
Beberapa saat berlalu, lima gerombolan Kalajengking Merah yang tersisa berhasil melumpuhkan kelima pendekar aliran putih yang menjadi lawan mereka. Pendekar dengan ikat kepala putih terkena satu tebasan pedang pada bagian paha kirinya.
“Beraninya kalian melawan Kalajengking Merah!” geram pemimpin gerombolan itu mengangkat pedangnya setinggi mungkin dan berniat mengakhiri Samaruti dan Lesmana yang sudah terpojok dalam satu tebasan. “Pergilah menyusul leluhurmu!”
Namun, tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melesat cepat menyerobot pemimpin gerombolan Kalajengking Merah hingga tubuhnya menghantam tembok rumah makan. Pemimpin gerombolan itu pingsan dengan mulut mengeluarkan darah.
Dengan cepat, sekelebat bayangan hitam itu berpindah tempat menuju gerombolan Kalajengking Merah yang tersisa. Lima gerombolan Kalajengking Merah terlempar dengan luka serius, ada yang patah tulang tangan, patah tulang kaki, hingga patah kedua tulang tangan dan kakinya.
Semua yang berada di kerumunan itu diam terpaku, masih tak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Dengan cepat sekelebat bayangan hitam itu melumpuhkan gerombolan Kalajengking Merah yang terlihat beringas.
“Apa kalian baik-baik saja?” seru bayangan hitam itu menampakkan wujudnya dan mendarat di depan Samaruti dan Lesmana.
Ya, Lembah Manah mendengar tentang Kalajengking Merah dari pelayan rumah makan. Ketika pemuda itu tengah menikmati makan siangnya di rumah makan sebelah keributan, dia sedikit terganggu karena pertarungan dua kubu dan memperhatikan dari jendela rumah makan.
Melihat dua pemuda yang sudah terpojok dan hampir terkena serangan terakhir, Lembah Manah melesat dengan mengaktifkan Gerbang Kehidupan aktivasi tingkat Madyo tahap akhir.
“Terima kasih pendekar!” sahut Samaruti.
Lembah Manah membawa Samaruti dan Lesmana ke teras depan rumah makan. Lalu meminta kelima pendekar aliran putih untuk meringkus gerombolan Kalajengking Merah dengan diikat menjadi satu.
Samaruti menceritakan apa yang baru saja mereka alami kepada Lembah Manah. Dari kehancuran Perguruan Mawar Merah, hingga mereka berada di Desa Gembong untuk meminta bantuan kepada Perguruan Tombak Putih dan diserang oleh gerombolan Kalajengking Merah.
“Perguruan Tombak Putih tidak jauh dari sini!” seru Lembah Manah menjelaskan. “ Aku bisa mengantar kalian. Kebetulan aku punya teman di perguruan itu!”
“Terima kasih pendekar—!”
“Lembah Manah!” ucap Lembah Manah menyela perkataan Samaruti. “Panggil saja Lembah Manah, sepertinya kita seumuran!”
Lembah Manah meminta kepada lima pendekar aliran putih yang telah menguasai tubuhnya untuk membawa para gerombolan Kalajengking Merah ke pusat kadipaten untuk diadili.
“Terima kasih atas bantuannya, Paman!” ucap Lembah Manah membungkukkan badannya.
__ADS_1
“Seharusnya kamilah yang berterima kasih, anak muda!” sahut pendekar dengan ikat kepala putih. “Kalau tidak ada pendekar, entah seperti apa nasib kami!”
Dengan dibantu para warga, kelima pendekar aliran putih itu membawa sekitar dua puluhan orang dari gerombolan Kalajengking Merah ke pusat kadipaten. Termasuk pemimpin mereka yang mulai siuman dari pingsannya.
Namun, sebelum gerombolan Kalajengking Merah digiring ke pusat kadipaten. Lembah Manah meminta pada kelima pendekar aliran putih itu untuk melucuti semua jubah berlambang Kalajengking Merah yang dipakai gerombolan itu.
“Aku punya rencana, sepertinya akan menarik!” lirih Lembah Manah dengan seringai di wajahnya, lalu mengantar Lesmana dan Samaruti menuju Perguruan Tombak Putih.
***
Beberapa pemuda tengah melakukan uji tanding di pelataran perguruan yang tampak ramai. Terlihat Kadaka tengah memandu dua bawahan setianya, Soka dan Soma mengajari beberapa jurus.
Pada gapura masuk perguruan, ada dua patung berbentuk tombak di kanan dan kiri yang berwarna putih. Dan di depan atap gapura itu tertulis ‘Perguruan Tombak Putih’.
Lembah Manah memasuki pintu gerbang itu dengan memapah Lesmana yang dibalut kain pada bagian lengan kirinya. Sedangkan Samaruti mendekati sekumpulan murid yang tengah uji tanding itu.
“Lembah Manah!” teriak Kadaka melambaikan tangannya ketika melihat Lembah Manah memasuki perguruan.
Buru-buru Lembah Manah menyandarkan tubuh Lesmana pada sebuah paseban yang memang digunakan para murid perguruan untuk beristirahat.
“Kalian lanjutkan latihannya!” seru Kadaka meninggalkan Soka dan Soma lalu menghampiri Samaruti dan bergabung ke paseban bersama Lembah Manah dan Lesmana. “Apa yang terjadi?”
“Begini saudara Kadaka—!”
Samaruti menceritakan semua kejadian yang menimpanya beberapa hari ini. Lalu pemuda itu berniat meminta bantuan kepada Perguruan Tombak Putih untuk menumpas Kalajengking Merah, dan kembali menghidupkan Perguruan Mawar Merah.
“Kurang ajar!” geram Kadaka memukulkan tangannya pada salah satu tiang paseban yang terbuat dari kayu keras. “Aku akan membicarakan masalah ini dengan guru!”
Mereka bertiga dibawa masuk ke sebuah pondokan khusus untuk menerima tamu. Tak lama berselang, Kadaka datang bersama Ki Jaladara dan tentu saja Puspa Ayu untuk membicarakan masalah Kalajengking Merah.
“Samaruti menghadap Ki Jaladara!” Samaruti menyilangkan tangan kanan di depan dada dan membungkukkan badan untuk menghormati Ki Jaladara—pemimpin Perguruan Tombak Putih.
__ADS_1
“Aku telah mendengar dari Kadaka tentang apa yang menimpa kalian!” seru Ki Jaladara yang langsung duduk dan mengelus-elus jenggotnya. “Aku turut prihatin!”
“Kami juga tak menyangka, Kalajengking Merah bertindak sekejam itu kepada kami!” sahut Samaruti.
Mereka duduk melingkar di lantai mengitari meja yang di atasnya banyak berbagai makanan dan minuman.
Lembah Manah hanya menjadi pendengar ketika Ki Jaladara berbincang dengan Samaruti. Menurut Ki Jaladara, mereka harus segera bertindak, jika tetap dibiarkan, Kalajengking Merah akan semakin merajalela.
Bukan tidak mungkin yang menjadi sasaran berikutnya adalah Perguruan Tombak Putih, atau bahkan Kadipaten Kabaman.
Sementara Puspa Ayu tak melepaskan pandangannya dari wajah Lembah Manah. Gadis itu semakin kagum dengan kemampuan Lembah Manah, terlebih lagi sikap saling menolongnya terhadap sesama.
“Permisi, guru!” seru salah satu murid perguruan berdiri di depan pintu dan menyela pembicaraan Ki Jaladara. “Ada lima orang pendekar yang ingin bertemu dengan guru!”
“Siapa pendekar itu!” lirih Ki Jaladara beranjak dari duduknya dan mendekati pintu ruangan khusus tamu, lalu memandang ke arah paseban yang tak jauh dari ruangan itu. “Suruh mereka masuk!”
Tak lama berselang, seorang pendekar berdiri di depan pintu, sepertinya pendekar itu adalah pemimpin rombongan itu.
“Janabadra menghadap Ki Jaladara!” seru pendekar dengan ikat kepala putih yang ikut membantu Lesmana dan Samaruti di depan rumah makan yang ternyata bernama Janabadra.
“Rupanya kau Janabadra, masuklah!”
Ki Jaladara mempersilakan Janabadra memasuki ruangan khusus tamu dan bergabung dengan rombongan Lembah Manah. Sementara keempat pendekar bawahan Janabadra, duduk di paseban dan saling bercengkerama.
Janabadra ini adalah pemimpin dari salah satu kelompok aliran putih yang menamakan dirinya sebagai Kelompok Tali Putih. Kelompok ini tersebar di segala penjuru Kadipaten Kabaman, dan terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah tiga sampai lima orang.
Tugasnya adalah berkeliling dari desa ke desa lainnya untuk memeriksa keamanan setiap desa yang dikunjunginya. Desa itu juga masih dalam wilayah Kadipaten Kabaman, dengan di bawah perlindungan Perguruan Tombak Putih dan juga Perguruan Mawar Merah.
“Ohh iya pendekar!” ucap Janabadra mendekati Lembah Manah. “Ini jubah kelompok Kalajengking Merah, sesuai permintaan pendekar!”
“Terima kasih paman!” sahut Lembah Manah meraih beberapa jubah yang berhasil dilucuti Janabadra. “Paman, bisakah paman memanggilku dengan nama Lembah Manah saja!”
__ADS_1
Janabadra tersenyum dan ikut bergabung dengan perkumpulan itu.