
Di depan pintu istana, Tirta Banyu semakin kebingungan, melihat para pendekar dipihaknya semakin berkurang. Dirinya berniat ingin langsung turun ke medan perang, tetapi dua orang pria mencegahnya dan meminta Tirta Banyu agar untuk berdiam diri.
“Sudah waktunya kami bergerak, Ki!” ucap seorang pria membawa pedang berbentuk bulat panjang. “Kami akan membalaskan kematian anggota kami!”
Dia adalah Samudro Aji, pria berbadan tinggi yang membawa Pedang Panjang. Di belakang pria itu, ada Bayu Amerta yang membawa Pedang Bayangan hendak turun ke medan perang.
“Tunggu aku, hoi Samudro!” umpat Bayu Amerta yang memang selalu banyak bicara.
Dalam sekejap saja, mereka berdua telah menghabisi prajurit Sokapura yang berpihak kepada Raja Brahma. Beberapa Kelompok Tali Putih juga menjadi korban keganasan mereka berdua.
Tidak salah jika mereka diberi nama Lima Pendekar Pedang, mereka semua memiliki jurus level tinggi dan juga membawa pedang pusaka yang menambah kekuatan mereka.
“Matilah kalian!” teriak Bayu Amerta menebaskan pedangnya, diikuti puluhan pedang meluncur deras ke arah kumpulan prajurit Sokapura.
“Gawat, itu kan Pedang Bayangan!” ucap salah satu prajurit menyadari jika yang digunakan Bayu Amerta mampu memperbanyak diri, seperti namanya—Pedang Bayangan.
Bayu Amerta telah menghabisi sepuluh prajurit Sokapura dengan luka sayatan yang mengerikan. Namun, saat pria bertubuh pendek itu hendak kembali menebaskan pedangnya, tiba-tiba sebuah kilatan petir menghantam salah satu pedang itu.
“Siapa kau, beraninya bermain licik!” umpat Bayu Amerta mendapati serangannya dihalau oleh pemuda bertubuh kekar yang tak banyak bicara. “Hoi! Apa kau bisu!”
“Bisu kepalamu peang!”
Setelah berkata demikian, pemuda berbadan kekar itu melemparkan energi petir dari tangan kanannya ke arah Bayu Amerta. Bayu Amerta yang hanya menyilangkan pedang di depan tubuhnya, seketika terlempar beberapa langkah ke belakang.
Tubuh pria berbadan kecil itu menabrak beberapa prajurit bawahan Tirta Banyu yang membuatnya jatuh berhamburan.
“Dasar Giandra, selalu bertindak seenaknya!” ucap seorang pemuda berkulit sedikit gelap memaki Giandra yang melemparkan energi petir kepada Bayu Amerta. “Sekarang giliranku, Pukulan Tangan Seribu!”
Dia adalah Barani yang bekerja sama dengan Giandra. Semula, mereka berdua hanya menghadapi prajurit bawahan Tirta Banyu. Namun, semakin lama, musuh juga semakin kuat dengan para pendekar aliran hitam yang direkrut oleh Ki Badra.
Barani mendaratkan pukulannya pada beberapa prajurit bawahan Tirta Banyu, hingga membuat prajurit itu jatuh berhamburan.
Pada satu kesempatan, Barani hendak melesat mendekati pertarungan prajurit bawahan Tirta Banyu dan prajurit Sokapura. Namun, sebuah pedang berbentuk bulat panjang menghalau tubuh pemuda berkulit sedikit gelap itu.
__ADS_1
“Lawanmu itu aku!” ucap seorang pria berbadan tinggi membawa pedang yang seketika menjadi pendek setelah menghalau Barani.
“Pedang Panjang!” lirih Barani membelalakkan matanya.
Samudro Aji menghunuskan pedangnya ke depan, saat itu juga pedangnya memanjang dan menyerang Barani yang masih terkejut melihat kedatangan Samudro Aji. Hampir saja Barani terkena tusukan pedang, jika saja pemuda itu tidak melompat ke awang-awang.
Sesaat kemudian, Barani lenyap dari pandangan Samudro Aji yang pedangnya kembali pada bentuk semula—hanya satu depa.
“Ke mana perginya anak itu!” lirih Samudro Aji menyapukan pandangan ke sekelilingnya.
Tiba-tiba, satu pukulan mendarat pada punggung yang membuat pria berbadan tinggi itu tersungkur ke depan dan hampir jatuh. Lagi-lagi Barani lenyap dari pandangan Samudro Aji.
“Keluarlah, jangan hanya jadi penge—aahhkk!”
“Aku di atasmu!”
Ucapan Samudro Aji terhenti dan berubah menjadi teriakan kesakitan, ketika satu tendangan mendarat pada wajahnya. Barani muncul dari atas Samudro Aji yang belum sepenuhnya menguasai tubuhnya. Kembali Barani lenyap dari hadapan Samudro Aji yang meringis kesakitan.
Setelah berkata demikian, Barani muncul dari samping kanan Samudro Aji dan melancarkan Pukulan Tangan Seribu menghujani bagian perut Samudro Aji.
Samudro Aji terhuyung ke belakang dengan darah keluar dari mulutnya, tetapi Barani tak menghentikan serangannya. Barulah ketika Samudro Aji melepaskan pedang dari genggamannya, Barani mendaratkan satu pukulan pada dagu Samudro Aji, hingga membuat tubuh pria berbadan tinggi itu terlempar sepuluh langkah ke belakang.
Samudro Aji tak bergerak, dari sudut bibirnya mengalir darah segar. Mata pria itu tertutup, sepertinya dirinya pingsan.
***
Setelah bertukar ratusan jurus menghadapi Rambak Selah, sepertinya Patih Ragas hampir mencapai batasan tubuhnya. Terlihat dari serangannya yang sedikit melemah dan hampir terkena tebasan tongkat milik salah satu petinggi Lowo Abang itu.
Semula mereka bertarung di atap rumah salah satu petinggi kerajaan. Namun, semakin lama pertarungan mereka berpindah keluar pagar tembok istana.
Satu tebasan pedang hampir mengenai bahu kanan Rambak Selah, tetapi dengan mengentakkan kakinya ke tanah, pria tua itu melompat ke atas dan melepaskan satu tebasan yang diikuti sekelebat cahaya merah melesat ke arah Patih Ragas.
Patih Ragas menangkis serangan itu hanya dengan menebaskan pedangnya yang telah dialiri tenaga dalam. Sepertinya keduanya tampak berimbang, stamina dan juga ketahanan tubuh mereka masih terjaga, meskipun telah bertarung dalam jangka waktu yang tidak sebentar.
__ADS_1
Pada satu kesempatan, Patih Ragas terkena satu pukulan tongkat pada bagian perutnya, karena pertahanannya yang sedikit terbuka. Patih berbadan kekar itu terhuyung ke belakang dan jatuh terlentang.
Saat itu juga, Rambak Selah melompat hendak mendaratkan satu serangan dengan tongkatnya yang telah diselimuti cahaya berwarna merah. Tepat satu jengkal sebelum tongkat Rambak Selah meraih bagian wajah Patih Ragas, tiba-tiba seorang kakek tua menghalau tongkat bercahaya merah itu.
Dengan satu tangan yang memegang kendi labu, pria tua itu mendaratkan satu pukulan tepat pada perut Rambak Selah, hingga membuat petinggi Lowo Abang itu terhuyung ke belakang.
“Siapa kau! Beraninya mencampuri urusanku!” bentak Rambak Selah kepada kakek tua yang membawa kendi labu itu.
“Ha, siapa aku!” sahut kakek tua itu sembari menenggak tuak dari kendi labu di tangan kanannya. “Aku dijuluki Pemabuk dari Gua Lawa!”
“Apa! Kurang ajar!”
Setelah sedikit beradu argumen, Rambak Selah menebaskan tongkatnya beberapa kali, diikuti lima cahaya merah melesat ke arah kakek tua pembawa kendi labu itu. Dengan mudah kekek tua menghindari serangan Rambak Selah dengan gerakan khas jurus mabuk.
“Sesepuh Kartala!” Tiba-tiba Lembah Manah berdiri di samping kakek tua pembawa kendi labu itu, lalu mendekat ke arah Patih Ragas. “Patih, Anda baik-baik saja!”
“Untung saja kakek pemabuk itu melindungiku!” sahut Patih Ragas memegangi perutnya.
“Minumlah, ini ramuan pemulihan tubuh!” Lembah Manah mengambil potongan ruas bambu dari saku bajunya bagian dalam dan memberi Patih Ragas beberapa tegukan.
“Aku tak mengira, kita akan bertemu lagi, Lembah!” ucap Kartala seraya memasang kuda-kuda sempoyongan ciri khas jurus mabuk.
“Hoi kalian, ini bukan waktunya melepas rindu!” ucap Rambak Selah diikuti tebasan tongkat yang mengeluarkan cahaya merah melesat cepat ke arah ketiga lawannya—Kartala, Lembah Manah dan Patih Ragas.
Lembah Manah melesat cepat menyambut serangan Rambak Selah dan menangkis dengan kedua tangan yang telah diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam. Setelah serangan Rambak Selah lenyap, Kartala melesat melancarkan tinju mabuk ke seluruh organ vital Rambak Selah.
“Tamatlah riwayatmu!” teriak Kartala.
Dan terakhir, Patih Ragas menebaskan pedangnya sesaat setelah Kartala dan Lembah Manah mundur beberapa langkah. Serangan Patih Ragas mengandung tenaga dalam yang sangat besar, hingga terdengar suara menderu dari tebasan itu.
Serangan Patih Ragas mendarat tepat pada dada Rambak Selah hingga membuat peringgi Lowo Abang itu terseret beberapa langkah ke belakang.
Tak hanya mulutnya yang mengeluarkan darah, tetapi luka robek yang menganga juga membuat Rambak Selah meregang nyawa.
__ADS_1