
Pertama, pemuda itu harus menyelidiki tentang apa yang terjadi di desa ini, mengingat perkataan anak seusia Amiri pasti ada benarnya.
Yang kedua, pemuda itu akan melapor terlebih dahulu kepada petinggi desa sebagai pihak yang bertanggung jawab di desa ini.
Bergegas Lembah Manah menuju pendopo desa, melewati pemukiman penduduk yang memang tampak aneh. Menurut pemuda itu, setiap dirinya berpapasan dengan warga, warga yang disapa olehnya, malah menutup pintu rumahnya dengan tatapan ketakutan.
“Ada yang tidak beres!” lirih pemuda itu seraya melangkahkan kakinya.
Sesampainya di pendopo desa, pemuda itu tak menjumpai seorang pun. Meski telah memeriksa pada beberapa pondokan, sekitar paseban dan bangunan pendopo utama, tetapi Lembah Manah tak bertemu para petinggi ataupun kepala desa itu sendiri.
“Kemana orang-orang ini?” ucap Lembah Manah berbicara sendiri.
***
Sementara itu di sebuah halaman perguruan bela diri, tampak beberapa pemuda tengah melakukan uji tanding. Dua orang pemuda beradu kekuatan dengan dikelilingi murid yang lainnya.
“Sepertinya kau semakin hebat saja!” seru salah satu pemuda yang tengah uji tanding.
“Ahh, ini juga berkat bimbingan Tetua Araka!” sahut pemuda yang satunya lagi.
Di sela-sela mereka uji tanding, tampak seorang pemuda berlari menghampiri Araka dan menyerahkan sebuah gulungan kertas.
“Apa isinya?” tanya salah satu tetua lainnya.
“Kelompok Girisi kembali beraksi!” jawab Araka memeras gulungan kertas itu. “Kali ini mereka menculik para gadis di sisi timur Desa Buntu!”
“Apa!” jawab semua murid itu terkejut.
Mereka telah lama memburu Kelompok Girisi yang akhir-akhir ini semakin merajalela dalam menjalankan aksinya.
Kelompok Girisi ini adalah kelompok yang mengambil keperawanan seorang gadis untuk meningkatkan level ilmu kanuragan mereka.
Biasanya, pada malam bulan purnama, mereka melakukan sebuah ritual, lalu membunuh gadis yang telah dinodainya dan meminum darahnya. Sungguh sangat sadis Kelompok Girisi ini.
Desa Buntu sendiri masih dalam perlindungan Perguruan Pedang Putih yang masuk wilayah Kadipaten Purwaraja. Ada beberapa perguruan yang ada di kadipaten ini, salah satunya adalah Perguruan Pedang Putih yang melindungi sisi barat kadipaten.
__ADS_1
Rupanya salah satu murid Perguruan Pedang Putih telah mengetahui keberadaan Kelompok Girisi. Dan malam ini, adalah malam ritual menyimpang dari kelompok itu yang akan berlangsung tengah malam.
Araka bertambah geram, ketika mendengar Amara juga menjadi korban penculikan. Bagaimana tidak? Amara adalah salah satu gadis terbaik di Perguruan Pedang Putih sekaligus perempuan yang disukai oleh Araka.
“Kita akan bergerak malam ini juga!” seru Araka mengepalkan tangan kanannya. “Bentuk beberapa kelompok, lalu bergerak ke timur!”
“Baik Tetua Araka!” sahut murid serentak.
“Lembah Manah menghadap!” seru pemuda itu sesaat setelah memasuki pintu gerbang Perguruan Pedang Putih.
Salah satu murid melangkah mendekati Lembah Manah, untuk menyambut pemuda itu dan berkata, “selamat datang di Perguruan Pedang Putih. Ada perlu apa saudara muda ini datang ke tempat kami?”
“Aku ingin bertemu dengan pemimpin perguruan!” sahut Lembah Manah membungkukkan badannya untuk memberi hormat meski yang menyambut kedatangannya usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan dirinya.
“Maaf, guru sedang meditasi tertutup dan akan selesai sore ini!” kilah pemuda yang menyambut Lembah Manah.
Araka mendatangi Lembah Manah dan murid yang menyambut kedatangan pemuda itu, bermaksud untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. Namun, saat memperhatikan tubuh Lembah Manah, Araka hanya menyunggingkan senyum sinis seakan mengejek Lembah Manah.
“Guru tidak bisa diganggu!” seru Araka dengan nada sedikit keras. “Beritahu saja padaku, nanti akan aku sampaikan!”
Araka selaku salah satu tetua perguruan tidak bisa terima dengan tindakan Lembah Manah. Pemuda itu hendak menyerang Lembah Manah dan sudah memasang kuda-kuda. Namun, tiba-tiba.
“Lembah Manah!” seru seorang perempuan dari luar pagar perguruan memanggil pemuda itu.
Lembah Manah membalikkan badan, lalu menatap ke arah suara perempuan yang memanggilnya dan berkata, “Sekar!”
Ya, tentu saja perempuan itu adalah Sekar, putri dari Ki Daroyokso—Kepala Desa Seribu Embun, yang telah kembali dari rumahnya dan baru saja sampai di Perguruan Pedang Putih.
“Ada perlu apa kau datang ke tempat ini?” Sekar bertanya sembari mempersilakan Lembah Manah duduk pada sebuah gubuk yang memang disediakan sebagai tempat beristirahat para murid perguruan ini. “Bukankah kau menuju pusat kerajaan untuk mengikuti pertandingan?”
“Aku ada sedikit urusan dengan pemimpin perguruan!” sahut Lembah Manah. “Dan sepertinya pemimpin perguruan kalian masih meditasi tertutup. Jadi aku akan menunggu sampai pemimpin perguruan selesai dari meditasinya!”
Sekar meminta kedua bawahannya yang baru saja pulang menjalankan misi bersamanya untuk mengambilkan minum dan beberapa makanan ke dapur perguruan, dan langsung diiyakan oleh kedua bawahan itu.
Araka hanya terpaku melihat kedekatan Sekar dengan tamunya yang baru saja datang itu. Di Perguruan Pedang Putih ini, peringkat Araka dan Sekar hampir sama—tetua perguruan. Mereka berdua memimpin beberapa murid untuk menjalankan berbagai misi.
__ADS_1
Namun, Sekar sedikit di atas Araka, karena gadis itu tak pernah gagal menjalankan misinya.
Araka kembali ke tempatnya dan melakukan uji tanding dengan beberapa murid yang lainnya.
“Silakan tetua!” seru dua perempuan bawahan Sekar membawakan beberapa makanan dan minuman, lalu meninggalkan dua orang itu berada di gubuk tempat beristirahat.
Hingga hari menjelang sore, Lembah Manah dan Sekar masih saja duduk di gubuk dekat pintu gerbang perguruan. Mereka tengah asyik bertukar cerita mengenai pertandingan di kerajaan, dan pihak Perguruan Pedang Putih telah mengirimkan murid terbaiknya.
“Ada perlu apa anak muda ini, datang ke perguruan kami?” seru kakek tua berambut putih datang bersama Araka yang langsung duduk dan mengagetkan Lembah Manah dan Sekar. “Kau sudah kembali, Sekar?”
“Lembah Manah menghadap Eyang Guru!” sahut pemuda itu menyambut tangan kanan pemimpin Perguruan Pedang Putih.
Lembah Manah menjelaskan maksud kedatangannya kepada pemimpin Perguruan Pedang Putih, tentang penduduk desa yang bertingkah aneh. Dan melaporkan tentang hilangnya Amara, seperti yang diceritakan oleh Amiri.
Pemimpin perguruan juga terkejut ketika salah satu murid perempuan terbaiknya turut menjadi korban penculikan. Menurutnya, para penculik itu memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, buktinya, Amara yang seorang gadis terbaik di perguruan ini bisa dikalahkan.
“Aku terlalu menganggap remeh mereka!” seru pemimpin perguruan mengelus jenggot putihnya. “Araka! Aku serahkan masalah ini kepadamu!”
Araka langsung mengiyakan perintah gurunya dan undur diri dari hadapan kumpulan itu.
“Bagaimana masalah siluman air di desamu, Sekar?” seru pemimpin perguruan menyadari bahwa muridnya itu telah pulang dari misinya.
Sekar menjelaskan, pada awalnya, dirinya kesulitan untuk mencari keberadaan siluman air di dalam danau. Hingga seorang pemuda pengembara yang kali ini duduk bersamanya, dapat mengalahkan siluman air yang berwujud ikan itu.
“Ohh, jadi anak muda ini yang membantu Sekar mengalahkan siluman air di dalam danau!” seru pemimpin perguruan menepuk pundak Lembah Manah dan hanya disambut oleh senyuman pemuda itu.
“Guru! Sekar mohon undur diri!” sela Sekar meninggalkan pemimpin perguruan dan menoleh ke arah Lembah Manah, lalu berkata, “Lembah! Aku harap kau akan lama di tempat ini!”
Namun, perkataan Sekar hanya dibalas dengan senyuman Lembah Manah.
Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, Lembah Manah berpamitan kepada pemimpin perguruan untuk melanjutkan perjalanannya ke pusat kerajaan.
Tunggu! Lembah Manah ingin melanjutkan perjalanan? Itu tidak mungkin.
“Membiarkan kejahatan merajalela, itu juga sama saja melakukan tindak kejahatan itu sendiri!” lirih Lembah Manah keluar meninggalkan markas Perguruan Pedang Putih.
__ADS_1