
Lembah Manah menurunkan Kusumawijaya di dekat Nastiti. Pemuda itu memberikan ramuan pemulihan tenaga sesaat setelah mengambil potongan ruas bambu dari saku bajunya bagian dalam.
“Minumlah Pangeran! Ini adalah ramuan pemulihan tubuh, Anda akan segera pulih!” ucap Lembah Manah.
Setelah memberi meminum beberapa tegukan, Lembah Manah meminta Kusumawijaya dan Nastiti untuk segera menjauh dari medan pertempuran itu. Lembah Manah memberi petunjuk untuk bergabung dengan para petinggi kerajaan yang lain di bukit belakang istana.
Namun, baru beberapa langkah beranjak dari tempatnya, sekelebat cahaya hitam menghantam di samping kanan Kusumawijaya dan Nastiti. Mereka berdua terlempar beberapa langkah dan terjatuh dengan mulut mengeluarkan darah.
“Apa ini! Dadaku terasa sesak!” ucap Kusumawijaya bangkit dari keterpurukan dengan memegangi dadanya, lalu menoleh ke arah Nastiti. “Nastiti, apa kau baik-baik saja?” sambungnya dengan penuh rasa khawatir.
“Aku tidak apa-apa, ayah!” sahut Nastiti batuk kecil seraya mengibaskan tangan kanan di depan wajahnya agar debu segera menghilang.
Lembah Manah merasakan serangan itu berasal dari pendekar dengan ilmu kanuragan tingkat Bantolo, sama dengan dirinya. Pemuda itu menyapukan pandangannya ke arah istana, tetapi tak juga menemukan sumber serangan.
“Sial! Siapa orang ini?” lirihnya mengerutkan kening.
Dari atas panggung eksekusi, Tirta Banyu merasa geram melihat Kusumawijaya masih hidup. Seharusnya, adiknya telah mati di tiang gantungan dengan mudah, tetapi kenapa semua pendekar aliran hitam benar-benar datang menjemputnya?
“Keparat!” umpat Tirta Banyu mengepalkan tangan kanannya hingga terdengar suara retakan dari persendian jemarinya, lalu memperhatikan para pendekar aliran hitam yang ada di belakangnya. “Jangan biarkan mereka hidup!”
Dengan segera Tirta Banyu turun dari panggung eksekusi dan mengambil persenjataannya. Salah satu prajurit telah menyiapkan sebuah pedang untuk Tirta Banyu. Dengan wajah penuh amarah, Tirta Banyu hendak berlari keluar tembok istana.
Namun, langkah Tirta Banyu terhenti ketika tembok pagar istana bergetar hebat. Pada awalnya hanya bergetar pada bagian depan sisi kanan. Di susul bagian tengah, lalu bagian kiri yang terakhir bersamaan dengan runtuhnya tembok sisi selatan.
Asap debu mengepul tinggi sesaat setelah tembok pagar istana runtuh.
“Sial! Amunisi kita telah habis. Kita akan bertarung dengan pedang!” umpat seorang kakek tua dengan sedikit batuk dan memegangi dadanya.
Benar, Empu Tulak merobohkan dinding istana menggunakan meriam peledak. Kakek tua itu berdiri paling depan, lalu di belakangnya ada pendekar aliran putih dari Kadipaten Lembah Bunga.
__ADS_1
Di sebelah kanan kakek tua itu, ada para pendekar dari Kadipaten Purwaraja. Dan di sebelah kiri, ada para pendekar dari Kadipaten Kabaman.
“Kakek Empu, aku harap kau tidak menghancurkan istanaku!” rengek Raja Brahma kepada Empu Tulak yang berdiri tidak jauh dari dirinya.
“Jika memang harus dihancurkan untuk menumbuhkan kehidupan yang baru. Kenapa tidak?” sahut Empu Tulak sembari tersenyum dan sesaat kemudian kekek tua itu batuk lagi.
Di depan pintu gerbang istana, Tirta Banyu berdiri dengan pedang terhunus ke bawah. Tatapannya tajam ke depan memperhatikan para pendekar aliran putih yang sebentar lagi akan menjadi lawannya.
“Serang!” teriak Tirta Banyu memerintahkan para prajuritnya.
Pada awalnya, hanya beberapa prajurit saja yang berlari keluar pagar tembok istana. Namun, beberapa saat kemudian, ratusan prajurit dan pendekar aliran hitam keluar dengan berbagai macam senjata.
Di luar tembok istana, Patih Ragas maju beberapa langkah dan berdiri paling depan dari rombongannya. Patih Ragas berbalik badan lalu memandangi para pendekar aliran putih dan berkata, “ingatlah, saudaraku! Dengan adanya perang ini, kita akan saling terhubung satu sama lain dalam sebuah ikatan!”
Patih Ragas mengangkat tangan kanannya ke atas yang menggenggam Pedang Pethit Sawa dan melanjutkan perkataannya, “untuk itu, berperanglah untuk Sokapura, berperanglah untuk Negeri Yava!”
“Hidup Sokapura!”
Pada akhirnya, perang tak terhindarkan di depan Istana Sokapura, antara pendekar aliran putih dan orang-orang yang setia dengan Ki Badra.
“Jangan takut! Kita akan berperang demi Sokapura, demi Negeri Yava!” teriak salah satu pendekar yang memakai ikat kepala berwarna putih menyambut serangan pengikut Ki Badra.
Pendekar itu menusukkan pedangnya tepat mengenai perut salah satu prajurit yang setia kepada Ki Badra. Lalu pendekar dengan ikat kepala putih itu mencabut pedangnya dan menebaskan ke arah yang lain, hingga menebas beberapa prajurit lainnya.
Namun, sebuah tombak terhunus ke depan tepat mengenai jantung pendekar dengan ikat kepala putih itu.
“Tidak! Kakang Sakani!” teriak Janabadra, sang pemimpin Kelompok Tali Putih mendapati salah satu anggotanya tertusuk tombak.
“Jangan takut, Janabadra! Kita berperang demi Sokapura!” sahut Sakani dengan suara berat, lalu sedetik kemudian anggota Tali Putih itu melemparkan pedangnya dan menancap pada perut lawannya hingga tewas.
__ADS_1
“Kakang Janabadra, fokuslah dengan musuh!” ucap seorang bawahan Janabadra mencoba untuk menyadarkan Janabadra dari keterpurukannya meratapi Sakani.
Sedetik kemudian, bawahan Janabadra itu menebas lima prajurit Tirta Banyu dengan pedangnya. Namun, sebuah pedang mendarat pada perutnya hingga membuatnya membelalakkan mata.
“Kita berperang demi Sokapura, Kakang Janabadra!” ucapnya sebelum mengembuskan napas terakhir.
Janabadra menebas batang leher prajurit Tirta Banyu yang telah membunuh bawahannya dan mendongakkan kepalanya. “Keparat!” teriaknya dengan nada kemarahan.
Pada sudut yang lain, Roko Wulung menghajar lima prajurit dengan tangan kosong. Pukulan Natas Angin miliknya tak mampu dibendung oleh prajurit bawahan Tirta Banyu.
Selang beberapa saat, cucu Patih Ragani itu melemparkan tiga pendekar aliran hitam tingkat Inggil berhamburan tak tentu arah. Salah satu lawannya itu mendarat pada mata tombak prajurit yang lainnya dan tewas seketika.
“Rasakan ini!” Roko Wulung melepaskan beberapa pukulan ke arah yang lainnya lagi, hingga melumpuhkan lima prajurit Tirta Banyu. “Manusia biadab, pantas mendapatkan yang lebih dari ini!”
Meski telah melindungi diri dengan perisai yang terbuat dari pelat perunggu ataupun dari kayu keras. Nyatanya perisai itu tak mampu menahan pukulan Roko Wulung. Perisai itu hancur berkeping-keping bersamaan dengan pemiliknya yang meregang nyawa.
Di medan perang itu, ada beberapa kelompok. Dari kubu aliran hitam ada ratusan prajurit bawahan Tirta Banyu. Sebagian lagi pendekar aliran hitam bawahan Ki Badra yang terkenal memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Lalu ada anggota Organisasi Lowo Abang dan juga Lima Pendekar Pedang.
Dan dari kubu aliran putih, ada prajurit Sokapura yang lebih berpihak kepada Putri Wulan dan Patih Ragas. Dan tentu saja, ada pendekar dari seluruh Negeri Yava.
Di sisi lain, Kusumawijaya dan Nastiti yang hendak menuju bukit belakang istana tampaknya berhasil dikejar oleh prajurit bawahan Tirta Banyu.
“Ayah, ini bagaimana!” ucap Nastiti panik.
Mereka telah dikepung oleh puluhan prajurit dengan berbagai macam senjata. Meski telah dihalau oleh Lembah Manah, tetapi masih ada beberapa prajurit yang lolos dan menyusul Kusumawijaya dan Nastiti.
“Bunuh mereka!” Berteriak salah satu prajurit bawahan Tirta Banyu dan seketika itu juga berbagai macam senjata mengarah kepada dua keluarga Kerajaan Indra Pura tersebut.
Namun, sekelebat bayangan hitam melemparkan puluhan tubuh prajurit itu hingga tak tentu arah. Prajurit itu menderita berbagai macam patah tulang, akibat ulah Lembah Manah yang datang tepat waktu.
__ADS_1
"Kurang ajar!" umpat Lembah Manah mendaratkan pukulan.