopeng, tetapi berhasil menangkis juga dengan pedangnya.
Tatapan Nawang tajam seraya meraba-raba dimana letak lawannya berdiri. Dengan kabut tebal, perempuan bertopeng lebih diuntungkan ketimbang Nawang yang penglihatannya terbatas.
Perempuan bertopeng mulai kehabisan tenaga, Nawang segera mengeluarkan jarum dan benang yang digulung pada sebuah potongan bambu kecil. Pada pangkal jarum itu diberi lonceng kecil sebagai sumber suara, jika lawan menyentuh benangnya.
__ADS_1
Nawang melemparkan lima jarum miliknya tepat pada pohon pinus di depannya. Dengan instingnya, satu per satu Nawang melempar lalu mengikatkan potongan bambu pada pohon pinus di sampingnya.
Perempuan bertopeng menyerang Nawang, tetapi saat hendak melompat menebaskan pedangnya. Perempuan bertopeng menyentuh benang milik Nawang yang otomatis membuat lonceng kecil milik Nawang berbunyi.
Nawang melempar beberapa jarum ke arah loncengnya yang berbunyi tanpa mengincar terlebih dahulu.
Tepat sasaran! Perempuan bertopeng terkena satu jarum milik Nawang tepat di lengan kirinya bagian luar. Mau tak mau dia harus bersembunyi dibalik pohon pinus.
“Kurang ajar, jurus apa ini,” lirih perempuan bertopeng berbicara sendiri.
Nawang masih saja bersiaga, pandangannya tak lepas dari lonceng yang baru saja berbunyi sembari sesekali melirik ke kanan dan kirinya.
Perlahan perempuan bertopeng bangkit kembali, tetapi tanpa sengaja lagi-lagi perempuan itu menyentuh benang milik Nawang yang langsung membunyikan lonceng kecilnya.
Sontak, Nawang melempar beberapa jarum lagi tepat ke arah sumber suara lonceng miliknya. Kini berganti lengan kanan perempuan bertopeng yang terkena salah satu jarum milik Nawang, diikuti dengan menipisnya kabut yang dibuatnya.
Nawang mulai melihat perempuan bertopeng karena kabut yang mulai menghilang. Lagi-lagi gadis itu melemparkan beberapa jarum yang mungkin sudah jarum terakhirnya. Perempuan bertopeng menangkis dengan pedangnya, tetapi satu jarum terlewat tepat mengenai kaki kanannya bagian luar.
Perempuan bertopeng meringis kesakitan dengan luka yang mulai mengeluarkan darah. Namun, dirinya tak juga menyerah, kembali perempuan itu melompat menebaskan pedangnya ke arah Nawang.
“Menyerahlah!” ucap Nawang mendekati lawannya.
Namun, perempuan bertopeng hanya menundukkan kepalanya setelah menyandarkan tubuh pada sebuah pohon pinus. Tangan kanannya menekan kaki kanannya yang mengeluarkan darah akibat lemparan jarum milik Nawang.
***
Sementara itu di kaki bukit, Lembah Manah bertemu dengan rombongan Ki Demang yang tengah memasuki Bukit Pinus.
“Ki Demang, emm bawalah Andini pulang. Sekarang Andini aman,” ucap Lembah Manah kepada Ki Demang.
“Terima kasih nak Lembah!” sahut Ki Demang sembari meraih Andini dari gendongan Lembah Manah lantas memasuki kereta kuda.
“Kau mau kemana? Dimana teman-temanmu nak Lembah?” tanya Ki Demang setelah mengetahui Lembah Manah hendak meninggalkan kereta kuda Ki Demang.
“Emm, anu Ki Demang. Teman-teman masih bertarung dengan pengikut perempuan bertopeng jadi saya ingin membantu mereka,” jawab Lembah Manah.
__ADS_1
“Ohh, baiklah. Hati-hati nak Lembah!” tutup Ki Demang yang kemudian menyuruh abdi dalemnya untuk berbalik arah menuju desa.
Lembah Manah kembali ke tempat Nawang yang sebelumnya dia tinggalkan. Meringankan tubuh melompat seperti biasanya, berpindah dari satu dahan pohon dan berpindah ke dahan pohon pinus di depannya.
“Nawang, apa kau baik-baik saja? Bagaimana emm—!”
“Seperti yang kau lihat Lembah!” jawab Nawang memotong perkataan Lembah Manah.
Lembah Manah tertegun melihat perempuan bertopeng tertunduk tak berdaya di depan Nawang. Pemuda itu berinisiatif untuk mengikat tangan perempuan bertopeng, karena tampaknya sudah menyerah dan menghentikan pendarahan perempuan itu.
Tak lama berselang, rombongan Wanapati datang bersama Jayadipa, Ni Luh dan Tiga Bunga Bersaudara.
“Loh, loh, loh. Apa yang terjadi Wanapati?” tanya Lembah Manah kebingungan.
“Ahh, ceritanya panjang, bahkan sampai panjangnya, satu hari tidak akan selesai aku ceritakan, hahaha!” jawab Wanapati dengan tawa kerasnya.
“Ahh, kau ini,” umpat Lembah Manah.
“Apa yang kalian lakukan. Kenanga, Kanthil, Cempaka!” bentak perempuan bertopeng pada ketiga bawahannya yang kini berpihak kepada rombongan Lembah Manah.
“Maafkan kami. Kami akan kembali ke perguruan dan tidak akan patuh lagi pada perintahmu,” sahut Kenanga.
Mereka berniat membawa perempuan bertopeng kepada Ki Demang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dengan tangan terikat di belakang, perempuan bertopeng berjalan tertunduk seakan menyesali perbuatannya.
Sesekali Lembah Manah menggoda dengan menyentuh, seakan ingin membuka topengnya, tetapi langsung dibentak oleh Wanapati, karena mungkin lebih baik membuka identitasnya di depan Ki Demang.
“Ohh iya Nawang. Emm, bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada di Bukit Pinus itu. Kau kan belum cerita?” selidik Lembah Manah.
“Jadi begini Lembah—!”
Saat Nawang pergi ke pasar, gadis itu melihat kereta kuda Ki Demang bergerak cepat tak seperti biasanya. Nawang mengikuti kereta kuda Ki Demang, dan ketika memasuki Bukit Pinus, jalan yang dilalui sedikit menanjak membuat kereta kuda berjalan pelan.
Saat itulah Nawang bertanya bahwa ada keributan di atas bukit. Apalagi saat Ki Demang menyebut nama Lembah Manah, Nawang pun bergegas menuju puncak bukit dan bertemu Lembah Manah di tengah jalan saat pemuda itu membawa kabur Andini.
“Jadi begitu ceritanya,” ujar Lembah Manah menganggukkan kepalanya.
__ADS_1